Tulisan : Menghabiskan Ego

Dalam sebuah obrolan suatu sore, seorang ibu dari teman saya mengatakan kepada anak perempuannya, “Dia nikahnya nanti dulu, biar habis dulu egonya.”

Kalimat itu terngiang-ngiang dan saya mau menuliskan hikmah yang saya dapatkan. Perihal menghabiskan ego ini menarik dan saya berkaca pada diri saya sendiri sepanjang 2014 kemarin.

Benar sekali, sepertinya kemarin ego saya belum habis. Ada banyak hal yang masih ingin saya lakukan, impikan, dan lain-lain. Dan hampir semua itu bersifat personal. Seperti ego saya terhadap mainan-mainan yang ternyata jumlahnya udah ratusan hari ini. Ego saya terhadap ini dan itu pun terbilang cukup banyak. Ego saya ingin membeli ini dulu, itu dulu. Bahkan ingin kemana dulu, daln lain-lain.

Hari ini saya belajar bahwa ternyata menghabiskan ego sebelum menikah itu penting. Nanti, bila telah menikah kita sudah bukan lagi hidup seorang diri dengan tujuan dan impian sendiri, tapi sudah menjadi milik bersama.

Saya tidak mau saat menikah nanti, saya hanya memikirkan tentang kesenangan saya sendiri. Itu kuncinya. Karena ada kehidupan lain yang nantinya akan saya bersamai langkahnya.

Dan sepanjang 2014 itulah saya menghabiskan ego tersebut. Hari ini masih tersisa sedikit dan insyaAllah segera habis. Setelah itu, setiap impian bahkan keinginan saya akan lebih mudah dikompromikan dan bisa dengan mudah disinergikan.

Bila kita masih banyak keinginan pribadi, mau keliling indonesia, beli ini itu, bangun ini itu, pengin begini dan begitu. Habiskanlah semua itu ketika kita masih sendiri. Karena kelak, setelah menikah semua itu, bila kita tidak mampu mengelola dan mengkomunikasikannya dengan baik justru bisa menjadi pemicu masalah. Padahal sebenarnya itu bukan masalah. Hanya karena ego kita belum habis, kita merasa pasangan kita tidak mendukung bila pendapat kita berseberangan.

Saya belajar tentang itu sepanjang 2014. Hari ini, ketika ego pribadi saya rasa telah berkurang banyak. Saya akan melanjutkan impian saya nanti dengan sebuah diskusi bersama dengan orang yang tepat. Orang yang akan menjadi bagian dari rencana-rencana hidup yang akan dibuat itu.

Bukankah demikian? Jangan sampai dia tidak ada dalam rencana hidup saya, bukankah dia sudah ada dalam hidup saya? Bila keinginan kita masih tentang diri kita sendiri, habiskanlah.

Karena, memilih untuk menikah itu bukan tentang siapa lebih cepat. Tapi, tentang kesiapan. Menghabiskan ego akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih leluasa hatinya, lebih mudah untuk diajak bicara tentang sesuatu, dan lebih fleksibel untuk mengubah keinginan kita.

Hidup sendiri itu memang menyenangkan, kita tidak perlu mendiskusikan dengan siapapun tentang apa yang kita inginkan. Tapi, hidup berdua jauh lebih menarik bukan?

Selamat menghabiskan ego 🙂

Rumah, 12 Januari 2015 | ©kurniawangunadi

Tulisan : Agama adalah Hakim

Diskusi-diskusi dengan teman selalu menghasilkan banyak pemahaman baru yang menarik. Tidak untuk dibenar-benarkan dan menjadi prinsip yang kemudian juga saya anut. Namun, saya menjadi belajar bahwa perjalanan hidup manusia yang berbeda-beda telah membuat cara berpikir seseorang dengan yang lain juga berbeda. Untuk satu masalah yang sama pun, seseorang memiliki cara pandang yang berbeda. Dan kali ini akan sangat disayangkan jika tidak saya tulis.

Agama adalah hakim, hakim dalam hal apa?

Di tengah usia 20+ dimana kita disajikan oleh berita akad nikah teman yang mirip jadwal shalat jumatan, seminggu sekali. Dimana ketika ada seseorang yang datang yang bahkan kita tidak tahu siapa dan bagaimana. Dimana ketika kita dibuat bertanya-tanya tentang seseorang yang hadir dipikiran. Maka jadikanlah agama sebagai hakim.

Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan beragama seseorang yang sebenar-benarnya saat ini. Hanya mendengar berita atau memperhatikan caranya berpakaian. Selebihnya kita tidak akan tahu jika kita tidak benar-benar mengenal kesehariannya. Karena agama bukanlah sekedar ibadah ritual; banyaknya hafalan, hitamnya jidat, panjangnya jenggot, lebarnya kerudung. Tidak seeksplisit itu. Agama itu ada di dalam hati, melebur hingga menjadi satu kesatuan dalam diri manusia. Menjadi cara berpikir, cara berbicara, cara berperilaku, semunya termanifestasi menjadi perilaku keseharian.

Kita tidak akan benar-benar tahu kehidupan beragama seseorang dan berapa derajat keimanannya di mata Allah. Lalu bagaimana kita bisa menerima seseorang yang datang tiba-tiba dalam hidup kita? Apalagi bila dia adalah orang yang sama sekali belum kita kenal baik kehidupannya?

Sementara Nabi mengatakan bahwa seseorang (menurutku ini berlaku tidak hanya untuk perempuan) dinikahi karena 4 hal; harta, keturunan, paras, dan agama. Dan dianjurkan memilih agamanya.

Lalu saya bertanya, “Kalau kita bisa mendapatkan keempatnya, mengapa hanya salah satu atau mendapatkan 3 dari 4 kriteria itu? Tidak salah dan tidak berdosa juga kan kita berharap dapat seseorang yang baik agamanya sekaligus cantik/tampan, berketurunan baik, dan kaya?”

Teman saya tersenyum. Di sinilah jawaban itu muncul.

