Popularitas

Hal yang sering saya lakukan adalah mengamati, meneliti, mengambil hikmahnya, menarik kesimpulan tentang mana yang bisa diterapkan dalam hidup dan mana yang tidak. Mendiskusikannya, meminta pendapat, kemudian menerima kritik. Beberapa pemahaman baru yang saya pegang akhir-akhir ini lahir dari proses-proses seperti itu.

Bertahun lalu, saat kita masih remaja. Dunia tidak seperti sekarang. Semakin ke sini, ujian keduniawian semakin banyak, semakin beragam bentuknya. Salah satu hal yang menjadi perhatian, juga bahan diskusi saya dan beberapa kawan adalah tentang popularitas.

Mendadak, popularitas menjadi bahan komoditi penting. Siapa saja sekarang bisa membelinya, kemudian menjualnya kembali. Seperti fenomena orang-orang yang membeli follower, kemudian menjual popularitas jumlah followernya untuk bisa menerima endorsment produk. Karena begitu penasarannya, istri saya sampai menambahkan [email protected] kontak mereka untuk mengetahui berapa besaran tarif endorsment mereka. Kami terkejut dengan nilai dan potensi ekonominya.

Kini, menjadi mudah untuk terkenal. Sekaligus, kemudahan itu adalah ujian yang sebenarnya.

Waktu saya kembali ke dunia nyata, bertemu dengan teman-teman yang lain, hidup saya terasa kembali lebih tenang. Sebab saat bertemu dengan mereka, hidup ini terasa nyata. Nyata dalam arti yang sebenarnya. Mereka tidak dikenal karena kecantikan, ketampanan, ataupun riasannya seperti yang sering kita simak di dunia maya. Mereka bekerja sebagai seorang profesional, sekaligus mereka adalah orang-orang yang bersedia untuk turun langsung, terjun ke lapangan. Bersedia berpikir, menyediakan waktu untuk menyelesaikan masalah orang lain, membuatkan wahana belajar untuk banyak orang. Dan dari mereka saya belajar banyak.

Diskusi kami amat hidup, amat dinamis. Itu adalah jalan yang kami pilih, jalan yang sunyi untuk berjuang. Arus yang barangkali berlawanan. Jika kami mendapatkan popularitas dari sana, kami tidak mengambil keuntungan pribadi, kami tidak menjadikannya sebagai tujuan. Dikenal atau tidak, kami akan tetap berjalan seterusnya. Kami menyadari bahwa hidup ini bukan tentang seberapa banyak kami dikenal orang, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa kami berikan. Seberapa banyak orang yang kami bisa mudahkan urusannya. Juga, satu lagi, seberapa banyak orang yang bisa kami tentramkan hatinya.

Ketentramanmu sering terusik saat melihat postingan orang lain di dunia maya? Berarti, sudah waktunya kamu meninggalkannya 🙂

Kami khawatir, kami terlena dalam berjuang. Dunia ini menawarkan segala sesuatu yang memanjakan, tapi kami tahu, hidup yang sebenarnya tidak di sini. Kami paham, kami butuh nafas yang panjang untuk berjuang. Tidak bisa satu atau dua tahun, melainkan bertahun-tahun. Perjuangan ini barangkali lebih panjang dari usia kami.

Pandangan hidup, prinsip hidup, saya dan kamu mungkin berbeda. Tapi percayalah, hidup dalam ketentraman batin, keterjagaan privasi, juga kebahagiaan-kebahagiaan yang sederhana, adalah hidup mewah yang sebenarnya. Saat kita bisa bermanfaat, saat kita bisa berguna, saat kita bisa menjadi orang baik yang sebenarnya bagi orang-orang yang kita temui. Di sanalah sebenarnya kita. Di dunia maya, kita adalah tipuan, kita adalah karakter fiksi yang kita ciptakan sendiri.

Nasihat ini mungkin akan lewat begitu saja, esok atau lusa, mungkin baru akan kita pahami bersama. Yang terpenting adalah, bagaimana kita bersama-sama bisa memandang hidup sewajarnya. Kecemasan kita akan hidup harusnya berkutat pada kekhilafan yang kita lakukan, bukan pada bagaimana kata orang, bagaimana penampilan kita hari ini, dan berapa banyak pengikut kita di dunia maya.

Yogyakarta, 8 Januari 2017

Pernikahan secara teori tampak mudah dan sederhana. Tetapi, semuanya menjadi sama sekali tidak sederhana saat ia sudah dihadapkan pada seorang manusia. Seseorang yang lengkap dan memiliki banyak pertimbangan terkait masa lalu, keadaan keluarga, nilai-nilai, pandangan hidup, visi misi, juga hal-hal lain yang mungkin tidak pernah ada dalam hidupmu, apalagi pikiranmu. Sebab itulah, mendoakan jauh lebih baik daripada menilai. Memahami jauh lebih baik daripada berburuk sangka.

©kurniawangunadi

Sadar Diri

Suatu hari, saya bertemu dengan teman-teman di Jakarta. Waktu itu sedang ada acara di kota tsb. Istri saya tidak ikut karena hanya sehari dua malam di Jakarta.

Saya dijemput dari Bandara Halim PK oleh teman saya, beramai-ramai. Kira-kira ada sekitar 4 orang lainnya dalam mobil tsb. Sepanjang perjalanan di Jakarta yang macet, kami ngobrol kemana-mana. Topik apapun kami bahas. Tertawa lepas. Bahkan sampai-sampai saya lupa kalau saya sudah menikah, bahkan sudah mau menjadi ayah.

“Ngomong-ngomong, kalau lagi begini. Gue merasa kayak gagal jadi kepala keluarga, apalagi mau jadi bapak. Kelakuannya masih minus banget gini.”

Yang lain menimpali dengan tawa.

“Gue harus behave nih. Udah mau jadi bapak juga, nanti malah nyontohin ga bener ke anak.” ujarku.

Kemudian topik berubah ke pembahasan pasca rumah tangga.

* * * * *

Pernah tidak, kita menganalisis diri kita sendiri. Apa yang berbeda dari diri kita antara hari ini dan beberapa tahun yang lalu? Tentu saja selain perubahan fisik.

Pernah tidak, merasa bahwa kayaknya kita masih anak-anak. Saat misal kita berkunjung ke sekolah kita zaman SMA dulu. Kita merasa seperti baru kemarin dan kita masih seperti anak-anak SMA itu. Tapi kenyataannya tidak, kita sudah dipandang dewasa oleh anak-anak SMA yang melihat kita di sana. Kita sudah tua.

Ya, kita tua.

Seringkali kita lupa untuk bertanya, mungkin ke teman-teman terdekat kita sendiri. Bagaimana mereka melihat kita? Apa yang berubah dari kita? Hal baik apa yang perlu dipertahankan, hal buruk apa yang perlu ditinggalkan?

Sebab kita enggak bisa melihat diri kita sendiri secara objektif. Kita merasa diri kita, ya tetap seperti ini. Kadang bingung juga membedakan antara diri kita dengan sewaktu kuliah tiga tahun yang lalu. Rasa-rasanya masih seperti kemarin, dan kita masih belum berbuat banyak, belum cukup bertanggungjawab, dsb. Tapi, orang lain melihat hal yang berbeda. Kita dirasa mampu untuk bertanggungjawab, dirasa cukup usianya untuk mengambil peran-peran tertentu.

Yogyakarta, 19 September 2017 | ©kurniawangunadi