Cukup

kurniawangunadi:

Kalau kita terus menerus mencari yang terbaik. Mungkin, kita tidak akan pernah selesai membanding-bandingkan. Kata guruku, segala yang baik itu adalah yang tumbuh ke arah kebaikan. Tidak ada yang benar-benar terbaik, yang ada hanyalah yang bersedia untuk terus memperbaiki dan diperbaiki.

Lalu bagaimana kita bisa menentukan? Kata guruku, dasarnya adalah kecukupan. Manusia bisa jadi memiliki ribuan pakaian, tapi dia hanya bisa memakainya satu. Bisa jadi memiliki ratusan piring makanan dalam satu meja makan, tapi dia hanya akan bisa menghabiskan beberapa saja.

Ambilah secukupnya. Karena yang cukup itulah justru yang bisa memberikan kenyamanan. Bisa memberikan ruang gerak untuk terus tumbuh, untuk terus memperbaiki diri.

Pada akhirnya memang kita hanya perlu yang cukup.

©kurniawangunadi

Menikah, Layak Diperjuangkan

Sungguh menikah itu sesuatu yang layak diperjuangkan. Bukan semata untuk menggenapkan tulang rusuk saja. Atau untuk menghiasi jari manis dengan sepasang cincin bertuliskan nama pasangan di belakangnya. Apalagi sebagai ajang unjuk gigi.

Tapi jauh di atas itu, menikah adalah perintah Allah. Satu alasan yang saya pikir cukup untuk dijadikan sebuah alasan. Karena ini perintah Allah, tentu tersimpan banyak kemaslahatan di baliknya. Dan yang saya rasakan, kemaslahatan-kemaslahatan tersembunyi di balik pernikahan sangat sangat banyak. Beneran.

Sepengalaman saya, menikah itu banyak mendatangkan kebaikan. Seolah pintu-pintu “ketidakmungkinan” yang sewaktu masih sendiri banyak terlintas, setelah menikah satu persatu terbuka dengan sendirinya. Dari arah yang tak disangka. Dan seringkali dari arah yang tidak diduga.

Saya menyaksikan dan merasakan sendiri, penggalan ayat “…Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya…” itu benar adanya. Mata, hati, dan tubuh ini menjadi saksi. Bahwa benar, Allah takkan menelantarkan apalagi menyembunyikan apa-apa yang sudah menjadi rezekinya.

Jika rezeki itu berupa materi, sungguh, saya merasakan sendiri bahwa Alhamdulillah hingga saat ini, kebutuhan selalu saja tercukupi. Materi selalu muncul dari pintu yang tak terpikirkan sebelumnya. Kekhawatiran-kekhawatiran yang dahulu menghantui pikiran, seolah kini berbalik menjadi sebuah pertanyaan: Apa benar dulu saya mengkhawatirkan ini sampai sebegitu khawatirnya?

Sekali lagi. Banyak hal yang sebelumnya tak terpikirkan sedikitpun, tiba-tiba Allah buka semua jalan keluar. Bahkan seringkali, membuat saya sendiri menganga. Dari situ saya belajar makna dibalik kata ‘yakin’. Dan saya juga mempelajari bahwa ‘keyakinan’ adalah sesuatu yang sangat berharga.

Sepengalaman saya lagi, menikah juga menarik batas-batas potensi setingkat lebih atas. Saat ‘tak boleh egois’, ‘harus menjadi pasangan terbaik’, ‘bagaimana makan esok hari?’, ‘si kecil layak mendapat orang tua terbaik’ berpadu menjadi satu, seolah tulang-tulang yang sebelumnya terdiam kini jadi bekerja dua kali lipat dengan sendirinya. Entah dari mana juga datangnya energi penggeraknya.

Menikah juga mengajari arti empati, keteladanan, fastabiqul khairat, dan romantisme di level yang lain. Eksperimen-pembelajaran-evaluasi yang dilakukan setiap hari bersama pasangan, sedikit demi sedikit menaikan kapasitas diri, baik sebagai personal maupun sebagai pasangan.

Dan yang pasti, menikah itu menenangkan. Saat kamu tahu bahwa saling berpandangan itu berpahala, berpegang tangan berpahala, dan bercanda bersama pasangan itu berpahala, seger banget dah. Lebih seger dari sirup marjan.

