Pulanglah

Untuk Shabira

Sebagai anak perempuan ayah. Ayah mengizinkanmu untuk mengenal dunia, menjejaki setiap sudutnya, mengenal kejahatan dan kebenaran. Agar kamu benar-benar mengerti mana yang haq dan yang batil. Agar kamu tumbuh menjadi perempuan yang peka sekaligus lembut hati dan perilakunya, sekaligus tegas jika kamu menemui hal yang salah. Kamu akan melampaui jalan yang lebih jauh dari yang pernah orang tuamu tempuh. Berbicara tentang hal-hal yang belum pernah orangtuamu pelajari.

Dunia ini akan mewarnaimu hingga mungkin kamu akan kebingungan dengan dirimu. Kamu kesulitan mengenali dirimu sendiri. Saat itu terjadi. Pulanglah! Ayah akan selalu tahu cara mengenali puterinya.

Yogyakarta, 2 Juni 2018 \ Kurniawan Gunadi

Berusaha Menjadi Ayah yang Baik

 

 

Beberapa tahun mendatang, saat langkah kakinya mulai kuat untuk berjalan jauh. Akan ada masa-masa seperti ini, masa-masa saat bisa menemani dan memerhatikan tumbuh kembangnya. Sesuatu yang terjadi tiap detik dan hanya sekali seumur hidup. Saat pertama ia bisa tengkurap, kata pertama yang diucap, bisa merangkak, kemudian bisa berjalan, tahu-tahu besok ia akan berbicara tentang cita-cita dan cinta pertama.

Hal seperti inilah yang membuatku tiba-tiba sadar kalau sudah hampir sebulan jarang menulis, jarang online dan berlama-lama dengan ponsel. Bahkan saat bersamanya, tidak disibukkan dengan mengambil gambar dan merekamnya. Semuanya kurekam baik-baik dalam kenangan dan kehadiran yang utuh.

Esok saat ia sudah kuat langkahnya, ia akan pergi jauh. Semoga ayah cukup memberimu bekal.

 

 

 

Yang Tak Terulang

Dua minggu pertama Shabira terlahir ke dunia, rasanya duniaku ikut terobrak-abrik. Jam tidur yang tiba-tiba berubah, fokus yang tiba-tiba terpecah, ego yang tiba-tiba harus selalu terkendali, dan segala sesuatu yang tidak pernah kusangka akan seperti itu; saat memiliki buah hati.

Saya yang hampir tidak pernah menggendong bayi sebelumnya, tidak juga pernah tahu bagaimana rasanya mengasuh anak kecil karena saya tidak punya adik. Tiba-tiba, sesaat setelah Shabira lahir, saya harus menggondongnya meski dengan tangan yang masih kaku. Membopongnya dari perawat, kemudian mendekatkannya ke ibunya sembari mengumandakan adzan dan iqamah dengan haru.

Saya harus berjibaku dengan waktu, tidur bergantian. Juga membersihkannya sesaat setelah ia buang air. Rela terbangun jam berapapun saat ia menangis karena risih setelah buang air. Sebelum jam 6 pagi, sudah mulai mencuci popok kainnya.

Juga sewaktu dua hari Shabira harus menginap lagi di rumah sakit untuk terapi sinar. Setiap tiga jam saya harus bolak-balik dari rumah ke rumah sakit untuk mengantarkan ASI, tidak peduli waktu.

Atau ketika Shabira rewel dan hanya mau digendong, sampai kadang tangan menjadi kelu. Atau punggung terasa pegal. Atau kemudian harus merelakan pekerjaan terbengkalai.

Semua itu adalah moment yang tak akan pernah terulang. Hanya sekali dan saya tidak ingin melewatkannya, satupun.

Kelak, saya mungkin takjub saat waktu berlalu dan tanpa terasa Shabira sudah tumbuh menjadi perempuan dewasa. Saat ia sudah bisa mengambil keputusan-keputusan atas hidupnya sendiri. Saat langkah kakinya tak lagi bisa kuimbangi karena ia sudah berlari jauh menjelajah dunianya. Saat itu, mungkin saya akan rindu masa kecilnya.

