Tulisan : Rasa Cenderung, Tenteram, Kasih, dan Sayang

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar Rum : 21)

Kembali dengan diskusi saya bersama teman baik yang dulu juga membahas masalah bagaimana kita memilih pasangan hidup sementara kita adalah orang-orang yang tidak pacaran. Saya pernah menuliskannya di tulisan dengan judul Dengan Siapa. Silakan baca dulu tulisan tersebut ( klik di sini ) sebelum meneruskan tulisan ini.

Kami bukanlah ahli agama, tapi kami percaya bahwa Quran adalah kitab yang benar. Apapun yang disampaikan disana kami imani dengan semaksimal mungkin. Meski kadang kami bertanya-tanya bahkan seringkali menyangkal.

Membahas mengenai pasangan hidup memang menyenangkan di usia seperti ini. Karena agama ini mengatur segala hal dari bangun tidur hingga bangun negara, maka proses-proses tentang mencari pasangan hidup pun tak akan luput dari aturan-Nya. Diskusi malam ini via line cukup menyenangkan. Pemahaman baru pun masuk. Kami tidak pernah mendengarkan ceramah seperti ini sebelumnya, Mungkin saja Allah memberikan pemahamannya bagi orang-orang yang benar-benar mencari, dan kami mencari, dan inilah yang kami dapatkan.

Di umur 20+ seperti ini. Pikiran kita akan dipenuhi rasa tanya tentang siapakah sosok pendamping hidup kita. Semua berusaha mencari, ada yang menggunakan caranya sendiri, cara ala-liberal, cara islam, dll. Bagi kami, karena kami adalah islam dan islam menyediakan jawabannya. Maka kami akan menggunakan cara yang agama kami tuntun. Bukan yang lain. Sebab bagi kami, agama hanya omong kosong jika tidak diwujudkan dalam perkataan dan perbuatan.

Ditengah gempuran budaya barat dan pemahaman dalam masyarakat yang mewajarkan hubungan sebelum pernikahan yang tidak halal. Kami berusaha bertahan dan mencari argumentasi terbaik untuk mengajak sebanyak mungkin orang kembali kepada pemahaman agama yang lurus. Salah satu godaan terbesar memang syahwat. Kecenderungan lawan jenis dan ini sangat rawan di usia pra-nikah. Jika tidak dibentengi dengan pemahaman yang kuat dan fundamental. Seorang yang nampak alim, berkopiah sarung kemana-mana, hafalannya segudang, jilbabnya lebar kemana-mana, dan sejenisnya bisa terjerumus.

Dari Quran Surat Ar Rum ayat 21. Kami terpesona dengan apa yang Allah sampaikan. Meski kami seringkali melihatnya di lembar undangan walimah. Atau membacanya berulang kali. Baru sekali ini kami paham sesuatu makna yang sangat dalam dari satu ayat tersebut.

Allah menciptakan kita dan pasangan kita dari jenis yang sama, sama-sama manusia. Ternyata apa yang saya sampaikan ditulisan sebelumnya tertulis di sini dan itu ternyata jauh lebih dari cukup.

Perhatikan urutan dalam ayat tersebut.

1.       Cenderung

2.       Merasa tenteram

3.       Kasih

4.       Sayang

Bahkan dengan rasa cenderung pun kita sudah bisa menjawab pencarian kita dalam mencari pasangan hidup. Kita menyukai seseorang dalam sekali bertemu. Itu bisa saja terjadi dan bisa dilanjutkan dalam proses selanjutnya (taaruf). Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Jika rasa cenderung saja sudah menjawab apakah orang itu atau bukan. Jadi jika sudah sampai merasa tenteram (tenang) itu sudah lebih dari cukup.

Bahkan ada kisah, seseorang yang melamar seorang perempuan hanya karena laki-laki itu membaca tulisan di blognya. Atau bertemu sekali di pengajian. Berpapasan sekali di lorong sekolah. Bahkan beberapa orang hanya melihat fotonya saja ketika ditunjukan oleh murabbinya. Banyak cerita yang membuat kami tertegun dan takjub. Bagaimana bisa. Bukan tentang proses bertemunya mereka. Tapi bagaimana bisa mereka begitu percaya dan mempercayakan hidupnya kepada-Nya dan memilih cara-Nya untuk mencari pasangan hidupnya. Keyakinan yang bahkan sampai saat ini masih pasang surut pada kami.

Kasih sayang baru ada setelah akad nikah. Ketika kecenderungan terjawab dan rasa tenteram telah hidup. Pada ayat tersebut penulisan cenderung dan tenteram itu tidak menjadi satu dengan kasih dan sayang. Coba perhatikan. Kata Kasih bisa masuk dalam kelompok kata kerja (verb). Setelah meng-kasih maka timbullah sayang.  Sebenarnya saat belum halal bisa saja kita kasih ke orang itu dan bisa juga timbul sayang setelah kasih itu. Tapi, bagimana nilai kasih dan sayangnya? Berkahkah? Apakah yang sebenarnya kita cari dari hidup? Keberkahan atau sesuatu selain itu?

Ar Rum ayat 21 menjawab semuanya dengan jelas. Bahwa proses perasaan itu dari mulai cenderung – tenteram – kasih – sayang adalah proses yang akan dilalui oleh hati kita.  Ketika mencari pasangan hidup di usia ini dan dengan keyakinan yang seyakin-yakinnya pada apa yang telah Allah halalkan dan haramkan. Maka, kami percaya bahwa rasa cenderung itu cukup untuk memulai. Memulai memperkenalkan diri kepadanya dan keluarganya, memulai seluruh proses keseriusan itu, tidak sekedar bermain-main.

