RTM : Mengalah

Dulu saya tidak mengerti kenapa orang tua seringkali mengalah kepada anaknya. Mengalah semisal, ibu lebih memilih memasakan makanan kesukaan saya daripada kesukaan bapak jika saya mudik. Bapak mengalah demi itu. Atau saat ada keperluan, bapak dan ibu sering mengalah menunda membeli keperluannya demi agar keperluan anaknya terpenuhi lebih dulu.

Beberapa hari kemarin, ketika saya dan istri mengajak Shabira keluar untuk jalan-jalan mengurus dokumen-dokumen segala macam di kampung halaman. Kami ada keinginan untuk makan di tempat-tempat makan kesukaan kami, seperti mie ayam, bakso, soto, dsb. Hanya saja, setibanya di sana kami tidak jadi berminat. Ketika melihat tempatnya terlalu ramai, ada orang yang merokok, atau mungkin antreannya terlalu lama.

Melihat Shabira yang baru berusia belum dua bulan, kami mengalah. Kami merasa kasihan kepadanya jika kami terus mementingkan keinginan kami hanya untuk sekedar makan di tempat tersebut. Membiarkannya terpapar asap rokok, berdesak-desakan, dsb. Akhirnya, kami pulang, makan seadanya di rumah.

Saya merasa tidak pernah seperti ini sebelumnya, saya yang sangat kekeuh ketika ingin sesuatu. Kini, saya luluh kepada anak perempuan ini, yang pandangan matanya mampu meruntuhkan ego, yang senyumnya mampu menenangkan khawatir, dan suara khasnya yang membuatku selalu ingin memberikan yang terbaik sebagai Ayah.

Rumah, 10 Februari 2018 | ©kurniawangunadi

RTM : Berhitung

Pernah tidak? Beberapa kali, atau banyak kali, jika tidak sesekali kita sangat perhitungan terhadap orang tua. Misal dulu sebelum kita bekerja, untuk diminta bantuan saja kita berhitung. Atau ketika salah satu dari beliau sakit, masih ada prioritas lain yang kita miliki. Kini misal selepas bekerja, saat kita mau memberi sebagian penghasilan kita ke mereka, masih kita perhitungkan. Bahkan, misal saat kita bicara dengan mereka dan tiba-tiba mereka terucap menginginkan sesuatu, kita berpikir-pikir untuk membelikannya atau tidak.

Saya menginsyafi, jika saya pernah seperti itu. Sampai suatu ketika, saya menikah dan akhirnya merasakan menjadi orang tua. Saya paham, bahwa hal itu membuat saya semakin bersalah. Saat ini, saya merasakan bagaimana saya sebagai orang tua, ingin memberikan yang terbaik dan segalanya untuk anak. Saya tidak peduli berapa ongkos yang dikeluarkan jika ia sakit, atau kebutuhan-kebutuhannya yang lain. Yang saya pikirkan adalah bagaimana saya berjuang untuk mencukupinya.

Saya tidak pernah berhitung ketika harus begadang, menggendongnya, dan lain-lain sementara saya masih ada urusan-urusan. Bagaimana kemudian saya merelakan urusan itu, hanya untuk menemaninya. Memastikannya dalam keadaan baik dan dalam pengawasan.

Saya tidak pernah mengukur berapa biaya yang harus saya keluarkan sejak ia lahir hingga hari ini. Sedikit atau banyak bukan menjadi ukuran, yang menjadi ukuran adalah ia bisa lahir dengan baik dan tumbuh dengan sehat.

Ini membuat saya merenung, selain menjadi orang tua, saya juga masih memiliki peran sebagai anak. Dan sungguh, saya merasakan betul bahwa saya tidak akan pernah bisa mengganti kebaikannya, tidak akan pernah cukup usia saya untuk membayar semua pengorbanan orang tua.

Betapa bersyukur dan beruntungnya orang tua yang memiliki anak-anak yang tumbuh dengan baik. Memiliki budi pekerti yang baik, memiliki akhlak yang santun. Sedih rasanya jika melihat anak-anak yang tumbuh tanpa adab.

Dan saya sering bercerita sambil berdoa saat menimang-nimang Shabira, semoga ia tumbuh menjadi perempuan yang baik, yang beradab, yang salehah, yang berbakti, yang menjadi cahaya kedua orang tuanya.

Semoga suatu saat, Shabira (dan adik-adiknya) bisa membaca tulisan ini.