Masa-masa saat memandikannya di bak kecil. Menggendongnya sambil berjalan ke sana ke mari. Mengajaknya bercerita dengan bahasa bayi. Atau sekedar mengantar dan menjemputnya dari sekolah.

Semua momen itu hanya sekali dan tak akan terulang.

Malang, 29 Maret 2018 | ©kurniawangunadi

RTM : Mengalah

Dulu saya tidak mengerti kenapa orang tua seringkali mengalah kepada anaknya. Mengalah semisal, ibu lebih memilih memasakan makanan kesukaan saya daripada kesukaan bapak jika saya mudik. Bapak mengalah demi itu. Atau saat ada keperluan, bapak dan ibu sering mengalah menunda membeli keperluannya demi agar keperluan anaknya terpenuhi lebih dulu.

Beberapa hari kemarin, ketika saya dan istri mengajak Shabira keluar untuk jalan-jalan mengurus dokumen-dokumen segala macam di kampung halaman. Kami ada keinginan untuk makan di tempat-tempat makan kesukaan kami, seperti mie ayam, bakso, soto, dsb. Hanya saja, setibanya di sana kami tidak jadi berminat. Ketika melihat tempatnya terlalu ramai, ada orang yang merokok, atau mungkin antreannya terlalu lama.

Melihat Shabira yang baru berusia belum dua bulan, kami mengalah. Kami merasa kasihan kepadanya jika kami terus mementingkan keinginan kami hanya untuk sekedar makan di tempat tersebut. Membiarkannya terpapar asap rokok, berdesak-desakan, dsb. Akhirnya, kami pulang, makan seadanya di rumah.

Saya merasa tidak pernah seperti ini sebelumnya, saya yang sangat kekeuh ketika ingin sesuatu. Kini, saya luluh kepada anak perempuan ini, yang pandangan matanya mampu meruntuhkan ego, yang senyumnya mampu menenangkan khawatir, dan suara khasnya yang membuatku selalu ingin memberikan yang terbaik sebagai Ayah.

Rumah, 10 Februari 2018 | ©kurniawangunadi

RTM : Berhitung

Pernah tidak? Beberapa kali, atau banyak kali, jika tidak sesekali kita sangat perhitungan terhadap orang tua. Misal dulu sebelum kita bekerja, untuk diminta bantuan saja kita berhitung. Atau ketika salah satu dari beliau sakit, masih ada prioritas lain yang kita miliki. Kini misal selepas bekerja, saat kita mau memberi sebagian penghasilan kita ke mereka, masih kita perhitungkan. Bahkan, misal saat kita bicara dengan mereka dan tiba-tiba mereka terucap menginginkan sesuatu, kita berpikir-pikir untuk membelikannya atau tidak.

Saya menginsyafi, jika saya pernah seperti itu. Sampai suatu ketika, saya menikah dan akhirnya merasakan menjadi orang tua. Saya paham, bahwa hal itu membuat saya semakin bersalah. Saat ini, saya merasakan bagaimana saya sebagai orang tua, ingin memberikan yang terbaik dan segalanya untuk anak. Saya tidak peduli berapa ongkos yang dikeluarkan jika ia sakit, atau kebutuhan-kebutuhannya yang lain. Yang saya pikirkan adalah bagaimana saya berjuang untuk mencukupinya.

Saya tidak pernah berhitung ketika harus begadang, menggendongnya, dan lain-lain sementara saya masih ada urusan-urusan. Bagaimana kemudian saya merelakan urusan itu, hanya untuk menemaninya. Memastikannya dalam keadaan baik dan dalam pengawasan.

Saya tidak pernah mengukur berapa biaya yang harus saya keluarkan sejak ia lahir hingga hari ini. Sedikit atau banyak bukan menjadi ukuran, yang menjadi ukuran adalah ia bisa lahir dengan baik dan tumbuh dengan sehat.

Ini membuat saya merenung, selain menjadi orang tua, saya juga masih memiliki peran sebagai anak. Dan sungguh, saya merasakan betul bahwa saya tidak akan pernah bisa mengganti kebaikannya, tidak akan pernah cukup usia saya untuk membayar semua pengorbanan orang tua.

