RTM : Laptop

Kebebasan saat masih sendiri dan selepas berumah tangga tentu sangat berbeda. Dan kadang, persoalan kebebasan inilah yang membuat seseorang enggan segera berumah tangga atau hal yang membuat rumah tangga retak bila tidak ada pengertian di dalamnya. Di keluarga kami, saya sendiri belajar bagaimana mengatur kebebesan diri, terutama dalam hal membelanjakan harta.

Dulu, sebelum menikah saya bebas sekali membelanjakan uang saya untuk beli berbagai macam kesenangan. Mulai dari mainan seperti gundam yang harganya ratusan ribu dan diecast yang kini jumlahnya sekitar 200 buah (merasa khilaf). Sampai barang elektronik mahal seperti iPhone pada saat itu.

Selepas menikah, semuanya menjadi berbeda. Saya tidak merasa terkekang kebebasannya. Istri saya masih mengizinkan untuk membeli mainan karena memang hobby saya (dan saya bersyukur). Tapi, setiap kali selesai transaksi membeli mainan, saya sering merasa bersalah. Sebab dengan uang sebanyak itu, bisa digunakan untuk keperluan lain dalam rumah tangga.

Pernah satu kali, iPhone saya rusak dan sudah dalam kategori lebih baik beli baru daripada diperbaiki. Pergilah kami ke AppleStore dan waktu itu iphone 7 baru rilis dan harganya setara harga motor, sekitar 14 juta. Kalau masih single, barangkali saya tidak berpikir panjang. Tapi, selepas menikah ini. Uang sebanyak itu jika digunakan untuk membeli handphone, rasanya keterlaluan. Apalagi kebutuhan rumah tangga amat sangat banyak. Akhirnya beralihlah ke samsung yang kelas menengah, secukupnya. Yang penting layarnya cukup lebar untuk menulis dan mengerjakan datasheet, ditambah baterainya tidak sejahat iphone saya dulu yang sehari bisa tiga-empat kali charging.

Kini, setiap kali ingin berbelanja untuk kebutuhan sendiri. Pertimbangannya begitu banyak. Saya sampai berpikir, mungkin inilah yang oleh para Ayah diluar sana rasakan dan pikirkan. Semuanya untuk keluarganya lebih dahulu.

Dulu semasa masih di rumah dan sebenarnya hingga sekarang. Bapaklah yang selalu menghabiskan nasi dingin yang dimasak kemarin jika tidak habis di pagi harinya. Sementara saya dan ibu, makan dari nasi yang baru ditanak. Dulu sewaktu saya masuk SMA, keluarga kami beli satu motor lagi untukku. Supra X 125 yang waktu itu belum lama rilis, diberikannya untuk saya. Tidak bertahan lama, hanya sekitar 2 bulan saya memakainya karena saya sedih bapak masih pakai motor lama tahun 1995. Akhirnya bertukarlah, saya pakai motor ibu, ibu pakai motor baru tersebut. Dan motor itu saya pakai hingga lulus kuliah di ITB, sekarang pun motornya masih di Bandung dipakai oleh adik sepupu yang kuliah di UPI, tidak akan dijual.

Belum lagi, selama saya di Bandung, banyak sekali biaya yang dikeluarkan oleh orang tua saya. Sebagai PNS guru (waktu itu belum ada sertifikasi), setengah total pendapatan keluarga setidaknya mengalir ke saya waktu itu. Itu yang membuatku berusaha mencari pendapatan sendiri di bandung dari mulai jualan donat masjid Salman, tukang desain untuk kaos, jual beli mainan online, kamera analog, dsb. Semua hal yang memungkinkan untuk tambahan uang jajan, selama halal, saya kerjakan.

Kini, selepas berkeluarga. Saya mulai memahami dan merasakan apa yang dulu orang tua saya rasakan. Apalagi jika ada anak nantinya, belum ada saja rasanya sudah seperti ini, apalagi sudah ada mereka di rumah.

Minggu ini, saya dan istri jalan-jalan untuk mencari laptop. Laptop saya yang bernama Luna sudah berusia hampir 8 tahun. Baterainya sudah tidak begitu baik, speakernya rusak, kabel chargernya mau putus. Yang kalau dihitung-hitung, jika memperbaikinya dan membeli charger baru, itu bisa dapat laptop baru. Maka diputuskanlah untuk mencari laptop pengganti.

Ternyata, untuk spesifikasi yang saya butuhkan. Harganya sebelas dua belas dengan harga Samsung Galaxy S8. Akhirnya galau, mengingat kebutuhan-kebutuhan keluarga yang lain. Akhirnya buka OLX, mencari laptop bekas yang cukup secara spesifikasi dan kantong. Semoga segera berjodoh.

Memang benar, kita tidak pernah tahu bagaimana perasaan orang tua secara tepat sampai kita benar-benar menjadi orang tua. Perlahan demi perlahan, saya merasakannya. Sebagai laki-laki, sebagai suami, sebagai ayah nantinya.

Yogyakarta, 20 November 2017 | ©kurniawangunadi

Menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia.

Kecantikanmu itu berbeda. Aku melihatnya setiap hari dengan mata kepalaku. Cantikmu itu mengalir dalam sifat, seperti ketaatan, keikhlasan, kesabaran, dan hal-hal yang membuatku merasa tentram.