Allah yang menyuruh kita menikah, maka Dia pasti menjamin segala hal berkaitan dengan hal itu. Proses, Jodoh, Rejeki, semuanya telah Dia jamin. Tinggal bagaimana kita beriman kepada-Nya dan pada apa yang menjadi perintah-Nya. Maka orang-orang yang meragukan-Nya pun, termasuk meragukan aturan-Nya akan selalu diselimuti rasa ragu-ragu. Ragu-ragu apakah proses itu menjamin mendekatnya jodoh. Ragu-ragu apakah dia bisa menemukan jodohnya melalui proses-Nya itu.  Atau ketika dia telah keluar dari apa yang Dia berikan, dia akan diselimuti keraguan yang tidak ada habisnya. Tentang apakah orang yang jadi kekasihnya saat ini adalah orang yang tepat. Tentang materi yang  tak kunjung cukup. Tentang keluarga yang tak kunjung saling kenal. Tentang terlalu lamanya berkasih-kasihan tapi tidak jelas kemana tujuan.

Semakin kita menjauh dari-Nya maka kita akan semakin hidup dalam keraguan. Kami memilih percaya dan mempercayakan hidup ini kepada-Nya. Dan kepercayaan kami, kami yakini akan digantikan dengan hal yang sebaik-baiknya. Yaitu rasa tenteram dalam menjalani hidup ini.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Temanggung, 23 November 2013

©Kurniawan Gunadi

Tulisan : Dengan Siapa

Obrolan dengan teman baik saya beberapa waktu yang lalu sangat berkesan. Karena kami adalah orang-orang yang tidak sepakat dengan konsep pacaran. Lalu kami berpikir kedepan, bagaimana kiranya kami akan merasa cocok dengan seseorang. Sebuah alasan yang seringkali digunakan oleh orang yang pacaran tentang mengenal (menjajaki dengan pacaran) pasangan terlebih dahulu biar gak salah pilih. Kami tidak sepakat dengan alasan itu dengan alasan yang tidak perlu kami utarakan di sini (nanti kepanjangan). Bagi kami, dengan keyakinan kami, ada satu hal yang kadang membuat kami cemas, kadang pula membuat kami senyum-senyum sendiri.

Kira-kira, dengan siapa kami akan bertemu? Dengan siapa kami akan dipasangkan.

Saya kira, setiap orang yang memilih pilihan untuk tidak pacaran pun memiliki rasa penasaran, rasa cemas, rasa bahagia, dan berbagai rasa lain yang terjadi dalam satu waktu. Entah itu tentang siapa dia, tentang bagaimana cara bertemu, tentang mengapa dia, tentang kapan itu terjadi, dll.

Dalam pembicaraan kami, setidaknya ada dua hal yang bagi kami itu cukup. Dengan siapa? Dengan salah satu dari dua hal ini, atau syukur-syukur dua hal ini menjadi satu sekaligus. Jika ditanya, kiranya kamu ingin menikah dengan siapa. Inilah dua hal yang (menurut kami) penting yang akan menjadi landasan kami.

Karena cinta dalam keyakinan kami baru benar-benar akan tumbuh jika sudah berada dalam ikatan, menjalani hidup bersama-sama setiap hari, mengenal karakter seseorang secara utuh dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan saat tidur.

  • Pertama, saya akan menikah dengan orang yang saya “cintai” dan “mencintai” saya (agak drama, tapi ini serius)

Cinta dalam hal ini adalah rasa kecenderungan kepada seseorang. Dalam hidup ini, seringkali kita semua termasuk saya, tertarik kepada seseorang. Dalam fase itu, kadang kita bisa melihat bahwa seseorang itu suamiable/istriable. Tapi, apakah dia juga memiliki persepsi yang sama terhadap kita. Seseorang yang saling mencintai tentu akan sangat membahagiakan ketika menikah. Kita menyukai seseorang dan dia ternyata juga menyukai kita, bukankah sebuah hal yang indah. Di dalam keyakinan kami yang tidak berpacaran, alangkah bahagianya ketika kami menyukai seseorang  dan ternyata itu berbalas. Menyukai seorang yang soleh/solehah, dan ternyata dia juga menyukai  balik.

  • Kedua, saya akan menikah dengan orang yang membuat saya “tenang”.

 Jika yang dimaksud cinta itu tidak kunjung dirasakan. Jika dia menjadi semakin absurd dan membuat kita bingung. Maka, kami berpendapat, cukup dengan seseorang yang mampu membuatmu merasa tenang. Ketika datang seorang laki-laki kepada perempuan, lalu perempuan merasa tenang. Mungkin itu sudah cukup untuk menerimanya. Ketika laki-laki bertemu dengan seorang perempuan, dan kepada perempuan itu dia merasa tenang, itu juga mungkin sudah cukup. Cinta bisa ditumbuhkan setelah pernikahan. Merasa tenang itu penting bagi kami, kami tidak akan memilih menikah dengan orang yang membuat kami gelisah, bingung, marah, dsb. Jika diawal sudah seperti itu, bagaimana kedepannya.

Jika datang orang yang bisa membuat kita tenang, mungkin itu cukup untuk menjadi alasan menerimanya. Setiap orang mendambakan ketenangan, ketenangan itu jauh lebih mendamaikan daripada rasa nyaman. Ketenangan meliputi batin dan tubuh.  Bahkan hilang rasa khawatir, apakah dengannya ini kita akan tidak bahagia, miskin, dsb. Semua kekhawatiran itu tidak ada karena kita merasa begitu tenang dengan orang ini. Sekalipun tidak ada rasa cinta pada awalnya.

Dua hal ini, mana yang datang lebih dulu. Itu yang akan kami terima. Ditengah umur yang terus menerus bertambah, daripada bikin dosa kebanyakan. Ditengah kebingungan tentang menerka-nerka masa depan. Kami merumuskan hal ini untuk mencari tahu apa yang sebenarnya kami ingin tahu dan kami butuhkan.