“Seseorang yang memiliki pemahaman agama yang baik, seluruh pemahaman itu akan melebur menjadi dirinya. Ingat bahwa Nabi Muhammad akhlaknya adalah Al Quran kan? Kita dan sesorang yang datang itu bukan Nabi, tapi kita bisa mencontohnya. Seseorang saat ini tidak lagi bisa dinilai dari luarannya saja. Lihatlah bagaimana cara dia berbicara, berperilaku, uji pemikirannya dengan pertanyaan kritis dan masalah, uji kesabarannya dengan amarah. Kita boleh banget berdoa untuk memiliki pendamping yang memiliki paras yang baik, kaya, juga berketurunan, tidak ada yang salah. Yang perlu kita pegang adalah jadikan agama sebagai hakimnya.”

Saya masih menyimak pembicaraan ini.

“Maksudnya agama sebagai hakim?”

“Kita tidak akan bisa menilai agama seseorang saja dan mengesampingkan yang lain. Hanya karena dia terlihat beragama; rajin shalat, jidat hitam, kerudung panjang, hafalan seabrek. Tapi bicaranya kasar, pemikirannya tertutup, bahkan perilakunya bertentangan dengan tampilan luarnya. Buat apa?”

“Carilah seseorang dengan karakter yang baik, baru kamu lihat agamanya. Kamu hanya perlu ridha dengan agamanya sebagaimana apa yang dikatakan Nabi Muhammad. Artinya kamu cukup ridha bila dia hanya baru shalat wajib dan dhuha, belum banyak hafalannya, belum rajin puasa sunah, kerudungnya belum panjang atau bahkan mungkin belum mengenakan, dll. Karakter baik itu penting dan abadi berada dalam diri manusia. Karena karakter itu tidak dibentuk oleh pelajaran-pelajaran teori.”

“Karena pemahaman agama itu benar-benar menjadi agama ketika terwujudkan menjadi seluruh cara hidup seseorang. Selebihnya dapat dipelajari perlahan. Al Quran saja diturunkan dalam jangka bertahun-tahun, pelan-pelan tidak langsung sekaligus. Seseorang tidak akan menjadi sangat alim, sangat soleh atau solehah dalam hitungan pendek. Semua adalah proses dan itu proses bersama kalian nantinya. Untuk menjaga proses itu berjalan dengan baik, kamu membutuhkan seseorang dengan karakter yang baik”

Saya mencatatnya.

“Jadikanlah agama sebagai hakim, bila dia cukup baik dan cukup memenuhi kriteria mubah/sunah yang kamu buat (misal bisa masak, cantik/tampan, penyayang anak-anak, dll) baru kamu lihat agamanya. Kalau kamu ridha, kamu sudah tahu jawabannya. Bila agamanya tidak baik, percuma kan karakter baik tapi kehidupan beragamanya kamu gak ridha, putuskanlah. Karena hidupnya tidak akan berakhir di dunia saja, masih ada kehidupan setelahnya dan kamu membutuhkan itu.”

Teman saya selesai menjawab. Saya mencatatnya, membaca ulang kesimpulannya.

“Agama adalah hakim untuk menerima atau menolak seseorang dan hakim selalu memutuskan setelah melihat semua komponen yang lain terlebih dahulu”

Bandung, 28 Oktober 2014 | ©kurniawangunadi

SPN : Dia Berhak Mengetahui

Suatu waktu ketika berdiskusi dengan teman jauh tentang sebuah pernikahan, ada nasihatnya yang saya catat baik-baik sehingga menjadi bahan tulisan ini.

Menikahi seseorang sama dengan membawanya ke dalam benteng kokoh yang selama ini kita diami. Jika tidak, mungkin pernikahan serupa ritual bertajuk separuh agama. Menyelesaikan masalah dengan diri sendiri atau siapapun sebelum menikah bukan menghindarkan pasangan dari pengetahuan tentangnya. Dia berhak tahu, siapa seseorang yang dia ijinkan memberikan warisan gen kepada keturunannya kelak. Dia berhak tahu, siapa yang dia bagi separuh jiwanya itu.

Seseorang yang akan menjadi bagian dari kehidupan kita di dunia dan akhirat berhak tahu tentang siapa sebenarnya kita. Topeng yang kita pakai selama ini hendaklah dilepas, sememalukan apapun asli kita. Itulah diri kita dan dia berhak tahu. Meski pada akhirnya muncul penolakan atas pengetahuan tentang kita yang dia ketahui, itu tidak masalah. Dan itu memang menjadi sebuah ujian, tidak hanya untuk kita, tapi untuknya.

Saya percaya bahwa pada akhirnya akan ada orang yang benar-benar menerima. Asal kita tidak menyembunyikan diri kita dengan membohonginya dengan terus menutup diri, membiarkan dia tidak tahu sama sekali tentang kita.

Dia berhak bertanya dan berhak mendapatkan jawab. Siapa orang yang berani-beraninya menawarkan dirinya. Siapa orang yang dengan tiba-tiba muncul dalam hidupnya. Ungkapkanlah kejujuran diri itu meski itu sangat buruk. Kita akan mengenal diri kita sendiri melalui orang lain, kita pun menguji diri kita, seberapa terbuka kita dengan orang yang akan kita berbagi dunia dengannya.

Bandung, 19 September 2014 | ©kurniawangunadi

SPN : Menikahi Potensi

Diskusi mencerahkan beberapa waktu yang lalu tentang bahasan paling populer sepanjang masa (baca:menikah) telah memberikan satu titik cerah untuk melihat seseorang yang akan kita tuju sebagai pasangan hidup. Dari sini, aku mendapat satu perspektif baru dalam memandang manusia. Manusia yang kita lihat hari ini sejatinya tidak sebenar-benarnya, dalam artian bahwa setiap manusia memakai topeng. Sejatinya dalam diri manusia terkandung masa lalu dan masa depan.

