Keinginan

Puasa ramadhan kemarin mengajarkan kita satu hal. Bahwa sebenarnya apa yang kita konsumsi selama ini lebih banyak berasal dari hawa nafsu daripada kebutuhan kita yang sesungguhnya.

Sesederhana ini. Dalam sehari puasa kita makan sahur, bahkan ada yang tidak sempat sahur dan hanya minum teh manis hangat dan beberapa butir kurma, bahkan hanya ada yang sempat air putih saja mungkin.

Kemudian menjalani puasa hingga waktu berbuka sorenya. Makan pun tentu tidak akan muat tiga porsi (jika kita ukur 3 kali makan dalam sehari) sekaligus. Pasti hanya secukupnya kenyang, bahkan ada beberapa yang pada waktu berbuka hanya minum hangat dan beberapa butir kurma dan baru makan besar selepas tarawih.

Dan sesungguhnya, kebutuhan dan kecukupan kita adalah sebanyak itu saja.

Sementara di hari biasa kita makan kesana kemari, jajan ini itu, bahkan ketika makan pagi pun segera lekas lapar di siang hari atau lapar karena melihat makanan yang menarik. Dan itulah hawa nafsu yang selama ini kita turuti.

Kebutuhan kita tidak sebanyak itu, dan puasa menyadarkan bahwa apa yang kita butuhkan untuk menjalani hidup ini dengan baik dan sehat ya secukup itu saja.

Kalau kita memang berniat menuruti keinginan/hawa nafsu kita, tidak akan pernah ada habisnya bukan?

Yogyakarta,  2 Juli 2017 | ©kurniawangunadi

Saling Sabar

Ternyata di bulan ke sembilan saya menikah, saya semakin menyadari bahwa ada beberapa hal yang dulu saya pahami ternyata keliru. Sebabnya sederhana; hanya karena saya membaca tanpa mengalami, bertanya tanpa mengalami, dan kini saya mengalaminya-menjalaninya, hingga jawaban itu ternyata terhimpun seiring berjalannya waktu. Banyak kekhawatiran saya tentang pernikahan yang ternyata tidak terjadi, kekhawatiran yang saya buat-buat dalam pikiran saya sendiri waktu itu. Juga ternyata banyak hal tak terduga yang mengejutkan, oleh karena saya memang tidak tahu, tidak ada pedomannya, dan memang saya kini menyadari bahwa setiap pernikahan akan memiliki kisahnya masing-masing. Eksklusifitas yang hanya bisa dirasakan oleh sepasang manusia yang menikah tersebut.

Seringkali orang lain mengatakan kepada kami kalau kami terlihat cocok karena banyak kesamaan, misal sama-sama suka menulis, juga sama-sama suka berkegiatan sosial. Atau ada orang tak dikenal yang mengatakan kalau kami itu saling melengkapi banget, kayak puzzle. Ada satu rahasia (mungkin bisa saya katakan sebagai ilmu) pernikahan yang dulu saya tidak pelajari tapi akhirnya saya pahami setelah menikah, yaitu ilmu saling sabar.

Mau bagaimanapun, saya dan istri adalah dua pribadi yang berbeda dan tumbuh amat berbeda sejak lahir. Mau disatukan seperti apapun, akan selalu ada celah-celah perbedaannya. Mau saling melengkapi seperti apapun, akan selalu ada pertentangan-pertentangannya. Hanya saja, hal-hal seperti itu tidak akan pernah ditemukan di tempat umum karena akan selalu berakhir di rumah.

Dan kuncinya adalah ilmu saling sabar. Sebenarnya, saya dan istri hanya melakukan itu sebagai upaya kami dalam membina rumah tangga muda ini. Kami tidak bersikeras untuk saling melengkapi satu sama lain, tidak juga bersikeras  bahwa kami harus segera berlipat ganda potensinya. Semua itu  butuh satu hal yang penting, yaitu kesediaan masing-masing kami untuk dilengkapi, disadarkan, ditekan (dalam hal positif), didorong, dan sebagainya untuk menjadi pribadi yang berkali lipat baiknya.