Ternyata dua hal ini cukup. Bukan soal ketampanan atau kecantikan, bukan pula soal anak siapa dan berapa hartanya. Apalagi sekedar nama almamater dan profesi. Jika saat ini kita menyukai seseorang dan ternyata dia tidak. Ya cinta memang tidak bisa dipaksakan, karena hati itu bukan dalam kuasa manusia. Mungkin sudah waktunya bagi kita merenung, apakah dia yang benar-benar kita butuhkan. Jika kita membutuhkannya, apakah dia juga membutuhkan kita. Perasaan ini bahkan membuatmu tidak tenang bukan?

Selamat mencari, semoga bertemu. Tidak hanya bertemu, tapi juga disatukan.

Temanggung, 6 November 2013

Tulisan : Antara Kata dan Akibatnya

Seorang pria muda celingak-celinguk di koridor utara masjid. Berharap tak seorangpun melihatnya. Sebuah buku merah jambu dia keluarkan dan ia baca dengan hati-hati. Tanpa disangka, seorang teman menganggetkannya. Perhatiannya tertuju pada buku merah jambu dan merebutnya. Sambil berteriak ke arah teman yang lain,“Hai, si X lagi baca buku Persiapan Terbaik Sebelum Nikah ni”.

Malu bukan kepalang, sejak saat itu si X tidak akan lagi membaca buku soal persiapan nikah.

Di belahan bumi yang lain.

Seorang remaja putri asik membaca buku merah jambu di kamar kos-nya. Teman-teman se-kajian-nya tiba-tiba berkunjung. Bersegera ia menyembunyikan buku itu agar tak sampai diketahui. Tak disangka, buku itu terlihat dan diambil.

Lagi, temannya itu menertawakannya dan mangatakan : “Ciyeeee galau amat bacaannya”. Esoknya dia membuang buku itu di tempat sampah. #esktrimsekali

Di belahan bumi yang lain pula.

Ada seorang aktivis kampus dan aktivis masjid yang sangat keren. Tegar perkasa, membuat meleleh setiap cewek yang memandangnya. Pada suatu ketika, ada buku merah jambu yang ia bawa di tasnya dan diketahui oleh teman-teman se-aktivis-nya. Tersiarlah kabar seantero dunia bahwa dia lagi galau mau nikah. Dan dengan entengnya, aku salah satu dari mereka berkata. “Lemah sekali kau bacaannya, hahahaha”

Sering, sering sekali aku. Jika kalian merasakan hal yang sama juga mungkin saja. Seringkali aku mengatakan hal seperti itu kepada orang lain. Kepada orang-orang yang ingin belajar tentang hal itu (nikah) dan mengatainya. Membuat mereka urung untuk memulai belajar.

Aku pun mengalami hal serupa, dikatakan ini itu sebab mengikuti sebuah Sekolah Pra Nikah dari Masjid Kampusku. Atau sebab buku bacaanku cenderung mengarah kesana, atau tulisan yang aku buat sebagian besar mengindikasikan hal tersebut.

Aku berpikir akhir-akhir ini.

Setelah berpikir seperti itu, aku berjanji tidak akan melakukan hal serupa kepada siapapun. Aku akan menjadi orang yang mendukung.

Pernah aku terpikir, jangan-jangan, Akulah kelak yang menjadi penyebab keretakan dan ketidak harmonisan keluarga teman saya. Hanya sebab dulu ketika teman saya ingin belajar tentang menikah baik dari buku/sekolah/pengajian aku menertawakannya dan membuatnya urung, menjadi malu untuk belajar hal tersebut.

Pernah aku terpikir, jangan-jangan. Akulah kelak yang menjadi sebab ketidakrukunan keluarga teman-temanku. Hanya karena aku menertawakannya ketika teman laki-lakiku sedang belajar mengenai perempuan melalui buku. Aku telah menertawakannya dan membuatnya enggan belajar lagi sehingga dia tidak bisa memahami perempuannya kelak suatu hari nanti.

Aku merasa bersalah dan berjanji tidak akan menertawakan dan mengatai siapapun yang ingin belajar tentang nikah. Akan aku sediakan seluruh buku-buku ku yang mengarah ke hal tersebut untuk dipinjamkan. Akan aku sediakan waktuku untuk mendukungnya belajar sebaik-baiknya.

Seringkali dalam hidup, kita tidak bisa mengontrol apa yang kita katakan. Meski itu sebuah candaan. Tapi tidak semua orang menganggap itu adalah sebuah candaan. Apa susahnya bagi kita untuk mendukung niat baik seseorang. Seseorang tidak akan menjadi lemah hanya karena ikut sekolah pra nikah. Seseorang tidak akan menjadi galau hanya karena ingin menikah.

Aku adalah orang yang akan mendukung teman-teman. Aku tidak akan lagi menertawakan, tidak akan lagi mengatai galau dan sejenisnya. Aku tidak ingin menjadi sebab, ketidaksiapan teman-teman untuk menikah, dan menjadi sebab ketidaktahuan dan kekurang-ilmuan teman-teman dalam berumah tangga nantinya.

Aku minta maaf kepada siapapun yang pernah aku tertawakan dan aku katai. Belajarlah, aku akan menjadi orang yang mendukung 🙂

?

Bandung, 28 Mei 2013

Tulisan : Jodoh dan Kualitas

Jodoh bukanlah tentang siapa dia, tapi bagaimana aku – nn

____________________________________________________

Ini menarik, Allah tidak mengatakan secara langsung dalam Al Quran yang mulia bahkan Nabi dengan hadistnya yang menyatakan bahwa jodoh kita telah ditulis berupa nama seseorang. Bahwa Fulan akan berjodoh dengan Fulanah.

Beberapa dari kita juga ramai membicarakan tentang memperbaiki kualitas diri tanpa tahu apa yang mendasarinya. Bermodal yakin pada sebuah janji Allah saja. Bahwa perempuan baik-baik akan berjodoh dengan laki-laki baik-baik dan sebaliknya. Tanpa mempertimbangkan lagi dan bertanya, seperti apa penilaian dan kriteria baik tersebut menurut Allah.

