Menjaga Nilai Pernikahan

Pernikahan tidak menjanjikan kebahagiaan, kebahagiaan itu diciptakan, dengan cara berbagi kebahagiaan satu sama lain.

Beberapa kali nasihat ini muncul, baik dari teman-teman terdekat maupun dari orang tua kami masing-masing. Tentu saja, pernikahan memang secara kenyataan tidak seperti kalimat-kalimat promosi seminar pernikahan dan poster-poster propaganda di media sosial.

Sejak awal dan memang sudah seharusnya, sejak kita semua masuk ke usia matang untuk membangun keluarga. Paradigma tentang pernikahan harus diluruskan dan dibenahi, jangan terlalu banyak berharap dan berekpektasi bahwa pernikahan itu selamanya lurus-selamanya bahagia. Kalau menikah untuk mencari kebahagiaan, mungkin itulah yang menyebabkan begitu banyak pasangan yang tidak setia juga rumah tangga yang kacau, sebab kebahagiaan yang dicari ternyata tidak ditemukan sehingga mencari kebahagiaan di tempat lain.

Beberapa bulan yang lalu, masih di tahun yang sama, 2016. Saya tidak menyangka kalau di tahun inilah momentum saya untuk merasakan sendiri hal tersebut. Selama ini saya mungkin hanya bisa menuliskan dari hasil pengamatan dan cerita orang lain, terutama dari keluarga teman-teman sendiri. Kali ini, saya akan menjalani sendiri apa-apa yang selama ini saya tuliskan.

Di awal 2016 dan hari ini, saya merasakan betul bagaimana perbedaan yang ada dalam pikiran saya tentang pernikahan. Sebelumnya, secara emosional saya membayangkan pernikahan itu benar-benar indah dan selalu dalam kacamata keindahan. Seminar-seminar pra nikah ala anak-anak muda, sebaran konten propaganda di akun-akun berlabel islami, juga dari bacaan yang minim perspektif. Niat saya untuk menikah menjadi keliru.

Saya membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk membenahi niat dan pola pikir saya tentang pernikahan. Kegalauan-kegalauan yang selama ini muncul ternyata menjadi pelajaran yang berharga bagi saya, ternyata saya tidak cukup dewasa menyikapi pernikahan. Terlalu gegabah dalam menyimpulkan. Dan dengan jiwa muda yang berapi-api tapi minim pengalaman, ingin segera menikah tanpa tahu esensi dan substansi dari sebuah pernikahan.

Kini saya mengerti, menjelang pernikahan saya menemukan begitu banyak hal yang bagi saya berharga. Saya berhasil memaknai apa itu penerimaan, kedewasaan, tanggungjawab, harapan, dan segala hal yang selama ini saya keliru mendefinisikannya. Salah definisi yang membuat saya menjadi salah bertindak.

Saya telah berjanji tidak ingin menjadi “kompor yang panas” untuk menyuruh-nyuruh teman saya untuk segera menikah. Juga tidak ingin berkontribusi dalam kegagalan seseorang teman untuk menjaga diri dengan cara-cara memposting kemesraan secara berlebihan. Cara paling mudah bagi saya adalah tidak terlalu berlebihan dalam mengekpresikan kebahagiaan di media sosial, yang itu juga menjadi kesepakatan saya dan @ajinurafifah, calon istri saya.

Menikah bukan perkara mudah dan tidak akan pernah menjadi perkara yang mudah, terutama ketika menjalaninya. Dan jangan menjadikan pernikahan sebagai jalan keluar atas kebingungan menata masa depan. Pernikahan itu menghadirkan tantangan baru, tidak serta merta memberikan jalan keluar atas masalah kebingungan pada masa depanmu saat ini.

Untuk itu, selamat berkarya dan menjadi berdaya yang bermanfaat. Hal terbaik yang bisa saya doakan hanya itu. Tulisan ini sekaligus menjadi pengingat bagi saya pribadi, juga keluarga saya nantinya. Bahwa kami harus menjaga nilai-nilai dengan teguh, Pernikahan jangan sampai menjadi komoditas perdagangan, kesakralan pernikahan adalah hal yang mutlak. Apalagi dalam agama yang saya imani, pernikahan itu setara dengan perjanjian antara Allah dengan para nabi.

Kalau sampai seagung itu, mengapa selama ini kita menjadikannya bercandaan, menjadikannya bahan gunjingan, menjadikannya sebagai alat untuk mencari uang dan ketenaran?

Jagalah pernikahan tetap pada sakralnya. Semoga kami bisa menjadi pasangan yang senantiasa teguh menjaga nilai-nilai tersebut. Bila nanti kami salah, silakan diingatkan dengan baik. Tulisan ini dibuat untuk itu, untuk menjaga kami tetap berada pada jalannya.

Semoga Allah ridho dengan pernikahan kami, semoga Allah menguatkan setiap orang yang sedang berjuang menjaga diri.

Salam hangat,

Malang, 17 September 2016

Kurniawan Gunadi