Ilmu saling sabar. Kami hanya berusaha untuk saling sabar menghadapi diri kami sendiri, saling sabar juga menghadapi satu sama lain sebagai pasangan. Saling sabar terhadap sifat-sifat, terhadap ekspektasi, juga terhadap ego. Kami berusaha keras untuk saling sabar, yang ternyata itupun sangat sulit.

Ketika menikah nanti, kita mungkin akan menyadari kalau ternyata tidak selalu menikah itu saling melengkapi. Belum tentu kehadiran kita melengkapi kekurangannya, juga sebaliknya. Belum tentu kehadirannya meniadakan kekurangan kita. Bisa jadi justru semakin menambahnya. Belum tentu kehadirannya mampu meredakan kekhawatiran dan keresahan kita dulu ketika sendiri, bisa jadi justru kekhawatiran kita semakin bertambah.

Kita perlu untuk saling sabar. Sebab selama-lamanya kita harus saling beradaptasi. Kita harus saling percaya, saling menerima satu sama lain, saling mendukung, dan saling mengendalikan ego. Dan untuk melakukan itu semua, kita perlu untuk saling sabar.

Selamat mempersiapkan kesabaran sebagai bekal, pastikan ia tidak ada habisnya. Jangan membatasinya. Biarkan itu tumbuh setiap hari dalam pernikahan nantinya.

©kurniawangunadi | 15 Juni 2017

Ramadhan 15-16 : Ziarah Kematian

Setiap kali pergi ke permakaman. Saya tertarik dengan tulisan-tulisan yang tertera di batu nisan. Biasanya di nisan tersebut ditulis nama, tanggal lahir, dan tanggal kematian. Saya tertarik untuk berhitung, berapa umur beliau hidup di dunia.

Sangat jarang saya mendapati usia di atas 90 tahun. Rata-rata 60-70 tahunan. Dan tidak jarang pula yang usianya dibawah 30 tahun. Saat-saat berziarah adalah saat yang paling tepat untuk kembali mengingat waktu yang telah saya tempuh selama ini. Usia saya akan mencapai 27 tahun di akhir tahun ini. Saya tidak pernah tahu berapa jatah umur saya untuk hidup di dunia ini. Mungkin tidak banyak, selama-lamanya pun tidak akan mencapai 100 tahun lagi tentu saja.

Dan di waktu mengingat itu semua, rasanya jeri. Kematian itu sesuatu yang pasti datang. Hanya soal waktu, kapan itu datang. Hanya soal waktu saja, saya bisa dimatikan olehNya setiap waktu.

Ziarah mengingatkan kita kembali bahwa dunia yang riuh ini benar-benar sebentar. Benar-benar seperti permainan. Kalau ziarah tidak sanggup menggapai hati nurani kita, barangkali ada yang sedang menutupinya. Ada tabir yang membuat hati kita tidak bisa merasakan kematian sebagai sesautu yang setia menanti kita.

10 Juni 2017/ 15 Ramadhan dua hari yang lalu, simbah puteri saya meninggal di kampung halaman dengan usia >90 tahun. Simbah dari garis ayah. Simbah terakhir yang saya miliki. Mohon doanya semoga beliau mendapatkan tempat terbaik di sisiNya. Aamiin.

10-11 Juni 2017 | kurniawangunadi

Ramadhan #14 : Semakin Dewasa

Semakin kita dewasa, kita semakin sadar kalau kita butuh lebih dari sekedar perhatian, paras yang tampan/cantik, pekerjaan yang mapan, dan kekayaan, yaitu tanggungjawab. Tanggungjawab adalah hal yang paling kita butuhkan dari seseorang yang kita damba kelak menjadi imam/makmum kita. Sesuatu yang semakin jarang kita temukan dari diri seseorang. Dan itulah yang sesungguhnya kita butuhkan, meski sampai hari ini kita masih memaksakan kebutuhkan kita atas kecantikan/ketampanan, kekayaan, dan segala hal yang sifatnya sementara, hilang oleh waktu.

