RTM : Perempuan dan Kendaraan

“Dek, kita nyari velg yuk.” ujarku beberapa bulan yang lalu.

“Velg itu apa, Mas?” tanyanya polos.

Itu terjadi ketika beberapa bulan lalu ingin upgrade velg yang lebih besar untuk kendaraan.

“Ngerebus air buat apa, Mas? Buat mandir ya?” tanyanya sambil nyapu.

“Nanti mau disiram kebagian mobil yang penyok, ternyata bisa dibenerin sendiri. Nanti tinggal diteken dari dalam atau ditarik pake alat.” ujarku sambil melihat tutorial cara membetulkan penyok di bumper mobil di Youtube.

Itu terjadi ketika tanpa sengaja saya menyokin salah satu bagian kendaraan.

“Dek, tarikan gas mobil ini kayak ngajak balapan soalnya beda sama mobilnya ummi, meski sama-sama automatic, ternyata transmisinya beda. Punya kita A/T, punya Ummi CVT.”ujarku antusias.

“Transmisi itu buat apa ya, Mas?” tanyanya polos.

“Itu lho yang mindahin gigi.” ujarku.

“Ooo…” balasnya.

Dan masih banyak percakapan lainnya tentang dunia kendaraan. Dan perempuan (sejauh yang saya kenal) memang banyak yang tidak ambil pusing soal kendaraan dan selukbeluknya. Kalau motor mogok di jalan, ia tidak tahu apa yang terjadi. Kalau service ke bengkel, ia pun bingung menjelaskan. Bahkan mungkin tidak tahu nama bagian-bagian sparepartnya.

Dalam berumah tangga, hal-hal ini seperti ini menjadi bumbu tersendiri. Perawatan rumah, ia ahlinya. Tapi soal kendaraan, mau tidak mau laki-laki harus belajar. Kalau terjadi apa-apa, setidaknya masalah-masalah ringan, bisa mengurus sendiri.

Salah satu hal yang belum sempat saya ajarkan ke istri adalah cara mengganti ban mobil. Hal-hal yang bisa saya ajarkan tentang kendaraan, saya transfer dengan cara-cara yang menyenangkan.

Saya ajak dia ke toko ban dan velg, mengenalkan beragam jenisnya, ukurannya, PCD nya, dsb. Sekarang tiap kali berkendara, kalau melihat Velg bagus, selalu berujar antusias.

“Mas, mas, itu velgnya bagus!” ujarnya sambil menunjuk. Saya tersenyum sendiri.

Kalau lagi ngutak utik kendaraan di rumah, saya kenalkan bagian-bagiannya. Kalau gak bisa ini, apa yang harus di cek. Kalau ini eror, nama bagiannya apa dan gimana cara gantinya. Kalau air wipernya habis, dimana mengisinya. Kalau mengisi nitrogen untuk ban, berapa tekanannya. Dan hal-hal lainnya.

* * * *

Dalam berumah tangga, ada transfer pengetahuan yang sifatnya menyeluruh. Termasuk transfer ilmu pengetahuan umum, baik itu tentang memasak, dsb. Kalau laki-laki menjadi kapten, maka penting baginya untuk mengajarkan perempuan bagaimana menjadi kapten, agar dalam kondisi darurat ia bisa melakukannya. Kalau istri menjadi koki, penting juga untuk mengajarkan laki-laki menjadi koki, memasak di rumah. Agar dalam kondisi darurat, laki-laki bisa melakukannya, memasak untuk keluarga.

Berumah tangga, kita tidak hanya berbicara bagaimana mengajarkan pemahaman agama, tapi segala sesuatu yang menyeluruh. Berbagi dan saling menggantikan peran. Agar bahtera rumah tangga ini selalu siaga dalam kondisi apapun.

14 Agustus 2017 | ©kurniawangunadi

RTM : Belum Ada Apa-Apanya

Beberapa minggu belakangan ini. Saya dihubungi beberapa teman, teman sepermainan zaman berjuang dulu, termasuk ketika zaman masih single. Kami berdiskusi tentang sesuatu yang dulu hanya ada dalam angan-angan kami, yaitu rumah. Rumah dalam makna yang sebenarnya, bangunan fisik dari tumpukan batu bata, ada gentingnya, ada lantainya, ada pintunya. Rumah.