©kurniawangunadi | rumah, 1 februari 2018

RTM : Sabar

Sewaktu mencari nama untuk Shabira, nama pertama-pertama yang muncul adalah sebuah nama yang bermakna Samudera Kesabaran. Dua kata yang akhirnya tidak jadi kami gunakan. Karena ternyata hasil USG nya perempuan. Akhirnya berusaha mencari nama yang lebih feminim.

Lepas dari itu, sejak awal. Makna Sabar tetap dipertahkan. Karena itu adalah doa utama dari nama yang akan kami sematkan ke Shabira, sampai akhirnya suatu hari saya sakit. Saya tiduran di ruang tengah, istri sedang memasak. Saya terbangun dan tiba-tiba terpikir sebuah nama yang tepat, Ghinannisa Shabira.

Kami berdoa agar shabira bisa menjadi perempuan yang kaya akan kesabaran. Nyatanya, justru saya yang belajar banyak dari Shabira.

Setiap kali Shabira rewel, kami selalu berkata, “Sabar ya Nak, seperti namanya,” dan lain-lain yang selalu saja kami sampaikan kepadanya untuk menjadi sabar. Sabar ketika mandi, sabar ketika buang air, sabar ketika minum ASI, dsb. Dan alhamdulillah, Shabira benar-benar bisa diajak bekerja sama dengan baik sampai hari ini. Benar-benar memudahkan kedua orang tuanya.

Dan saya belajar lebih banyak lagi. Sejak menjadi ayah, saya merasa tingkat kesabaran saya meningkat. Beberapa waktu yang lalu, saya memesan sesuatu dan ternyata hasilnya diluar dugaan, setengah pesanan yang saya terima rusak. Dan saya waktu itu hanya bilang, “ya sudahlah”. Karena biasanya saya tidak pernah seperti itu, pasti ripuh, kesal, dsb. Atau seperti hari ini, bumper mobil saya nyangkut di trotoar dan baret-baret. Setiap teman-teman yang mengenal saya pasti tahu betapa riweuhnya saya dengan hal seperti itu. Hari ini, saya hanya memandang baretan itu, dan ya sudah.

Saya termasuk orang yang amat detail, saya bisa sangat risih  dengan sesuatu yang tidak sempurna. Jadi, baretan di mobil itu bisa bikin saya stress, nyatanya sekarang tidak. Saya lebih bisa menolerir ketidaksempurnaan dan ketidakteraturan.

Saya sadar betul jika Shabira mampu memahami apa yang saya rasakan. Dan jikapun saya badmood di luar, merasa kesal dsb. Perasaan itu harus sudah luruh sebelum saya bertemu shabira. Sebelum saya menggendongnya. Setiap kali bertemu dengannya, perasaan saya harus bahagia dan penuh kasih sayang. Dan semakin ke sini, saya semakin bisa merasakan bahwa sebenarnya, shabiralah yang mengajarkan ayahnya banyak sekali. Bahkan, saat menikah kemarin saya belum sampai level ini.

Doa yang saya sematkan menjadi namanya, justru menjadi pengingat saya setiap waktu. Shabira, sabar, dan sabar. Sebagaimana Allah katakan untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong (lihat Al Baqarah 153). Kesabaran itulah yang membuat saya benar-benar merasa berharga dan beruntung, mungkin inilah salah satu alasan kenapa Shabira ada. Untuk mengajarkan ayahnya, untuk menjadikan ayahnya seseorang yang penuh kesabaran.

©kurniawangunadi

RTM : Ego

Kehadiran Shabira di tengah-tengah keluarga kecil kami memberikan dampak yang begitu besar. Ritme, prioritas, dan hal-hal tak terduga lainnya, berubah sejak kahadirannya. Akan tetapi, ada satu hal yang paling besar dampaknya terhadap diri saya sendiri, yaitu ego.

Beberapa tulisan lama saya pernah membahas tentang ego, bagaimana kita bisa menyelesaikan ego-ego kita sebelum berkeluarga, dsb. Meski mungkin tidak sepenuhnya selesai, paling tidak, kita bisa mengendalikannya dengan baik. Menikah membuat saya paham betapa pentingnya masing-masing pribadi bisa berdamai, bisa akur dengan egonya masing-masing sebelum memutuskan untuk berumah tangga. Memiliki anak, akan jauh lebih menantang bagi ego-ego tersebut jika ia belum selesai atau belum bisa dikendalikan oleh tuannya, diri kita kita sendiri.

