Memaknai

Pemaknaan kita pada sesuatu sering berbatas hanya karena ego atau kemauan. Ego kita yang membuat kita enggan memulai, enggan untuk menyapa dan bertanya, enggan untuk mencari tahu, padahal semuanya tersaji di depan mata. Juga kemauan kita yang surut, semuanya serba mudah, tapi kita enggan beranjak.

Karena kita merasa diri ini lebih baik, seringkali lahir penilaian-penilaian kita kepada orang lain. Padahal, kita belum mencermatinya, hanya sekilas melihat dan mendengarnya. Karena kita merasa sudah cukup, kita enggan untuk belajar lagi dan lagi. Semisal, begitu banyak kajian tersaji di masjid-masjid di kotamu, tapi kamu memilih duduk di rumahmu.

Dan tentang pemaknaan. Barangkali, kita tidak kunjung berhasil mengenali hidup dan jalan yang kita tempuh ini sebab dua hal itu, ego dan kemauan. Pemaknaan kita menjadi buntu, berkutat pada hal-hal yang sama. Di satu sisi kita ingin tahu, disisi yang lain kita malas beranjak. Kita kembali berkutat pada ujian yang serupa berulang-ulang, karena kita merasa sudut pandang yang kita ambil adalah yang paling benar, enggan mencoba melihat dari sisi yang lain. Kita berkutat pada pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya hanya ada di masa lalu, bukan sibuk membenahi hari esok.

Dan kita kebingungan akan kemana hidup ini, rasanya seperti air mengalir. Tapi, kita tidak tahu ke mana mengalirnya. Rasanya seperti angin yang berhembus, tapi kita tidak tahu kemana arahnya.

Hidup menyimpan banyak jawaban yang hanya akan kita temukan dengan cara menjalaninya, meredakan ego, dan mau untuk bersusah payah.

©kurniawangunadi

Hidup yang sesungguhnya kita hadapi tidak seperti apa yang kita lihat di instagram. Di instagram, kita melihat seperti tidak ada orang miskin. Segala sesuatunya tampak pada kondisi idealnya. Nyatanya, tidak. Kita harus bekerja keras dan lebih hati-hati agar tidak terjebak dalam hidup yang semu. Nanti barangkali bila berumah tangga, saat sudah masuk dunia kerja. Baru akan kita rasakan betapa tidak mudahnya berjuang untuk mencari nafkah, sampai-sampai ia menjadi sebuah pahala jihad bagi laki-laki. Barangkali saat kita dihadapkan pada aneka biaya hidup, biaya persalinan jika istri kita melahirkan, biaya untuk mencukupi kebutuhan sandang, pangan, papan, kendaraan, pendidikan, kesehatan, dan segala sesuatunya yang saat ini kita msh menerima dari orang tua. Nanti saat kita harus mencukupinya sendiri, barangkali baru kita sadari kalau pilihan kita atas gaya hidup yg berlebihan ini adlh racun yg bisa lambat laun mematikan kita. Kalau rezeki kita lebih, kalau kebahagiaan kita lebih, kalau kesehatan kita lebih, mari kita belajar untuk menyalurkannya ke tempat-tempat sunyi. Barangkali nanti akan menjadi salah satu amalan rahasia yg hanya kita dengan Allah yang tahu. #ntms #renungan #randomtag

Mengenal Perempuan

Pernikahan akan membuatmu mengenal perempuan lebih dari yang kamu sangka selama ini. Kamu akan mengenal kekhawatirannya dan mengapa itu terjadi. Kamu akan berhenti menilainya lemah setelah melihat bagaimana ia bekerja setiap hari. Kamu akan semakin mencintai ibumu, seketika kamu melihat betapa berat perjuangannya ketika mengandung dan melahirkan anakmu.

Pernikahan akan mengajarkanmu tentang perempuan. Setelah selama ini kamu hanya mengenalnya dari mata, dari kata, dan dari buku-buku yang menurutmu paling mutakhir dan terpercaya. Perempuan lebih kompleks dari itu dan kamu akan mempelajarinya setiap hari. Kamu akan belajar tentang air mata yang tidak selalu bermakna sedih sebab mereka memang mudah menangis untuk hal-hal yang menyentuh hatinya. Baik itu kebahagiaan ataupun kesedihan.

