Menemukan Cara

Aku hanya belum menemukan cara bagaimana untuk bisa mengenalmu. Boleh beri sedikit waktu? Karena barangkali bukan hari ini.

Aku hanya belum menemukan cara untuk memenuhi setiap kriteriamu. Barangkali kamu mengizinkanku untuk mempelajarinya? Karena ada hal-hal yang bisa aku usahakan untuk memenuhinya.

Aku hanya belum menemukan caranya. Termasuk menemukan cara agar sabar tidak selalu aku ukur dengan batasan waktu.

Yogyakarta, 4 Juli 2017 | ©kurniawangunadi

Ada lautan yang riaknya riuh bergemuruh terdengar sampai kamar. Terdengar sewaktu bersiap tidur. Seolah berbicara bahwa di seberang sana, rindu meniup-niup air lautan yang tenang menjadi ombak. Ombak yang menghantam karang yang tidak peduli siang dan malam tetap begitu tak mau tahu, sekeras apapun ombak datang. Seperti aku katanya. Tidak peka.

Ada bait-bait doa yang menggerakkan angin. Menerpa dedaunan pohon dan menciptakan suara-suara yang riuh rendah. Hingga ku dengar suara itu di telingaku sambil menikmati siang yang terik. Aku tak pernah paham apa maknanya, sebab aku memang tak pernah tahu doa apa yang kamu ucapkan setiap hari. Aku pernah memintamu mengatakannya tapi kamu justru menuduhku keterlaluan.

Aku tidak mampu menerjemahkan deburan ombak, apalagi bisik angin yang menerpa dedaunan pohon. Kalau memang ada sesuatu yang ingin kau utarakan, boleh kuminta sedikit waktumu, juga matamu, juga hatimu, juga kata-katamu.

Aku hanya ingin tahu. Perasaan seperti apakah yang mampu menjelma menjadi sesuatu yang aku sukai, deburan ombak dan gemerisik dedaunan pohon.

©kurniawangunadi | 12 Juni 2017

Buta

Apakah dengan menjadi sungai, aku bisa bertemu denganmu di samudra? Apakah dengan menjadi lautan, aku bisa bertemu denganmu di langit biru?

Bukankah selama ini kamu mengira aku adalah api yang berniat membakar hidupmu? Bukankah selama ini kamu mengira aku adalah angin yang berniat meluluh lantakan hatimu? Padahal aku tidak pernah berniat menjadi seperti itu, meskipun aku adalah api, atau angin yang kamu sangka badai.

Kalau saja kamu bersedia mendengar dan melihat lebih jauh. Bukankah selama ini aku adalah mata air yang kamu cari-cari? Bukankah selama ini aku adalah cahaya yang kamu butuhkan?

Hanya saja, hatimu tertutup oleh angan-angan kosong. Dipenuhi oleh impian yang tidak pernah menjadi nyata.

© kurniawangunadi

Bagaimana Bila Kamu yang Membuatku Jatuh Cinta

Coba dengar,

Selama ini kamu bercerita uring-uringan dihadapanku
Tentang perasaanmu yang kalang kabut setiap kali bertemu
Tentang rindu-rindumu yang tertahan
Tentang keinginanmu yang tak bisa tertuang
sebab, kamu perempuan
Tidak dan jangan memulai duluan, katanya

Kamu harap dia memiliki perasaan yang sama denganmu
sehingga perasaanmu tidak perlu kamu bunuh satu persatu
Kamu berandai bisa menjadi pendamping hidup yang menguatkannya
bersandar dan bergantung kepadanya

Coba dengar
Harapanmu sungguh setinggi langit
Kamu tidak takut jatuh?
Padahal dia atas awan sana sama sekali tidak ada pegangan?

Coba dengar
Bila rasamu itu begitu jauh
Bagaimana bila kamu membuatku jatuh cinta?
Dan aku memiliki perasaan yang mirip seperti yang kamu miliki kepada orang lain
Apa kamu juga akan diam saja?

Selalu sulit memahami posisi diri kita bukan?
Bila kita tidak pernah mengalami keadaannya

Bagaimana?
Aku membutuhkan jawabanmu.
Dan kamu diam saja, membisu.
Tidak percaya.

Bandung, 9 Juli 2014 | ©kurniawangunadi

Kembali kepada Tuhan

Pada akhirnya orang-orang yang jatuh cinta akan kembali kepada Tuhan,

dia mencari sebab mengapa dia jatuh cinta

dan mencari cara untuk menyelamatkan cintanya

Pada akhirnya orang-orang yang jatuh cinta akan duduk manis memikirkan Tuhan,

merendah-rendah diri meminta kepada Tuhan

Lalu seolah-olah, hilanglah segala kegelisahannya 

Pada akhirnya orang-orang yang jatuh cinta akan kembali kepada Tuhan

Setelah dan sejauh apapun dia mencari

pada akhirnya dia hanya bisa meminta

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Tasikmalaya, 24 Ramadhan 1432 H | ©kurniawangunadi

Ibu, boleh kupinjam sebentar suamimu?

Ijinkan aku menculiknya, menculik cintanya. Menyembunyikan kesetiaannya dibalik saku bajukudia yang tidak menyertakan nama lain selain ibu dalam hidupnya.

Mendekap perhatiannya yang hangat berpendar, lalu menyimpannya di toples-toples kacakesabarannya untuk tetap berada di sisi ibu meski sedang susah.

Ibu, boleh kupinjam sebentar suamimu?
kepalaku sedang butuh tempat untuk disandarkan, badanku butuh ditopang.