Shabira membuat saya jauh lebih sabar dari sebelum-sebelumnya, tidak pernah seperti ini dalam hidup. Ia juga mampu membuat saya mengubah prioritas. Shabira juga bisa membuat saya menjadi pribadi yang lebih tenang, tidak pernah setenang ini.

Ia berhasil membuat saya lebih nyaman dengan ketidakaturan, berdamai dengan hal-hal yang berantakan, juga bersedia bersabar dengan segala kelakuannya. Anak ini mampu menghancurkan ego yang besar, ambisi yang segunung.

Berumah tangga tidak pernah semudah yang tampak di panggung media sosial yang dilihat, tidak pernah sesempurna itu. Untuk itu, saya amat bersyukur menikah di usia 26 tahun kurang 2 bulan. Karena itu ternyata itu adalah waktu terbaik saya, di usia itu. Banyak urusan ego saya telah selesai, meski belum seluruhnya. Banyak ambisi saya yang sudah reda, meski juga belum seluruhnya. Setidaknya, semuanya bisa dikenali, dikendalikan. Waktu terbaik kita mungkin berbeda. Dulu saya pernah merencanakan menikah di usia 23, padahal saya baru lulus kuliah dari ITB di usia 24 kurang sedikit, menikmati semester bonus. Di usia itu, saya hanya punya keinginan tanpa persiapan. Menikah saat itu menjadi semacam ambisi, menjadi semacam ego untuk pembuktian. Entah mengapa saya berpikir seperti itu, saat itu. Ya itulah, ego.

Di usia 24 ke 25 saya dipertemukan dengan banyak orang baik yang memberi pembelajaran berharga. Di berikan kejadian-kejadian yang memaksa saya untuk belajar lagi, dan lagi. Membuat saya harus belajar tentang keikhlasan, kerelaan, bersabar, meredakan ego, dipaksa tunduk pada ketetapanNya selepas saya kekeuh ingin sesuatu, dan hal-hal lainnya. Saya kira saat itu tidak akan selesai cepat, ternyata butuh kurang dari dua tahun untuk belajar itu semua. Alhamdulillah.

Kini di usia 27, saya menjadi ayah. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya, bahkan saya sering bertanya ke teman-teman sebaya, rekan-rekan di FIM, dsb. Apakah saya sudah pantas untuk menjadi ayah dengan kelakuan yang banyak minusnya ini?

Shabira berhasil membuat saya percaya bahwa saya sudah cukup layak untuk menjadi seorang ayah. Ia berhasil membuat saya tahu, bahwa ambisi-ambisi dan ego ini hanyalah sesuatu yang menyita kebahagiaan, mengikis ketenangan batin. 

Berumah tangga tidak pernah semudah yang dibayangkan, jangan bayangkan hanya yang indah-indahnya. Belajar dan bersiaplah justru untuk menghadapi badai-badainya. Kita bisa saja menyiapkan bahtera yang cantik dan megah, tapi jangan lupa membuatnya kuat saat menghadapi badai. Saat menjalani rumah tangga, kekuatan untuk menghadapi ujian akan jauh lebih dibutuhkan daripada hanya meriasnya agar tampak bahagia. Apalagi jika hanya untuk keperluan eksistensi diri di dunia maya 🙂

©kurniawangunadi

RTM : Bina Keluarga

Keluarga, sebagai sebuah ikatan jangka panjang -dan panjangnya melintas dunia dan akhirat- tentu tidaklah mudah menjalaninya. Sudah pasti akan ada godaan, gangguan, cobaan, dan segala bentuk ujian yang akan berusaha menggoyahkan keluarga. Jadi, untuk siapapun yang ingin membangun sebuah keluarga, pertama-tama harus membuang jauh ekspektasi tentang keluarga yang senantiasa harmonis, romantis, serba berkecukupan, dan selalu bahagia. Bisa jadi, anggapan-anggapan semacam itu, yang tertanam pada benak-benak anak-anak muda yang ingin menikahlah yang membuat tingkat perceraian di negeri ini semakin meningkat. Saat menemukan bahwa ekspektasi berbeda dengan realita.