Rumah itu mahal, itu dalam ukuran kantong kami. Apalagi sebagai rumah tangga muda. Bekerja selepas kuliah juga belum lama. Juga tidak mendapatkan rezeki dibelikan rumah oleh orang tua, itu artinya kami harus berjuang untuk itu. Mulai dari diskusi, dimana lokasi yang tepat untuk membangun rumah yang ternyata urusannya tidak sekedar membeli rumah. Ada banyak pertimbangan, selain harga, tentunya adalah lingkungan. Bagaimana cara membayarnya, karena kami tidak punya uang tunai sebanyak itu ditengah-tengah kami ingin menghindari riba dari jual beli. Banyak sekali diskusi yang menarik, terutama tentang berbagi informasi hunian yang sedang dibangun.

Dan kami sadar, kami harus berjuang untuk itu. Mungkin bisa cepat, mungkin juga bisa bertahun. Pada intinya sama, kami harus berjuang dan memperjuangkannya. Itu akan menjadi rumah untuk keluarga, tumbuhnya buah hati, juga tumbuhnya peradaban.

* * * *

Bapak dan Ibu pernah bercerita tentang usaha mereka untuk membangun rumah. Rumah itu dibangun pada tahun 1989 di atas tanah warisan dari simbah. Foto rumah saat itu masih ada, lantainya masih berupa tanah, dindingnya masih terlihat tumpukan batunya, belum ada cukup uang untuk membeli semennya. Ubin rumah baru dipasang sekitar 6 tahun kemudian, untuk membuatnya jadi lantai keramik seperti saat ini, butuh waktu hampir 17 tahun sejak rumah itu pertama kali dibangun. Dulu, sewaktu kecil, kamar mandinya hanya berupa tumpukan batu bata yang disusun dengan tanah, bukan semen. Sumurnya tentu saja sumur gali, bukan sumur pompa seperti sekarang.

Rumah itu, meski bentuknya tidak semanis rumah-rumah yang tergambar di internet. Tapi, setiap sudut ceritanya sangat manis. Saya masih ingat dulu, ruang makan yang kami gunakan sekarang, dulu adalah kandang ayam. Kini menjelma menjadi ruang shalat, ruang makan, dengan lantai keramik.

Butuh bertahun-tahun. Dan barangkali kalau kita berbicara tentang rumah, kita perlu bertanya kepada orang tua kita masing-masing, bagaimana beliau berjuang untuk membangunnya.

* * * *
Dan perjuanganku memang belum ada apa-apanya. Seringkali saya bercerita kepada istri saya bahwa nanti rumah yang ada sekarang akan dibuat seperti ini dan seperti itu. Saya tahu, perkataan itu menuntut perjuangan. Dan saya siap memperjuangkannya.

Kami tidak tiba-tiba mendapatkan segala sesuatu, karena memang orang tua kami tidak memberikannya. Sebagai keluarga muda, kami berjuang untuk membangun itu dari awal. Sebagian teman kami mengontrak sepetak rumah kecil, ada yang sudah mulai mencicil, ada yang sedang mencari informasi. Sungguh, perjuangan ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan orang tua. Dan demi mengetahui hal itu, saya justru semakin bersemangat memperjuangkannya.

©kurniawangunadi | #rtm | 12 agustus 2017

a forgiving mother

berdaya:

kata ibu, saya ini orangnya cuek. dulu ibu mati-matian membuat saya menjadi anak yang selalu perhatian sama sekitar, mau memikirkan orang lain, peka. sekarang, saat giliran saya yang menjadi ibu, saya merasakan bahwa kecuekan saya hilang entah ke mana dan saya menjadi orang yang sebaliknya. saya mudah khawatir terutama apapun tentang mas yunus dan mbak yuna, mudah merasa bahwa diri saya bukan istri dan ibu yang cukup baik. lalu, kata ibu, saya perlu belajar menjadi cuek lagi. cuek yang lain, yaitu yang memaafkan.

setelah saya renungkan dan coba, ternyata, menjadi seseorang yang banyak memaafkan itu sangat penting. saat kita berhasil memaafkan, yang bahagia adalah diri kita sendiri. itulah mengapa kita harus sering berlatih memaafkan, termasuk memaafkan diri sendiri. memaafkan itu menenteramkan. apalagi kalau sudah menjadi ibu. rasanya, memaafkan harus selalu ada dalam agenda harian kita.

dalam dua minggu terakhir, ada banyak momen istimewa terjadi. untuk pertama kalinya saya meninggalkan mbak yuna karena sekolah (padahal hanya beberapa jam saja), untuk pertama kalinya mbak yuna melakukan perjalanan jarak jauh dengan pesawat, untuk pertama kalinya mbak yuna makan (yap, sebelum genap 6 bulan), dan untuk pertama kalinya saya sakit lumayan parah sampai kesulitan menyusui. selama dua minggu terakhir, saya benar-benar belajar untuk menjadi ibu yang memaafkan (diri sendiri).

ini adalah serangkaian usaha yang membantu saya memaafkan diri sendiri. menjadi ibu yang memaafkan.