Aku sengaja menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia. Sebab, dunia kita adalah dunia yang kita bangun dengan kepercayaan bahwa yang kita lihat dengan mata ini adalah fana. Semuanya akan berakhir, cantik akan menua, kekayaan takkan dibawa mati, dan hal-hal lain yang akan berakhir.

Aku menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia, biar orang melihat dan merasakan kecantikanmu dari akhlakmu. Bukan dari hasil riasan berjam-jam dan baju kekinian yang kemudian kamu pajang di halaman media sosialmu. Orang akan mengenalmu dari kebaikan budi, kebermanfaatan, peran, pemikiran, kecerdasan, sumbangsihmu pada umat, dan hal-hal lain yang jauh lebih bermakna dari pakaian dan riasan.

Aku akan menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia. Agar kamu bisa menjadi dunia yang terbaik bagi anak-anak kecil yang lahir di rumah tangga kita. Menjadi dunia yang layak untuk tumbuh besar mereka. Dunia yang akan mengajarkan mereka dan membuat mereka tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Biar dunia kita ini sunyi, sepi.

Kita tidak harus dikenal banyak orang untuk bisa menjadi lebih bermanfaat, untuk memiliki nilai lebih sebagai manusia. Kita hanya perlu menjadi orang baik, berbuat baik, membantu banyak orang, berkata-kata yang baik, lemah lembut terhadap semua makhluk, bekerja dengan ikhlas, berbakti kepada orang tua, berbuat baik pada tetangga, menyanyangi anak-anak, dan semua kebaikan lain yang bisa kita lakukan tanpa harus berdandan terlebih dahulu, tanpa harus memiliki kuota internet untuk memuatnya dalam live video.

Kita tidak perlu mencatatnya, dua malaikat kecil di sisi kita sudah melakukannya untuk kita. Setiap hari, tanpa lelah.

Untuk itu, izinkan aku untuk menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia, istriku 🙂

Yogyakarta, 7 November 2017 | ©kurniawangunadi

RTM : Anak dan Zaman

Setelah berkeluarga, saya dan istri seringkali berdiskusi tentang kids jaman now dan segala rupa tantangannya. Sampai-sampai, tanpa sadar saya sendiri membandingkan bagaimana dulu masa kecil saya dengan anak-anak kecil zaman sekarang. Dan kami pun cemas, bagaimana kelak di zaman anak-anak kami ketika sudah lahir ke dunia ini.

Rasanya, perbandingkan itu tidak pernah selesai. Kami merasa, zaman kecil kami jauh lebih aman di bandingkan zaman sekarang, dalam banyak hal. Saat itu, kami juga lupa kalau setiap generasi pasti akan menimbulkan tantangannya sendiri berdasarkan zamannya. Dan sebagi orang tua/calon orang tua, sudah seharusnya kita bersiap untuk itu. Membekali diri dengan pengetahuan, dengan keterampilan, dengan keimanan, ketika kelak mendidik anak agar mereka bisa tumbuh menjadi baik, mau seperti apapun zamannya.

Tugas kita, sebagai generasi yang akan melahirkan generasi berikutnya, tidaklah mudah. Dalam membangun dan membina rumah tangga, semuanya berawal dari sini.

Pertama, dari saat kita memilih pasangan hidup. Proses ini bisa dikatakan gampang-gampang susah. Dan setiap orang yang ingin menikah akan melalui fase-fase kritis tsb, fase dimana merasakan betapa sulitnya membuat pilihan. Di usia berapapun, fase tersebut datang. Sebab, salah satu hak anak adalah dipilihkan orang tua yang baik, dan hak anak kita nanti tentu saja ia berhak memiliki ayah/ibu yang baik. Dan itu adalah pilihan kita, jodoh adalah takdir yang diikhtiarkan.

Kedua, memilih lingkungan tinggal yang baik. Selepas menikah, biasanya akan memutuskan untuk tinggal. Memilih tempat tinggal pun gampang-gampang susahnya, mirip seperti mencari jodoh. Kita bisa memilih untuk tinggal di rumah yang tertutup, berpagar tinggi, di lingkungan yang antar tetangganya tidak saling kenal. Bisa juga di daerah perkampungan, di tempat-tempat urban, di apartemen, dsb. Semuanya adalah pilihan. Dan bisanya, tempat tinggal yang kita pilih menyesauikan dengan tempat dimana kita bekerja. Dan, memilih lingkungan yang baik, itu memang sulit. Adalah sebuah anugerah yang luar biasa bila kita memiliki tetangga yang baik, lingkungan yang saling menjaga dan terjaga. Jadi, memilih tempat tinggal memang tidak hanya urusan bentuk fisik rumah, tapi juga bentuk sosialnya.

Ketiga, memilihkan pendidikan yang baik. Tentu saja pendidikan pertama adalah dari orang tua, wajib bagi orang tua memiliki bekal ilmu untuk mendidik anak-anaknya. Terutama pendidikan karakter. Sebagai orang islam, saya dan istri sepakat bahwa urusan tauhid harus diajarkan dan selesai sejak di rumah. Sebelum nanti anak-anak pergi merantau, pergi jauh menuju cita-cita atau impiannya. Urusan tauhid menjadi tanggungjawab kami. Karena itulah bekal yang bisa menjaga anak-anak, dimanapun ia berada, di lingkungan manapun nanti ia tumbuh di luar rumah.