Meski kita telah berupaya menghapalkan aneka surat dalam quran, shalat wajib dan sunah. Puasa senin-kamis. Apakah kita telah dinilai seorang yang teramat baik sehingga kita pantas mendapatkan seorang bidadari atau seorang pangeran?

Itulah yang Allah rahasiakan, bagaimana cara Allah memasangkan hamba-hamba-Nya. Seperti pada pembuka tulisan, tak satupun dari kalimat quran dan hadist yang mengatakan bahwa jodoh telah ditetapkan berupa seseorang dengan seseorang.

Allah menjodohkan “kualitas”.

Mari saya ajak bertamasya pikiran ala kurniawangunadiologi.

Fyi, saya termasuk orang yang percaya bahwa kalimat al quran akan dipahami orang secara berbeda-beda tergantung pada kadar iman dan kadar ilmunya. Serta tujuannya.


QS An Noor ayat 3

Laki-laki berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.

QS An Noor ayat 26

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula). dan wanita-wanita baik-baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik-baik (pula). ……

Perhatikan, Allah memasangkan kualitas

Pezina/Musyrik <<—->> Pezina/Musryik

Keji <<—->> Keji

Baik-baik <<—->> Baik-baik

Mukmin <<—->> Mukmin

Mari kita perhatikan kode dari Allah ini. Dalam banyak kasus di masyarakat kita. Kita menjumpai ada seorang perempuan yang baik tapi suaminya jahat amit-amit jabang bayi.

Kita juga mendapati ada seorang laki-laki yang maaf
( cacat secara fisik baik itu pendek, dsb ) tapi mendapatkan perempuan yang normal dan baik.

Anomali kan ? itulah Allah yang maha rahasia. Cara kerja Allah tidak pernah bisa dipahami dengan logika manusia bukan? Karena logika kita sendiri diciptakan oleh-Nya.

Mari lagi-lagi saya ajak bertamasya pikiran.

Allah mengajarkan kita melalui berbagai anomali, jika kita dilahirkan normal dengan keadaan fisik yang sempurna. Mengapa harus ada yang lahir cacat padahal Allah bisa dengan mudah melahirkan mereka dalam keadaan yang sama seperti kita. Jawabannya : agar kita berpikir – belajar – memahami.

Sama pula dengan jodoh tadi.

Allah sama sekali tidak mengatakan bahwa Kurniawan Gunadi akan berjodoh dengan siapa misalnya. Tapi yang dijodohkan adalah kualitas kurniawan gunadi saat ini berjodoh dengan kualitas seorang perempuan di seberang sana.

KUALITAS !

Nah, yang udah sering bicara tentang meningkatkan kualitas diri.

Ada satu hal yang sekali lagi harus dipahami dengan tepat dan dalam. Bahwa ukuran kualitas kita bukanlah kita yang menilai, tapi Allah. Dan kualitas itu saya pahami diukur secara menyeluruh. Total.

Bisa jadi kamu adalah perempuan yang amat sangat menutup aurat – tilawahnya bagus – hapalannya banyak dan segala kebaikan lainnya tapi Allah menjodohkanmu pada seorang laki-laki yang sebaliknya, hafalannya buruk – bacaan qurannya kurang lancar – suka melamun.

Lantas, apakah kamu serta merta menolak semua “takdir” itu. Maka seperti melihat sebuah daun, jika orang kebanyakan hanya melihat daun dari tampak atas, mari kita lihat daun dari bahwa dimana tulang-tulang daun begitu menonjol, permukaan yang lebih kasar daripada permukaan atasnya.

Allah menjodohkan kualitas itu secara total. Apakah kamu melihat bahwa laki-laki tadi memiliki kebaikan dalam sisi yang lain. Laki-laki tersebut amat bertanggung jawab pada hidupmu. Yang setiap bertemu pada ayah-ibumu perkataannya lembut dan selalu mencium tangan mereka.

Sama halnya pada laki-laki sok idealis yang menginginkan istri layaknya Khadijah r.a. Apakah dia telah sepadan dengan Nabi SAW?

Jika perempuanmu ini tidak pintar memasak, pencemburu yang amat sangat, cerewet dan sangat teliti. Agamanya belum baik, bahkan mungkin tingkat pendidikan formalnya jauh dibawahmu. Atau gara-gara perempuan tersebut belum menutup aurat dgn baik, belum berkerudung seperti harapanmu misalnya. Apakah kamu sebagai laki-laki serta merta menolak semua itu. Tanpa mau sedikitpun melihat kualitasnya yang lain. Dia yang sangat menyayangi anak-anak, dengan ketelitian dan cerewetnya dia selalu mengingatkanmu dalam hal-hal baik. Dia tidak bisa memasak bukan sebuah masalah besar bukan ? Kamu tetap masih bisa makan.

Ingat saja Allah itu bilang, Arrijalu Qowwamuna ‘Alannisa | (QS. An Nisa : 34). Kalian (laki-laki) sengaja diciptakan untuk menjadi pemimpin bagi mereka (perempuan), maka jadilah pemimpin yang baik, yang melindungi, yang membimbing, yang bijak. Pemimpin yang baik juga harus mendengarkan orang yang dipimpinnya ! Bukan begitu?

Soal kualitas, itulah. Kita harus melihat kualitas jodoh kita nanti secara menyeluruh, bukan secara parsial. Manusia jenis kita ini lebih suka melihat seseorang dari sisi buruknya lantas dengan itu kita menggugurkan segala sisi baiknya.

Kita tentu memiliki kriteria masing-masing dan tentang seperti apa jodoh yang kita harapkan. Ya itu manusiawi.

Mari kita perbaiki kualitas diri kita dan tetaplah berpegang teguh pada satu keyakinan. Bahwa jodoh kita nanti adalah orang yang kualitas totalnya setara dengan kita. Kualitas yang Allah nilai, bukan yang manusia nilai.

