menempatkan kepercayaanmu.

©kurniawangunadi

Seseorang begitu tenang dalam menunggu, sebab dalam hatinya ada rasa percaya. Mengapa ada keresahan, kekhawatiran, kegelisahan? Karena tiadanya percaya. Tidak ada satu hal yang pasti memang, tapi rasa percaya mampu meredakan ketidakpastian.

Kau menunggunya, itu ketidakpastian. Kau mau percaya? Tidak ada satupun darinya yang bisa membuatmu percaya bahwa kau harus menunggu sekian lama. Jadi, meletakkan kepercayaan itu harus pada tempatnya.

Allah masih menjadi yang pertama, kan?

Perangkap

Semua orang yang kamu benci barangkali tidak tahu tentang kebencianmu. Sementara mereka menjalani hidupnya dengan leluasa, Kamu terperangkap dengan perasaan yang menyulitkan dirimu sendiri. Kebencian itu menggelapkan hati, menggelapkan pandanganmu dari kebahagiaan.

Dan orang yang kamu cintai juga mungkin sama sekali tidak tahu tentang rasa cintamu. Sementara mereka menjalani hidupnya dan kamu tidak ada di hatinya. Kamu tertawan dalam imajinasimu sendiri, kamu kesulitan membedakan mana kenyataan dan mana angan-angan. Dan itu membuatmu tidak beranjak kemana-mana sementara ia telah melangkah jauh.

©kurniawangunadi

Bagaimana Langitmu di sana?

Kita hidup di bumi yang sama, tanah yang terhubung melalui udara-udara yang mengalir di atasnya. Menjadi angin yang membawa serta kabar-kabar tentangmu.

Bagaimana langitmu di sana? Di sini mendung hampir tiap sore, hujan setiap pukul tiga, dan selesai sebelum adzan isya. Hujan di waktu yang sama semasa kita dulu pernah menghabiskan waktu menunggu di selasar kampus, kita sama-sama lupa membawa payung di awal musim penghujan.

Dan kita menghabiskan waktu dengan berbicara.

Bagaimana langitmu di sana? Paling tidak, sudah hampir tiga musim kita tak pernah lagi saling menyapa. Selepas kita saling mengetahui tentang perasaan yang ternyata diam-diam tumbuh sejak awal musim penghujan kala itu. Dan saat kita tahu bahwa perasaan itu tidak boleh menjadi besar lantaran kita tidak bisa menemukan jalan untuk merawatnya di tempat yang layak, yang kita namai sebagai rumah tangga. Kita memutuskan untuk mendiamkan, agar ia mati perlahan seiring berjalannya waktu.

Bagaimana langitmu di sana?

Hidup kita telah berjalan di atas keputusan yang pernah kita ambil. Tidak boleh ada penyesalan, itu adalah kesepakatan kita. Sekalipun kita tidak akan pernah lagi berada di bawah langit dan musim yang serupa.

Tidak boleh ada penyesalan, itulah kesepatan yang akan selalu kita yakini.

©kurniawangunadi | yogyakarta, 21 maret 2017

Buta

Apakah dengan menjadi sungai, aku bisa bertemu denganmu di samudra? Apakah dengan menjadi lautan, aku bisa bertemu denganmu di langit biru?

Bukankah selama ini kamu mengira aku adalah api yang berniat membakar hidupmu? Bukankah selama ini kamu mengira aku adalah angin yang berniat meluluh lantakan hatimu? Padahal aku tidak pernah berniat menjadi seperti itu, meskipun aku adalah api, atau angin yang kamu sangka badai.

Kalau saja kamu bersedia mendengar dan melihat lebih jauh. Bukankah selama ini aku adalah mata air yang kamu cari-cari? Bukankah selama ini aku adalah cahaya yang kamu butuhkan?

Hanya saja, hatimu tertutup oleh angan-angan kosong. Dipenuhi oleh impian yang tidak pernah menjadi nyata.

© kurniawangunadi

Dengarkan Baik-Baik

Coba perhatikan langit itu baik-baik. Tinggi, mirip
seperti pelangi. Kalau kita mencoba mendekatinya, rasanya tidak pernah
sampai. Kita tidak mengerti dimana batas warna langit biru itu bukan?

Sama
seperti perasaan kita, coba rasakan baik-baik. Dalam sekali sampai hati
kita bisa merasakan getar, bahagia, cemas, sakit, bahkan dalam waktu
bersamaan. Namun, kita tidak mengerti dimana batas dalamnya hati itu
bukan?

Sama seperti impian kita, coba urai baik-baik. Banyak,
begitu banyak dan kita begitu bersemangat sekaligus khawatir ketika
ingin mewujudkannya. Kita bahkan menjadi sulit membedakan mana
keinginan, mana impian.

Sama seperti kamu, coba dengarkan
baik-baik. Sangat berharga dan begitu layak diperjuangkan. Aku memahami
bahwa perjuangan itu akan menempuh perjalanan jauh, sampai-sampai sempat
membuatku ragu ketika akan mengambil keputusan. Dan aku mengerti bahwa
yang berharga tentu tidak dengan mudah aku miliki 🙂

Rumah, 30 Juli 2015 | ©kurniawangunadi

Langit-langit

Seandainya kau ada di langit, maka doa akan menjadi cara untuk mencapaimu.