Bila dia cantik hari ini, jangan mudah tergoda kecantikannya. Karena kita belum pernah bertemu dia saat usia diatas 50 tahun kan? Ketika keriput memenuhi sekujur tubuhnya. Saat dia kaya hari ini, jangan mudah tergoda. Sebab kekayaan itu tidak ada yang hakiki. Sesuatu yang melekat pada manusia dan berasal dari luar dirinya tidak ada yang hakiki. Popularitas, kecantikan/ketampanan, kekayaan, jabatan, semuanya hanyalah label yang sifatnya bisa lepas-pasang. Bahkan bisa dibangung dengan pencitraan, make-up salon, dan lain-lain.

Tapi mari, hari ini kita akan belajar melihat sesorang dari potensi. Potensi adalah sesuatu yang ada didalam diri seseorang. Potensi itu lahir dari karakter-karakter yang melekat pada seseorang. Dan kita bisa melihat masa depan seseorang hanya dengan melihat dia hari ini.

Ketika kita melihat seseorang, lihatlah potensinya. Apakah dia berpotensi menjadi seseorang yang berpengaruh, berpotensi menjadi ayah yang baik, berpotensi menjadi seseorang yang sukses, berpotensi menjadi ibu yang luar biasa, berpotensi menjadi kaya raya, berpotensi membangun umat, lihatlah potensi itu. Dan tentu potensi tertinggi adalah apakah dia berpotensi masuk surga dan kita bisa turut serta berjalan bersamanya?

Bila hari ini dia miskin, atau hari ini dia masih belajar. Tidak masalah. Bila hari ini dia kesulitan, atau dia belum mencapai pencapaian standar-standar dunia. Jangan takut. Bukankah membersamai perjalanan seseorang dari titik nol-nya adalah sebuah hal yang menarik sekaligus menantang?

Ingat, lihatlah potensi itu. Bila kita menuntut seseorang mapan (secara materi), ingatlah bahwa itu tidak melekat. Lihatlah karakternya, sebab dalam kondisi apapun, karakterlah yang akan menolong seseorang ketika jatuh, pun ketika terbang tinggi.

Menikahlah dengan potensi seseorang. Gunakanlah mata hatimu untuk melihat seseorang hari ini dengan refleksi masa depan. Lihatlah potensi itu, ajaklah berbicara atau berdiskusi, kenalilah pikiran dan karakternya. Karena di sana ada banyak hal yang tertutupi oleh paras, oleh harta, oleh parameter-parameter dunia.

Menikahlah dengan potensinya. Sebab kamu tidak akan menikah hanya hari ini. Ketika dia masih cantik/tampan. Ketika dia masih kaya. Iya kan?

Bandung, 8 Juli 2014 | ©kurniawangunadi

SPN : Menjaga Kehormatan Perempuan

Sebuah tulisan untuk laki-laki.

Karena saya tahu bagaimana rasanya menjadi laki-laki. Saya menulis ini. Ada satu hal yang mungkin perlu kita (sebagai laki-laki) pahamkan dalam diri kita. Terlepas dari apapun kepercayaan yang kita imani, terlepas dari segala pemahaman hidup kita masing-masing. Sudah menjadi kewajiban laki-laki untuk menjaga kehormatan perempuan. Ini lebih utama daripada sekedar menjaga secara fisik.

Laki-laki dan perempuan diciptakan berbeda dan tidak akan pernah sama. Karena sebagai mana ciptaan Allah yang lain. Semua memiliki peran yang berbeda satu sama lain. Tidak saling tumpang tindih atau menghancurkan, tapi semuanya diciptakan untuk saling melengkapi juga menyeimbangkan. Begitu pula laki-laki dan perempuan.

Dalam agama yang saya imani, ada aturan-aturan dalam interaksi antara laki-laki dan perempuan. Tujuannya pun untuk menjaga kehormatan, tidak hanya salah satu, tapi keduanya. Terlebih islam sangat memuliakan perempuan.

Apa yang hendak saya sampaikan ini khususnya untuk laki-laki. Dalam interaksi kita kepada perempuan. Kita harus memiliki sikap yang jelas. Ini penting, karena yang kita hadapi tidak hanya perempuan dalam bentuk fisik, tapi juga dalam bentuk perasaan.

Ketika kita telah mengutarakan niat baik kita kepada perempuan untuk berproses menuju ke jenjang pernikahan. Itu tidak serta merta membuat kita bebas melewati batas, bebas melanggar norma atau aturan. Karena dimata Allah, sejatinya kita bukan siapa-siapa untuk perempuan ini. Ungkapan perasaan kita bukanlah kalimat ijab kabul. Tidak memiliki kekuatan apa-apa dan sangat berisiko melukai perasaan perempuan tersebut bila kita sebagai laki-laki tidak berkomitmen untuk mewujudkannya.

Bila pun saya berproses nanti. Saya berprinsip untuk tidak menyebut nama perempuan yang saya tuju secara sembarangan kepada orang lain ataupun kepada khalayak. Ini menurut saya penting, bukan soal saya tidak mengakuinya. Tapi ini cara saya untuk melindunginya (juga melindungi saya) dari fitnah. Ataupun dari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di depan. Lindungilah kehormatan perempuan dengan tidak menyebut namanya sembarang. Dengan begitu, sang perempuan akan terjaga baik kehormatan ataupun harga dirinya. Dan perempuan akan lebih percaya kepada laki-laki yang bisa menghormatinya dengan baik, tidak hanya setelah pernikahan, tapi jauh sebelum itu. Seorang ayah pasti marah bila ada laki-laki diluar sana yang dengan sembarang menyebut-nyebut anak perempuannya.

Rahasiakanlah dengan baik sampai pada waktunya tiba. Meski perempuan memang pada dasarnya ingin diakui, tapi kembalikan pertanyaan itu. Diakui sebagai apa? Allah sendiri belum mengakui, bagaimana seseorang bisa mengklaim dia miliku, atau aku milikmu.

Proses yang baik adalah proses yang melibatkan Allah, tidak hanya dalam wujud doa tapi juga menggunakan apa-apa yang Dia rancang, yang Dia tuntunkan dengan baik. Sepanjang laki-laki dan perempuan bisa menjaga diri, keduanya bisa saling menjaga kehormatan. Maka, Allahlah sejatinya yang akan menjaga keduanya sampai pada waktu yang sudah digariskan keduanya berjalan pada satu jalan yang sama.