Zaman ini tentu berbeda tantangannya dengan zaman saat orang tua membesarkan kita. Untuk itu, pelajarilah segala hal yang diperlukan di zaman ini. Mendidik anak, membina pasangan, merawat keluarga, semuanya membutuhkan ilmu dan seninya tersendiri. Untuk itu yang kedua, untuk siapapun yang ingin membina rumah tangga. Pernikahan bukanlah jawaban atas semua masalahmu saat ini, jangan menjadikan pernikahan sebagai pelarian karena kamu bingung mau ngapain, jadi mending nikah aja. Membina rumah tangga memerlukan pondasi yang kokoh, awal yang baik, sesuatu yang mendasarinya harus benar-benar kuat. Sebab, ilmu dan seni untuk menjalaninya menuntutmu harus belajar terus menerus sepanjang hidup, tidak peduli bagaimanapun keadaanmu. Kalau kamu enggan mempelajarinya, bisa jadi kamu lari dan mencari pelarian lainnya.

Setiap keluarga memiliki nilai-nilai yang dianut dan ditanamkan dalam diri masing-masing. Keluarga menjadi kontrol nilai terkuat sebelum kita terjun di masyarakat. Untuk itu, sejak saat ini. Mulailah untuk memiliki prinsip, nilai, hal-hal baik yang kamu pegang dengan kuat. Sebab, tanpa pegangan yang kuat terhadap nilai-nilai tersebut. Keluargamu akan mudah sekali goyah. Untuk itu juga, penting dan perlu untuk siapapun yang ingin membina rumah tangga. Untuk bisa mengenali nilai-nilai dan prinsip yang dipegang oleh calon pasangannya. Sebab, banyak sekali yang berjalan tanpa prinsip, tanpa nilai, hanya ikut-ikutan. Memiliki pasangan yang punya prinsip adalah sebuah anugerah lainnya yang mungkin jarang diketahui. Apalagi jika nilai/prinsip itu selaras denganmu dan menjadi nilai dalam keluarga. Mempertahankan keluarga, perlu upaya yang kuat dari kedua belah pihak, tidak hanya salah satu.

Yogyakarta, 8 Desember 2017 | ©kurniawangunadi

Hadiah untuk Anak-Anak Kita Nanti

Segala bentuk kejadian yang kita alami di masa muda ini akan menjadi pengalaman emosi yang luar biasa berharga. Bekal yang akan amat berguna saat kita menjadi orang tua nanti. Berbagai perasaan khawatir, kecemasan, ketakutan, jatuh cinta, patah hati, penerimaan, penolakan, dan segala bentuk rasa yang tidak bisa dijelaskan satu persatu. Semuanya akan menjadi sesuatu yang berharga.

Bagaimana perasaan kita kepada orang tua. Terhadap kekhawatiran mereka, terhadap ketidaksepakatan mereka, terhadap perintah dan larangan mereka, dan segala bentuk hal yang berkaitan dengan mereka. Akan menjadi cermin yang membuat kita menjadi orang tua yang (seharusnya) bisa lebih bijak kepada anak-anak kita nantinya.

Bagaimana perasaan kita kepada seseorang. Bagaimana perasaan itu tumbuh dan diterima dengan baik, tapi dihadapkan dengan berbagai rintangan, penolakan keluarga, juga keadaan. Semuanya akan menjadi cerita yang berharga saat anak-anak kita nanti meminta nasihat dan pertimbangan kita kala mereka mengalami hal serupa.

Sekolah, kuliah, pekerjaan, pertamanan, organisasi, semuanya akan memberikan pengalaman rasa yang berbeda. Rasa yang akan mengasah hati, mengasah kebijaksanaan kita kelak kemudian saat kita menjadi orang tua. Saat pengalaman masa muda kita bisa diceritakan kepada anak-anak kita hingga berbinar matanya. Hingga mereka bisa menangkap pembelajaran berharga, hingga mereka tidak mengulangi kesalahan yang serupa.

Juga, agar mereka bisa mendapatkan orang tua yang bijaksana. Orang tua yang bersedia mendengarkan, belajar, terbuka, dan mampu membimbing. Sebab, pasti setiap orang tua ingin yang terbaik dan ingin anak-anaknya bahagia. Akan tetapi, banyak yang tidak bertanya kepada anaknya tentang apa hal yang membuat mereka bahagia. Memaksakan definisi-definisi kebahagiaan kepada anak.

Kelak, anak-anak akan bertanya. Jawabannya adalah apa-apa yang sedang terjadi dalam hidup kita saat ini dan segala rasa yang sedang kita rasakan. Tinggal bagaimana kita berhasil atau tidak mengambil pelajarannya 🙂

Yogyakarta, 3 Desember 2017 | ©kurniawangunadi

Menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia.