Betapa bersyukur dan beruntungnya orang tua yang memiliki anak-anak yang tumbuh dengan baik. Memiliki budi pekerti yang baik, memiliki akhlak yang santun. Sedih rasanya jika melihat anak-anak yang tumbuh tanpa adab.

Dan saya sering bercerita sambil berdoa saat menimang-nimang Shabira, semoga ia tumbuh menjadi perempuan yang baik, yang beradab, yang salehah, yang berbakti, yang menjadi cahaya kedua orang tuanya.

Semoga suatu saat, Shabira (dan adik-adiknya) bisa membaca tulisan ini.

©kurniawangunadi | rumah, 1 februari 2018

RTM : Sabar

Sewaktu mencari nama untuk Shabira, nama pertama-pertama yang muncul adalah sebuah nama yang bermakna Samudera Kesabaran. Dua kata yang akhirnya tidak jadi kami gunakan. Karena ternyata hasil USG nya perempuan. Akhirnya berusaha mencari nama yang lebih feminim.

Lepas dari itu, sejak awal. Makna Sabar tetap dipertahkan. Karena itu adalah doa utama dari nama yang akan kami sematkan ke Shabira, sampai akhirnya suatu hari saya sakit. Saya tiduran di ruang tengah, istri sedang memasak. Saya terbangun dan tiba-tiba terpikir sebuah nama yang tepat, Ghinannisa Shabira.

Kami berdoa agar shabira bisa menjadi perempuan yang kaya akan kesabaran. Nyatanya, justru saya yang belajar banyak dari Shabira.

Setiap kali Shabira rewel, kami selalu berkata, “Sabar ya Nak, seperti namanya,” dan lain-lain yang selalu saja kami sampaikan kepadanya untuk menjadi sabar. Sabar ketika mandi, sabar ketika buang air, sabar ketika minum ASI, dsb. Dan alhamdulillah, Shabira benar-benar bisa diajak bekerja sama dengan baik sampai hari ini. Benar-benar memudahkan kedua orang tuanya.

Dan saya belajar lebih banyak lagi. Sejak menjadi ayah, saya merasa tingkat kesabaran saya meningkat. Beberapa waktu yang lalu, saya memesan sesuatu dan ternyata hasilnya diluar dugaan, setengah pesanan yang saya terima rusak. Dan saya waktu itu hanya bilang, “ya sudahlah”. Karena biasanya saya tidak pernah seperti itu, pasti ripuh, kesal, dsb. Atau seperti hari ini, bumper mobil saya nyangkut di trotoar dan baret-baret. Setiap teman-teman yang mengenal saya pasti tahu betapa riweuhnya saya dengan hal seperti itu. Hari ini, saya hanya memandang baretan itu, dan ya sudah.

Saya termasuk orang yang amat detail, saya bisa sangat risih  dengan sesuatu yang tidak sempurna. Jadi, baretan di mobil itu bisa bikin saya stress, nyatanya sekarang tidak. Saya lebih bisa menolerir ketidaksempurnaan dan ketidakteraturan.

Saya sadar betul jika Shabira mampu memahami apa yang saya rasakan. Dan jikapun saya badmood di luar, merasa kesal dsb. Perasaan itu harus sudah luruh sebelum saya bertemu shabira. Sebelum saya menggendongnya. Setiap kali bertemu dengannya, perasaan saya harus bahagia dan penuh kasih sayang. Dan semakin ke sini, saya semakin bisa merasakan bahwa sebenarnya, shabiralah yang mengajarkan ayahnya banyak sekali. Bahkan, saat menikah kemarin saya belum sampai level ini.

Doa yang saya sematkan menjadi namanya, justru menjadi pengingat saya setiap waktu. Shabira, sabar, dan sabar. Sebagaimana Allah katakan untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong (lihat Al Baqarah 153). Kesabaran itulah yang membuat saya benar-benar merasa berharga dan beruntung, mungkin inilah salah satu alasan kenapa Shabira ada. Untuk mengajarkan ayahnya, untuk menjadikan ayahnya seseorang yang penuh kesabaran.