Laki-laki harus punya sikap yang jelas. Dan punya prinsip yang baik. Kata teman saya suatu hari, laki-laki harus bisa mengambil keputusan untuk mengambil jalan mana yang akan ditempuh dan baik kepada perempuan. Sebab perempuan akan selalu lebih bermain perasaannya.

Godaan terbesar kita sebagai laki-laki adalah perempuan. Maka, berkomunikasilah untuk membuat komitmen agar bisa saling menjaga diri dan menjaga kepercayaan satu sama lain. Bahkan, kesetianmu akan diuji jauh sebelum ia menjadi istri kan?

Selamat menjadi laki-laki.

Rumah, 3 Juni 2014 | ©kurniawangunadi

Artikel : Lelaki Shalih Belum Tentu Menjadi Suami Shalih

Seorang wanita pastinya mengharapkan seorang lelaki shalih untuk menjadi suaminya. Hal ini tentu baik. Namun, ketika dia sudah mendapatkan seorang suami, apakah masih pantas dia membayangkan lelaki lain untuk menjadi suaminya, meski dengan alasan lelaki lain itu – menurut pandangan pribadinya – lebih baik dari suaminya? Kita khawatir perasaan seperti ini akan menjadikan seseorang tidak mengalah pada takdirnya, setelah sebelumnya dia sudah berikhtiar.

Saya ingin menuliskan inti jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut di sini, untuk berbagi dengan yang lain. Semoga bermanfaat :

Nabi Muhammad, dalam hidupnya, juga sering menjadi tukang jodoh. Banyak riwayat yang menjelaskan hal itu, misalnya kisah perjodohan Julaibib dan lainnya. Nah, setelah mengamati apa yang dilakukan Nabi, berikut keterangan-keterangan dalam agama, kita sampai pada satu kesimpulan, ternyata dalam penilaian Nabi, lelaki shalih itu belum tentu menjadi suami shalih. Dengan ujaran lain, tidak semua lelaki baik, dapat menjadi suami yang baik!

Suami shalih, maknanya lebih luas dari pada lelaki shalih. Lelaki shalih adalah orang yang selalu melaksanakan perintah Allah baik lahir maupun batin. Misalnya, ia selalu berjama’ah di masjid, perilaku dan tutur katanya islami, meninggalkan hal-hal yang haram. Namun, dalam memberikan penilaian tentang siapa lelaki shalih itu, yang bisa kita lakukan hanya dari sisi lahiriahnya.

Secara lahiriah seseorang dapat dinilai sebagai orang beragama. Namun bisa saja dia ternyata tipe orang yang mudah marah, sering menghina dan merendahkan orang, ucapannya pahit, dan sebagainya. Hal ini tentu dapat menganggu ketenangan dan kebahagiaan rumah tangga.

Saya tandaskan, seseorang kelihatannya beragama dan berakhlaq baik. Namun ia memiliki beberapa sifat yang tidak cocok bagimu. Sebaliknya, justru ia cocok untuk orang lain, bukan untukmu.

Misalnya, lelaki itu bawaannya serius, sangat pendiam, melankonis, sulit tertawa, memiliki pergaulan sosial terbatas. Sedang Anda memiliki karakter sebaliknya: seorang sosialita, aktifis muslimah yang senang bergaul dengan yang lain, suka humor, dan sebagainya.

Saya tidak mengatakan sifat lelaki tersebut jelek. Namun sifat itu bagi Anda yang memiliki sifat yang saya contohkan tadi, bisa membuat Anda kurang nyaman dalam mengarungi rumah tangga.

Karena itulah, Nabi mengatakan (yang artinya): “Jika datang padamu lelaki yang kau ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tak kau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang panjang.” (HR Turmudzi dan Ibnu Majah)

Perhatikan, Nabi tidak mengatakan “Jika datang padamu lelaki beragama dan akhlaknya baik”. Namun Nabi mengatakan, “Jika datang padamu lelaki yang kau ridhai agama dan perangainya”.

Apa bedanya?

Pernyataan pertama – dan itu tidak diucapkan Nabi – bermakna, orang tua harus menikahkan anaknya dengan lelaki shalih, dan bahwa lelaki shalih itu pasti akan menjadi suami shalih. Namun pernyataan kedua – yang diucapkan Nabi – memberikan pengertian pada kita bahwa orang tua dalam memilih calon menantu, syaratnya harus ridha terhadap agama dan perangainya, karena memang tidak semua lelaki shalih, kau setujui cara beragama dan perangainya. Jadi, ada unsur penilaian manusia di sini. Sedang penilaian manusia itu hanya terbatas pada sesuatu yang lahiriah atau yang tampak.

Kisah Fathimah binti Qays akan menjelaskan hal ini. Suatu saat, ia dilamar dua lelaki. Tak tanggung tanggung, yang melamar beliau adalah dua pembesar sahabat, yaitu Mu’awiyah dan Abu al-Jahm. Setelah dikonsultasikan kepada Rasulullah, apa yang terjadi? Nabi menjelaskan, baik Mu’awiyah maupun Abu al-Jahm, tidak cocok untuk menjadi suami Fathimah binti Qays.

Apa yang kurang dari Mu’awiyah dan Abu al-Jahm? Padahal keduanya adalah lelaki shalih dan memiliki keyakinan agama yang baik. Namun Nabi tidak menjodohkan Fathimah dengan salah satu dari keduanya, karena Nabi mengetahui karakter Fathimah, juga karakter Mu’awiyah dan Abu al-Jahm.

Lebih lanjut, Nabi menawarkan agar Fathimah menikah dengan Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang sebelumnya tidak masuk “nominasi” Fathimah. Setelah Fathimah menikah dengan pilihan Nabi itu, apa yang dikatakannya setelah itu? Fathimah mengatakan, “Allah melimpahkan kebaikan yang banyak pada pernikahan ini dan aku dapat mengambil manfaat yang baik darinya.”