Kecantikanmu itu berbeda. Aku melihatnya setiap hari dengan mata kepalaku. Cantikmu itu mengalir dalam sifat, seperti ketaatan, keikhlasan, kesabaran, dan hal-hal yang membuatku merasa tentram.

Aku sengaja menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia. Sebab, dunia kita adalah dunia yang kita bangun dengan kepercayaan bahwa yang kita lihat dengan mata ini adalah fana. Semuanya akan berakhir, cantik akan menua, kekayaan takkan dibawa mati, dan hal-hal lain yang akan berakhir.

Aku menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia, biar orang melihat dan merasakan kecantikanmu dari akhlakmu. Bukan dari hasil riasan berjam-jam dan baju kekinian yang kemudian kamu pajang di halaman media sosialmu. Orang akan mengenalmu dari kebaikan budi, kebermanfaatan, peran, pemikiran, kecerdasan, sumbangsihmu pada umat, dan hal-hal lain yang jauh lebih bermakna dari pakaian dan riasan.

Aku akan menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia. Agar kamu bisa menjadi dunia yang terbaik bagi anak-anak kecil yang lahir di rumah tangga kita. Menjadi dunia yang layak untuk tumbuh besar mereka. Dunia yang akan mengajarkan mereka dan membuat mereka tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Biar dunia kita ini sunyi, sepi.

Kita tidak harus dikenal banyak orang untuk bisa menjadi lebih bermanfaat, untuk memiliki nilai lebih sebagai manusia. Kita hanya perlu menjadi orang baik, berbuat baik, membantu banyak orang, berkata-kata yang baik, lemah lembut terhadap semua makhluk, bekerja dengan ikhlas, berbakti kepada orang tua, berbuat baik pada tetangga, menyanyangi anak-anak, dan semua kebaikan lain yang bisa kita lakukan tanpa harus berdandan terlebih dahulu, tanpa harus memiliki kuota internet untuk memuatnya dalam live video.

Kita tidak perlu mencatatnya, dua malaikat kecil di sisi kita sudah melakukannya untuk kita. Setiap hari, tanpa lelah.

Untuk itu, izinkan aku untuk menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia, istriku 🙂

Yogyakarta, 7 November 2017 | ©kurniawangunadi

RTM : Anak dan Zaman

Setelah berkeluarga, saya dan istri seringkali berdiskusi tentang kids jaman now dan segala rupa tantangannya. Sampai-sampai, tanpa sadar saya sendiri membandingkan bagaimana dulu masa kecil saya dengan anak-anak kecil zaman sekarang. Dan kami pun cemas, bagaimana kelak di zaman anak-anak kami ketika sudah lahir ke dunia ini.

Rasanya, perbandingkan itu tidak pernah selesai. Kami merasa, zaman kecil kami jauh lebih aman di bandingkan zaman sekarang, dalam banyak hal. Saat itu, kami juga lupa kalau setiap generasi pasti akan menimbulkan tantangannya sendiri berdasarkan zamannya. Dan sebagi orang tua/calon orang tua, sudah seharusnya kita bersiap untuk itu. Membekali diri dengan pengetahuan, dengan keterampilan, dengan keimanan, ketika kelak mendidik anak agar mereka bisa tumbuh menjadi baik, mau seperti apapun zamannya.

Tugas kita, sebagai generasi yang akan melahirkan generasi berikutnya, tidaklah mudah. Dalam membangun dan membina rumah tangga, semuanya berawal dari sini.

Pertama, dari saat kita memilih pasangan hidup. Proses ini bisa dikatakan gampang-gampang susah. Dan setiap orang yang ingin menikah akan melalui fase-fase kritis tsb, fase dimana merasakan betapa sulitnya membuat pilihan. Di usia berapapun, fase tersebut datang. Sebab, salah satu hak anak adalah dipilihkan orang tua yang baik, dan hak anak kita nanti tentu saja ia berhak memiliki ayah/ibu yang baik. Dan itu adalah pilihan kita, jodoh adalah takdir yang diikhtiarkan.