Ada banyak hal lain. Dan sudah waktunya untuk bangun dan berhenti untuk khawatir. Kita tidak akan bersikap adil bila menginginkan anak-anak nanti tumbuh seperti bagaimana dulu ketika kita masih kecil. Zaman sudah berganti, sudah berkembang jauh, dan pikiran kita harus maju. Kita bersiap dan harus siap untuk menghadapi tantangan zaman untuk anak-anak kita nanti bertumbuh. Menjadi orang tua, juga gampang-gampang susah. Semoga, kita diberikan anugerah anak-anak yang baik dan berbakti dan kita dimampukan dalam menjalankan amanah sebagai orang tua yang baik.

Yogyakarta, 10 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi

RTM : Untuk Terus Mencintainya, Kamu Harus Berjuang.

Catatan ini mungkin lebih khusus ke laki-laki. Sebab nanti, selepas menikah. Mungkin dalam pandangan matamu, istrimu tidak akan secantik-semanis-sebaik-dan sesempurna sewaktu kamu dulu memperjuangkannya. Saat ini, bisa jadi kamu bisa menyangkal. Tapi, nanti selepas menikah dan menjalaninya, kamu mungkin baru akan memahami maksudku ini.

Kamu harus berupaya untuk bisa terus mencintai istrimu. Perasaan itu tidak tumbuh seperti rerumputan yang terkena hujan. Perasaan itu adalah pohon besar dan kamu menanamnya sejak bibit. Kamu harus merawatnya, menyiraminya, melindunginya dari hama, menyiangi rerumputan disekitarnya, dan juga kamu harus selalu waspada agar ketika nanti ia sudah cukup besar, tidak ada orang lain yang tiba-tiba datang dan menebangnya.

Perempuan yang barangkali adalah temanmu, rekan kerjamu, atau orang yang tiba-tiba kamu temui di jalan. Mereka mungkin tidak melakukan apapun, tapi matamu tidak. Matamu bisa membuat apa yang terlihat menjadi beribu kalilipat lebih baik, lebih cantik, dan segala kelebihan lainnya yang mungkin akan menyulut perasaan lainnya. Tantangan. Seperti kala dulu kamu memperjuangkan perempuan yang menjadi istrimu saat ini.

Untuk itu, ingat-ingatlah selalu kebaikan perempuan yang sedang di rumah menunggumu pulang. Siapa orang yang paling khawatir kala kamu sakit. Siapa orang yang bisa menerimamu apa adanya saat kamu bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa selain kenekatanmu menikahinya dulu. Siapa orang yang rela bersusah payah mengurus segala keperluanmu, juga keperluan anak-anakmu nanti. Ia bersedia bersusah payah mengandung anakmu sembilan bulan dalam kepayahan yang kamu tidak bisa merasakannya. Anak yang mungkin lebih kamu cintai nantinya daripada istrimu.

Sungguh, untuk terus mencintainya, kamu harus berjuang. Bualanmu tentang cinta saat ini, juga bualanmu tentang segala janji itu bisa aku katakan adalah omong kosong. Sebab nanti, jalan yang amat panjang dan mungkin akan membosankanmu telah menanti. Biar tak bosan, kamu perlu menghidupkan setiap ingatanmu mengapa dulu kamu mau memperjuangkannya, setiap rasa syukurmu, dan iman.

Sebab menikah dengan seseorang yang kamu cintai saat ini bukanlah hadiah, melainkan sebagai ujian baru. Ujian yang hanya bisa kamu jawab ketika kamu menjalaninya, bukan dengan lisan, melainkan perbuatan.

©kurniawangunadi | 10 September 2017

Tentang Rezeki

zhriftikar:

Barangkali banyak yang bertanya, bagaimana bisa seorang mahasiswa semester akhir yang sedang mengerjakan skripsi dapat tiba-tiba memutuskan untuk menikah dengan mahasiswa ko-ass kedokteran yang hampir setiap semester mengajukan keringanan UKT. Barangkali banyak yang bertanya pula, bagaimana bisa mereka berdua bertahan hidup terpisah dari orangtua tanpa dibiayai orangtua kecuali untuk biaya pendidikan saja. Barangkali banyak yang bertanya pula, bagaimana mereka bisa haha-hihi, makan-makan, dan ke sana ke mari tanpa kekhawatiran akan rezeki.

Beberapa orang mengira Fahmi tidak bekerja. Padahal tidak mungkin Fahmi dulu berani datang ke rumah kalau ia sendiri masih bergantung sepenuhnya pada orangtua. Fahmi mengajar tahfidz di sebuah rumah tahfidz di daerah Sleman. Mungkin gajinya tidak seberapa. Tapi hari ini, sebuah kemewahan yang tak terkira rasanya, jika tempat tinggal dan makan sudah tidak perlu ditanggung oleh diri sendiri. Apalagi kalau jam kerjanya hanya setelah subuh dan setelah maghrib, sehingga kuliah dan kegiatan akademik lain hampir tidak terganggu sama sekali. Inilah yang dulu Fahmi tawarkan untuk ia bagi dengan saya. Jauh dari bermewah-mewah mungkin, tapi tidak bisa dibilang kurang.