Semakin dewasa kita akan semakin mengerti kalau kita belajar bukan sekedar untuk mencari nilai. Kita butuh ilmu untuk kita gunakan dikehidupan kita. Dan kita teringat semasa dulu sekolah, seluruh pelajaran yang kita pelajari hilang tanpa bekas dan nyaris tak satupun bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga ingat, semasa dulu berlomba-lomba mencari nilai tertinggi tanpa kita paham mengapa kita belajar ini dan itu selain untuk mendapatkan nilai. Kini selepas dari dunia sekolah, kita sadar hanya sedikit ilmu yang kita miliki yang bisa kita gunakan. Lainnya adalah kekhawatiran, bahkan kita tidak memiliki ilmu untuk menghadapi kekhawatiran tsb.

Semakin kita dewasa, kita semakin sadar kalau waktu berjalan begitu cepat. Dan tak terasa kita sudah sampai di waktu-waktu yang paling meresahkan semenjak kita hidup. QuaterLifeCrisis. Kala kita harus mengambil begitu banyak keputusan dan kita sadar bahwa banyak dari keputusan itu bersifat permanen, seperti pilihan kita atas karir, pasangan hidup, dsb. Sementara kita tidak siap mengambil keputusan itu karena kita ragu-ragu, ragu yang disebabkan oleh sedikitnya informasi yang kita miliki atas pilihan-pilihan yang ada didepan mata kita. Semakin dewasa, kita semakin ingin kembali ke dunia anak-anak. Dunia tanpa beban, dimana kita bisa mengambil keputusan apapun tanpa berpikir resikonya bahkan tanpa memikirkan apa kata orang lain. Seperti keputusan kita saat kecil saat bercita-cita untuk menjadi superhero seperti dikartun. Kalau hari ini kita masih melakukannya, kita akan ditertawakan. Dan semakin dewasa, kita semakin sadar bahwa kita butuh keberanian, sesuatu yang dulu sangat membara semasa kecil.

Semakin dewasa, kita semakin mengerti kalau di ramadhan ini kita butuh lebih dari sekedar euforia buka puasa bersama, baju baru menjelang lebaran, bermain kembang api, layaknya dulu ketika masih kecil. Kita butuh rahmatNya, dan itu hanya bisa kita dapatkan melalui keikhlasan kita dalam menjalani ibadah selama ramadhan ini. Kita mulai membuat targetan, kita melipatgandakan ibadah-ibadah kita sehari-hari.

9 Juni 2017 | ©kurniawangunadi

Ramadhan #13 : Refleksi

Saya masih ingat bagaimana rasanya hidup dengan lampu minyak setiap malam karena belum ada listrik. Bagaimana belarian di halaman hanya dengan diterangi cahaya rembulan. Saya juga masih ingat rasanya hujan-hujanan di tengah sawah. Juga rasanya mencari jangkrik di pematang sawah sepulang sekolah.

Saya masih ingat dulu semasa kecil, kalau mau ke kota, saya dibonceng dibelakang dengan sepeda jengki sebelum punya motor. Saya masih ingat bagaimana rasanya setiap minggu pagi suka pergi ke pasar di desa sebelah untuk mencari jajanan atau mainan.

Saya masih ingat sebagian besar masa kecil yang mungkin akan sangat jauh berbeda dengan teman-teman yang tinggal di kota besar sejak kecil. Saya masih ingat momen-momen ramadhan saat kecil. Dulu suka berebut mic untuk mengumandangkan adzan dari masjid.

Setiap dari kita punya masa kecil. Dan masa kecil saya diisi dengan hal-hal sederhana tapi terasa mewah kalau diingat-ingat. Satu hal yang mungkin tidak saya dapatkan secara utuh adalah tentang belajar agama.

Dulu saya hanya belajar mengaji di tetangga, mengaji sesederhana membaca Al Quran tanpa belajar tajwid apalagi maknanya. Pelajaran agama berikutnya hanya saya dapatkan dari materi di sekolah, itupun seminggu sekali.