©kurniawangunadi

RTM : Ego

Kehadiran Shabira di tengah-tengah keluarga kecil kami memberikan dampak yang begitu besar. Ritme, prioritas, dan hal-hal tak terduga lainnya, berubah sejak kahadirannya. Akan tetapi, ada satu hal yang paling besar dampaknya terhadap diri saya sendiri, yaitu ego.

Beberapa tulisan lama saya pernah membahas tentang ego, bagaimana kita bisa menyelesaikan ego-ego kita sebelum berkeluarga, dsb. Meski mungkin tidak sepenuhnya selesai, paling tidak, kita bisa mengendalikannya dengan baik. Menikah membuat saya paham betapa pentingnya masing-masing pribadi bisa berdamai, bisa akur dengan egonya masing-masing sebelum memutuskan untuk berumah tangga. Memiliki anak, akan jauh lebih menantang bagi ego-ego tersebut jika ia belum selesai atau belum bisa dikendalikan oleh tuannya, diri kita kita sendiri.

Shabira membuat saya jauh lebih sabar dari sebelum-sebelumnya, tidak pernah seperti ini dalam hidup. Ia juga mampu membuat saya mengubah prioritas. Shabira juga bisa membuat saya menjadi pribadi yang lebih tenang, tidak pernah setenang ini.

Ia berhasil membuat saya lebih nyaman dengan ketidakaturan, berdamai dengan hal-hal yang berantakan, juga bersedia bersabar dengan segala kelakuannya. Anak ini mampu menghancurkan ego yang besar, ambisi yang segunung.

Berumah tangga tidak pernah semudah yang tampak di panggung media sosial yang dilihat, tidak pernah sesempurna itu. Untuk itu, saya amat bersyukur menikah di usia 26 tahun kurang 2 bulan. Karena itu ternyata itu adalah waktu terbaik saya, di usia itu. Banyak urusan ego saya telah selesai, meski belum seluruhnya. Banyak ambisi saya yang sudah reda, meski juga belum seluruhnya. Setidaknya, semuanya bisa dikenali, dikendalikan. Waktu terbaik kita mungkin berbeda. Dulu saya pernah merencanakan menikah di usia 23, padahal saya baru lulus kuliah dari ITB di usia 24 kurang sedikit, menikmati semester bonus. Di usia itu, saya hanya punya keinginan tanpa persiapan. Menikah saat itu menjadi semacam ambisi, menjadi semacam ego untuk pembuktian. Entah mengapa saya berpikir seperti itu, saat itu. Ya itulah, ego.

Di usia 24 ke 25 saya dipertemukan dengan banyak orang baik yang memberi pembelajaran berharga. Di berikan kejadian-kejadian yang memaksa saya untuk belajar lagi, dan lagi. Membuat saya harus belajar tentang keikhlasan, kerelaan, bersabar, meredakan ego, dipaksa tunduk pada ketetapanNya selepas saya kekeuh ingin sesuatu, dan hal-hal lainnya. Saya kira saat itu tidak akan selesai cepat, ternyata butuh kurang dari dua tahun untuk belajar itu semua. Alhamdulillah.

Kini di usia 27, saya menjadi ayah. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya, bahkan saya sering bertanya ke teman-teman sebaya, rekan-rekan di FIM, dsb. Apakah saya sudah pantas untuk menjadi ayah dengan kelakuan yang banyak minusnya ini?

Shabira berhasil membuat saya percaya bahwa saya sudah cukup layak untuk menjadi seorang ayah. Ia berhasil membuat saya tahu, bahwa ambisi-ambisi dan ego ini hanyalah sesuatu yang menyita kebahagiaan, mengikis ketenangan batin. 