***

Ada satu pelajaran yang orangtua kami sama-sama tekankan kepada kami. Bahwa rezeki itu sudah dijamin oleh Allaah. Allaah sendiri yang bilang, bahwa ‘tidak satu makhluk pun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allaah rezekinya’ (Hud:6). Kalau dalam bahasa Abah, beliau sering katakan, ‘nggak usah khawatir masalah rejeki, nanti Allaah yang cukupi’. Dalam ayat yang lain Allaah bahkan dengan spesifik katakan, ‘dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allaah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allaah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui’ (An-Nur: 32). Orangtua kami memegang betul janji Allaah itu, sehingga besarnya gaji tidak menjadi kekhawatiran sepanjang ada ikhtiar untuk terus mencari rezeki.

Karena Allaah sudah jamin rezeki masing-masing orang, maka sebetulnya menikah itu bukan berarti membagi dua rezeki suami dengan rezeki istri. Suami memiliki rezekinya sendiri, sedangkan istri memiliki rezekinya sendiri. Itulah mengapa ada yang bilang bahwa banyak anak banyak rejeki. Karena rezeki anak itu bukan literally dari rezeki orangtuanya, tetapi setiap anak akan membawa rezekinya masing-masing. Meski, yang kemudian perlu dipahami adalah, bahwa rezeki itu tidak melulu berbentuk rupiah, tapi dapat berupa kesehatan, kesempatan, rasa kenyang, rasa senang, dll. Karena bahkan rezeki sendiri definisinya adalah semua kebaikan dan maslahat yang dinikmati oleh seorang hamba.

Setelah menikah, kami betul merasakan apa yang Allaah janjikan itu. Saya dan Fahmi menggunakan aplikasi di smartphone untuk mengatur keuangan keluarga. Aplikasi itu memungkinkan kami mendapatkan laporan keuangan dengan kategori pemasukan atau pengeluaran yang begitu detail. Misal gaji tetap adalah X, tapi setelah kami lihat laporannya ternyata arus uang yang keluar-masuk bisa mencapai 4 kalinya X. Ada saja rezeki tambahan yang Allaah beri selain dari gaji. Fahmi sendiri bingung bagaimana bisa begitu, karena sebelum menikah belum pernah arus keuangannya sebesar itu. Begitulah rupanya cara Allaah menjamin rezeki kami.

***

Ada satu hal lagi yang kami selalu pegang terkait jaminan rezeki oleh Allaah ini. Bahwa besarnya rezeki kita, hanya Allaah yang tahu. Misalnya gaji Fahmi adalah X. Namun belum tentu rezeki yang Allaah tentukan itu adalah sebesar X, bisa jadi lebih atau kurang. Kalau rezeki yang Allaah tetapkan lebih, maka Allaah akan tambahkan rezeki kami dari sumber yang lain.

Kalau rezeki yang Allaah tetapkan kurang dari gaji Fahmi, maka Allaah akan keluarkan rupiah yang diterima sampai besarnya sebesar rezeki yang Allaah tentukan. Cara Allaah untuk mengeluarkannya bisa jadi dengan cara yang tidak mengenakkan seperti diberi sakit sehingga harus berobat, kecopetan, kerusakan sehingga harus mengeluarkan biaya servis, kecelakaan, dll.

Kenapa bisa begitu? Karena Allaah bilang, ‘dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya’ (An-Najm:39). Misalnya seseorang mendapat gaji sebesar X dengan melakukan A, B, C, dan D. Tapi dalam prakteknya, orang tersebut hanya mengerjakan pekerjaan A dan B saja, sedangkan gajinya tetap X. Maka sebetulnya sebagian dari gaji sebesar X-nya itu bukan hak orang tersebut. Di sinilah Allaah akan paksa untuk keluarkan rezeki orang tersebut sehingga keluarlah apa yang bukan haknya dengan cara yang tidak mengenakkan.

Konsep inilah yang kemudian menjelaskan kenapa sedekah dapat menolak bala. Misalkan gaji seseorang adalah Rp 1.500.000,00, tapi rezeki yang Allaah tetapkan adalah Rp 1.000.000,00. Orang tersebut kemudian menyedahkan Rp 700.000,00 dari total gajinya. Maka, Rp 700.000,00 yang ia sedekahkan itu menjadi pahala sedekah untuknya, sedangkan Rp 200.000,00 yang merupakan bagian dari rezeki Allaah untuknya yang ia sedekahkan akan dikembalikan lagi kepadanya karena sudah merupakan ketetapan Allaah untuk menjadi rezekinya. Rp 500.000,00 yang bukan merupakan hak orang tersebut sudah hilang tanpa Allaah perlu memaksanya hilang. Berarti orang ini sudah menghilangkan potensi ‘musibah’ yang akan menimpanya, sekaligus menambah catatan pahala karena bersedekah.

Untuk itu, kita perlu sekali memenuhi apa yang diamanahkan kepada kita, terlebih perihal pekerjaan yang menjadi sumber nafkah. Karena bisa jadi apa yang kita terima bisa jadi jauh dari yang ‘seharusnya’ kita terima akibat dari kekurangamanahan kita. Untuk itu pula, kita perlu rajin-rajin sedekah untuk membersihkan harta sekaligus menolak bala.