Pernikahan akan membuatmu mengerti bahwa keberadaannya mampu membuatmu memiliki energi yang berkali lipat lebih besar dari sebelumnya. Sesuatu yang tidak kamu dapatkan dari hubungan-hubungan dengan perempuan sebelum itu. Ini juga akan membuatmu mengerti bahwa cintamu kepadanya mungkin tidak akan pernah bisa sebesarnya cintanya kepadamu. Dengan segala kerendahan hati, kamu mungkin perlu mengakui itu. Dan untuknya, sudah seharusnya kamu bersyukur.

Yogyakarta, 5 Mei 2017 | ©kurniawangunadi

Excellent

Jika ada sebuah tugas yang diberikan kepadamu, bagaimana standar setiap orang menganggap pekerjaannya “selesai” berbeda-beda.

Sebagai orang yang perfeksionis, saya membuat standar sebuah pekerjaan selesai tidak hanya ketika pekerjaan itu selesai dikerjaan, tapi diatas itu. Pekerjaan itu harus benar-benar memuaskan. Memuaskan tidak hanya bagi pemberi tugas, tapi juga bagi saya yang mengerjakannya. Saya sulit membahasakannya dengan diksi bahasa Indonesia untuk istilah yang tepat. Jadi saya akan memberikan gambaran dalam diksi bahasa inggir

FINISH >> EXCELLENT

Pernah tidak mengerjakan sebuah tugas, kemudian kamu mengerjakannya sampai selesai. Tapi kamu merasa biasa-biasa saja. Atau mungkin justru merasa capek. Bagimu yang terpenting adalah pekerjaan itu selesai, tidak peduli “kualitas” selesainya itu seperti apa. Seperti saat mengerjakan tugas kuliah mungkin atau barangkali tugas dari ibumu untuk mencuci piring.

Pernahkah kamu mengerjakannya dengan kesungguhan hati, padahal hanya mencuci piring tugas dari ibumu. Kamu mengerjakannya dengan perasaan yang positif, membereskannya, dan membuat ibumu senang atas pekerjaanmu, dan kamupun senang atas apa yang kamu lakukan? Itulah “excellent” yang saya maksud.

Dalam hal apapun. Apakah itu tugas di kantor, tugas kuliah, dsb. Kita seringkali mengerjakannya asal selesai. Dan itulah yang terjadi hampir disemua tepat yang kita temui. Di instansi pemerintah, di kelas, di rumah, di mana-mana. Orang-orang buru-buru ingin menyelesaikan tugasnya, tapi sama sekali tidak memerhatikan kualitas pekerjaannya.

Mungkin bagi orang lain, standar yang saya terapkan pada diri sendiri itu begitu tinggi. Saya pernah menerapkan standar tsb kepada orang lain dan yang ada justru orang tersebut tidak menyukai saya.

Kadang saya berpikir. Kalau saya kaitkan prinsip ini ke hal-hal yang lebih vertikal; Hidup ini tidak mudah. Kita menjalaninya bukan untuk menunggu mati kan? Apakah kita beribadah hanya untuk memenuhi kewajiban dan ingin segera selesai? Banyak dari kita yang beribadah bisa mencapai level “excellent”, tidak hanya yang wajib, bahkan yang sunah dan lain sebagainya. Dan semua itu demi sang Pecipta yang kita harapkan ridha dan ampunannya.

Tapi ketika hal-hal seperti itu diterapkan untuk urusan dunia dan kemanusiaan. Mengapa seperti menguap begitu saja? Dan saya berpikir, itulah yang sedang terjadi di diri umat ini. Kejayaan yang dulu pernah begitu terang benderang lahir di generasi terbaik. Kita akan terus menerus terpuruk jika standar kita tidak pernah berubah dalam menjalankan tugas-tugas kehidupan.

©kurniawangunadi

Memaafkan tidak lebih mudah daripada meminta maaf. Memaafkan berarti melepaskan seluruh ego dan keinginan untuk membalas. Memaafkan itu mampu memerdekakan seseorang atas kegelisahan dan kekhawatiran jiwa. Memaafkan berarti menghargai proses seseorang bahwa selalu ada kemungkinan untuk berubah menjadi baik. Tidak peduli itu akan terjadi atau tidak kepadanya, tapi kamu memilih untuk percaya.

Kurniawan Gunadi

Menginspirasi dan Memplagiasi

Ada beda yang mendasar antara menginspirasi dan memplagiasi.