Terus ada yang tanya, gimana kalau cerai ? Berpikir balik saja, berarti kualitas mereka tidak lagi setara. Suami-istri tidak mampu mempertahankan kesetaraan kualitas secara bersama. Cerai adalah ketika kualitas keduanya jurangnya sudah terlampau jauh. Pernikahan adalah sebuah lembaga bagi suami-istri untuk saling dan sama-sama meng-upgrade kualitas nya. Bukan hanya salah satu 🙂

Gimana kalo membujang sampai mati ? Ada 2 kasus: pertama orang yang sengaja men-single-kan diri. Menolak menikah tanpa alasan yang logis seperti sakit keras, menderita sakit menular, dan sebegainya. Telah jelas bahwa mungkin Allah melihat bahwa kualitas dirinya telah jatuh hingga tak satupun perempuan/laki2 di muka bumi ini yang kualitasnya sama dengannya. Nabi sendiri mengatakan bahwa, tidak termasuk umatnya bagi orang yang membenci sunahnya. Kasus kedua, orang yang tak kunjung bertemu jodohnya meski telah berusaha mencari tapi tidak ketemu-ketemu sampai mati. Karena hukum nikah itu bukan fardhu’ain. Allah lebih memahami perkara ini, saya sendiri belum menemukan pemahaman yang tepat mengenai anomali yang satu ini. Bisa jadi Allah mempersiapkan untuknya yang lain di akhirat sebagai pengganti atas keimanannya dan ketaqwaannya. Atau wallahu’alam. Semoga Allah melindungi saya dari dosa atas jawaban yang seenaknya ini.

Allah merahasiakan jodoh agar kita mengusahakannya kan? Kita mau ngambil dengan jalan halal atau haram, kitalah yang pilih. Jodoh tidak akan tertukar, karena seolah-olah kita sendirilah yang “menentukan” keputusan Allah tersebut.

Manusia seperti kita ini sejak lahir telah diilhami untuk memilih jalan baik atau buruk. Saya pernah mengatakan bahwa pacaran tidak serta merta membuat jodoh itu dekat,pun jomblo tidak akan membuat jodohmu menjadi jauh.

Ingat sekali lagi. Jodoh bukanlah perkara pasangan nama, namun pasangan kualitas. Selamat memperbaiki diri. 😀

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. (Mengapa?) Allah maha mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Albaqarah: 216).

Bandung, 9 Mei 2013

SPN #8 : Pernikahan Menurut Negara dan Tradisi

Bismillah ar Rahman ar Rahim

SPN #8 ( Ahad, 14 April 2013 ) adalah sesi terakhir dari seluruh rangkaian Sekolah Pra Nikah yang diadakan oleh Salman ITB. Pada sesi terakhir ini, materi yang dibahas adalah pernikahan menurut pandangan negara dan tradisi. Mengapa tidak disertakan pandangan agama dalam bahasan ini, sebab sudah jelas dari materi SPN #1 – #7, kita telah membahas pernikahan menurut agama 🙂

Kita harus sadar bahwa kita hidup di sebuah negara dimana di dalamnya terdapat aturan/hukum/undang-undang yang berlaku untuk mengatur tata cara hidup masyarakat. Tak terkecuali tentang pernikahan sebagai implementasi syariat yang dikukuhkan dalam peraturan-peraturan negara.

Selain itu, kita khususnya yang hidup di Indonesia, memiliki keanekaragaman suku bangsa yang hal itu juga berdampak pada cara pandang suatu suku bangsa tersebut terhadap berbagai permasalahan. Tak terkecuali pula masalah pernikahan.

Pertama-tama kita harus menjadikan agama sebagai acuan paling hak, kemudian kita juga wajib mentaati aturan yang berlaku selama aturan tersebut tidak melanggar syariat dan demi kemashlahatan.

NIKAH DALAM PANDANGAN NEGARA

Negara telah mengatur pernikahan dan tata caranya berdasar pada aturan dari agama masing-masing. Khusus untuk bahasan kali ini, agama islam. Agama telah membentuk lembaga-lembaga untuk mengurus, menuntun, dan mengawasi urusan-urusan agama islam, salah satunya urusan pernikahan.

Perubahan zaman telah menuntut adanya perubahan birokrasi, demi kemashlahatan bersama. Nikah yang pada zaman dahulu, dengan terbatasnya akses komunikasi, wilayah pergaulan yang tidak seluas saat ini. Tentu akan menuntut tata cara yang berbeda dengan zaman sekrang.

KUA dibentuk oleh Dep.Agama sebagai lembaga yang mencatat dan mengawasi pernikahan. Mengapa pernikahan perlu dicatat oleh negara, hal ini dilakukan demi kemashlahatan masyarakat. Pencatatan nikah diperlukan negara untuk melindungi warga negaranya dari tindakan penyelewangan dari pernikahan.

Oleh sebab itu, nikah siri dan sejenisnya meski “dikatakan” sah menurut agama, tapi belum sah menurut negara. Ada cukup banyak dan detil mengenai prosedur pernikahan melalui KUA, hal tersebut sekali lagi dilakukan demi kebaikan, mengingat di zaman ini, pernikahan sering dilecehkan oleh oknum yang menganggap rendah makna sebuah pernikahan.

Mengaku pandai agama kemudian menikah siri karena menganggap negara yang ada saat ini belum sesuai syariat. Ada banyak orang terjebak dalam kubangan pikiran sempit, dan dalam kasus pernikahan siri dsb yang jelas paling dirugikan (pada zaman ini) adalah perempuan.

Nikah siri tersebut dilakukan tanpa diketahui oleh negara, tanpa pengumuman kepada khalayak bahwa telah terjadi pernikahan.

Jika seorang laki-laki benar-benar serius dan memiliki iman yang baik. Tentu saja dia tidak akan ragu-ragu untuk menikahi perempuan secara terang-terangan bukan ?