Apalagi saat ada buah hati di sisi. Lebih memahami dan merasakan makna ‘unconditional love’ dan kasih sayang orang tua. Kelelahan-kelelahan yang didapat saat mencari sesuap nasi seolah sirna seketika sesaat setelah melihat senyum si kecil. Satu senyuman yang menjadi penetralisir semuanya. Semua emosi-emosi negatif yang sedang bergemul dalam dada.

So, menikah itu layak diperjuangkan. Perjalanan hingga akhirnya sampai di pintu pernikahan jangan dipandang sebelah mata. Serius. Ini bukan tentang harus cepat-cepat menikah atau menunggu keren dulu baru menikah. Ini tentang bagaimana dengan kapasitas yang dipunya, kita merencanakan, mempersiapkan sebaik mungkin, dan memperjuangkan segigih mungkin proses ini hingga akhirnya sampai di pintu pernikahan suatu saat nanti.

Semangat berjuang.

© Zaky Amirullah

Mudah

Kenyataannya, Allah memberikan kita kesukaran pada suatu hal, tetapi juga kemudahan pada hal lain. Allah Mahatahu mana yang kita mampu, mana yang kita tak mampu, sehingga kesukaran datang dalam takaran, begitu pula kemudahan.

Kalau kau ingin sesuatu menjadi mudah–
bantulah seseorang. Dengan demikian Allah bisa jadi memberikanmu salah satu dari ini. Pertama, kemudahan karena kau mempermudah urusan orang lain. Atau kedua, rasa syukur karena kau tersadar, bahwa di luar sana ada orang-orang yang hidupnya–mungkin dalam hal yang berbeda denganmu–lebih sukar jalannya daripada jalanmu.

Apapun itu, bantulah seseorang. Kau tidak perlu jadi pahlawan besar. perhatikan apa yang menyukarkan orang tuamu, bantu. Dengarkan apa yang menyukarkan saudaramu, bantu. Rasakan apa yang menyukarkan sahabatmu, bantu.

Tidakkah hidup menyenangkan–dan membahagiakan–saat semua orang merasa ringan saat kau ada di sekeliling mereka? Kau tidak pernah tahu, bila kau adalah satu-satunya yang membantu.

Barangkali, kemudian Allah membantumu. Mengangkat beban dari pundakmu. Melapangkan dadamu. Memudahkan urusanmu. Atau justru menguatkan hatimu. Menebalkan imanmu.

“Sesungguhnya pada setiap kesukaran, ada kemudahan”

©prawitamutia

ilmu menikah

“Nak, ayah tuh nggak secanggih kamu ilmu agamanya. tapi ayah mau kasih tau sesuatu tentang ilmu agama dan menikah. sesuatu yang ayah temukan dari pernikahan sama ibumu.

Ilmu agama itu terdiri dari ilmu dunia dan ilmu akhirat, Nak. Bedanya? ilmu dunia mengajarkan kita untuk terus memiliki dan meminta sampai tidak ada lagi yang bisa dimiliki dan diminta. ilmu akhirat sebaliknya, mengajarkan kita untuk terus memberi dan melepaskan sampai tidak ada lagi yang bisa diberi dan dilepaskan.

Kamu tahu nggak? menikah itu menyempurnakan agama, karena menikah-lah yang mengajarkan ilmu akhirat–setelah seumur hidup kamu hanya belajar ilmu dunia.

Gara-gara menikah, ayah semakin sadar kalau di dunia ini, kita semua adalah pemimpin tapi bukan pemilik. Uang yang ayah dapatkan, tidak pernah ayah berpikir bahwa ayah memilikinya. waktu yang ayah luangkan, tidak pernah ayah merasa bahwa ayah memilikinya. Apapun yang ada pada diri ayah, semuanya bukan punya ayah. Semuanya punya kalian, keluarga ayah.

Sebelum ayah menikah, ayah nggak belajar tentang ini. ayah mengira kalau semua capaian hidup ayah adalah milik ayah seorang. Sekarang ayah mengerti, ini semua milik kalian. Dan terutama, milik Allah.

Karena menikah, ayah menjadi lebih bertanggung jawab. Ayah sadar bahwa semua yang diberikan kepada ayah adalah titipan yang harus dijaga, dikelola sebaik-baiknya. Baiknya Allah itu kan? Kalau bukan karena menikah, tidak mungkin ayah belajar memberi dan melepaskan seperti ini. Juga, tidak mungkin ayah belajar memiliki dan meminta seperti ini–untuk kemudian dipersembahkan kepada kalian.