Ketika kita terinspirasi oleh sebuah tulisan kemudian memuat ulang tulisan itu dan menginterpretasikannya sesuai dengan pikiran kita, dimana letak susahnya menyertakan sumber inspirasi. Apalagi jika yang kita lakukan adalah penambahan dan pengurangan kata. Bukankah itu justru menjadi plagiasi.

Orisinalitas sangat penting dalam berkarya, jika saya secara terang-terangan terinspirasi oleh HAMKA, maka akan terlihat bahwa bahasa, penyampaian, dan cara berpikir saya sangat terpengaruh oleh karya-karya beliau. Dan saya menciptakan orisinalitas yang berbeda agar tidak menjadi sama, dan tidak ada yang salah dengan terinspirasi oleh satu tulisan atau karya atau seseorang.

Sementara plagiasi, secara terang-terangan kita mengakui bahwa sebuah karya adalah milik kita seorang tanpa, buah pikir pertama, dan menghilangkan sumber inspirasi. Jika diibaratkan skripsi, kita tidak menyertakannya dalam daftar pustaka.

Apa yang sebenarnya dicari dari sebuah plagiasi? Pengakuan bahwa kamu telah menghasilkan sesuatu yang mengagumkan? Sama sekali tidak mengagumkan jika ketahuan kan?

Mari sekali lagi saya mengajak teman-teman di dunia maya ini untuk belajar mengapresiasi, teman baikku malam ini bercerita tentang karyanya yang telah berpindah ke halaman lain tanpa sitasi. Dan seperti biasa saya melakukan riset yang cukup mudah, google sangat membantu untuk melacak plagiasi.

Simak tulisan ini : KLIK DISINI

Maka tulisan ini akan berkaitan dengan tulisan teman baik saya disini : Langit Kemarin

Kemudian tulisan ini : KLIK DISINI

adalah himpunan 3 tulisan teman saya yang berjudul : Langit Kemarin, Kau tidak Akan Tahu, dan Karena Tidak Seorangpun Mengerti Sepenuhnya.

Mohon maaf kepada akun kokoliqo.tumblr.com karena telah saya buat terkenal, semoga ini menjadi pembelajaran yang berharga untuk belajar apresiasi. Teman saya bersedih malam ini karena merasa anak-anaknya pikirannya tercuri. Dan jangan dijadikan tulisan ini sebagai bentuk penyerangan, sayang sekali saya tidak bisa menyampaikan secara privasi sebab tidak ada fitur fanmail dan ask yang bisa saya klik di halamannya. Sepertinya pengaturannya di non-aktifkan. Saya berharap nasihat terbuka ini dapat diterima dengan baik 🙂

Semoga menjadi pembelajaran juga untuk kita semua yang ada disini, dan untuk siapapun yang bisa mengirimkan pesan melalui fanmail kepada akun tersebut untuk menyampaikan postingan ini. Semoga pemiliknya sedang lupa untuk menyertakan sitasi 🙂

Selamat berkarya dan be original 🙂

Bandung, 16 Juli 2013

?

Kemaksiatan yang menimbulkan rasa hina dan rasa penyesalan lebih baik daripada ketaatan yang menimbulkan rasa bangga dan kesombongan

Kesalehan dan ketaatan yang memunculkan kecongkakan spiritual dan kepuasan diri lebih buruk ketimbang keburukan yang memunculkan ketawadukan dan penyesalan.

Ibn Athaillah – Al Hikam


Ini juga untuk berkaca pada setiap orang yang merasa bahwa pemahaman agamanya baik, janganlah serta merta men-judge seseorang dengan sudut pandang keimanan dan agama yang kamu pahami. Lihatlah manusia sebagai manusia, bahwa proses perjalanan menuju Tuhan yang dimiliki setiap orang itu beda-beda. Janganlah dengan pemahaman agama yang kamu miliki, kamu asyik menyalah-nyalahkan perbuatan orang lain tanpa meluruskannya, asyik berbantah-bantahan tentang mana yang baik dan benar. Menyampaikan kebenaran dengan cara yang buruk tidak akan memperbaiki apa-apa. Justru memperburuk keadaan.

Keimanan dan ketaatan itu menimbulkan kerendahan, jika sebaliknya. Maka berhati-hatilah.

Repost: Mencontek Mimpi dari ITB

Repost: Mencontek Mimpi dari ITB