Jadi, kepala rumah tangga yang ideal bagi Anda dan seluruh wanita muslimah adalah: Pertama, lelaki shalih. Kedua, memiliki perangai yang sesuai dengan karakter Anda, dan ini nisbi atau relatif, yang tidak mungkin bisa dijawab kecuali oleh Anda sendiri.

Keshalihan seorang lelaki memang menjadi syarat bagi wanita yang ingin menikah. Namun, itu saja tak cukup. Perlu dilihat kemudian munasabah (kesesuaian gaya hidup, meski tak harus sama), musyakalah (kesesuaian kesenangan, meski tak harus sama), muwafaqah (kesesuaian tabiat dan kebiasaan). Sekali lagi, aspek kedua ini sifatnya relatif, tidak bisa dijawab kecuali oleh wanita yang akan menikah dan keluarganya. Oleh karena itu, kalau ada yang datang melamar, tanyakanlah karakter dan perangainya pada orang-orang yang mengetahuinya, baik dari kalangan keluarga atau teman-temannya.

Terakhir, bagi yang belum menikah dan sedang “mencari jodoh”, agama mensyari’atkan adanya musyawarah dan istikharah. Lakukanlah keduanya! Sementara bagi yang sudah menikah, terimalah keberadaan suami Anda apa adanya, karena menikah itu “satu paket”: paket kelebihan dan paket kekurangan dari pasangan. Tinggal bagaimana Anda menyikapi kelebihan dan kekurangan itu. Orang bijak menyikapi kelebihan dengan syukur, menyikapi kekurangan dengan sabar. Orang bijak itu “pandai mengubah kotoran yang tidak bermanfaat menjadi pupuk yang bermanfaat”.

Sesuatu yang baik dari suami, ajaklah dia untuk makin meningkatkannya. Sedang yang jelek darinya, bersama Anda, hilangkan dari lembar kehidupannya. Janganlah memikirkan lelaki lain. Karena boleh jadi lelaki lain itu dalam pandangan Anda baik, namun ternyata ia tak baik dan tak cocok untuk menjadi suami Anda.

Boleh jadi Anda melihat sepasang suami istri yang hidupnya bahagia. Lalu, Anda berkhayal seandainya lelaki itu yang menjadi suami Anda, pasti hidup Anda akan bahagia. Wah, itu belum tentu. Karena ternyata, bisa jadi lelaki itu memang cocok untuk perempuan yang sekarang menjadi istrinya, namun tidak sesuai bila menjadi suami Anda.

Satu yang pasti, percayalah bahwa pasangan hidup Anda adalah manusia terbaik yang diberikan Allah untuk Anda!

—————————————————————–

Oleh : Ustadz Faris Khairul Anam

>> sumber

Tulisan : Kemapanan Karakter

Tulisan ini akan melengkapi sudut pandang dari tulisan Kemapanan dan Harga Diri Laki-laki yang dimuat beberapa waktu yang lalu. Masih dengan orang yang sama, diskusi soal kemapanan ini berlanjut.

Ketika saya telah memaparkan betapa sensitifnya membicarakan soal kemapanan bagi laki-laki. Teman baik saya justru memberikan sudut pandang baru yang mungkin selama ini jarang dipedulikan dan tidak mendapat perhatian oleh banyak laki-laki ditengah upaya mengejar kemapanannya.

Ada hal yang jauh lebih penting daripada kemapanan itu sendiri. Teman baikku menyebutnya sebagai modal kemapanan. Sesuatu yang tidak berubah dari jaman dulu hingga ribuan tahun mendatang. Modal kemapanan itu adalah karakter. Tentu saja karakter yang baik. Kemapanan berupa kekuatan finansial akan berubah seiring waktu, dia tidak melekat secara utuh. Bisa tiba-tiba hilang begitu saja.

Karakter melekat pada diri dan ada di dalam diri manusia. Sedangkan kemapanan materi berasa dari luar diri manusia, bisa hadir dan bisa hilang dengan mudah, tidak melekat.

Karakter seperti jujur, bertaqwa, baik, santun, lemah lembut, ulet, pekerja keras , dan lain-lain, sifatnya jauh lebih abadi dibanding kemapanan itu sendiri. Kemapanan finansial bisa didapat melalui karakter-karakter baik itu.

Meski bisa juga terjadi seseorang menjadi kaya raya karena mendapat banyak warisan dari orang tuanya. Akan tetapi, jika ia tidak memilki karakter baik itu, lihatlah berapa lama semua kekayaannya akan bertahan. Atau mungkin juga harta benda seseorang hilang sekejap karena bencana alam atau sejenisnya. Untuk makan pun tidak ada. Apa yang membuatnya bisa bertahan dan bangkit? Karakter baiklah yang akan membuatnya mampu melalui semua proses itu.

Parameter mapan akan selalu berubah dan hampir tidak ada tolok ukur pastinya. Setiap orang berbeda. Akan tetapi, modalnya tetap sama yaitu karakter baik. Itulah mengapa memilih seseorang dengan karakter yang baik jauh lebih penting daripada soal kemapanan itu sendiri.

Materi yang didapatkan dengan modal karakter baik akan memiliki nilai keberkahan karena dia akan menjaga segala sumber materi itu agar mengalir melalui cara-cara yag berkah. Tidak hanya sekedar dapat dan asal melimpah.

Laki-laki banyak yang abai dalam mempersiapkan karakter ini. Lebih sibuk mempersiapkan diri dengan hitungan rupiah, memiliki rumah, atau semacamnya. Sementara pendapat teman baik saya ini sendiri mematahkan keyakinan saya soal materi dan kemapanan.

Perempuan pada dasarnya tidak begitu melihat kemapanan finansial sebagai sesuatu yang harus dan wajib. Namun, melihatnya sebagai sebuah bukti kesiapan. Laki-laki yang siap secara finansial untuk memberi nafkah tentu baik.