***

Dua konsep di atas jika dipegang dan dilaksanakan mungkin sudah cukup untuk membuat orang survive tanpa kekhawatiran akan harta. Tapi ada dua lagi janji Allaah untuk menambah nikmat hambanya, yakni dengan syukur dan taqwa. Banyak orang di luar sana mati-matian mencari uang dengan dalih supaya kaya. Tapi ternyata setelah kaya, mereka tetap tidak puas dan terus saja mencari kenikmatan dunia. Mereka rupanya kehilangan apa yang Allaah janjikan tadi. Mereka lupa untuk bersyukur, dan mungkin mereka luput untuk bertaqwa. Karena sungguh, Allaah berfirman, ’sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’ (Ibrahim:7). Dan di ayat yang lain, ‘Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu’ (At-Tholaq:2-3)

Semoga kita termasuk dalam golongan yang senantiasa bersyukur dan bertaqwa. Semoga, Allaah lapangkan dan berkahi rezek kita serta menjauhkan kita dari bala.

Rabbi auzi’ni an asykuro ni’matakallatii an’amta alayya….

Fahmi dan Zahra ini adalah dinamic duo yang membuat saya dan istri juga merasa takjub atas keberanian mereka berdua untuk menikah ditengah-tengah Fahmi sedang koas dan Zahra lagi mau beresin skripsi. Keberanian yang dulu saya enggak punya. Mereka pernah bersilaturahmi ke rumah kami, begitupun sebaliknya.

RTM : Perempuan dan Kendaraan

“Dek, kita nyari velg yuk.” ujarku beberapa bulan yang lalu.

“Velg itu apa, Mas?” tanyanya polos.

Itu terjadi ketika beberapa bulan lalu ingin upgrade velg yang lebih besar untuk kendaraan.

“Ngerebus air buat apa, Mas? Buat mandir ya?” tanyanya sambil nyapu.

“Nanti mau disiram kebagian mobil yang penyok, ternyata bisa dibenerin sendiri. Nanti tinggal diteken dari dalam atau ditarik pake alat.” ujarku sambil melihat tutorial cara membetulkan penyok di bumper mobil di Youtube.

Itu terjadi ketika tanpa sengaja saya menyokin salah satu bagian kendaraan.

“Dek, tarikan gas mobil ini kayak ngajak balapan soalnya beda sama mobilnya ummi, meski sama-sama automatic, ternyata transmisinya beda. Punya kita A/T, punya Ummi CVT.”ujarku antusias.

“Transmisi itu buat apa ya, Mas?” tanyanya polos.

“Itu lho yang mindahin gigi.” ujarku.

“Ooo…” balasnya.

Dan masih banyak percakapan lainnya tentang dunia kendaraan. Dan perempuan (sejauh yang saya kenal) memang banyak yang tidak ambil pusing soal kendaraan dan selukbeluknya. Kalau motor mogok di jalan, ia tidak tahu apa yang terjadi. Kalau service ke bengkel, ia pun bingung menjelaskan. Bahkan mungkin tidak tahu nama bagian-bagian sparepartnya.

Dalam berumah tangga, hal-hal ini seperti ini menjadi bumbu tersendiri. Perawatan rumah, ia ahlinya. Tapi soal kendaraan, mau tidak mau laki-laki harus belajar. Kalau terjadi apa-apa, setidaknya masalah-masalah ringan, bisa mengurus sendiri.

Salah satu hal yang belum sempat saya ajarkan ke istri adalah cara mengganti ban mobil. Hal-hal yang bisa saya ajarkan tentang kendaraan, saya transfer dengan cara-cara yang menyenangkan.

Saya ajak dia ke toko ban dan velg, mengenalkan beragam jenisnya, ukurannya, PCD nya, dsb. Sekarang tiap kali berkendara, kalau melihat Velg bagus, selalu berujar antusias.

“Mas, mas, itu velgnya bagus!” ujarnya sambil menunjuk. Saya tersenyum sendiri.

Kalau lagi ngutak utik kendaraan di rumah, saya kenalkan bagian-bagiannya. Kalau gak bisa ini, apa yang harus di cek. Kalau ini eror, nama bagiannya apa dan gimana cara gantinya. Kalau air wipernya habis, dimana mengisinya. Kalau mengisi nitrogen untuk ban, berapa tekanannya. Dan hal-hal lainnya.

* * * *

Dalam berumah tangga, ada transfer pengetahuan yang sifatnya menyeluruh. Termasuk transfer ilmu pengetahuan umum, baik itu tentang memasak, dsb. Kalau laki-laki menjadi kapten, maka penting baginya untuk mengajarkan perempuan bagaimana menjadi kapten, agar dalam kondisi darurat ia bisa melakukannya. Kalau istri menjadi koki, penting juga untuk mengajarkan laki-laki menjadi koki, memasak di rumah. Agar dalam kondisi darurat, laki-laki bisa melakukannya, memasak untuk keluarga.

