Hidup yang sesungguhnya kita hadapi tidak seperti apa yang kita lihat di instagram. Di instagram, kita melihat seperti tidak ada orang miskin. Segala sesuatunya tampak pada kondisi idealnya. Nyatanya, tidak. Kita harus bekerja keras dan lebih hati-hati agar tidak terjebak dalam hidup yang semu. Nanti barangkali bila berumah tangga, saat sudah masuk dunia kerja. Baru akan kita rasakan betapa tidak mudahnya berjuang untuk mencari nafkah, sampai-sampai ia menjadi sebuah pahala jihad bagi laki-laki. Barangkali saat kita dihadapkan pada aneka biaya hidup, biaya persalinan jika istri kita melahirkan, biaya untuk mencukupi kebutuhan sandang, pangan, papan, kendaraan, pendidikan, kesehatan, dan segala sesuatunya yang saat ini kita msh menerima dari orang tua. Nanti saat kita harus mencukupinya sendiri, barangkali baru kita sadari kalau pilihan kita atas gaya hidup yg berlebihan ini adlh racun yg bisa lambat laun mematikan kita. Kalau rezeki kita lebih, kalau kebahagiaan kita lebih, kalau kesehatan kita lebih, mari kita belajar untuk menyalurkannya ke tempat-tempat sunyi. Barangkali nanti akan menjadi salah satu amalan rahasia yg hanya kita dengan Allah yang tahu. #ntms #renungan #randomtag

Kalau ada orang yang mengingatkan kita atas kekeliruan yang kita lakukan tapi kita merasa tersinggung. Barangkali ada yang salah dengan diri kita, dengan hati kita. Dan menjadi renungan saat hati dan pikiran kita cukup jernih: “Apa arti semua ibadah kita saat kita msh tersinggung ketika diingatkan atas perbuatan kita yang keliru?” Bukankah barangkali itu caraNya menyelamatkan kita? Jangan-jangan sudah berulang kali, kita berdoa memohon keselamatan tapi saat akan diselamatkan justru kita yang menolaknya? #NTMS

Sesuatu sedang terjadi di tempat lain.

Saat kita duduk manis, sibuk dengan aktivitas kita di sini. Menikmati pagi dengan secangkir teh, atau mungkin sedang memasak untuk keluarga, atau mungkin sedang sibuk mengurus sebuah kegiatan konser di kampus. Sesuatu sedang terjadi di tempat lain. Pada detik yang sama, pada saat kita menghebuskan nafas saat ini.

Sebagian kita tahu, sebagian kita tidak. Sebagian dari kita peduli, sebagian lain juga tidak. Setiap hari, empati kita semakin tumpul. Ketumpulan yang semakin hari semakin bertambah lantaran kita sendiri yang menumpulkannya. Setiap hari kita diperlihatkan dengan ketimpangan. Dunia yang benar-benar berbanding terbalik antara kebahagiaan dan kesengsaraan. Dalam waktu yang sama. Dan kita lebih sibuk melihat kebahagiaan di media sosial. Melihat apa yang sedang dilakukan orang ini, dilakukan orang itu, dicapai orang ini, dicapai oleh orang itu. Dan kita melihat dengan mata kepala kita sendiri, betapa yang mereka tampilkan seolah-olah mengkhianati kemanusiaan.

Sesuatu sedang terjadi di tempat lain. Dan mereka tetap sibuk dengan mengumbar kemesraan. Sibuk memamerkan pekerjaan. Sibuk memperlihatkan barang-barang kepemilikan. Sibuk menampilkan riasan. Sibuk menunjukkan betapa aman dan sejahtera keluarganya.

Dan didetik yang sama. Anak-anak di Suriah terbunuh, hutan-hutan ditebang, kelaparan dan kemiskinan melanda Somalia. Di menit yang sama, orang seusia kita tengah berjuang melawan penyakitnya, yang lain berjuang mencari nafkah untuk sejumlah uang yang kita hamburkan di meja makan sekali duduk. Di masa yang sama, sesuatu sedang terjadi di tempat lain. Dan empati kita semakin menguap tak berbekas.

Kukira, kita semua dulu tidak seperti ini.

Yogyakarta, 7 April 2017 | ©kurniawangunadi

Tidak pernah mudah meninggalkan sesuatu yang selama ini kita cintai. Hanya saja untuk tumbuh kita perlu memberi jarak dan memberi waktu. Karena hal itulah yang akan mengajarkan kita banyak hal tentang kehidupan yang lebih bijaksana, terutama dalam menghadapi pertemuan dan perpisahan yang memang sebuah keniscayaan. Untuk tumbuh, kita harus meninggalkan kenyamanan. Untuk tumbuh, kita harus belajar mengikhlaskan.

Kurniawan Gunadi

Jangan takut jatuh ketika menempuh perjuangan karena seluruh pengorbanan yang dilakukan akan membentuk pembelajaran penting bagimu dan membuat apa yang nanti kamu dapatkan menjadi sangat berharga. Jangan takut untuk jatuh.

Kurniawan Gunadi