Berumah tangga tidak pernah semudah yang dibayangkan, jangan bayangkan hanya yang indah-indahnya. Belajar dan bersiaplah justru untuk menghadapi badai-badainya. Kita bisa saja menyiapkan bahtera yang cantik dan megah, tapi jangan lupa membuatnya kuat saat menghadapi badai. Saat menjalani rumah tangga, kekuatan untuk menghadapi ujian akan jauh lebih dibutuhkan daripada hanya meriasnya agar tampak bahagia. Apalagi jika hanya untuk keperluan eksistensi diri di dunia maya 🙂

©kurniawangunadi

RTM : Memberimu Nama

Salah satu tugas orang tua adalah memberikan nama yang baik bagi anak-anaknya. Seperti nama yang kita miliki saat ini, semuanya tentu mengandung doa. Melewati perenungan yang berarti, melewati pencarian yang mungkin tidak mudah, juga ada harapan-harapan yang terkadung di dalamnya. Sudahkah kita tahu makna dari nama kita? Jika belum, segera bertanya kepada orang tua.

image

Dan saya baru menyadari jika memberi nama itu tidak mudah. Saya pikir, saya bisa dengan bebas memetik nama dari alam, dari hal-hal yang terlintas begitu saja. Ternyata tidak, ada harapan dari tiap huruf yang diambil, dari tiap kata yang dipilih. Ada banyak sekali doa yang termaktub di dalamnya.

Nama itu tidak bisa tidak pasti juga bagian dari ikhtiar orang tua yang tidak bisa kita kecilkan. Nama yang menjadi milik kita saat ini, adalah nama terbaik. Nama yang indah.

Saya akhirnya menyadari, tidak ada nama yang rumit, tidak ada juga yang amat sederhana. Semudah atau sesulit apapun pengejaannya, setiap nama mengandung makna yang tidak bisa diabaikan. Semoga nama itu menjadi sifat dan sikap pada diri seorang anak.

Kini, saya mengerti bahwa nama ini akan menjadi tanda, akan menjadi penanda seorang anak. Nama ini akan disebut oleh manusia lainnya, juga oleh para malaikat, juga olehNya. Nama ini akan menjadi doa yang tidak pernah berhenti setiap kali ada yang memanggilnya, setiap kali ada yang menulisnya, setiap kali ada yang mengingatnya.

Salah satu tugas kami sebagai orang tua telah tertunaikan, memberi nama yang baik untuk anak kami, Ghinannisa Shabira Gunadi. Semoga ia tumbuh menjadi perempuan yang kaya akan kesabaran, perempuan yang senantiasa merasa cukup atas nikmatNya sehingga membuatnya menjadi seseorang yang mudah bersyukur.

Sabar dan Syukur adalah dua kata yang menjadi doa.

©kurniawangunadi

RTM : Bahagia yang Berbeda

Beberapa hari terakhir, segala sesuatunya berubah. Mulai dari status, ritme hidup, rutinitas, jam tidur, bahkan sampai ke rencana hidup jangka pendek lainnya. Dan kami bahagia mengubahnya, kami bahagia melakukan itu semua.

Segala puji bagi Allah, pada hari jumat sore selepas adzan Ashar, 15 Desember 2017 lalu. Kami diberikan amanah olehNya, puteri pertama kami lahir dengan sehat dan selamat. Seorang puteri yang berhasil merebut ego kami, berhasil meluruhkan ambisi, berhasil membuat saya yang tadinya sangat kaku menjadi lebih lunak, yang jelas, lebih bersabar.

image

Banyak yang tidak tahu jika istri saya sedang hamil, mungkin hanya terbatas beberapa pada teman dalam lingkaran kami saja. Sejak dalam kandungan, puteri kami telah mengajarkan kami untuk bersabar, menahan diri, salah satunya adalah untuk tidak membuat kehadirannya menjadi kesedihan bagi orang lain, saat orang tuanya tidak mampu menahan luapan kebahagiaannya. Kami menyadari bahwa kami beruntung, diberikan amanah dalam rentang waktu yang tidak begitu lama selepas kami menikah. Teman kami yang lain, sedang berjuang.