Berumah tangga, kita tidak hanya berbicara bagaimana mengajarkan pemahaman agama, tapi segala sesuatu yang menyeluruh. Berbagi dan saling menggantikan peran. Agar bahtera rumah tangga ini selalu siaga dalam kondisi apapun.

14 Agustus 2017 | ©kurniawangunadi

RTM : Belum Ada Apa-Apanya

Beberapa minggu belakangan ini. Saya dihubungi beberapa teman, teman sepermainan zaman berjuang dulu, termasuk ketika zaman masih single. Kami berdiskusi tentang sesuatu yang dulu hanya ada dalam angan-angan kami, yaitu rumah. Rumah dalam makna yang sebenarnya, bangunan fisik dari tumpukan batu bata, ada gentingnya, ada lantainya, ada pintunya. Rumah.

Rumah itu mahal, itu dalam ukuran kantong kami. Apalagi sebagai rumah tangga muda. Bekerja selepas kuliah juga belum lama. Juga tidak mendapatkan rezeki dibelikan rumah oleh orang tua, itu artinya kami harus berjuang untuk itu. Mulai dari diskusi, dimana lokasi yang tepat untuk membangun rumah yang ternyata urusannya tidak sekedar membeli rumah. Ada banyak pertimbangan, selain harga, tentunya adalah lingkungan. Bagaimana cara membayarnya, karena kami tidak punya uang tunai sebanyak itu ditengah-tengah kami ingin menghindari riba dari jual beli. Banyak sekali diskusi yang menarik, terutama tentang berbagi informasi hunian yang sedang dibangun.

Dan kami sadar, kami harus berjuang untuk itu. Mungkin bisa cepat, mungkin juga bisa bertahun. Pada intinya sama, kami harus berjuang dan memperjuangkannya. Itu akan menjadi rumah untuk keluarga, tumbuhnya buah hati, juga tumbuhnya peradaban.

* * * *

Bapak dan Ibu pernah bercerita tentang usaha mereka untuk membangun rumah. Rumah itu dibangun pada tahun 1989 di atas tanah warisan dari simbah. Foto rumah saat itu masih ada, lantainya masih berupa tanah, dindingnya masih terlihat tumpukan batunya, belum ada cukup uang untuk membeli semennya. Ubin rumah baru dipasang sekitar 6 tahun kemudian, untuk membuatnya jadi lantai keramik seperti saat ini, butuh waktu hampir 17 tahun sejak rumah itu pertama kali dibangun. Dulu, sewaktu kecil, kamar mandinya hanya berupa tumpukan batu bata yang disusun dengan tanah, bukan semen. Sumurnya tentu saja sumur gali, bukan sumur pompa seperti sekarang.

Rumah itu, meski bentuknya tidak semanis rumah-rumah yang tergambar di internet. Tapi, setiap sudut ceritanya sangat manis. Saya masih ingat dulu, ruang makan yang kami gunakan sekarang, dulu adalah kandang ayam. Kini menjelma menjadi ruang shalat, ruang makan, dengan lantai keramik.

Butuh bertahun-tahun. Dan barangkali kalau kita berbicara tentang rumah, kita perlu bertanya kepada orang tua kita masing-masing, bagaimana beliau berjuang untuk membangunnya.

* * * *
Dan perjuanganku memang belum ada apa-apanya. Seringkali saya bercerita kepada istri saya bahwa nanti rumah yang ada sekarang akan dibuat seperti ini dan seperti itu. Saya tahu, perkataan itu menuntut perjuangan. Dan saya siap memperjuangkannya.

Kami tidak tiba-tiba mendapatkan segala sesuatu, karena memang orang tua kami tidak memberikannya. Sebagai keluarga muda, kami berjuang untuk membangun itu dari awal. Sebagian teman kami mengontrak sepetak rumah kecil, ada yang sudah mulai mencicil, ada yang sedang mencari informasi. Sungguh, perjuangan ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan orang tua. Dan demi mengetahui hal itu, saya justru semakin bersemangat memperjuangkannya.

©kurniawangunadi | #rtm | 12 agustus 2017

a forgiving mother

berdaya:

kata ibu, saya ini orangnya cuek. dulu ibu mati-matian membuat saya menjadi anak yang selalu perhatian sama sekitar, mau memikirkan orang lain, peka. sekarang, saat giliran saya yang menjadi ibu, saya merasakan bahwa kecuekan saya hilang entah ke mana dan saya menjadi orang yang sebaliknya. saya mudah khawatir terutama apapun tentang mas yunus dan mbak yuna, mudah merasa bahwa diri saya bukan istri dan ibu yang cukup baik. lalu, kata ibu, saya perlu belajar menjadi cuek lagi. cuek yang lain, yaitu yang memaafkan.

setelah saya renungkan dan coba, ternyata, menjadi seseorang yang banyak memaafkan itu sangat penting. saat kita berhasil memaafkan, yang bahagia adalah diri kita sendiri. itulah mengapa kita harus sering berlatih memaafkan, termasuk memaafkan diri sendiri. memaafkan itu menenteramkan. apalagi kalau sudah menjadi ibu. rasanya, memaafkan harus selalu ada dalam agenda harian kita.

dalam dua minggu terakhir, ada banyak momen istimewa terjadi. untuk pertama kalinya saya meninggalkan mbak yuna karena sekolah (padahal hanya beberapa jam saja), untuk pertama kalinya mbak yuna melakukan perjalanan jarak jauh dengan pesawat, untuk pertama kalinya mbak yuna makan (yap, sebelum genap 6 bulan), dan untuk pertama kalinya saya sakit lumayan parah sampai kesulitan menyusui. selama dua minggu terakhir, saya benar-benar belajar untuk menjadi ibu yang memaafkan (diri sendiri).

ini adalah serangkaian usaha yang membantu saya memaafkan diri sendiri. menjadi ibu yang memaafkan.