Namun, perihal karakter ini benar-benar telah memporak-porandakan apa-apa yang selama ini menjadi salah dan terlalu berlebihan. Bahwa karakter baik akan mengantarkan seorang laki-laki ke dalam segala kesiapan baik batin maupun fisik. Tidak melakukan penundaan atau bahkan meminta seseorang perempuan untuk menunggu hanya karena alasan belum siap secara finansial. Karakter baik ini akan menjauhkan seseorang dari prasangka buruk dan ketakutan soal rezeki. Bahwa rezeki itu akan dijamin selama dia mau mengusahakan.

Kata teman baik saya, tidak penting berpenghasilan tetap, yang terpenting tetap menghasilkan. Seseorang dalam hal ini laki-laki dengan karakter baik akan tahu dimana tanggungjawabnya.

Tidak hanya sebagai seorang suami saja dan juga kelak ketika menjadi ayah. Tidak hanya pandai ‘membuat anak’ tapi juga ikut serta dan pandai mendidik anak. Teman baik saya menambahkan, hampir tidak ada kisah cinta yang terbaik dalam sejarah yang menceritakan soal kemapanan finansial sebagai tolok ukur utama. Wanita-wanita utama dalam islam pun tidak memilih seseorang lantaran kekayaannya. Namun, ketaqwaan dan keimanannya. Sesuatu yang jauh lebih abadi daripada materi. Sesuatu yang akan membuat seorang laki-laki mau berusaha keras dan sadar kewajibannya.

Lalu bagaimana caranya melihat karakter seorang laki-laki, pertanyaan ini tentu akan menjadi berbeda. Tidak ada rumus khususnya karena karakter itu akan muncul dengan sendirinya. Sesuatu yang alami dan berjalan dibawah kesadaran.

Gunakan mata hati kita untuk melihat. Betapa banyak sebenarnya laki-laki baik di sekitar. Juga betapa banyak laki-laki yang pura-pura baik, menutup-nutupi segala kekurangannya dan melipatkangandakan segala kelebihannya sebagai mana para pencinta yang mabuk oleh romantika masa muda yang melenakan itu.

Karakter yang baik akan memberikan kesadaran bahwa mencintai itu bukan hanya soal waktu tapi soal keimanan dan ketaqwaan. Bahwa mencintaimu tidak dan jangan sampai mengkhianati Tuhan. Apalagi menentang segala aturan-Nya. Cinta yang baik akan lahir dari karakter seseorang yang baik.

Bandung, 23 Maret 2014 | ©kurniawangunadi

Tulisan : Kemapanan dan Harga Diri Laki-Laki

Suatu hari, temanku yang berjenis kelamin perempuan bertanya tentang sesuatu. Pertanyaan yang lahir sebab sebalnya terhadap laki-laki yang terlalu lama membuat keputusan hanya karena masalah yang menurutnya kurang begitu penting, kemapanan.

Aku mengambil selembar kertas. Berusaha menjelaskannya dalam gambar. Perkara ini memiliki kompleksitas tinggi di negeri ini. Mari aku sederhanakan menjadi kata-kata. Karena aku tidak tahu, apakah laki-laki di luar sana seragam dengan diriku. Tentu saja berbeda, hanya saja sebagai laki-laki aku bisa menjelaskan sedikit rahasia. Tentang kemapanan. Dan kau harus menggaris bawahi kata-kata ini, aku akan membicarakannya sebagai laki-laki secara umum.

Kemapanan adalah harga diri laki-laki. Jika kemapanan itu diidentikan dengan materi, maka kemapanan materi menjadi harga dirinya. Sebab diluar sana ada laki-laki yang mengartikan kemapanan itu lebih sulit lagi, kemapanan agama. Aku sulit mendefinisikannya, tapi aku tahu seperti apa kemapanan agama itu. Tapi, mari kita kesampingkan dulu hal itu, kita bahas dibelakang.

DItengah era kapitalisme seperti saat ini. Materi memiliki peranan penting bagi laki-laki. Itulah harga dirinya di depan orang tua sang perempuan. Hal yang bisa membuatnya berani mendatangi rumahnya dan mengucapkan lamaran. Hal yang bisa membuatnya berdiri tegak dan percaya diri di hadapan sang wali. Menyatakan kehendaknya dan berani menjamin kehidupan anak perempuannya kelak tidak akan kesulitan materi. Setidaknya sandang-pangan-papannya terpenuhi.

Dan ditengah era kapitalisme ini, (kebanyakan) orang tua tidak akan rela melepaskan anak perempuannya kepada laki-laki yang tidak jelas kemana hidupnya. Setidaknya semuanya distandarkan pada pekerjaan yang dimilikinya saat ini. Bagaimana menghidupi anak perempuannya yang selama ini hendak dibuat sempurna hidupnya. Tidak rela membiarkan anaknya dibawa hidup susah. Meski, sang anak tidak masalah dengan semua itu.

Dan bicara mengenai harga diri, jangan sekali-kali mengusikanya. Ketika ia jatuh, ia tidak lagi menjadi laki-laki. Seperti kasus dari cerita seorang teman. Ketika istri memiliki posisi tinggi dengan gaji sebulan serasa satu tahun kerja. Laki-lakinya diminta tinggal dirumah. Mengurus anak, mencuci baju, menjaga rumah. Sangat ekstrim memang. Hingga pada akhirnya laki-laki ini benar-benar kehilangan kendalinya, ia tidak bisa mengontrol dan membimbing istrinya sendiri. Hilang harga diri dikeluarga besarnya.

Kemapanan membuat laki-laki lebih berani. Mari kita saksikan, laki-laki dengan kemapanan lebih berani mendatangi perempuan yang dia idamkan. Beda dengan laki-laki yang masih tidak bisa menanggung hidupnya sendiri. Susah payah mencari rejeki yang dijanjikan. Mana berani dia datang ke orang tua perempuan. Ditanya apa jaminan bagi anak perempuannya. Hilang kata ditenggorokan.