1. miliki standar ideal tentang segalanya. namun, pilahlah mana yang benar-benar dasar, prinsipil, dan penting, lalu mana yang bisa luwes. supaya semakin pandai memilah dan memilih, kita harus punya pengetahuan luas, alias harus banyak belajar. biasanya, konflik paling sering muncul karena jaman sekarang ada banyak sekali ilmu parenting kekinian, sedangkan orang-orang terdekat kita belum mengetahui dan memahaminya. jadilah orang tua yang bijak dalam menentukan apa yang paling ideal. jangan sok-sokan kekinian tapi tidak tau dasarnya. jangan pula telan bulat-bulat metode parenting yang menurut orang tua kita atau orang-orang terdekat kita adalah yang terbaik. caranya? belajar, tentukan sendiri.

2. selalu ridho. maafkan, literally. dalam perjalanan mencapai yang kita sebut ideal, seringkali ada yang tidak tercapai. katakan kepada diri sendiri bahwa itu nggak papa. it’s OK.. kembali lagi ke poin pertama, selama masih ada alternatifnya dan alternatif tersebut sesuai dengan prinsip, it’s OK. nggak ada orang tua yang gagal, yang ada adalah orang tua yang kurang ridho. nggak ada anak yang nakal, yang ada adalah orang tua yang kurang ridho. menjadi orang tua artinya belajar untuk terus-terusan ridho dan harus begitu. kata lainnya, belajar terus-terusan memaafkan ketidaksempurnaan.

3. pada dasarnya kebutuhan bayi hanyalah dua: rasa aman dan rasa nyaman. itu sangat berbeda dengan keamanan dan kenyamanan. saat saya pertama kali memutuskan mbak yuna tidur bersama saya dan tidak di boks misalnya, yang ingin saya penuhi adalah perasaan aman mbak yuna karena dekat dengan ibunya. waktu itu mbak yuna baru satu bulan dan tidur bersebelahan dengan ibu tentu memiliki risiko keamanan. namun, berhubung mbak yuna selalu menangis jika tidur sendirian, sayalah yang harus ekstra memperhatikan keamanan dan mengurangi risikonya. ingat, rasa aman dan rasa nyaman–yang dirasakan bayi, bukan sekadar keamanan dan kenyamanan–yang dipikirkan orang tua.

4. semua hal baru bagi bayi bisa menimbulkan ketidaknyamanan. oleh karena itu, komunikasikan. sering-seringlah ngobrol sama bayi meskipun dia belum mengerti. bahkan, sejak dalam kandungan, ajak janin mengobrol sesering mungkin. berhati-hatilah dengan kata-kata yang digunakan dalam berkomunikasi karena kita sedang membentuk dirinya lewat kata-kata. saya termasuk yang sangat teliti soal kata-kata ini. ingatlah bahwa kata-kata, apalagi dari orang tua, adalah doa.

5. berusahalah untuk selalu mengikuti bayi dan anak–bukan menuruti yah, beda. ini berlaku jika bayi sudah mulai punya banyak keinginan. anak tidak bisa disuruh memahami keinginan orang tua. orang tua pun sering kali sulit memahami anak. jadi, ikutilah dunianya. pahamkan anak atas berbagai emosi dan pahamkan anak atas keinginan dirinya sendiri. kita tentu ingin anak kita tumbuh menjadi seseorang yang berempati alih-alih yang penurut. jadi, yang perlu kita berikan bukanlah pemahaman (saja), melainkan cara untuk memahami.

6. kebahagiaan tidak ada di internet dan media sosial. kebahagiaan itu adanya pada hubungan antara ibu dan anak, antara bapak dan anak–yang nggak kelihatan di mana-mana. ini penting pakai banget. orang-orang yang berbagi betapa “pintar” dan “baik” anaknya, mereka sedang merayakan kebahagiaannya. kita, jangan jadikan itu standar bahagia dan sukses kita. milikilah ikatan kuat nan tulus dengan cara kita sendiri. caranya? selalu ridho. selalu ridho. selalu ridho.