Apakah hanya karena ketakutan tidak mampu mengendalikan nafsu, ketakutan tidak mampu menjaga diri lantas menjadikan alasan yang sah untuk nikah siri ?

Negara tidak bisa melindungi ( terutama perempuan ) dalam kasus tersebut karena tidak ada catatan pernikahan oleh negara. Tidak ada bukti sah menurut negara yang menjadikan kepastian hukum baginya. Negara telah memfasilitasi pernikahan, berusaha melindungi pernikahan dan individu yang terlibat dalam pernikahan tersebut.

Meski ada beberapa kontroversi dan pendapat mengenai hal ini, terutama keterlibatan negara. Saya sendiri, memiliki pendapat bahwa kita sebagai seorang muslim memiliki kewajiban untuk taat kepada pemimpin. Selama ketaatan tersebut tidak untuk hal-hal yang mendatangkan murka Allah.

NIKAH MENURUT TRADISI

Akan sangat menyenangkan mungkin rasanya apabila kita mendapat pasangan yang berbeda latar belakang suku bangsa. Akan ada pertemuan dua tradisi yang bisa jadi sumber kecocokan atau sebaliknya.

Perlu adanya komunikasi yang baik antara dua keluarga tersebut.

Dalam tradisi, ada banyak sekali upacara/ritual dalam resepsi pernikahan. Kita sebagai seorang muslim harus pandai-pandai menyikapi dan memilah, mana tradisi yang baik dan yang bertentangan dengan syariat islam.

Dalam syariat islam, kita hanya diwajibkan adanya akad dan walimatul ‘ursy meski hanya memotong seekor kambing. Tidak ada upacara adat yang njilmet, rambut disanggul sana sini, atau yang lain. Itu adalah tradisi, setiap daerah dan negara memiliki tradisi upacara pernikahannya masing-masing.

Islam adalah koridor yang membatasi mana yang baik dan mana yang tidak baik dengan jelas. Jangan sampai, kita terjebak dalam tradisi yang justru bertentangan dengan syariat islam dan lebih cenderung kepada syirik. Menaruh sesaji di perempatan jalan misalnya, atau mengenakan pakaian ( dalam upacara nikah ) yang justru memperlihatkan aurat. Atau menghadirkan standing party yang nabi sendiri telah mengingatkan agar kita makan dan minum sambil duduk.

Tradisi pun ada yang baik, seperti upacara sungkeman ( tradisi jawa ) , karena penulis ini lahir dalam tradisi jawa, saya sendiri telah memilah mana tradisi yang bisa dilaksanakan dan baik, dan mana yang tidak.

Foto pre-wed juga tidak ada dalam islam, tradisi itu tidak hanya soal adat-kebiasaan suku bangsa, tapi juga tradisi/kebiasaan masyarakat modern yang cenderung mencontoh tren kebarat-baratan.

Sebelum pernikahan, jelas bagi seorang laki-laki dan perempuan tidak diperkenankan saling memegang atau beradegan mesra dibalik lensa kamera. Pemahaman-pemahan terhadap berbagai fenomena dalam pernikahan ini harus kita cermati dan sikapi dengan landasan aturan agama yang telah kita yakini.

Ada banyak studi kasus yang bisa kita pelajari dan telaah mengenai tradisi, terutama tradisi kita masing-masing. Ambil yang sesuai dan baik menurut agama.

Sekian Materi SPN dari #1 hingga #8, inshaAllah pembahasan mengenai SPN akan dilanjutkan dalam bentuk #Tulisan berdasar pada beberapa sumber dan buku materi SPN, karena ada beberapa bahasan yang sebelumnya tidak tersampaikan.

Semoga diberikan kesehatan dan waktu untuk menuliskannya.

SPN adalah Sekolah Pra Nikah yang diadakan oleh Salman ITB, terbuka untuk umum bagi siapa saja yang ingin belajar mengenai persiapan pernikahan.

Penulis menerima saran, kritik, tanggapan dan diskusi, materi rangkuman  SPN#1 – #8 ditulis berdasar pada catatan penulis. Semoga tulisan tersebut memberikan manfaat untuk kita semua.

Jzk

SPN #7 : Manajemen Keuangan Rumah Tangga

Bismillah Ar Rahman Ar Rahim

Pada pertemuan ke-7 ( 7 April 2013 ) ini akan dibahas mengenai Manajemen Keuangan, bagaimana cara mengelola perekonomian keluarga agar tercipta kehidupan rumah tangga yang stabil dan harmonis. Ibarat sebuah negara, keluarga adalah miniatur sebuah negara dimana didalamnya terdapat RAPBN yang akan dijalankan oleh negara tersebut. Strategi dan aneka langkah taktis digunakan untuk membuat neraca nya jangan sampai defisit.

Dalam mengawali kehidupan rumah tangga, kita sering mendengar pasangan didoakan untuk menjadi keluarga yang sakinah-mawadah-warrahmah, dalam bahasa yang lebih sederhana ketiga hal tersebut adalah “hayatan thayyiban” ( kehidupan yang baik ).

Seperti apakah kehidupan yang baik itu ?

Dalam masyarakat saat ini, kehidupan yang baik dapat diindikatorkan pada religius-sosial-materi-kesehatan, keempat hal tersebut seimbang. Tidak berat salah satu atau kurang salah satu.

Contoh, kita rajin beribadah namun tidak bersosial dengan masyarakat disekitar kita, itu tentu tidak baik. Jika ingat sebuah cerpen dari A.A Navis – Robohnya Surau Kami, cerita disana dapat menjadi gambaran hubungan dengan Allah juga harus diimbangi dengan hubungan kepada sesama manusia.

MATERI

Materi tidak melulu berkaitan dengan uang, dalam pernikahan, untuk mencapai beberapa keinginan/kebutuhan selalu dibutuhkan adanya materi. Suami diwajibkan mencari nafkah dan menafkahi secara layak keluarganya.