Itulah sebabnya laki-laki, pada umumnya, begitu mengejar kemapanan. Hingga usia diatas 25 masih belum memutuskan hendak mengambil teman hidup. Ada hal yang menurutnya belum terpenuhi, dan lagi-lagi soal materi. Dan standar kemapanan setiap laki-laki tidak sama.

Kemapanan ini adalah harga diri laki-laki. Ketika kamu bertanya, kenapa sih lama  banget gak dilamar aja dan dia menjawab, “aku belum mapan”. Maka tahanlah amarahmu, memang seperti itulah laki-laki pada umumnya. Dia hanya ingin memastikan semuanya baik-baik sejak awal. Cukup sulit mengubah paradigma umum seperti ini. Bahwa laki-laki harus memiliki pekerjaan tetap dahulu, memiliki rumah tinggal, atau apapun itu sebagai bukti bahwa dia bisa menjamin kehidupan seseorang.

Kemapanan ini membuat bahunya berdiri tegak dihadapan teman-temannya. Tidak akan direndahkan posisinya hanya karena kekurangan daya. Dihormatinya dia karena kemapanannya itu.

Dan selalu ada anomali di dunia ini kan?

Pemahaman hidup tiap laki-laki tidak sama, pemahaman orang tua pun tidak sama. Ada dan selalu ada yang mengartikan kemapanan itu bukan sebagai materi. Tapi kemapanan agama. Maka aku ingin kabarkan sedikit kepadamu, bahwa diluar sana ada laki-laki yang melihat materi tidak lebih dari dirimu. Dan selalu ada orang tua perempuan yang paham bahwa ada yang lebih utama dari sekedar kemapanan materi laki-laki. Aku banyak menemui ini, orang-orang yang percaya bahwa kemapanan materi bukanlah standar yang layak untuk diambil.

Meski begitu, laki-laki akan terus berupaya mencapai kemapanan materi. Sekedar untuk memastikan hidupmu dan anak-anakmu kelak tidak akan kesusahan. Maka bersyukurlah perempuan yang mampu mendampingi proses kemapanan itu. Karena tidak semua laki-laki mau mengajakmu bersusah payah untuk itu, mereka pada dasarnya ingin memastikan semuanya telah kokoh sejak awal.

Kepercayaan itu penting untuk kau berikan berikan kepadanya. Dan sekali-kali, janganlah merendahkan harga dirinya. Bagi laki-laki pada umumnya, harga dirinya tidak bisa ditawar oleh apapun. Sebab itulah bentuk kelaki-lakiannya. Dukunglah proses itu dan jagalah harga dirinya. Jagalah harga diri itu dihadapannya dan dihadapan orang lain. Percayalah, dengan begitu kau akan mendapatkan hati dan cintanya. Sekalinya dia mencintaimu, dia akan menjadikanmu ratu.

Meski aku tahu, bagimu tidak masalah laki-laki datang kepadamu dengan ketidakmapanannya. Dan kamu ingin sekali memberikan peranan untuk mencapai kemapanan itu, bersama-sama. Tidak semua laki-laki memahami ini. Tidak semua orang tua perempuan paham seperti ini. Tidak semua laki-laki pula percaya begitu saja pada kata-kata suci ini, bahwa kemapanan iman jauh lebih penting dari harta dan intan berlian.

Maka, aku sarankan kamu mencari laki-laki yang memiliki pemahaman yang baik. Agar hidupmu kelak tidak hanya mengejar dan memenuhi materi. Agar dalam keluargamu kelak, tidak semuanya distandarkan pada materi. Agar kelak, tidak disibukkan dengan mencari materi. Carilah yang benar-benar memiliki pemahaman yang baik. Kamu tahu kan cara mencarinya?

Temanku berlalu pergi. Aku tidak tahu dia paham atau tidak. Setidaknya dipikirannya sedang terjadi peperangan.

Temanggung, 29 Januari 2014 | ©kurniawangunadi

Tulisan : Visi Nikah

Pernikahan dan Visi.

Lagi-lagi, dalam obrolan via line bersama teman baik saya. Pembahasan kali ini adalah tentang visi. Dalam sebuah hubungan yang akan dijalani secara vertikal (pertanggungjawaban kepada Allah) dan horisontal (pertanggungjawaban kepada masyarakat) perlu adanya visi, oh tidak hanya perlu, tapi wajib. Mengapa visi menjadi penting?

Seseorang yang tidak tahu visi (tujuan jangka panjang) sendiri akan kehilangan arah. Hidup sekedar menjalani hari ini tanpa tahu apa yang dituju. Begitu pula pernikahan. Apakah pernikahan hanya sekedar menikah, seks, punya anak, memberi materi, tinggal serumah, punya cucu? Tentu saja tidak.

Dalam fase pencarian seperti saat ini (termasuk saya sendiri). Memiliki visi tentang pernikahan itu penting. Visi tersebut akan menjadi pedoman kita sendiri untuk menentukan langkah bahkan menentukan siapa orang yang tepat.

Sebelumnya, ketika saya belum tahu visi saya apa. Saya hanya mengutarakan kepada teman baik saya bahwa saya mau menikah. Lantas dia tanya balik, visimu apa? Oke, saya berhenti menjawab bahkan tidak bisa menjawab. Menikah tidak hanya soal melepas kesendirian dan masa lajang. Bahwa pernikahan itu menimbulkan hak dan kewajiban baik secara vertikal dan horisontal. Nilai pernikahan dimata agama saya sendiri adalah setengah dari agama, begitu besar nilainya. Apakah menikah telah menjadi kebutuhan atau sekedar keinginan saja, mengikuti trend karena teman-teman seumuran telah menikah lebih dulu?