Sejak dalam kandungan, puteri kami mengajarkan kami untuk banyak bersabar, dan kelak kesabaran itu yang akhirnya kami abadikan dalam salah satu kata yang menjadi namanya, Shabira. Sembilan bulan kami beradaptasi dengan kehadirannya, ia juga mengajarkan kami untuk mengingat-ingat saat orang tua dulu mengandung kami. Ternyata seperti itu rasanya. Dan hingga kelahirannya, ia berhasil menyadarkan kami bertapa banyak kesalahan kami kepada orang tua, juga betapa jarangnya kami bersyukur memiliki mereka bagaimanapun keadaannya. Setelah kami tahu, betapa mengandung dan melahirkan –dan setelahnya membesarkan dan merawat- adalah pengorbanan yang takkan pernah tergantingan dengan apapun.

Jumat, 15 Desember 2017. Tiga hari yang lalu, puteri kami lahir ke dunia ini. Dunia yang penuh dengan marabahaya, tapi kami ingin memberitahunya bahwa kami telah berjuang untuk membuat dunia yang lebih baik untuknya. Dengan merawat silaturahmi, berbuat baik, membela agama Allah, juga hal-hal lain yang semoga menjadi pahala yang berbalas kepada puteri kami, jika kebaikan itu akan diganjar di dunia. Sebagaimana kemudahan-kemudahan kita hari ini, bukankah itu lebih banyak disebabkan oleh kebaikan dan doa orang tua kita?

Hari ini, kami ingin memperkenalkan keluarga baru kami. Puteri kami yang berhasil membuat kami merasakan kebahagiaan yang berbeda. Puteri kami yang membuatku rela mengambil cuti panjang, menunda naskah, juga hal-hal lainnya yang mungkin jadi pertanyaan orang lain. Sebab, saya ingin mendampingi, hadir secara utuh kepadanya. Saya ingin menjadi ayah yang baik, kami ingin menjadi orang tua yang baik.

image

Banyak teman-teman di sini (tumblr) yang telah membaca halaman ini sejak tahun 2010 atau setelah itu. Melewati dan melihat bagaimana saya tumbuh dari sejak kuliah, remaja galau, lulus kuliah, berkarya, menikah, hingga hari ini menjadi orang tua. Rasanya, kita tumbuh bersama-sama. Bersyukur karena kita bertumbuh, saling mengingatkan, saling memahami, juga saling mensyukuri.

Hari ini, kami ingin memperkenalkan keluarga baru kami. Puteri kami yang akan menjadi api semangat untuk berkarya, menjadi doa kami yang tiada henti, juga menjadi pengingat kami bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah titipan. Semuanya akan kembali kepada Allah, Tuhan Semesta Alam.

Yogyakarta, 18 Desember 2017 | ©kurniawangunadi

dari Ayah kepada Bayi Perempuannya.

Aku punya dunia yang dulu amat ingin kukejar, sebelum kau hadir dan menjadi duniaku. Saat aku mulai memahami perasaan cinta yang bisa membuatku berkorban lebih dari sebelum-sebelumnya. Saat aku mulai bisa merasakan detak jantungmu yang merambat melalui udara, mengatakan bahwa engkau mencintaiku. Dan kujawab, “Aku lebih dari itu.”

Aku punya dunia yang dulu amat ingin kegenggam, ku simpan dalam saku bajuku. Aku ingin menjadi ini dan itu, menjadi seseorang yang dikagumi seisi dunia. Itu sebelum kau hadir. Impian itu tidak berubah, hanya saja aku ingin menjadi yang terbaik untukmu, duniaku saat ini. Pengakuanmu, kebanggaanmu, dan kekagumanmu yang akan mampu membuatku memiliki segala-galanya.

Rasa cinta itu tumbuh bagai mata air. Aku tahu, akan ada banyak sekali kekhawatiran. Salah satunya kekhawatiran bahwa aku tidak bisa menjadi dan memberi yang terbaik. Namun, kala kau tumbuh nanti. Semoga kau mengetahui bahwa aku telah berjuang.

Kelak, waktu akan memberi tahumu bahwa seseorang yang menjadikanmu sebagai dunianya, takkan tiada oleh waktu. Ia hanya akan berubah dari kehadiran menjadi kenangan.

Yogyakarta, 27 November 2017 | ©kurniawangunadi