Seandainya kau ada di langit, maka aku tak cukup menyebut namamu. Perlu mewujudkannya dalam tindakan.

Langit-langit itu tinggi, seperti sesuatu yang tak mungkin ku ukur. Sesuatu yang jauh dan tak mungkin dilipat jaraknya.

Tapi doa mampu melipat itu semua menjadi dekat. Tapi doa mampu menjembatani ruang dan waktu.

Langit-langit itu jauh. Tempat dimana bintang-bintang bergantung tanpa tali. Tempat dimana banyak impian manusia berada.

Aku ingin ke langit, tempat dimana kamu disembunyikan di antara jutaan bintang. Kau bersinar paling terang, memandu jalan menujumu.


©kurniawangunadi | 19 Februari 2015

5.38 a.m

Kau tidak perlu percaya jika aku mencintaimu, ketidakpercayaanmu paling tidak membuatku lebih tenang karena tanpa perlu membuatmu ketakutan karena kuintai setiap hari, kucari kesana kemari.

Setidaknya ketidakpercayaanmu membuat kita nyaman berteman, berkirim salam, menanyakan kabar, atau sekedar berpapasan di tengah perjalanan.
Tapi sampai kapan kau akan tidak percaya?

Aku harus membuatmu percaya. Dan itu ternyata cukup sulit. Huh…

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Temanggung, Jawa Tengah | 30 Januari 2014

©kurniawangunadi

Dunia

Setiap manusia adalah dunia. Seperti halnya saat aku lebih senang menyendiri. Hidup dalam dunia sendiri. Menciptakan dunia dalam pikiran sendiri. Bergaul dengan dunia sendiri.

Dunia yang terdiri dari tiga masa, masa lalu-sekarang-dan depan. Setiap manusia adalah semesta. Memiliki dunia lengkap dengan langitnya yang tinggi dan tanahnya yang luas. Ah tidak juga, ada yang memiliki dunia yang sempit. Sesempit pikirannya. Memiliki langit yang mendung, semendung hatinya.

Dan setiap orang adalah dunia. Dunia yang sulit dimasuki oleh orang lain. Dunia yang terkunci rapat. Dunia yang digenggam erat. Tak seorang pun memasukinya tanpa ijin. Itupun hanya sebagian kecil dunianya.

Lalu, ada satu masa dimana orang-orang itu akan membagi dunianya. Tentu saja pada orang yang bisa diajak berbagi. Dan beruntunglah orang-orang yang menemukan dunianya di orang lain. Tidak mudah hidup di dunia milik orang lain. Tidak mudah pula dunia sendiri dimasuki orang lain. Tidak mudah berbagi kehidupan, apalagi berbagi dunia.

Setiap manusia adalah dunia, dan beruntunglah ketika ia juga menjadi dunia bagi orang lain.

© kurniawang gunadi

Begitulah Aku Kepadamu

Kau tak tahu seberapa dalam kata ‘masih’ yang aku tulis dalam jurnalku.

Kau tak tahu seberapa dalam aku menulis kata ‘kemarin’ dalam prosaku.

Kau tak pernah tahu seberapa dalam aku mengharapkan kata ‘akan’ atau ‘semoga’ dalam benakku.

Kau tak akan pernah tahu bagaimana kata ‘cinta’ bisa mengubah semua tulisanku dalam biru hidupku.

Kata yang mungkin tak bermakna, justru itulah yang paling dalam dan paling ingin ku tandai dengan kutip.

Jika kau tanya seberapa jauh yang ku tahu tentang kau, aku tak tahu apa-apa tentang kau. Tapi jika kau bertanya seberapa dalam harapanku akan kau yang ada disamping bangkuku, sedalam inti bumi atau bahkan sedalam inti mataharilah dalamnya.

Hingga ketika hanya dengan melihatmu seperti ini, aku bahkan begitu terkesan. Begitulah aku kepadamu.

Sani Asmi Ramdani

Panggilah Aku

Panggilah aku hujan, maka aku akan menjadi gerimis kecil yang datangnya kamu rindukan setiap hari. Kamu bisa bermain dengan tenang dan aku tak akan membuatmu sakit. Percayalah bahwa hujan tidak membuat sakit.

Panggilah aku matahari, maka aku akan menjadi pagi dan senja yang warnanya sangat kau sukai. Yang kamu merasa tentram hanya dengan melihat langit yang jingga kemerahan tanpa perlu melihatku.

Panggilah aku malam, maka aku akan menyediakan malam hangat yang aman. Yang kamu bisa bermain bebas dan aku pastikan bulan bersinar terang dan bintang bertaburan.

Panggilah aku sesukamu, maka aku akan menjadikan diriku hal-hal yang menyenangkan untukmu, hanya karena aku tidak ingin kamu sedih.

Itu saja alasanku.

  • kurniawangunadi