Secara umum, saya baru benar-benar belajar ketika saya merantau ke Bandung 8 tahun yang lalu. Saya baru belajar tentang banyak hal dan baru mengerti. Saya baru memahami banyak sekali ilmu yang dulu saya mungkin hanya sangka-sangka kenapa, kok bisa, darimana, dan berbagai pertanyaan lainnya.

Saya seringkali iri (iri dalam hal positif) dengan teman-teman seusia saya yang pemahamannya lebih baik dan banyak. Mereka telah belajar sejak kecil. Waktu-waktu yang dulu saya habiskan dengan banyak sekali bermain-main.

Akan tetapi, saya sadar itu semua tidak perlu disesali. Saya rasa, itulah proses yang memang harus saya lewati. Saya  sadar betul kalau ilmu agama saya masih sangat jauh dari teman-teman saya yang lain, saya hanya bersyukur tentang satu hal. Yaitu ada keinginan dalam hati saya untuk belajar lagi.

Bahkan selepas paham tentang banyak hal, saya sempat khawatir kalau ilmu agama saya tidak cukup untuk bekal saya menikah. Tapi, alhamdulillah saya menikah di tahun 2016. Tahun-tahun dimana saya juga menyadari kalau ilmu saya masih terasa kurang.

Kini, saya paham kalau melalui pernikahan ini pula, saya dituntut untuk belajar dan langsung mempraktikan. Sesuatu yang mungkin dulu saya khawatirkan secara berlebihan.

Ada banyak hal yang bisa kita syukuri.

8 Juni 2017 | ©kurniawangunadi

Ramadhan #5 : Ukuran

Setiap kali waktu beranjak, ukuran-ukuran kita terhadap sesuatu ikut bertumbuh. Seperti saat kita kecil, ukuran puasa kita mungkin hanya sampai adzan dzuhur, hari ini ukurannya harus penuh sampai adzan maghrib.

Ukuran kita dalam pemaknaan pun bertumbuh. Ukuran kita tentang ikhlas, ukuran kita tentang kasih sayang, ukuran kita tentang kebaikan, semuanya ikut bertumbuh.

Kini, coba selidiki. Apa yang berbeda dari ukuran tahun ini dan tahun lalu, dalam hal apapun. Apakah ukuran kita dalam memandang kaselahan itu berubah, hari ini dan dulu? Apakah ukuran kita dalam menjalani ibadah bertambah, hari ini dan dulu?

Kita tidak pernah bisa memaksaan ukuran kita kepada orang lain, pun sebaliknya. Sebagaimana rasanya tidak nyaman saat kita diminta untuk masuk dalam ukuran-ukuran yang dibuat oleh orang lain. Untuk itu, sadarilah bahwa tidak sepantasnya kita mengukur diri dan orang lain, karena memang berbeda patokannya.

Di ramadhan ini, mungkin ada yang baru mulai untuk shalat jamaah di masjid ketika kamu sudah rajin lima waktu. Di ramadhan ini, mungkin ada yang baru mulai memakai kerudung disaat kerudungmu sudah begitu panjang dan tertutup. Di ramadhan ini, mungkin ada yang baru mulai mengenal hijaiyah saat kamu sudah bisa mengkhatamkannya dua kali dalam sebulan ramadhan ini. Di ramadhan ini, barangkali juga ada yang baru belajar berpuasa, sekalipun usianya sepantara kita.

Mari bantu. Semoga dengan begitu, kita membantu memudahkan orang lain menjalani prosesnya, setidaknya mereka tahu bahwa kita adalah barisan orang-orang yang mendukung prosesnya, bukan menghakiminya.

31 Mei 2017 / 5 ramadhan 1438H | ©kurniawangunadi

Ramadhan #4 : Kemudahan Kita

Saya pernah mengulas tentang hal ini ditulisan lama, saya lupa
judulnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat dinanti bagi orang islam
yang beriman dan bertakwa. Ada banyak keberkahan yang turun di bulan
suci tersebut. Setiap orang yang saya kenal berlomba untuk menggapai
setiap mili-keberkahan. Hari ini pun, jamaah subuh yang biasa saya
kunjungi menjadi penuh. Kemarin malam padahal tetap seperti biasa, dua shaf.