1. miliki standar ideal tentang segalanya. namun, pilahlah mana yang benar-benar dasar, prinsipil, dan penting, lalu mana yang bisa luwes. supaya semakin pandai memilah dan memilih, kita harus punya pengetahuan luas, alias harus banyak belajar. biasanya, konflik paling sering muncul karena jaman sekarang ada banyak sekali ilmu parenting kekinian, sedangkan orang-orang terdekat kita belum mengetahui dan memahaminya. jadilah orang tua yang bijak dalam menentukan apa yang paling ideal. jangan sok-sokan kekinian tapi tidak tau dasarnya. jangan pula telan bulat-bulat metode parenting yang menurut orang tua kita atau orang-orang terdekat kita adalah yang terbaik. caranya? belajar, tentukan sendiri.

2. selalu ridho. maafkan, literally. dalam perjalanan mencapai yang kita sebut ideal, seringkali ada yang tidak tercapai. katakan kepada diri sendiri bahwa itu nggak papa. it’s OK.. kembali lagi ke poin pertama, selama masih ada alternatifnya dan alternatif tersebut sesuai dengan prinsip, it’s OK. nggak ada orang tua yang gagal, yang ada adalah orang tua yang kurang ridho. nggak ada anak yang nakal, yang ada adalah orang tua yang kurang ridho. menjadi orang tua artinya belajar untuk terus-terusan ridho dan harus begitu. kata lainnya, belajar terus-terusan memaafkan ketidaksempurnaan.

3. pada dasarnya kebutuhan bayi hanyalah dua: rasa aman dan rasa nyaman. itu sangat berbeda dengan keamanan dan kenyamanan. saat saya pertama kali memutuskan mbak yuna tidur bersama saya dan tidak di boks misalnya, yang ingin saya penuhi adalah perasaan aman mbak yuna karena dekat dengan ibunya. waktu itu mbak yuna baru satu bulan dan tidur bersebelahan dengan ibu tentu memiliki risiko keamanan. namun, berhubung mbak yuna selalu menangis jika tidur sendirian, sayalah yang harus ekstra memperhatikan keamanan dan mengurangi risikonya. ingat, rasa aman dan rasa nyaman–yang dirasakan bayi, bukan sekadar keamanan dan kenyamanan–yang dipikirkan orang tua.

4. semua hal baru bagi bayi bisa menimbulkan ketidaknyamanan. oleh karena itu, komunikasikan. sering-seringlah ngobrol sama bayi meskipun dia belum mengerti. bahkan, sejak dalam kandungan, ajak janin mengobrol sesering mungkin. berhati-hatilah dengan kata-kata yang digunakan dalam berkomunikasi karena kita sedang membentuk dirinya lewat kata-kata. saya termasuk yang sangat teliti soal kata-kata ini. ingatlah bahwa kata-kata, apalagi dari orang tua, adalah doa.

5. berusahalah untuk selalu mengikuti bayi dan anak–bukan menuruti yah, beda. ini berlaku jika bayi sudah mulai punya banyak keinginan. anak tidak bisa disuruh memahami keinginan orang tua. orang tua pun sering kali sulit memahami anak. jadi, ikutilah dunianya. pahamkan anak atas berbagai emosi dan pahamkan anak atas keinginan dirinya sendiri. kita tentu ingin anak kita tumbuh menjadi seseorang yang berempati alih-alih yang penurut. jadi, yang perlu kita berikan bukanlah pemahaman (saja), melainkan cara untuk memahami.

6. kebahagiaan tidak ada di internet dan media sosial. kebahagiaan itu adanya pada hubungan antara ibu dan anak, antara bapak dan anak–yang nggak kelihatan di mana-mana. ini penting pakai banget. orang-orang yang berbagi betapa “pintar” dan “baik” anaknya, mereka sedang merayakan kebahagiaannya. kita, jangan jadikan itu standar bahagia dan sukses kita. milikilah ikatan kuat nan tulus dengan cara kita sendiri. caranya? selalu ridho. selalu ridho. selalu ridho.

7. tidak semua properti bayi dan anak itu penting. saya yakin bahwa penyakit boros dan kalap belanja akan tiba-tiba menghinggapi para ibu baru karena ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. namun, percayalah, tidak semuanya penting dan hampir semuanya bisa ada alternatifnya. kebanyakan peralatan bayi pun dipakai hanya sebentaran saja. jadi, belanjalah apa yang penting, bukan apa yang lucu, apalagi apa yang dimiliki para ibu sejagat instagram. ajari anak kita untuk hidup hemat dan sederhana sejak dini. meskipun kita mampu, tidak berarti kita harus punya semua yang kita mau. kembali lagi ke poin satu.

