Dua Sisi

Kita adalah sepasang matahari, sama-sama ingin menyinari bumi. Lantas kita berdiri di dua sisi. Membuat bumi kehilangan malamnya, tidak bisa melihat bintang-bintang.

Kita adalah sepasang rembulan, berharap menghiasi malam-malam. Lantas kita lupa, darimana cahaya kita bila tidak ada matahari? Dan malam menjadi begitu kelam.

Kita sering bersikeras untuk menjadi sama, padahal kita diciptakan berbeda. Aku laki-laki dan kamu perempuan. Kita memiliki peran yang berbeda, memiliki tujuan penciptaan yang berbeda. Selain satu tujuan yang sama, yaitu sama-sama saling melengkapi.

Kita tidak bisa berdiri sendiri, itu seperti sebuah tubuh berdiri dengan satu kaki. Mungkin bisa tapi pada akhirnya kita akan jatuh. Kita tidak perlu menjadi sama. Kita tidak perlu menjadi budak dari hawa nafsu kita. Kita tidak perlu berdiri di sisi yang berseberangan. Kita bisa bersebelahan, kita mulai dari hari ini.

Bandung, 7 September 2014 | ©kurniawangunadi

Dunia yang Sedang Kamu Kenali

Suatu ketika, aku mengijinkanmu masuk ke dalam duniaku. Karena apa? Aku tidak tahu. Duniaku yang terjal penuh liku, banyak jurang banyak badai, sering hujan sering gersang. Kamu melangkah penuh kekhawatiran, penuh pertanyaan, penuh rasa ingin tahu tentang dunia yang sedang berusaha kamu kenali.

Aku di ujung dunia menyaksikanmu. Rasa khawatirku menjadi jauh lebih besar dari rasa cintaku. Aku membuat lagi dinding dimana duniaku memiliki sekat yang membuatmu tidak lagi bisa melanjutkan perjalanan. Kamu bertanya mengapa? Aku jawab dengan tersenyum. Kamu bertanya lagi mengapa? Aku jawab, pulanglah ke duniamu, ada banyak dunia yang jauh lebih baik untuk kamu jalani, untuk kamu selami. Bukan di sini.

Rasa khawatirku semakin menjadi-jadi kala kamu nekat bertahan di balik sisi dinding. Merasa yakin bahwa aku akan luluh karena keputusanmu. Aku mempertebal dindingku dan aku menjadi tidak peduli denganmu. Aku membuatmu menangis tersedu dan tersakiti. Tahu rasanya menyakiti orang yang kamu cintai?

Aku memandangmu keluar dari duniaku. Rasa khawatirku jauh lebih besar daripada rasa cintaku. Aku terlalu rumit untuk menjadi teman perjalananmu. Duniaku terlalu mengerikan untuk perjalananmu. Aku takut menyakitmu setelah kamu percayakan hatimu.

Sebelum kepercayaanmu menjadi lebih jauh. Kupaksa kamu keluar dari duniaku. Meski aku ingin sekali ada kamu di sini. Mengobati sepi yang tidak lagi bisa ditawar kesepiannya. Aku kembali duduk di dalam dunia yang luas seorang diri. Dikelilingi badai.

Rasa khawatirku jauh lebih besar dari rasa cintaku.

Bandung, 5 September 2014 | ©kurniawangunadi

Melepaskan Beban di Perjalanan

Aku merasa kita bergerak untuk satu tujuan yang sama. Meski langkah kita berawal dari titik yang berbeda, bahkan berseberangan. Aku melihatmu dari kejauhan. Berjalan seorang diri dan aku rasa kita akan bertemu di tempat yang sepertinya juga aku tuju. Dan semakin percaya ketika jarak kita telihat semakin dekat bahwa ternyata tujuan kita satu. Di titik pertemuan itu, kita memutuskan untuk berjalan bersama.

Kita berjalan membawa beban-beban yang berat. Segala hal kita bawa dalam ransel dipunggung kita. Beban kita terasa semakin berat seiring  semakin jauhnya jalan yang kita lalui. Padahal tidak ada yang berubah isi ransel kita.