Ramadhan
ini seolah-olah setiap orang islam terlihat soleh/solehah. “Terlihat”
karena memang itu yang nampak, perkara niat itu hak Allah.

Tadi
malam, sepulang tarawih di Masjid Nurul Asri – Deresan, saya mampir dulu
ke tempat makan untuk mencari makan malam sekaligus cadangan sahur.
Saya berusaha berkaca seluas-luasnya di ramadhan ini. Saya dan mungkin
begitu banyak orang memasang target besar dalam ibadah individu; baca
Quran-nya lebih banyak, shalat sunahnya lebih rajin, tahajudnya lebih
panjang, dan apapun yang terkait dengan ibadah individu.

Tentu
ini bukan bicara tentang baik dan buruk atau salah dan benar. Saya
merenung dalam perjalanan kembali ke rumah. Kalau keberkahan (dalam hal
ini dalam bentuk pahala) hanya turun kepada orang-orang yang melakukan
ibadah tersebut secara penuh, bagaimana dengan orang-orang yang mungkin
tidak mampu bahkan tidak berkesempatan untuk itu?

Bukan karena
mereka tidak ingin, tapi keadaan, kondisi, dan berbagai tuntutan hidup
membuat mereka harus seperti itu. Saat kita sedang khusu’ tarawih, di
luar sana ada bapak tukang parkir yang sedang menjaga kendaraan kita, di
luar sana yang kita sering sekali abai dan tidak peduli, ada puluhan
remaja seusia kita yang harus berjuang untuk hidup, mereka menjadi
penjaga toko, pelayan restoran, dan untuk bekerja itu mereka merelakan
waktu shalat tarawih berjamaah. Bahkan, pemilik tempat makan pun sengaja
membuka tempat makannya di jam-jam itu (biasanya 17.00-22.00). Dan
kita, sering tertawa usai tarawih ketika makan di sana atau saat berbuka
puasa di tempat makan itu. Apalagi saat nanti ramai acara buka puasa bersama. Jahat gak sih?

Di
saat kita begitu bersemangat menghadiri kajian-kajian dengan penceramah
yang keren-keren, ada yang harus berjuang untuk hidup dan melakukan
tugasnya. Para penjaga pintu kereta api, para sopir bus malam, para
nakhoda di lautan, para kelasi, juga buruh-buruh bangunan dan pelabuhan,
petugas pom bensin, penjaga mini market, tukang parkir, masinis, pilot,
dokter dan perawat yang harus berjaga di rumah sakit, dll. Mereka
berjuang untuk hidupnya juga hidup orang lain, mungkin juga untuk
keluarganya di rumah. Kalau mereka semua meninggalkan tugas
pekerjaannya, mungkin kita semua yang kemudian marah-marah. Jahat gak sih?

Di
saat pagi kita bisa bersantap sahur, duduk manis di ruangan keluarga
yang hangat, makanan yang enak. Ada di luar sana yang harus ke pasar
dini hari, ada yang memasak untuk warungnya demi teman-teman yang nge-kos bisa beli makanan untuk sahurnya, dan lain-lain. Kapan terakhir kali kita berempati?

Betapa
begitu banyak kemudahan yang kita miliki. Kita tidak perlu susah payah
untuk memenuhi kebutuhan keuangan. Tidak perlu bekerja menjadi penjaga
toko, pelayan restoran, apapun itu. Kita bisa menghadiri kajian rutin
tanpa harus memikirkan hal lain. Kita diberikan banyak kemudahan untuk
meraih keberkahan di bulan ramadhan ini dengan segala target ibadah
individu yang sudah dibuat.

Pertanyaannya, adakah target ibadah
sosial di sana? Adakah niat kita untuk ikut serta dan turun tangan
membantu memudahkan orang lain beribadah juga sama seperti yang kita
dapatkan? Akankah kita begitu egois, mengharapkan semua keberkahan itu
menjadi milik kita semata tanpa peduli apakah itu juga didapatkan oleh
orang lain?

