RTM : Laptop

Kebebasan saat masih sendiri dan selepas berumah tangga tentu sangat berbeda. Dan kadang, persoalan kebebasan inilah yang membuat seseorang enggan segera berumah tangga atau hal yang membuat rumah tangga retak bila tidak ada pengertian di dalamnya. Di keluarga kami, saya sendiri belajar bagaimana mengatur kebebesan diri, terutama dalam hal membelanjakan harta.

Dulu, sebelum menikah saya bebas sekali membelanjakan uang saya untuk beli berbagai macam kesenangan. Mulai dari mainan seperti gundam yang harganya ratusan ribu dan diecast yang kini jumlahnya sekitar 200 buah (merasa khilaf). Sampai barang elektronik mahal seperti iPhone pada saat itu.

Selepas menikah, semuanya menjadi berbeda. Saya tidak merasa terkekang kebebasannya. Istri saya masih mengizinkan untuk membeli mainan karena memang hobby saya (dan saya bersyukur). Tapi, setiap kali selesai transaksi membeli mainan, saya sering merasa bersalah. Sebab dengan uang sebanyak itu, bisa digunakan untuk keperluan lain dalam rumah tangga.

Pernah satu kali, iPhone saya rusak dan sudah dalam kategori lebih baik beli baru daripada diperbaiki. Pergilah kami ke AppleStore dan waktu itu iphone 7 baru rilis dan harganya setara harga motor, sekitar 14 juta. Kalau masih single, barangkali saya tidak berpikir panjang. Tapi, selepas menikah ini. Uang sebanyak itu jika digunakan untuk membeli handphone, rasanya keterlaluan. Apalagi kebutuhan rumah tangga amat sangat banyak. Akhirnya beralihlah ke samsung yang kelas menengah, secukupnya. Yang penting layarnya cukup lebar untuk menulis dan mengerjakan datasheet, ditambah baterainya tidak sejahat iphone saya dulu yang sehari bisa tiga-empat kali charging.

Kini, setiap kali ingin berbelanja untuk kebutuhan sendiri. Pertimbangannya begitu banyak. Saya sampai berpikir, mungkin inilah yang oleh para Ayah diluar sana rasakan dan pikirkan. Semuanya untuk keluarganya lebih dahulu.

Dulu semasa masih di rumah dan sebenarnya hingga sekarang. Bapaklah yang selalu menghabiskan nasi dingin yang dimasak kemarin jika tidak habis di pagi harinya. Sementara saya dan ibu, makan dari nasi yang baru ditanak. Dulu sewaktu saya masuk SMA, keluarga kami beli satu motor lagi untukku. Supra X 125 yang waktu itu belum lama rilis, diberikannya untuk saya. Tidak bertahan lama, hanya sekitar 2 bulan saya memakainya karena saya sedih bapak masih pakai motor lama tahun 1995. Akhirnya bertukarlah, saya pakai motor ibu, ibu pakai motor baru tersebut. Dan motor itu saya pakai hingga lulus kuliah di ITB, sekarang pun motornya masih di Bandung dipakai oleh adik sepupu yang kuliah di UPI, tidak akan dijual.

Belum lagi, selama saya di Bandung, banyak sekali biaya yang dikeluarkan oleh orang tua saya. Sebagai PNS guru (waktu itu belum ada sertifikasi), setengah total pendapatan keluarga setidaknya mengalir ke saya waktu itu. Itu yang membuatku berusaha mencari pendapatan sendiri di bandung dari mulai jualan donat masjid Salman, tukang desain untuk kaos, jual beli mainan online, kamera analog, dsb. Semua hal yang memungkinkan untuk tambahan uang jajan, selama halal, saya kerjakan.

Kini, selepas berkeluarga. Saya mulai memahami dan merasakan apa yang dulu orang tua saya rasakan. Apalagi jika ada anak nantinya, belum ada saja rasanya sudah seperti ini, apalagi sudah ada mereka di rumah.

Minggu ini, saya dan istri jalan-jalan untuk mencari laptop. Laptop saya yang bernama Luna sudah berusia hampir 8 tahun. Baterainya sudah tidak begitu baik, speakernya rusak, kabel chargernya mau putus. Yang kalau dihitung-hitung, jika memperbaikinya dan membeli charger baru, itu bisa dapat laptop baru. Maka diputuskanlah untuk mencari laptop pengganti.

Ternyata, untuk spesifikasi yang saya butuhkan. Harganya sebelas dua belas dengan harga Samsung Galaxy S8. Akhirnya galau, mengingat kebutuhan-kebutuhan keluarga yang lain. Akhirnya buka OLX, mencari laptop bekas yang cukup secara spesifikasi dan kantong. Semoga segera berjodoh.

Memang benar, kita tidak pernah tahu bagaimana perasaan orang tua secara tepat sampai kita benar-benar menjadi orang tua. Perlahan demi perlahan, saya merasakannya. Sebagai laki-laki, sebagai suami, sebagai ayah nantinya.

Yogyakarta, 20 November 2017 | ©kurniawangunadi