Kamu tahu nggak, ilmu akhirat mana yang paling tinggi kesulitannya bagi seorang ayah?”

Lalu ayah melepas kacamata, menggosok-gosok yang ada di baliknya.

“Melepaskan anak-anak perempuannya.”

Ayah diam lama sekali.

“Karena–bukan ayah tidak percaya kepada calon suamimu, melainkan ayah yang tidak percaya kepada diri sendiri. sudahkah ayah benar-benar menjagamu, merawatmu, sampai sekarang?”

Ayah diam lagi.

“Itulah yang diajarkan sebuah pernikahan, Nak. Meminta untuk kemudian memberi. Memiliki untuk kemudian melepaskan.”

Ayah diam lagi. Tak bicara lagi.

©prawitamutia

Terima kasih Mutia cerita dan pembelajarannya, semoga perjalanannya sama Yunus senantiasa dijaga dalam kebaikan.

Perasaan Kita

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu bahwa orang yang kita kira tidak peduli sama sekali kepada kita adalah orang yang paling sering menyebut nama kita di dalam doanya?

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu orang yang menulis begitu dalam dan indahnya dan kita kira untuk orang lain, ternyata untuk kita?

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu orang yang sering bersikap dingin kepada kita adalah orang yang paling dalam memendam perasaannya kepada kita?

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu bahwa orang yang kita benci adalah orang yang paling sabar menghadapi kita?

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu orang yang menyuruh kita pergi adalah orang yang paling takut kehilangan kita?

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu orang yang kita kira meninggalkan kita adalah orang yang paling ingin kita bahagia?

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu?

©Kurniawan Gunadi dalam Hujan Matahari

Allah mempertemukan untuk satu alasan. Entah untuk belajar atau mengajarkan. Entah hanya untuk sesaat atau untuk selamanya. Entah akan menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya. Akan tetapi, tetaplah menjadi yang terbaik diwaktu tersebut. Lakukan dengan tulus. Meski tidak menjadi seperti apa yang diinginkan. Tidak ada yang sia-sia karena Allah yang mempertemukan.

kurniawangunadi:

Anonimdari sebuah group WhatsApp

Suami*

“Bu, untuk Nasehat Pernikahan besok boleh pakai catatan, kan?”

“Boleh. Ibu sudah punya template-nya, nemu di internet, bagus deh, Pak, bikin terharu.”

“Masa dari internet? Kan nggak personal, Bu.”

“Bapak mau buat sendiri?”

“Iya dong. Aku kan wartawan. Malu sama profesi kalau yang beginian saja harus nyontek.”

***

Pukul sepuluh malam. Suara jangkrik kalah nyaring dengan bunyi jari-jari yang beradu dengan papan ketik. Ritmenya teratur, ada jeda sesekali.

“Kepada Ananda Juna,

Aku sejujurnya bersyukur dan lega; karena dari dulu Kika doyannya musik-musik heavy-metal. Kupikir, nanti kalau dapat menantu metal bagaimana ngajak ngobrolnya.

Ah, Kika. Ngakunya saja anak metal, seleranya tetap orang kantoran yang rajin baca dan taat beribadah.

Ananda Juna,

Kalau kau tak keberatan, aku mau membagi hal-hal yang kupelajari dari 27 tahun pernikahanku dengan ibunya Kika.

Aku tahu sedikit tentang maunya wanita. Dibimbing, dimengerti, dilindungi, dikasihi. Ingatlah baik-baik yang empat ini.

Aku juga tahu peran mereka besar sekali. Merawat, memahami, menopang, dan mendampingi. Juga memanjakan, kadang, karena kau pasti setuju laki-laki sesungguhnya tak benar-benar rela beranjak dewasa.

Ananda Juna,
Sebaiknya kupersingkat saja suratku, sebelum tamu-tamu mengeluh bosan.

Kuucapkan terimakasih, karena telah sungguh-sungguh memperjuangkan putriku. Dan dengan bismillah, kupercayakan padamu untuk meneruskan tugas kami.”

Satu helaan nafas panjang. Menyimpan berkas. Lembar kerja baru.

“Kepada putriku Kika,

Kamu sudah besar ya, Nak?”

Suara jangkrik kembali mendominasi. Kegiatan mengetik terhenti total, karena jari sibuk menyeka mata yang basah.