Semoga keberkahan ramadhan itu turun kepada
orang-orang yang memudahkan kita semua dalam menjalankan ibadah. Bahkan
saya merasa, mereka jauh lebih pantas mendapatkan kebaikan itu. Yang
jelas, Allah Maha Pengasih dan Penyayang.

© Kurniawan Gunadi

Tulisan ini adalah tulisan ramadhan tahun lalu, masih relevan hingga saat ini. Semoga tahun ini kita bisa meningkatkan kapasitas diri dan juga membantu kemudahan orang lain disekitar kita. Tulisan asli bisa di klik di sini.

Ramadhan #3 : Orientasi

Dulu sewaktu mahasiswa, barangkali di antara kita pernah ada yang berpikir seperti ini: ikut kegiatan ini itu untuk memperkaya CV. Ikut kepanitian ini dan itu, ikut mengajar di rumbel, dsb. Tujuannya tidak lain untuk memperkaya CV. Mau tidak mau, kita perlu jujur terhadap diri sendiri. Mengapa kita aktif di sana sini saat itu, ada hal-hal lain yang kita kejar dan cari. Pun saya sendiri.

Hingga setelah kita lepas dari dunia perkuliahan. Ada saja hal-hal semacam itu yang kembali terulang. Saat kita terjun di masyarakat, saat kita ikut serta di berbagai kegiatan sosial. Kadang, kita perlu jujur kalau kita tidak setulus dan seikhlas itu. Masih ada hal-hal duniawi yang kita cari dari sana.

Sekarang, urusan seperti itu tampa kita sadari merembet ke urusan-urusan ibadah kita. Dan sungguh, kalau setiap peluh kita selama ini, semangat kita untuk berbuat baik yang selama ini kita orientasikan kepada ibadah, akan sangat absurd ketika kita terjebak pada ukuran materi. Saat kita berbuat sesuatu untuk orang lain, ada di hati kecil kita harap untuk dibayar atau menerima balasan. Saat kita harus menguras tenaga dan pikiran dulu ketika di organisasi, ada di hati kecil kita harap untuk nanti ini semua bisa dicantum dalam CV dan mempengaruhi penilaian orang lain terhadap kita.

Niat-niat baik kita yang tadinya kita orientasikan sebagai ibadah. Mulai terbentur dengan pandangan kita pada dunia; bahwa kita butuh materi untuk hidup dan apa yang sedang kita kerjakan tidak memberi apa-apa.

Saya selalu takjub dengan teman-teman saya yang sampai saat ini memiliki nafas panjang terhadap perjuangan yang sejak dulu mereka rayakan. Dan tak peduli pada bagaimana masyarakat sibuk membahas tentang dunia, tentang uang, tentang hidup yang layak dalam standar mereka, dan tentang pandangan bahwa lulus dari kampus ini harus menjadi orang besar, bekerja diperusahaan multinasional, dsb.

Beberapa waktu yang lalu ketika saya diajak untuk berbagi di Dreamdelion. Saya sempat menyampaikan hal ini. Utamanya untuk adik-adik yang masih semester awal perkuliahan. Bahwa setiap hal baik yang sedang dikerjakan saat ini, melalui apapun jalannya, jangan sampai ternodai dengan ukuran-ukuran materi, waktu, tenaga, dan segala sesuatu yang membuat kita menjadi pamrih. Karena sungguh, menjaga nafas panjang dalam berbuat baik, apalagi dengan ide-ide kita semasa kuliah, itu sangat sulit. Apalagi menjaga orientasi kita tetap terjaga. Perkara nanti kita akan memetik buahnya atau tidak, jangan terlalu merisaukannya.

Dan saya mengamati bahwa apa yang kita bentuk sejak kuliah dulu akan membentuk diri kita di masyarakat. Orientasi kita dalam hidup ini akan ada dalam kendali kita. Dulu mungkin kita punya banyak teman yang sama-sama sedang dalam tahap belajar. Kini, kita menyaksikan realita dan harus membuat keputusan kemana orientasi hidup kita.