***

mbak yuna baru saja enam bulan. baru lulus asi eksklusif dan (akhirnya tidak sesuai rencana) sudah memulai makan sejak 5.5 bulan karena tanda-tanda siap mpasi sudah lengkap. tantangan menjadi orang tua ternyata semakin besar berhubung mbak yuna sudah semakin mengenal emosi dan perasaan. di tengah berbagai ilmu parenting yang sangat banyak–kadang-kadang terlalu banyak sampai bingung mana yang terbaik–untuk diri sendiri, saya merangkum semuanya menjadi satu saja, yaitu menjadi ibu yang selalu memaafkan.

memaafkan, dalam kamus saya artinya: belajar, ridho, beri rasa aman nyaman, komunikasikan, ikuti dunianya, bangun ikatan, tetap sederhana.

lalu, memaafkan juga punya arti lain: bahwa apa yang dilakukan para ibu lain kepada keluarganya dan anak-anaknya adalah yang terbaik menurut mereka. jadi, kita jangaaan deh sekali-sekali terlibat dalam perdebatan dan perang tentang apa yang terbaik. cukuplah kita belajar lalu memilih yang terbaik untuk keluarga dan anak sendiri. berbagi bagaimana itu semua bekerja tidaklah apa-apa, tetapi tidak berarti hal yang sama akan berlaku bagi orang lain. standar ideal kita adalah untuk kita, bukan untuk orang lain.

semoga catatan kecil ini membantu semua ibu muda. semangat yaa. yang ingin curhat tentang menjadi ibu muda, i’m all ears yah.

RTM : Rumah Tangga Muda

Jauh hari sebelum menikah, ada seorang teman yang mengatakan kepadaku bahwa tidak akan benar-benar siap orang yang akan menikah, sebanyak apapun ia belajar tentang pernikahan. Sebab, nanti dipernikahan pun ia akan selalu dituntut untuk terus belajar.

Dan setelah hampir satu tahun setelah menikah. Memang begitu adanya. Pelajaran itu ada setiap hari, setiap kali bangun pagi. Serasa memasuki kelas sebagai murid, kemudian belajar, menyimak apa yang diajarkan oleh guru. Dan guru dalam pernikahan bisa berbentuk apapun. Entah itu pasangan, entah itu anak-anak, entah itu mertua, teman, kerabat, siapapun dan apapun.

Dan untuk itu, juga untuk memelihara akal sehat setelah banyak terpapar berbagai bentuk pernikahan dan kebahagiaan yang menghiasi instagram. Sesuatu yang membuat kita semakin jauh dari ketenangan dalam mempersiapkan diri dan juga menjalani. Kami, saya dan istri saya, @ajinurafifah membuat sebuah halaman khusus di tumblrblog kami dengan judul Rumah Tangga Muda (RTM).

Sebuah kolom yang nantinya akan kami isi dengan pelajaran-pelajaran berharga yang kami dapatkan selama menjalani rumah tangga muda ini. Dan tentu saja, kolom ini sangat terbuka untuk teman-teman sebaya yang juga sedang menjalani rumah tangga muda. 

Kami ingin berbagi, belajar bersama. Barangkali ada kejadian berharga yang membuat sepasang suami istri menjadi banyak belajar. Karena pada dasarnya, kami merasa untuk saling menjaga. Keluarga yang satu ikut membantu menjaga keluarga yang lain. Menasihtkan akan kebaikan. Mengingatkan bila lalai.

Kolom ini akan saya buat page khusus seperti tulisan saya dalam page tulisan, cerpen, dll yang bisa teman-teman akses di halaman utama tumblr saya. Kolom ini terbuka untuk siapapun yang ingin berbagi ketika menjalani rumah tangga mudanya, saya tidak tahu batasan untuk kata MUDA. Tapi tentu saja, banyak diantara pembaca dan juga penulis di tumblr ini yang sebaya. Semoga kita bisa saling belajar dan saling menjaga akal sehat.

Jika teman-teman ingin menulis dan berkontribusi di kolom Rumah Tangga Muda. Mudah sekali caranya, tinggal buat #hastag seperti dibawah tulisan ini; #RTM #rumahtanggamuda . Ini semua memudahkan kita untuk mencari tulisan dengan kategori serupa.

Salam Hangat,

Kurniawan Gunadi & Aji Nur Afifah

Sebagai laki-laki, suatu saat ia akan memiliki tanggungjawab untuk menafkahi keluarganya. Biarpun istri juga bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Kewajiban menafkahi keluarga tetap ada pada laki-laki. Nanti, di saat kebutuhan semakin banyak, kita mungkin akan dibenturkan pada kondisi dimana mungkin saat itu kita akan berpikir; ah gak apa2, ah orang lain juga melakukan hal yang sama, dan lainnya. Saat itu, kita mungkin akan lupa pada halal haramnya harta yang kita nafkahkan. Dan untuk itu, sedari sekarang kenali betul bagaimana calon istrimu memandang harta, dan bagaimana ia membelanjakannya. Sungguh manusia akan senantiasa diuji dg harta, dg ketakutan pada kemiskinan. Dan sungguh, kefakiran itu dekat sekali dengan kekafiran. Semangat untuk kita semua, terutama yang sedang membina rumah tangga muda.