***

“Lho, Pak, kok nangis? Malu sama kumis.”

Tak ada jawaban. Hanya isak pelan dan bahu yang bergetar.

“Pak, sudah nangisnya. Nanti aku ikut nangis.”

Sisa malam dihabiskan dua manusia paruh baya itu dengan bertangis-tangisan.

***

“Pak! Catatannya ketinggalan!”

“Sengaja kutinggal, Bu. Takut nangis lagi. Malu sama kumis.”

***

“Berikutnya kita dengarkan Penyampaian Nasehat Perkawinan oleh Ayah mempelai wanita.”

Mikrofon diketuk beberapa kali.

“Selamat berbahagia kepada ananda berdua. Selamat menjalankan peran baru sebagai suami dan istri, semoga selalu rukun dan saling mengasihi.”

Satu tarikan nafas panjang.

“Restu dan doa bapak selalu mengiringi langkah kalian.”

Sesingkat itu pun, seisi gedung sudah banjir air mata.

©namasayakinsi

Ekspektasi

“Never put hope in any creation,”

Dalam hidup ini, tidak pantas bagi seorang manusia untuk menitipkan
prasangka apapun kepada manusia lainnya. Karena sejatinya, manusia tidak memiliki apapun di dunia ini. Semuanya milik Allah, dan akan kembali
pada Allah.
(Lathifah Zahratul Jannah)

Sebenernya konteks saya menyematkan kutipan diatas, menyangkut tentang bagaimana kita mempersiapkan diri menghadapi pernikahan. 

Ini agak sok tau sih, karena saya sendiri belum pernah menjalani proses pernikahan itu sendiri. Semoga pembaca yang sudah lebih banyak ilmunya terkait hal ini bersedia berbagi dengan saya hehe.

Seringkali, seseorang berharap mendapatkan jodoh yang baik dengan harapan dia -si jodoh- akan membantu kita untuk menjadi seorang yang lebih baik. Kita memiliki harapan bahwa dia akan membimbing kita untuk lebih dekat dengan Allah, dia akan menemani kita berjalan dan berjuang di jalan Allah, dia akan mengingatkan kita ketika salah dan lupa, dan sebagainya.

Sayangnya, kita pun seringkali lupa bahwa pasangan kita juga manusia. Dan selayaknya manusia, ia pun memiliki potensi-potensi keburukan dalam dirinya. Bisa jadi, pasangan kita pun memiliki ekspektasi yang sama terhadap diri kita, bahwa kita adalah seorang baik yang akan mendampinginya berjalan di jalan Allah, bahwa kita adalah seorang yang bisa mengingatkannya saat dia salah dan lupa, bahwa kita dapat membimbing dia untuk berjalan di jalan Allah.

Pada akhirnya, kita sibuk membangun ekspektasi mengenai calon pasangan nantinya sehingga lupa melakukan upaya untuk menjadikan diri kita saat ini lebih baik. Kita akhirnya menunda-nunda upaya peningkatan kapasitas diri dengan alasan; nanti saja kalau sudah bertemu pasangan supaya usahanya tidak sendirian. Kita berharap mendapatkan pasangan hidup dengan kualitas kebaikan, tetapi luput meningkatkan kualitas kebaikan dalam diri sendiri. Kita berharap mendapatkan pasangan yang dapat menguatkan diri kita, tetapi luput menguatkan diri sendiri.

Padahal dalam kutipan diatas sudah jelas, bahwa harapan yang dibangun
kepada selain Allah (yaitu makhlukNya), tidak akan berujung pada apapun
kecuali kekecewaan karena kenyataan yang diperoleh tidak sesuai dengan
ekspektasi yang telah dibangun.

Kita selalu percaya pada janji Allah; bahwa laki-laki yang baik akan dipertemukan dengan perempuan yang baik, pun sebaliknya.

Namun kualitas kebaikan diri kita tidak akan meningkat sama sekali, apabila saat ini kita masih menunda untuk menjadi lebih baik; dengan alasan nanti saja ketika sudah menikah supaya bisa memperbaiki diri bersama-sama. Mari kita ubah mindset-nya menjadi; saya harus bisa menjadi pribadi yang baik dahulu sebelum dipertemukan dengan jodoh saya nantinya supaya kami dapat saling menguatkan satu sama lain.

Bukankah pada akhirnya, 1 + 1 itu lebih baik daripada ½ + ½ ?

©Maryam Zakkiyyah