Hingga di bawah teduhnya pohon yang menaungi kita. Kita memutuskan untuk mengurangi beban kita. Diperjalanan kita memberikan sebagian isi ransel kita kepada orang lain. Memilah mana yang layak dibawa mana yang tidak. Memilih mana yang akan diberikan dan mana yang akan tetap dibawa. Kita melakukannya sepanjang perjalanan hingga terasa beban kita semakin ringan dan langkah kita terasa semakin cepat.

Kita bisa sedikit berlari-lari, kita semakin sedikit istirahat. Kita bebas menggerakkan badan kita. Kini kita hanya membawa apa yang benar-benar kita perlukan. Beban kita semakin ringan. Dan kita menemui banyak hal yang kita butuhkan diperjalanan tanpa harus membawanya dari awal. Di perjalanan kita pun bertemu dengan orang-orang yang berbagi bekal.

Kini kita berjalan. Melihatkan jalan yang lurus membentang. Kita tersenyum. Karena kita percaya bahwa perjalanan ini akan selesai di surga.

Bandung, 11 Agustus 2014 | ©kurniawangunadi

Mana Ada Kamu Di Rumahku

Ku kira pertemuan kita berakhir di rumah. Sebuah rumah dengan genting merah dan lantai kayu. Dengan teriakan-teriakan kecil dari kaki-kaki kecil yang melangkah penuh tenaga. Berteriak menyebutmu mama dan memanggilku ayah.

Mana ada kamu di rumahku. Kamu hanya ada di pikiranku. Bahkan rumah itu pun hanya ada di pikiranku. Memang bahaya berangan-angan tapi aku seperti kecanduan. Menikmati pikiranku yang penuh bayang-bayang, nyatanya mana ada kamu di rumahku.

Suaramu seperti angin yang melewati dedaunan pohon. Melewati celah-celah dinding rumah-rumah. Dibawa angin kemanapun kaki melangkah. Membisikan dan mengatakan sesuatu bahwa kamu sedang menungguku di rumah. Nyatanya, mana ada kamu di rumahku.

Orang-orang sepertiku perlu di selamatkan. Dibangunkan dari tidurnya logika. Disadarkan bahwa kehidupan nyata menanti pembuktian kata-kata. Karena untuk membawamu ke rumahku membutuhkan banyak pembuktian. Bahwa aku tidak menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ditepati dan aku bisa menunjukkan bahwa kata-kata laki-laki ini tidak berhenti sebagai angan-angan. Kamu suka diperjuangkan, kan?

Rumah, 3 Agustus 2014 | ©kurniawangunadi

Menyeimbangkanmu

Kamu berantakan dan aku terlalu rapi, bisakah kita menyeimbangkan?
Kamu tepat waktu sedang aku sering lupa waktu, bisakah kita menyeimbangkan?
Kamu cerdas dan aku biasa-biasa saja, bisakah kita menyeimbangkan?
Kamu pendiam lalu aku banyak bicara, bisakah kita menyeimbangkan?
Kamu suka membaca buku dan aku suka bernyanyi, bisakah kita menyeimbangkan?
Kamu sangat murah hati sementara aku pelit sekali, bisakah kita menyeimbangkan?
Kamu pandai mengaji dan aku biasa-biasa aja, bisakah kita menyeimbangkan?
Kamu pelupa sedangkan aku ingat setiap detil, bisakah kita menyeimbangkan?
Kamu menyukai petualangan sementara aku lebih suka bepergian yang aman, bisakah kita menyeimbangkan?

Kita tidak mesti sama dalam segala hal, kan? Kita bisa menyeimbangkan, kan?

Bandung, 20 Juli 2014 | ©kurniawangunadi

Pertemuan

Kita mungkin tidak bersatu.

Tidak semua pertemuan itu menyatukan. Seperti pertemuan kita setiap hari pada orang yang berlalu-lalang. Hanya sekedar lewat, sedikit tegur sapa. Ku kira kita pun seperti itu.

Mungkin lebih sedikit. Karena kamu sempat berhenti dan menegurku yang seorang diri. Bertanya sedang apa dan apa kabar. Aku merasa terusik, tapi aku tidak masalah. Sebab kamu yang mengusik.

Tidak semua pertemuan itu menyatukan. Seperti bergantinya siang dan malam. Seperti pasang surutnya air laut. Hanya perasaanku saja aku ingin bersatu. Selamanya bertemu. Tidak mungkin, kan? Tidak pernah ada yang benar-benar tinggal tetap.