Kedua, memilih lingkungan tinggal yang baik. Selepas menikah, biasanya akan memutuskan untuk tinggal. Memilih tempat tinggal pun gampang-gampang susahnya, mirip seperti mencari jodoh. Kita bisa memilih untuk tinggal di rumah yang tertutup, berpagar tinggi, di lingkungan yang antar tetangganya tidak saling kenal. Bisa juga di daerah perkampungan, di tempat-tempat urban, di apartemen, dsb. Semuanya adalah pilihan. Dan bisanya, tempat tinggal yang kita pilih menyesauikan dengan tempat dimana kita bekerja. Dan, memilih lingkungan yang baik, itu memang sulit. Adalah sebuah anugerah yang luar biasa bila kita memiliki tetangga yang baik, lingkungan yang saling menjaga dan terjaga. Jadi, memilih tempat tinggal memang tidak hanya urusan bentuk fisik rumah, tapi juga bentuk sosialnya.

Ketiga, memilihkan pendidikan yang baik. Tentu saja pendidikan pertama adalah dari orang tua, wajib bagi orang tua memiliki bekal ilmu untuk mendidik anak-anaknya. Terutama pendidikan karakter. Sebagai orang islam, saya dan istri sepakat bahwa urusan tauhid harus diajarkan dan selesai sejak di rumah. Sebelum nanti anak-anak pergi merantau, pergi jauh menuju cita-cita atau impiannya. Urusan tauhid menjadi tanggungjawab kami. Karena itulah bekal yang bisa menjaga anak-anak, dimanapun ia berada, di lingkungan manapun nanti ia tumbuh di luar rumah.

Ada banyak hal lain. Dan sudah waktunya untuk bangun dan berhenti untuk khawatir. Kita tidak akan bersikap adil bila menginginkan anak-anak nanti tumbuh seperti bagaimana dulu ketika kita masih kecil. Zaman sudah berganti, sudah berkembang jauh, dan pikiran kita harus maju. Kita bersiap dan harus siap untuk menghadapi tantangan zaman untuk anak-anak kita nanti bertumbuh. Menjadi orang tua, juga gampang-gampang susah. Semoga, kita diberikan anugerah anak-anak yang baik dan berbakti dan kita dimampukan dalam menjalankan amanah sebagai orang tua yang baik.

Yogyakarta, 10 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi

RTM : Untuk Terus Mencintainya, Kamu Harus Berjuang.

Catatan ini mungkin lebih khusus ke laki-laki. Sebab nanti, selepas menikah. Mungkin dalam pandangan matamu, istrimu tidak akan secantik-semanis-sebaik-dan sesempurna sewaktu kamu dulu memperjuangkannya. Saat ini, bisa jadi kamu bisa menyangkal. Tapi, nanti selepas menikah dan menjalaninya, kamu mungkin baru akan memahami maksudku ini.

Kamu harus berupaya untuk bisa terus mencintai istrimu. Perasaan itu tidak tumbuh seperti rerumputan yang terkena hujan. Perasaan itu adalah pohon besar dan kamu menanamnya sejak bibit. Kamu harus merawatnya, menyiraminya, melindunginya dari hama, menyiangi rerumputan disekitarnya, dan juga kamu harus selalu waspada agar ketika nanti ia sudah cukup besar, tidak ada orang lain yang tiba-tiba datang dan menebangnya.

Perempuan yang barangkali adalah temanmu, rekan kerjamu, atau orang yang tiba-tiba kamu temui di jalan. Mereka mungkin tidak melakukan apapun, tapi matamu tidak. Matamu bisa membuat apa yang terlihat menjadi beribu kalilipat lebih baik, lebih cantik, dan segala kelebihan lainnya yang mungkin akan menyulut perasaan lainnya. Tantangan. Seperti kala dulu kamu memperjuangkan perempuan yang menjadi istrimu saat ini.

Untuk itu, ingat-ingatlah selalu kebaikan perempuan yang sedang di rumah menunggumu pulang. Siapa orang yang paling khawatir kala kamu sakit. Siapa orang yang bisa menerimamu apa adanya saat kamu bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa selain kenekatanmu menikahinya dulu. Siapa orang yang rela bersusah payah mengurus segala keperluanmu, juga keperluan anak-anakmu nanti. Ia bersedia bersusah payah mengandung anakmu sembilan bulan dalam kepayahan yang kamu tidak bisa merasakannya. Anak yang mungkin lebih kamu cintai nantinya daripada istrimu.