7. tidak semua properti bayi dan anak itu penting. saya yakin bahwa penyakit boros dan kalap belanja akan tiba-tiba menghinggapi para ibu baru karena ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. namun, percayalah, tidak semuanya penting dan hampir semuanya bisa ada alternatifnya. kebanyakan peralatan bayi pun dipakai hanya sebentaran saja. jadi, belanjalah apa yang penting, bukan apa yang lucu, apalagi apa yang dimiliki para ibu sejagat instagram. ajari anak kita untuk hidup hemat dan sederhana sejak dini. meskipun kita mampu, tidak berarti kita harus punya semua yang kita mau. kembali lagi ke poin satu.

***

mbak yuna baru saja enam bulan. baru lulus asi eksklusif dan (akhirnya tidak sesuai rencana) sudah memulai makan sejak 5.5 bulan karena tanda-tanda siap mpasi sudah lengkap. tantangan menjadi orang tua ternyata semakin besar berhubung mbak yuna sudah semakin mengenal emosi dan perasaan. di tengah berbagai ilmu parenting yang sangat banyak–kadang-kadang terlalu banyak sampai bingung mana yang terbaik–untuk diri sendiri, saya merangkum semuanya menjadi satu saja, yaitu menjadi ibu yang selalu memaafkan.

memaafkan, dalam kamus saya artinya: belajar, ridho, beri rasa aman nyaman, komunikasikan, ikuti dunianya, bangun ikatan, tetap sederhana.

lalu, memaafkan juga punya arti lain: bahwa apa yang dilakukan para ibu lain kepada keluarganya dan anak-anaknya adalah yang terbaik menurut mereka. jadi, kita jangaaan deh sekali-sekali terlibat dalam perdebatan dan perang tentang apa yang terbaik. cukuplah kita belajar lalu memilih yang terbaik untuk keluarga dan anak sendiri. berbagi bagaimana itu semua bekerja tidaklah apa-apa, tetapi tidak berarti hal yang sama akan berlaku bagi orang lain. standar ideal kita adalah untuk kita, bukan untuk orang lain.

semoga catatan kecil ini membantu semua ibu muda. semangat yaa. yang ingin curhat tentang menjadi ibu muda, i’m all ears yah.

RTM : Rumah Tangga Muda

Jauh hari sebelum menikah, ada seorang teman yang mengatakan kepadaku bahwa tidak akan benar-benar siap orang yang akan menikah, sebanyak apapun ia belajar tentang pernikahan. Sebab, nanti dipernikahan pun ia akan selalu dituntut untuk terus belajar.

Dan setelah hampir satu tahun setelah menikah. Memang begitu adanya. Pelajaran itu ada setiap hari, setiap kali bangun pagi. Serasa memasuki kelas sebagai murid, kemudian belajar, menyimak apa yang diajarkan oleh guru. Dan guru dalam pernikahan bisa berbentuk apapun. Entah itu pasangan, entah itu anak-anak, entah itu mertua, teman, kerabat, siapapun dan apapun.

Dan untuk itu, juga untuk memelihara akal sehat setelah banyak terpapar berbagai bentuk pernikahan dan kebahagiaan yang menghiasi instagram. Sesuatu yang membuat kita semakin jauh dari ketenangan dalam mempersiapkan diri dan juga menjalani. Kami, saya dan istri saya, @ajinurafifah membuat sebuah halaman khusus di tumblrblog kami dengan judul Rumah Tangga Muda (RTM).

Sebuah kolom yang nantinya akan kami isi dengan pelajaran-pelajaran berharga yang kami dapatkan selama menjalani rumah tangga muda ini. Dan tentu saja, kolom ini sangat terbuka untuk teman-teman sebaya yang juga sedang menjalani rumah tangga muda. 

Kami ingin berbagi, belajar bersama. Barangkali ada kejadian berharga yang membuat sepasang suami istri menjadi banyak belajar. Karena pada dasarnya, kami merasa untuk saling menjaga. Keluarga yang satu ikut membantu menjaga keluarga yang lain. Menasihtkan akan kebaikan. Mengingatkan bila lalai.

Kolom ini akan saya buat page khusus seperti tulisan saya dalam page tulisan, cerpen, dll yang bisa teman-teman akses di halaman utama tumblr saya. Kolom ini terbuka untuk siapapun yang ingin berbagi ketika menjalani rumah tangga mudanya, saya tidak tahu batasan untuk kata MUDA. Tapi tentu saja, banyak diantara pembaca dan juga penulis di tumblr ini yang sebaya. Semoga kita bisa saling belajar dan saling menjaga akal sehat.