Sebelumnya, ketika saya belum tahu visi saya apa. Saya merasa semua perempuan itu cocok, yang itu juga, yang di sana juga. Setelah saya merenung, kok banyak amat yang dirasa cocok. Pada akhirnya tidak bisa menentukan karena telalu banyak pilihan. Visi itu mengantarkan saya pada apa yang saya tuju. Tujuan. Dan ketika jelas apa yang menjadi tujuan menikah, saya bisa melihat dengan terang benderan siapa orang yang bisa bersama menuju tujuan tersebut. Dan orang itu adalah orang yang sevisi tentu saja. Hingga seluruh distraksi itu hilang dan pada akhirnya saya tidak memilih, karena hanya ada satu saja yang dituju. Perempuan itu menjadi tujuan bukan sebagai pilihan. Dia adalah orang yang saya yakini bisa menemani perjalanan saya dan sangat berharga untuk diperjuangkan.

Setiap orang yang melakukan perjalanan akan bertemu pada titik tertentu. Dan orang-orang yang menuju tujuan yang sama akan berjalan bersama. Itulah gunanya visi.

Jika kita saat ini tidak bisa menjawab pertanyaan sendiri tentang, siapakah dia orang yang bisa menjadi teman perjalanan. Maka, caritahulah tujuan perjalanan kita sendiri. Orang-orang yang bergerak dalam jalan yang sama akan bertemu. Seperti itulah cara kerja pertemuan. Kita bisa memilih berjalan lebih cepat atau lebih lambat. Pada akhirnya orang yang bisa menemani bukanlah dia yang lebih cepat atau lebih lambat, tapi orang yang bisa mengimbangi iringan langkah kita. Berjalan bersama. Tidak lebih dulu, tidak pula tertinggal.

Visi tentang pernikahan sangat penting. Sebab pernikahan adalah perjalanan raga dan jiwa. Melintas dunia dan akhirat. Perjalanan panjang itu jika hanya memiliki tujuan yang dangkal, mungkin akan terjadi perpisahan ditengah jalan karena terlalu banyak selisih. Orang yang dikira memiliki tujuan yang sama, ternyata ditengah jalan berbeda tujuan dengan kita.

Bagaimana kita tahu bahwa orang itu menuju titik yang sama dengan alasan yang sama. Maka tanyakanlah tujuannya. Ketika dia mendatangimu (jika kamu perempuan) dan ketika kamu mendatanginya (jika kamu laki-laki). Katakalah dan tanyakanlah apa yang menjadi visi perjalanan itu. Lakukanlah komunikasi visi. Bahkan orang yang memiliki visi berbeda “ada” yang bisa berjalan bersama dengan kompromi yang mereka lakukan. Apalagi yang sevisi?

Lalu bagaimana bila kita belum tahu visi kita apa?

Teruslah cari, pencarian akan selalu bertemu jawab. Entah jawaban itu ya atau tidak. Atau jika tidak kunjung menemukan, kita bisa memilih hidup dalam visi orang lain yang baik. Menjadikan visinya sebagai visi kita dan bergerak bersama.

Bukankah juga suatu hal yang menarik. Ketika kita ingin pergi sementara kita tidak tahu akan kemana, tidak berteman juga. Lantas ada orang lain yang mengajak pergi ke suatu tujuan, orang itu baik dan tujuannya ternyata sangat baik. Why not? Mungkin berpikir dua kali untuk menolaknya bukan.

Visi akan menjadi pendoman kita untuk melakukan strategi jangka pendek dan muara semua strategi itu adalah visi. Pernikahan adalah permulaan perjalanan. Sementara pacaran menganggap pernikahan sebagai tujuan. Pola pikir yang sangat berbeda bukan. Pernikahan adalah permulaan, bukan tujuan.

Lakukan perjalananmu, perjalan kita, dengan awal yang baik. Permulaan yang terbaik. Tentukan tujuan perjalanan dan berjalanlah dengan orang yang setujuan.

Temanggung, Jawa Tengah | 17 Desember 2013

© Kurniawan Gunadi

Tulisan : Keputusan Bersama

Sewaktu masih sendiri seperti ini. Aku memiliki banyak keinginan yang ingin aku wujudkan ketika tidak lagi sendiri. 

Kelak. Tentang banyak hal. Diantaranya adalah pilihan untuk tinggal di mana, di kota mana, di desa atau kota. Berapa anak yang ingin dimiliki. Perkerjaan. Perjalanan. Bentuk rumah. Luas halaman dan luas kebunnya. Berapa kamar di dalamnya. Rencana pendidikan. Apapun itu.

Aku memiliki banyak rencana untuk itu. Namun ketika sore ini aku duduk sambil menikmati teduhnya rasa kopi. Aku merasa bahwa segala keputusan itu tidaklah akan aku sampaikan sepihak. Segala hal itu kelak akan menjadi keputusan bersama, tidak hanya keputusanku sendiri.

Pada akhirnya aku akan bicara. Kami akan saling bicara. Desa atau kota sebagai tempat tinggal kelak akan menjadi keputusan bersama. Di kota mana itu juga keputusan bersama. Berapa anak yang akan kami rencanakan, itu juga keputusan bersama.

Pada akhirnya aku harus tahu apa yang menjadi pilihannya. Pada akhirnya keputusan ini akan kami ambil bersama-sama. Setidaknya aku paham satu hal hari ini. Buatlah persiapan rencana namun bersiaplah untuk mengompromikannya.

Tidak semua yang menurut kita baik adalah baik juga menurut teman hidup kita kelak. Kondisi dan situasi akan terus berubah dan kelak pun akan banyak yang berubah.

Keputusan bersama ini adalah tentang belajar. Belajar bagaimana kita berjalan dalam satu jalan dengan orang lain. Dan jalan itu adalah pilihan bersama. Tidak saling meninggalkan. Namun saling menjaga dan mendorong.

Kita bisa berencana apapun hari ini. Tentang segala hal yang menjadi bayang-bayang kita ketika tidak lagi sendiri. Namun, persiapkanlah untuk mengkomunikasikan segala hal itu. Mengkompromikanya. Kemudian mengambil keputusannya, bersama-sama.

Perjalanan ini jauh, putuskanlah bersama. Jika kita masih memutuskannya sendiri. Jangan salahkan jika teman hidup pun akan membuat keputusannya sendiri.

Temanggung, 10 Desember 2013

© Kurniawan Gunadi