Sungguh, untuk terus mencintainya, kamu harus berjuang. Bualanmu tentang cinta saat ini, juga bualanmu tentang segala janji itu bisa aku katakan adalah omong kosong. Sebab nanti, jalan yang amat panjang dan mungkin akan membosankanmu telah menanti. Biar tak bosan, kamu perlu menghidupkan setiap ingatanmu mengapa dulu kamu mau memperjuangkannya, setiap rasa syukurmu, dan iman.

Sebab menikah dengan seseorang yang kamu cintai saat ini bukanlah hadiah, melainkan sebagai ujian baru. Ujian yang hanya bisa kamu jawab ketika kamu menjalaninya, bukan dengan lisan, melainkan perbuatan.

©kurniawangunadi | 10 September 2017

Tentang Rezeki

zhriftikar:

Barangkali banyak yang bertanya, bagaimana bisa seorang mahasiswa semester akhir yang sedang mengerjakan skripsi dapat tiba-tiba memutuskan untuk menikah dengan mahasiswa ko-ass kedokteran yang hampir setiap semester mengajukan keringanan UKT. Barangkali banyak yang bertanya pula, bagaimana bisa mereka berdua bertahan hidup terpisah dari orangtua tanpa dibiayai orangtua kecuali untuk biaya pendidikan saja. Barangkali banyak yang bertanya pula, bagaimana mereka bisa haha-hihi, makan-makan, dan ke sana ke mari tanpa kekhawatiran akan rezeki.

Beberapa orang mengira Fahmi tidak bekerja. Padahal tidak mungkin Fahmi dulu berani datang ke rumah kalau ia sendiri masih bergantung sepenuhnya pada orangtua. Fahmi mengajar tahfidz di sebuah rumah tahfidz di daerah Sleman. Mungkin gajinya tidak seberapa. Tapi hari ini, sebuah kemewahan yang tak terkira rasanya, jika tempat tinggal dan makan sudah tidak perlu ditanggung oleh diri sendiri. Apalagi kalau jam kerjanya hanya setelah subuh dan setelah maghrib, sehingga kuliah dan kegiatan akademik lain hampir tidak terganggu sama sekali. Inilah yang dulu Fahmi tawarkan untuk ia bagi dengan saya. Jauh dari bermewah-mewah mungkin, tapi tidak bisa dibilang kurang.

***

Ada satu pelajaran yang orangtua kami sama-sama tekankan kepada kami. Bahwa rezeki itu sudah dijamin oleh Allaah. Allaah sendiri yang bilang, bahwa ‘tidak satu makhluk pun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allaah rezekinya’ (Hud:6). Kalau dalam bahasa Abah, beliau sering katakan, ‘nggak usah khawatir masalah rejeki, nanti Allaah yang cukupi’. Dalam ayat yang lain Allaah bahkan dengan spesifik katakan, ‘dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allaah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allaah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui’ (An-Nur: 32). Orangtua kami memegang betul janji Allaah itu, sehingga besarnya gaji tidak menjadi kekhawatiran sepanjang ada ikhtiar untuk terus mencari rezeki.

Karena Allaah sudah jamin rezeki masing-masing orang, maka sebetulnya menikah itu bukan berarti membagi dua rezeki suami dengan rezeki istri. Suami memiliki rezekinya sendiri, sedangkan istri memiliki rezekinya sendiri. Itulah mengapa ada yang bilang bahwa banyak anak banyak rejeki. Karena rezeki anak itu bukan literally dari rezeki orangtuanya, tetapi setiap anak akan membawa rezekinya masing-masing. Meski, yang kemudian perlu dipahami adalah, bahwa rezeki itu tidak melulu berbentuk rupiah, tapi dapat berupa kesehatan, kesempatan, rasa kenyang, rasa senang, dll. Karena bahkan rezeki sendiri definisinya adalah semua kebaikan dan maslahat yang dinikmati oleh seorang hamba.

Setelah menikah, kami betul merasakan apa yang Allaah janjikan itu. Saya dan Fahmi menggunakan aplikasi di smartphone untuk mengatur keuangan keluarga. Aplikasi itu memungkinkan kami mendapatkan laporan keuangan dengan kategori pemasukan atau pengeluaran yang begitu detail. Misal gaji tetap adalah X, tapi setelah kami lihat laporannya ternyata arus uang yang keluar-masuk bisa mencapai 4 kalinya X. Ada saja rezeki tambahan yang Allaah beri selain dari gaji. Fahmi sendiri bingung bagaimana bisa begitu, karena sebelum menikah belum pernah arus keuangannya sebesar itu. Begitulah rupanya cara Allaah menjamin rezeki kami.