Jika teman-teman ingin menulis dan berkontribusi di kolom Rumah Tangga Muda. Mudah sekali caranya, tinggal buat #hastag seperti dibawah tulisan ini; #RTM #rumahtanggamuda . Ini semua memudahkan kita untuk mencari tulisan dengan kategori serupa.

Salam Hangat,

Kurniawan Gunadi & Aji Nur Afifah

Sebagai laki-laki, suatu saat ia akan memiliki tanggungjawab untuk menafkahi keluarganya. Biarpun istri juga bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Kewajiban menafkahi keluarga tetap ada pada laki-laki. Nanti, di saat kebutuhan semakin banyak, kita mungkin akan dibenturkan pada kondisi dimana mungkin saat itu kita akan berpikir; ah gak apa2, ah orang lain juga melakukan hal yang sama, dan lainnya. Saat itu, kita mungkin akan lupa pada halal haramnya harta yang kita nafkahkan. Dan untuk itu, sedari sekarang kenali betul bagaimana calon istrimu memandang harta, dan bagaimana ia membelanjakannya. Sungguh manusia akan senantiasa diuji dg harta, dg ketakutan pada kemiskinan. Dan sungguh, kefakiran itu dekat sekali dengan kekafiran. Semangat untuk kita semua, terutama yang sedang membina rumah tangga muda.

ajinurafifah:

Rules menjadi istri yang supportif dalam pekerjaan (ala Apik) : nggak malu (dengan apapun pekerjaan suami), nggak banyak menuntut, nggak bosan bersyukur, dan nggak berhenti upgrade ilmu.

Katanya, istri magnet rejeki kan? Saya setuju. Tapi istri juga bisa jadi magnet atas rejeki yang nggak halal itu datang.

Jangan bosan, untuk kita sebagai perempuan, supaya terus mengupgrade pengetahuan dan prinsip kita–tentang halal haram harta. Terus belajar untuk jadi alarm bagi pekerjaan suami, mengingatkan untuk zakat serta sedekah, dan menguatkan kalau-kalau perlu hijrah–meski harus meninggalkan jabatan, harta, dan hal duniawi lainnya kalau ternyata…iklim kerjanya malah mendekatkan keluarga pada hal-hal yang haram.

Jangan bosan menekan ego dan nafsu kepengen ini kepengen itu supaya nggak menstimulus suami untuk mengerjakan hal yang enggak-enggak. Jangan bosan untuk bersyukur atas berapapun dan apapun pemberian suami.

Jangan bosan mendidik diri dan keluarga, untuk memahamkan bahwa rejeki yang baik bukan yang banyak, melainkan yang berkah.

Yang kuat, kita! 😉

Saling Sabar

Ternyata di bulan ke sembilan saya menikah, saya semakin menyadari bahwa ada beberapa hal yang dulu saya pahami ternyata keliru. Sebabnya sederhana; hanya karena saya membaca tanpa mengalami, bertanya tanpa mengalami, dan kini saya mengalaminya-menjalaninya, hingga jawaban itu ternyata terhimpun seiring berjalannya waktu. Banyak kekhawatiran saya tentang pernikahan yang ternyata tidak terjadi, kekhawatiran yang saya buat-buat dalam pikiran saya sendiri waktu itu. Juga ternyata banyak hal tak terduga yang mengejutkan, oleh karena saya memang tidak tahu, tidak ada pedomannya, dan memang saya kini menyadari bahwa setiap pernikahan akan memiliki kisahnya masing-masing. Eksklusifitas yang hanya bisa dirasakan oleh sepasang manusia yang menikah tersebut.

Seringkali orang lain mengatakan kepada kami kalau kami terlihat cocok karena banyak kesamaan, misal sama-sama suka menulis, juga sama-sama suka berkegiatan sosial. Atau ada orang tak dikenal yang mengatakan kalau kami itu saling melengkapi banget, kayak puzzle. Ada satu rahasia (mungkin bisa saya katakan sebagai ilmu) pernikahan yang dulu saya tidak pelajari tapi akhirnya saya pahami setelah menikah, yaitu ilmu saling sabar.