Akankah nafas perjuangan yang dulu kita hembuskan, masih berhembus hingga kini? Akankah setiap mimpi kebaikan yang dulu lahir dari keresahan kita, masih tumbuh hingga saat ini. Saat kita sudah dihadapkan pada dunia yang tidak seideal dunia kampus. Saat kita harus bertarung antara untuk hidup dan untuk menghidupkan impian kebaikan kita.

Urusan-urusan niat kita sejak kuliah akan diuji. Jangan sampai, ukuran-ukuran kita terhadap materi merasuk dalam niat-niat baik kita dan setiap perjuangan kita yang kita orientasikan untuk ibadah. Tidak hanya ibadah ritual, tapi juga ibadah sosial. Dan kita paham bahwa bab niat adalah urusan yang sama sekali bukan urusan sepele.

29 Mei 2017 / 3 Ramadhan 1438H | ©kurniawangunadi

Ramadhan #2 : Melalui Peran

Sewajarnya remaja, kita senang melihat orang tampan atau cantik. Apalagi ketika kita mendambakan sosok yang menjadi pasangan kita itu yang cantik atau yang tampan. Layaknya artis korea semisal. Sebagai sosok-sosok yang luwes saat kita ajak ke kondangan.

Dan kini, iklan dan barisan newsfeed di instagram pun banjir dengan kecantikan dan ketampanan. Cantik dan tampan dalam definisi rupa. Semulus kulitnya, seputih kulinya, selurus rambutnya, sekeren bajunya, sehitam alisnya, dan berbagai definisi yang tampak sangat lahiriah. Sesuatu yang pasti tidak akan berusia panjang, tapi kita sangat terpesona dan ikut menikmatinya. Beberapa dari kita menjadikannya sebagai kiblat dari definisi itu, karena kita tidak memiliki definisi sendiri apa itu cantik, apa itu tampan.

Dan saya kasih sedikit rahasia. Bahwa sejak dulu, bagi saya cantik (karena saya laki-laki) adalah ketika seorang perempuan memiliki dan menyadari perannya. Perempuan yang mengambil peran secara langsung, secara nyata, terjun ke lapangan, dan memberikan dampak positif. Dan jujur, perempuan seperti itu memang sulit kita jumpai di dunia maya. Sulit menemukan fotonya dengan busana OOTD, apalagi ikutan photoshot untuk ajang-ajang tertentu.

Perempuan yang memiliki dan mengambil peran itulah yang cantik. Setiap peran yang ia ambil, layaknya perawatan kecantikan. Setiap kali ia mengajar, ia sedang merawat hatinya. Setiap kali ia membantu orang lain, ia sedang merawat empatinya, setiap kali ia duduk dalam barisan rapat membahas tentang masalah di masyarakat dan mendiskusikan solusinya, ia sedang merawat akal sehatnya. Dan semakin ia berperan, ia tampak semakin cantik.

Jujur saja, bukankah ada beberapa teman kita yang demikian? Cantiknya terpancar setiap kali ia menjalankan peran kebermanfaatannya. Auranya mengalahkan setiap serpihan bedak dan gincu. Dan arenanya bukan di instagram, tapi di tempat tempat jauh yang sinyalnya mungkin angin-anginan.

Dan pandainya teman-teman laki-lakiku adalah mereka berhasil mempersunting yang demikian. Perempuan-perempuan yang berperan, bukan baperan. Perempuan-perempuan yang berhasil mendefinisikan dirinya sendiri. Perempuan yang sigap, mau berjuang, dan tidak keberatan untuk ikut memikirkan kondisi orang lain. Tidak hanya berpikir tentang kenyamanan dan keamanan diri dan keluarganya.

Dan definisi cantik itulah yang dianut oleh sebagian besar teman laki-laki saya. Satu persatu dari mereka menemukannya. Di organisasi, di komunitas, di lingkungan-lingkungan nyata yang selama ini mempertemukan peran mereka.