Sampai pada satu waktu aku menyadari. Kita memang hanya bertemu. Untuk sekedar tahu, bahwa di dunia ini kita tidak benar-benar seorang diri.

©kurniawangunadi

Lari

Kita pernah dilukai. Oleh ucapan orang lain.
Kita pernah ingin mati. Oleh tatapan orang lain.
Kita pernah ingin pergi. Oleh ketidak pedulian orang lain.

Kita ingin hujan-hujanan biar air mata kita tidak terlihat.
Kita ingin sendiri biar sedih kita tidak diketahui.
Kita ingin orang lain pergi, sebab mereka tidak peduli.

Hidup ini sulit bila kita terus menerus sibuk memikirkan apa kata orang.

©kurniawangunadi

Bagaimana Bila Kamu yang Membuatku Jatuh Cinta

Coba dengar,

Selama ini kamu bercerita uring-uringan dihadapanku
Tentang perasaanmu yang kalang kabut setiap kali bertemu
Tentang rindu-rindumu yang tertahan
Tentang keinginanmu yang tak bisa tertuang
sebab, kamu perempuan
Tidak dan jangan memulai duluan, katanya

Kamu harap dia memiliki perasaan yang sama denganmu
sehingga perasaanmu tidak perlu kamu bunuh satu persatu
Kamu berandai bisa menjadi pendamping hidup yang menguatkannya
bersandar dan bergantung kepadanya

Coba dengar
Harapanmu sungguh setinggi langit
Kamu tidak takut jatuh?
Padahal dia atas awan sana sama sekali tidak ada pegangan?

Coba dengar
Bila rasamu itu begitu jauh
Bagaimana bila kamu membuatku jatuh cinta?
Dan aku memiliki perasaan yang mirip seperti yang kamu miliki kepada orang lain
Apa kamu juga akan diam saja?

Selalu sulit memahami posisi diri kita bukan?
Bila kita tidak pernah mengalami keadaannya

Bagaimana?
Aku membutuhkan jawabanmu.
Dan kamu diam saja, membisu.
Tidak percaya.

Bandung, 9 Juli 2014 | ©kurniawangunadi

Perjalanan Kita

Kita pernah kehujanan sepanjang perjalanan yang kita buat. Kita pernah harus menghadapi terik matahari yang tidak mau tahu bila kita sedang menghindarinya. Kita pernah harus melawan arus sungai yang deras, pernah harus menyelami lautan.

Kita pernah melihat matahari terbit bersama. Pernah memandang bulan purnama, lalu kita berdua diam, terpesona. Kita pernah melakukan perjalanan yang membuat kita saling mengenal. Meski diperjalanan kita pernah saling memaki, sedikit benci, bahkan ingin pergi. Tapi, kita tahu perjalanan ini tidak mungkin sendiri. Kita sadar diri.

Esok kita akan pergi. Ke tempat-tempat yang akan membuat kita semakin bijaksana. Ke tempat-tempat berbahaya yang akan mendekatkan kita.

Perjalanan kita tidak memerlukan peta. Kita akan berjalan ke arah dimana matahari tenggelam. Di pandu bintang bintang.

Bandung, 26 Juni 2014 | ©kurniawangunadi

Jangan Berhenti Melangkah

Kita pernah duduk bersama-sama di dalam bumi yang sama. Meski kita duduk sendiri-sendiri dikursinya masing-masing. Kita pernah berpapasan di jalan ketika menikmati sore hari. Meski kita tidak ingat lagi kapan itu terjadi. Sebab kita tidak saling kenal.

Kita bergerak seperti daun-daun yang jatuh. Tidak mampu menggerakan dirinya sendiri. Pasrah dihempaskan angin kemanapun membawanya pergi. Kita menggantungkan pada takdir, percaya bahwa kita akan jatuh di tempat yang sama. Meski kemungkinannya sangat kecil, kita percaya itu mudah bagi Tuhan.

Ku kira perjalanan kita sangat panjang. Kita belum bertemu, masih sibuk menyelesaikan urusan kita sendiri-sendiri. Sibuk menata banyak hal, menyelesaikan masa lalu, menghidupkan hari ini, dan merencanakan masa depan.

Perjalanan kita masih jauh. Setiap langkah kaki kita akan mendekatkan kita. Jangan berhenti 🙂

Bandung, 19 Juni 2014 | ©kurniawangunadi