Mau bagaimanapun, saya dan istri adalah dua pribadi yang berbeda dan tumbuh amat berbeda sejak lahir. Mau disatukan seperti apapun, akan selalu ada celah-celah perbedaannya. Mau saling melengkapi seperti apapun, akan selalu ada pertentangan-pertentangannya. Hanya saja, hal-hal seperti itu tidak akan pernah ditemukan di tempat umum karena akan selalu berakhir di rumah.

Dan kuncinya adalah ilmu saling sabar. Sebenarnya, saya dan istri hanya melakukan itu sebagai upaya kami dalam membina rumah tangga muda ini. Kami tidak bersikeras untuk saling melengkapi satu sama lain, tidak juga bersikeras  bahwa kami harus segera berlipat ganda potensinya. Semua itu  butuh satu hal yang penting, yaitu kesediaan masing-masing kami untuk dilengkapi, disadarkan, ditekan (dalam hal positif), didorong, dan sebagainya untuk menjadi pribadi yang berkali lipat baiknya.

Ilmu saling sabar. Kami hanya berusaha untuk saling sabar menghadapi diri kami sendiri, saling sabar juga menghadapi satu sama lain sebagai pasangan. Saling sabar terhadap sifat-sifat, terhadap ekspektasi, juga terhadap ego. Kami berusaha keras untuk saling sabar, yang ternyata itupun sangat sulit.

Ketika menikah nanti, kita mungkin akan menyadari kalau ternyata tidak selalu menikah itu saling melengkapi. Belum tentu kehadiran kita melengkapi kekurangannya, juga sebaliknya. Belum tentu kehadirannya meniadakan kekurangan kita. Bisa jadi justru semakin menambahnya. Belum tentu kehadirannya mampu meredakan kekhawatiran dan keresahan kita dulu ketika sendiri, bisa jadi justru kekhawatiran kita semakin bertambah.

Kita perlu untuk saling sabar. Sebab selama-lamanya kita harus saling beradaptasi. Kita harus saling percaya, saling menerima satu sama lain, saling mendukung, dan saling mengendalikan ego. Dan untuk melakukan itu semua, kita perlu untuk saling sabar.

Selamat mempersiapkan kesabaran sebagai bekal, pastikan ia tidak ada habisnya. Jangan membatasinya. Biarkan itu tumbuh setiap hari dalam pernikahan nantinya.

©kurniawangunadi | 15 Juni 2017

Ruang menjadi hal yang amat bermakna setelah menikah. Saat kita mulai berbagi bahkan memberikan ruang-ruang yang kita miliki. Ruang gerak yang semakin perlu dikomunikasikan, ruang tanggungjawab yang semakin besar, dan aneka ruang lainnya yang perlu saling dibicarakan dari hati ke hati. Saranku cuma satu, berilah ruang kepercayaan yang besar kepada pasanganmu agar ia leluasa mengepakkan sayapnya. Menjadi pribadi yang ia inginkan dengan segenap cita-cita dan kebermanfaatannya. Ruang kepercayaan yang akan membuatnya yakin sejauh apapun ia melangkah. Ada rumah yang selalu bisa menjadi tempatnya pulang. Juga tak perlu ada kekhawatiran kemanapun kakinya melangkah karena kepercayaan itu meringankan bebannya, meringankan keraguannya.

ia yang pandai menjaga diri ketika sendiri seharusnya menjadi lebih pandai ketika ia telah menikah. ia yang pandai menjaga perasaan orang lain, menyembunyikan perasaannya dan menumbuhkan empati kepada sesama. menjaga kehormatan diri dan saudara seiman. pernikahan yang selalu di nantikan, amat boleh dirayakan. hanya saja coba ingat kembali sewaktu dulu kita menanti. betapa risihnya melihat orang lain merayakannnya berlebihan (utamanya di media sosial). ingat bahwa barangkali ada saudara seiman yang tengah mempersiapkan kapalnya saat kita sudah berlayar. ia belum siap, tapi menjadi ingin segera masuk ke lautan padahal kapalnya belum selesai. bagi yang sudah dan baru menikah, simpanlah kebahagiaan itu sebagaimana kita dulu mampu menyimpan keresahan dan kegelisahan kita sewaktu sendiri. karena jangan sampai kita menjadi sebab rusaknya perjagaan diri saudara-saudara seiman kita yang lain. biarkanlah mereka mempersiapkan diri dengan tenang, membangun sebaik mungkin bahteranya sebelum masuk ke samudara kehidupan yang entah-bagaimana-menjelaskannya 🙂