Hidup adalah proses perjalanan, dimana setiap perjalanan selalu ada tujuan. Pernikahan adalah proses perjalanan, dalam kehidupan rumah tangga akan selalu diwarnai dengan cita-cita dan keinginan. Keinginan memiliki rumah, keinginan memiliki kendaraan yang layak, pakaian yang bagus, pendidikan yang paling baik untuk anak-anak, berlibur, dan aneka keinginan lain yang mau tidak mau membutuhkan materi yang cukup banyak.

Perlu adanya kesepahaman dan kesepatakan antara suami dan istri dalam mengatur perekonomian keluarga, hal ini harus dilakukan agar cita-keinginan tersebut dapat diwujudkan bersama-sama.

Suami bekerja mencari nafkah adalah salah satu bentuk kecintaannya kepada istri-anak nya, rasa cinta yang mendorongnya terus bekerja keras demi mewujudkan kebahagian dan rasa nyaman dalam kehidupan rumah tangganya, memenuhi segala kebutuhannya.

Istri dalam banyak fakta adalah pengatur keungan rumah tangga yang dominan, peranan perempuan dalam rumah tangga untuk menjaga kestabilan ekonomi sangat besar. Perempuan disifati dengan sifat cermat, tidak seperti laki-laki yang cenderung ceroboh-tidak teliti. 

PENGATURAN PEMASUKAN

Pendapatan baik berupa uang atau wujud lain harus dipastikan bahwa uang tersebut tidak hanya halal, namun juga baik. 

Harta suami adalah milik istri, namun harta istri tetaplah milik istri dimana laki-laki tidak boleh menggunakan tanpa seijin istrinnya. Pemasukan yang didapatkan harus diantur cash flow nya agar terencana dengan cermat setiap pengeluaran yang dilakukan dan memastikan pemasukan berasal dari sumber yang jelas. Hal ini untuk menghindari kita dari penggunaan harta yang sia-sia.

Kita harus paham bahwa rejeki itu berasal dari Allah, segala hal yang kita miliki adalah titipan. Jadikanlah harta yang kita miliki ini digunakan untuk mencapai tujuan yang diridhai Allah.

Bagaimana cara kita mengoptimalkan harta yang kita miliki di jalan Allah inilah yang akan menjadi bahasan tersendiri. Dalam kehidupan disaat ini, banyak sekali godaan untuk menggunakan harta tersebut secara sia-sia. Gaya hidup konsumtif dan hedonisme telah menjarah pemahaman kita bahwa harta kita ini sejatinya didalamnya ada hak-hak lain yang harus kita tunaikan. Didalamnya ada hak anak yatim, ada hak Allah pula yang terkandung. 

Masalah pendapatan ini sangat rahasia, jika suami seorang pegawai dengan gaji tetap, ada titik terang yang pasti bahwa ada sekiah rupiah yang masuk, namun tetap saja pengaturan Allah tentang rejeki ini sangatlah rahasia. Bahwa setiap makhluk telah dijamin rejekinya melalui berbagai jalan yang tidak terduga. 

Kadang pemasukan pun datang dari sumber yang tidak terduga sama sekali,  bentuk yang diperoleh pun tidak sekedar uang, bisa jadi bingkisan kue dari rekan, kado dari tetangga, atau sekedar ajakan makan siang gratis atau bahkan menang kuis berhadiah.

PEMBELANJAAN HARTA

Dalam membelanjakan harta, suami dan istri harus memiliki kesepakatan dan pemahaman yang sama, bahwa harta adalah titipan, didalamnya terkandung hak-hak lain yang harus ditunaikan, diantaranya hak Allah dan hak orang lain.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan diagram dan uraian dibawah :

image


PEMASUKAN

Dalam uraian mengenai pemasukan diatas, telah dipahami bahwa pemasukan haruslah halal dan baik ( halalan thayiban ). Suami khususnya sebagai orang yang wajib menafkahi keluarga harus selektif dalam mencari nafkah, sumber harus halal, caranya juga harus halal. Yang halal pun tidak selamanya baik. Menafkahi keluarga haruslah dari harta yang halal dan baik. 

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan …. ( QS. 2:168 )

Istri juga harus mengingatkan suami mengenai harta yang masuk, jangan sampai keluarga diberi makan dari sumber yang haram. Harus ada filter halal-haram yang kuat pada diri suami dan istri. Agar dalam keadaan terdesak tidak menggunakan cara haram untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya.

PENGELUARAN

Pada urian pengeluaran, kami sajikan urutan prioritas pengeluaran yang harus dipahami dengan benar oleh kita.

PRIORITAS 1 : HAK ALLAH

Dari pemasukan yang kita peroleh, pengeluaran pertama yang harus kita keluarkan adalah Hak Allah. Hak ini berupa ZIS ( Zakat, Infaq, Sedekah ). Ambilah sebagian dari harta tersebut pertama-tama untuk hak Allah. Hal pertama ini harus disepakati oleh suami-istri sejak awal, jika tidak bisa menjadi masalah, dimana salah satu lebih mengutamakan kepentingan keinginan terlebih dulu daripada menunaikan hak Allah ini.

Harta adalah titipan, didalamnya Allah menitipkan haknya pula. Membelanjakan harta dijalan Allah akan lebih banyak manfaat dan pahalanya.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. ( QS. 2:261)

PRIORITAS 2 : HAK ORANG LAIN

Hak orang lain meliputi hutang (apabila memiliki hutang) harus dibayar lebih dulu, gaji asisten rumah tangga/PRT, dan orang lain yang memang harus kita “bayar” dengan harta kita. Bayarkanlah dulu hak mereka.

PRIORITAS 3 : HAK MASA SEKARANG

Barulah setelah 2 hak prioritas sebelumnya telah ditunaikan, prioritas ketiga ini adalah hak saat ini, yakni memenuhi kebutuhan rumah tangga, membeli ini itu untuk keberlangsungan kehidupan rumah tangga. Membayar tagihan rumah, biaya pendidikan, ongkos bensin, dan lain-lain. Belanjakanlah harta sesuai dengan kebutuhan. Hindari sifat konsumtif, membeli barang-barang yang tidak diperlukan hanya karena keinginan dan hawa nafsu.

