Begitulah Aku Kepadamu

Kau tak tahu seberapa dalam kata ‘masih’ yang aku tulis dalam jurnalku.

Kau tak tahu seberapa dalam aku menulis kata ‘kemarin’ dalam prosaku.

Kau tak pernah tahu seberapa dalam aku mengharapkan kata ‘akan’ atau ‘semoga’ dalam benakku.

Kau tak akan pernah tahu bagaimana kata ‘cinta’ bisa mengubah semua tulisanku dalam biru hidupku.

Kata yang mungkin tak bermakna, justru itulah yang paling dalam dan paling ingin ku tandai dengan kutip.

Jika kau tanya seberapa jauh yang ku tahu tentang kau, aku tak tahu apa-apa tentang kau. Tapi jika kau bertanya seberapa dalam harapanku akan kau yang ada disamping bangkuku, sedalam inti bumi atau bahkan sedalam inti mataharilah dalamnya.

Hingga ketika hanya dengan melihatmu seperti ini, aku bahkan begitu terkesan. Begitulah aku kepadamu.

Sani Asmi Ramdani

Ruang Kosong

Kau bertanya tentang ruang kosong yang selalu terlihat di mataku. Aku hanya diam dan tersenyum. Anggap saja itu jawabanku. Tapi kau beranya lagi, siapa yang ku tunggu agar ruang kosong itu terisi. Aku menunduk dan  lagi-lagi tersenyum. kau terus menerus bertanya hal yang sama, dan aku berkali-kali menjawab dengan senyuman, atau bahkan mengalihkannya.

Kau bertanya lagi, apakah aku sengaja mengosongkan ruang itu. Aku diam dan memandang langit biru. Ah, indah sekali bukan jika sore nanti kau melihatnya? Tapi itu jika dan hanya jika. Jika nanti di siang hari aku mati, sore dan lembayung senja yang aku idamkan tak akan lagi ku lihat.

Kau menanyakan hal serupa di kala malam. Lalu aku menjawab sambil menghitung bintang-bintang. Banyak sekali, bukan? Apa kau bisa pastikan aku menghitung seluruh bintang? Ataukah ada satu bintang yang barangkali tak terlihat? 

Kau bertanya, apakah aku baik-baik saja jika nanti ruang itu kosong terus? Lalu aku diam sedetik, berpikir bagaimana menjawabnya jika itu terjadi. Sedetik kemudian aku bicara soal seseorang yang menangis karena barang kesayangannya hilang, tapi hilangnya besok. Orang itu menangis sambil memegang barang yang katanya akan hilang, besok.

Kau lagi-lagi bertanya, apakah aku baik-baik saja jika kau yang mengisi ruang itu. Lalu aku tertawa. Aku bilang, aku akan menolaknya. Kau bahkan tidak tahu apa fungsi dari ruang kosong yang selalu kau tanyakan itu. Bagaimana jika ruang itu berisi barang bekas yang siap dibuang?

oleh : Sani A. Ramdani