***

Ada satu hal lagi yang kami selalu pegang terkait jaminan rezeki oleh Allaah ini. Bahwa besarnya rezeki kita, hanya Allaah yang tahu. Misalnya gaji Fahmi adalah X. Namun belum tentu rezeki yang Allaah tentukan itu adalah sebesar X, bisa jadi lebih atau kurang. Kalau rezeki yang Allaah tetapkan lebih, maka Allaah akan tambahkan rezeki kami dari sumber yang lain.

Kalau rezeki yang Allaah tetapkan kurang dari gaji Fahmi, maka Allaah akan keluarkan rupiah yang diterima sampai besarnya sebesar rezeki yang Allaah tentukan. Cara Allaah untuk mengeluarkannya bisa jadi dengan cara yang tidak mengenakkan seperti diberi sakit sehingga harus berobat, kecopetan, kerusakan sehingga harus mengeluarkan biaya servis, kecelakaan, dll.

Kenapa bisa begitu? Karena Allaah bilang, ‘dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya’ (An-Najm:39). Misalnya seseorang mendapat gaji sebesar X dengan melakukan A, B, C, dan D. Tapi dalam prakteknya, orang tersebut hanya mengerjakan pekerjaan A dan B saja, sedangkan gajinya tetap X. Maka sebetulnya sebagian dari gaji sebesar X-nya itu bukan hak orang tersebut. Di sinilah Allaah akan paksa untuk keluarkan rezeki orang tersebut sehingga keluarlah apa yang bukan haknya dengan cara yang tidak mengenakkan.

Konsep inilah yang kemudian menjelaskan kenapa sedekah dapat menolak bala. Misalkan gaji seseorang adalah Rp 1.500.000,00, tapi rezeki yang Allaah tetapkan adalah Rp 1.000.000,00. Orang tersebut kemudian menyedahkan Rp 700.000,00 dari total gajinya. Maka, Rp 700.000,00 yang ia sedekahkan itu menjadi pahala sedekah untuknya, sedangkan Rp 200.000,00 yang merupakan bagian dari rezeki Allaah untuknya yang ia sedekahkan akan dikembalikan lagi kepadanya karena sudah merupakan ketetapan Allaah untuk menjadi rezekinya. Rp 500.000,00 yang bukan merupakan hak orang tersebut sudah hilang tanpa Allaah perlu memaksanya hilang. Berarti orang ini sudah menghilangkan potensi ‘musibah’ yang akan menimpanya, sekaligus menambah catatan pahala karena bersedekah.

Untuk itu, kita perlu sekali memenuhi apa yang diamanahkan kepada kita, terlebih perihal pekerjaan yang menjadi sumber nafkah. Karena bisa jadi apa yang kita terima bisa jadi jauh dari yang ‘seharusnya’ kita terima akibat dari kekurangamanahan kita. Untuk itu pula, kita perlu rajin-rajin sedekah untuk membersihkan harta sekaligus menolak bala.

***

Dua konsep di atas jika dipegang dan dilaksanakan mungkin sudah cukup untuk membuat orang survive tanpa kekhawatiran akan harta. Tapi ada dua lagi janji Allaah untuk menambah nikmat hambanya, yakni dengan syukur dan taqwa. Banyak orang di luar sana mati-matian mencari uang dengan dalih supaya kaya. Tapi ternyata setelah kaya, mereka tetap tidak puas dan terus saja mencari kenikmatan dunia. Mereka rupanya kehilangan apa yang Allaah janjikan tadi. Mereka lupa untuk bersyukur, dan mungkin mereka luput untuk bertaqwa. Karena sungguh, Allaah berfirman, ’sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’ (Ibrahim:7). Dan di ayat yang lain, ‘Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu’ (At-Tholaq:2-3)

Semoga kita termasuk dalam golongan yang senantiasa bersyukur dan bertaqwa. Semoga, Allaah lapangkan dan berkahi rezek kita serta menjauhkan kita dari bala.

Rabbi auzi’ni an asykuro ni’matakallatii an’amta alayya….

Fahmi dan Zahra ini adalah dinamic duo yang membuat saya dan istri juga merasa takjub atas keberanian mereka berdua untuk menikah ditengah-tengah Fahmi sedang koas dan Zahra lagi mau beresin skripsi. Keberanian yang dulu saya enggak punya. Mereka pernah bersilaturahmi ke rumah kami, begitupun sebaliknya.