Dan kalau kita mau mengukurnya dengan standar kecantikan seperti iklan di televisi, barisan selebgram, dan definisi cantik yang hanya tampak secara lahir. Mereka mungkin kalah jauh. Tapi mereka berhasil mendifinisikan dirinya sendiri, memiliki nilai-nilai yang utuh yang lahir dari dalam diri, bukan dibentuk oleh iklan, oleh dunia maya.

Dan satu hal, mereka berhasil menemukan laki-laki baik yang masih baik akal sehatnya. Sesuatu yang paling dikhawatirkan oleh perempuan di luar sana, adakah laki-laki baik? jangan-jangan laki-laki menyukainya hanya karena kecantikan?

Kalau kamu perempuan, buatlah definisi yang tampan bagimu itu seperti apa. Itulah yang akan membuatmu lebih mudah untuk mengenali, siapa orangnya.

28 Mei 2017 / 2 Ramadhan 1438H | ©kurniawangunadi

Ramadhan #1 : Memberi

Sewaktu mahasiswa dulu, saat bulan ramadhan. Saya hampir bisa dipastikan ke Salman setiap waktu berbuka puasa tiba. Bukan tanpa alasan, dan alasan sebagai anak kosan membuat saya memiliki pembenaran untuk melakukannya; mencari buka puasa gratis.

Rasanya tentu waktu-waktu berburu buka puasa/sahur gratis di Bandung menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan. Dari masjid Salman, masjid Biofarma, masjid Istiqomah, masjid Al Latief, dan lain-lain. Alasan berhemat menjadi alasan paling utama. Apalagi menu berbuka atau sahur di beberapa masjid saat itu bisa dibilang sangat baik.

Sampai pada satu hari saya menemukan pemahaman yang sering terlewatkan. Sewaktu telah meninggalkan Bandung untuk dua tahun. Kembali merantau ke Yogyakarta, waktu itu selepas kajian sore di Nurul Ashri disediakan menu berbuka puasa (puasa senin/kamis). Saya menyaksikan beberapa jamaah berdesakan untuk mengambil menu buka puasa yang cukup mewah.

Dan saya menepi, mengamati. Meski ada keinginan untuk ikut mengambilnya. Saya urung. Ada satu kalimat terakhir dari takmir masjid untuk mengajak siapapun yang ingin berkontribusi menyediakan menu buka puasa tiap senin atau kamis.

Dan saya ingat satu hal bahwa apabila kita memberi makan untuk berbuka orang yang puasa, maka pahala kita setara dengan orang yang puasa tersebut. Betapa banyak pahala orang yang ikut serta menyediakan menu berbuka tersebut.

Sejak hari itu saya berniat untuk ikut serta jika ada kesempatan untuk menyediakan menu berbuka. Saya ingat ramadhan tahun lalu berhasil merelisasikannya. Dan saya juga berniat untuk tidak mengambil menu berbuka tersebut sepanjang saya masih memiliki kemampuan untuk memberi lebih atau membeli sendiri. Saya rasa, menu berbuka gratis tersebut lebih diperlukan oleh orang lain. Ada orang lain yang benar-benar membutuhkannya. Seperti para mahasiswa yang ngekos misalnya. Terutama para fakir dan miskin.

Momen sahur on the road beberapa tahun lalu membuat saya menyadari bahwa seandainya ribuan menu berbuka/sahur itu tersebar merata dan benar-benar tepat sampai ke orang yang membutuhkan. Manfaatnya sungguh besar sekali.

Dan di ramadhan ini. Marilah sadari diri kita. Apabila kita memiliki kemampuan ekonomi yang cukup dan lebih. Jadilah orang yang memberi bukan yang mencari-cari gratisan. Jadilah bagian dari orang-orang yag berkontribusi di ramadhan ini.

Semacam naik level. Kalau dulu kita berburu gratisan. Sekarang kita berburu peluang untuk ikut serta menyediakan menu gratis tersebut. Dengan begitu, semoga ramadhan ini memiliki nilai-nilai baru dan ladang pahala yang semakin bertambah.

Selamat menunaikan ibadah puasa.

27 Mei 2017 / 1 Ramadhan 1438H | ©kurniawangunadi