Pengorbanan Perasaan

Sewaktu kecil dulu, kita tidak begitu paham bagaimana perasaan orang tua. Saat kita menangis, merengek meminta sesuatu. Saat kita sakit, kemudian terbaring beberapa hari. Kita tidak pernah tahu.

Sampai kita sebesar ini, barangkali kita juga tidak cukup tahu apa yang sebenarnya orang tua rasakan. Seberapa besar pengorbanan rasa mereka hingga kita sampai bisa berjalan sejauh ini.

Saat kamu mengatakan cita-citamu untuk merantau jauh, menempuh studi di luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri. Mereka bersedia mengorbankan rasa rindu mereka, membiarkan langkah kakimu pergi dengan tenang -dan ringan- untuk menggapai mimpi-mimpimu. Mereka bersedia menahan kangen, perasaan yang lazim. Perasaan-perasaan lain seperti kesepian, juga hal-hal lain yang tidak sanggup diungkapkan. Saat mereka mengingat betapa riuhnya rumah saat kamu masih ada di sana. Rasa cemas setiap hari memikirkanmu di perantauan, hingga tidur mereka tidak nyenyak sampai menerima kabarmu. Meski cuma pesan singkat.

Kemudian, saat kamu berbicara tentang seseorang yang kamu sukai. Saat mereka harus berkorban lebih besar lagi atas perasaannya. Merelakanmu memilih hidupmu dengan orang lain. Dan merelakan diri bahwa dirinya tidak menjadi prioritas utamamu lagi. Kamu memiliki keluarga kecil yang harus kamu urus.

Mereka harus menahan rindu, menahan kesepian, menahan berbagai perasaan yang mungkin baru akan dimengerti saat nanti kita berkeluarga dan memiliki anak.

Perasaan yang mereka korbankan begitu banyak. Rasa cinta, rasa rindu, rasa cemas, rasa khawatir, dan segala perasaan yang diciptakan Tuhan di dunia ini, mereka harus menanggungnya. Dan yang kita tahu hanya beberapa, yang kita tahu hanya sedikit. Sementara kita sering mengeluh kepada mereka. Atas batasan-batasan yang mereka buat, atas aturan-aturan yang tidak bisa kita terima, atas nasihat-nasihat yang menurut kita kuno.

Kita merasa lebih maju dalam segala hal, tapi kita lupa kalau kita tidak pernah bisa mengalahkan pengorbanan mereka sedikitpun.

Yogyakarta, 5 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi

Sore

“Jangan kamu lipat jarak itu hanya menjadi sejengkal, nanti rindu hilang sakralnya, nanti cinta hilang kadarnya,” katamu sore itu.

Sore ketika kereta dari Stasiun Yogyakarta pergi ke barat disertai tenggelamnya matahari yang tampak bulat sempurna. Sore itu, kala senyummu mengambang hingga ujung pintu kereta dan tetap tersenyum di balik jendela, tidak lupa melambaikan tangan.

“Jarak kita semakin jauh dalam setiap detik, boleh rindu asal tidak lupa berdoa,” pesanmu berselang semenit setelah kereta itu pergi.

“Iya, bawel.” Balasku.

dan Matahari pun tenggelam.

©kurniawangunadi

Membuat Perjalanan

Perjalanan ini mungkin dibuat dengan ragu-ragu tapi sekali kita melangkah, kita harus kuat. Kuat dalam mempertahankan langkah kita agar tetap ke depan. Biar sedikit, kita mengerti bahwa perjalanan itu adalah sebuah proses panjang. Hijrah dari satu tempat ke tempat lain, dari keadaan yang sebelumnya ke keadaan berikutnya, dari kondisi buruk menjadi lebih baik.

Kita tidak perlu sibuk berceramah kepada orang lain atas perjalanan yang ia buat, karena ia tentu sedang berjuang keras untuk itu. Siapa kita sampai berani menghakiminya?

Perjalanan ini mungkin akan dibuat dengan kecemasan dan kekhawatiran akan masa depan. Ketidakpastian akan hidup dan ketakutan pada kemiskinan. Namun, bila kita tidak bergerak untuk mengubah dunia kita, maka dunialah yang akan mengubah kita. Bila kita tidak membuat keputusan, maka keadaanlah yang akan memutuskan apa-apa yang harus kita lakukan.

Karena perjalanan ini panjang, kita perlu kekuatan untuk menjalaninya. Kekuatan itu adalah keyakinanmu pada satu kenyataan bahwa perjalanan di dunia ini tidak lama, tidak nyata, dan melenakan. Kalau kita paham ke mana tujuan kita, perjalanan kita berserta segala ujiannya akan terasa ringan.

Yogyakarta, 17 September 2015 | ©kurniawangunadi