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah-tengah antara yang demikian. (Q.S. 25:67)

PRIORITAS 4 : HAK MASA DEPAN

Hak ini paling akhir, apabila ada kelebihan harta setelah kita memenuhi 3 hak sebelumnya, waktunya harta tersebut ditabungkan untuk perancangan masa depan, dapat pula diinvestasikan dalam bentuk lain seperti sawah, ternak, asuransi syariah, dan lain-lain. Masa depan memang perlu dipesiapkan dan diantisipasi. 

Harta yang berlebih itu bisa digunakan untuk cadangan dan jaga-jaga dimasa mendatang.

Demikianlah pembahasan sederhana mengenai pengaturan keuangan dalam rumah tangga, pembahasan diatas dibuat secara garis besar. Sebab pada faktanya, perekonomian masing-masing keluarga berbeda-beda. Tingkat ekonomi yang berbeda-beda, akan tetapi pada dasarnya, pelaksanaannya sama.

Ingatlah bahwa harta adalah titipan, padanya disematkan pula tanggungjawab yang harus kita tunaikan. Sebagai seorang muslim, kita harus menggunakan segala pemberian Allah  ini seoptimal mungkin untuk mencapai kehidupan yang baik. Mencapai tujuan kita tanpa harus melanggar larangan Allah. 

—————————————————————————-

Sekian uraian singkat materia SPN #7, seluruh tulisan mengenai SPN dapat disimak melalui tautan berikut : SPN Salman ITB

Penulis menerima masukan, kritik, dan diskusi untuk menyebarluaskan setiap huruf ilmu.

Jzk

SPN #6 : Fiqih Thaharoh dalam Nikah

Bismillah Ar Rahman Ar Rahim

Disebabkan oleh membolosnya saya pada pertemuan ke-6 ( 31 Maret 2013 ) di kelas SPN, berdasar pada catatan teman-teman saya, ternyata materi ini adalah materi umum yang bahkan telah kita pelajari sejak tingkat sekolah pada mata pelajaran agama yang formalitas itu.

Materi yang akan dibahas kali ini adalah thaharoh, khususnya dalam pernikahan. Mengapa thaharoh menjadi sesuatu yang perlu diangkat secara khusus. Sederhananya, seorang suami harus tahu jika istrinya tidak selamanya boleh untuk “didatangi” sebab sedang tidak suci,dan lain-lain.

Thaharoh secara bahasa artinya bersih, secara terminologi artinya bersih lahir-batin,tempat,dan pakaian yang dikenakan. Masalah fiqih thaharah sendiri dapat teman-teman cari dari berbagai sumber, masalah kesucian dalam shalat, memegang al quran, dan lain-lain.

Aktivitas-aktivitas dalam kehidupan berumah tangga terutama menyangkut kegiatan agama seperti beribadah menuntut kesucian, bahkan kita sampai dituntut untuk dalam keadaan suci (berwudhu) sebelum tidur.

Permasalah kebersihan/kesucian ini harus dipahami oleh suami maupun istri. Suami harus tahu kapan istrinya sedang tidak suci (haid). Istri juga harus tahu bahwa dia bisa tetap menemani suaminya buka-sahur puasa sunah meski dirinya tidak puasa. 

Sebenarnya tulisan ini bersifat luas, masalah thaharoh juga meliputi banyak hal. Masalah bagaimana cara bersuci, apa saja yang membatalkannya, semuanya bisa dicari dari berbagai referensi.

Menikah adalah salah satu cara menjaga kesucian, kesucian lahir dan batin bagi laki-laki dan perempuan. Dalam menjalani kehidupan pernikahan, semuanya dilakukan dalam keadaan suci, sebab segala bentuk ibadah terutama yang wajib selalu diminta dalam keadaan suci.

Pengetahuan tentang pentingnya thaharoh ini dapat mengantarkan pasangan suami-istri mencapai ibadah yang sempurna. Saling mengingatkan tentang kesucian, saling menyempurnakan. Ibadah dalam pernikahan bernilai jauh lebih besar daripada seseorang yang masih sendiri. Sangat disayangkan apabila ibadah-ibadah tersebut menjadi tidak sempurna/batal hanya karena batalnya kesucian akibat ketidakpahaman.

Demikianlah tulisan ini, pada dasarnya mengajak teman-teman untuk membaca bab fiqih, buku fiqih,atau melalui artikel di internet yang berhubungan dengan thaharoh untuk menjadi salah satu bekal ilmu kita sebelum menjalani kehidupan pernikahan.

Bekal ilmu yang baik inshaAllah akan lebih banyak ridha nya dari Allah. Pernikahan adalah sekolah kehidupan dimana selamanya sampai mati kita terus belajar. 

Selamat mempersiapkan bekal.

Seluruh materi SPN dapat disimak melalui tautan berikut : SPN Salman ITB

Jzk

SPN #5 : Masalah Dalam Rumah Tangga (bagian 2)

Bismillah Ar Rahman Ar Rahim

Melanjutkan tulisan materi SPN #5 bagian 1, materi masih akan melanjutkan tentang Masalah Dalam Rumah Tangga.

Seperti telah diuraikan dalam materi #5 bagian 1, masalah dalam rumah tangga adalah suatu kepastian. Masalah pasti ada. Untuk mengatasinya, ada beberapa kunci dasar yang bisa menjembatani masalah tersebut agar tidak semakin besar.

INTERVENSI PIHAK KETIGA

Yang dimaksud dengan pihak ketiga disini adalah orang tua atau mertua. Sebaiknya setelah menikah, berusahalah untuk tinggal dalam rumah sendiri meski itu menyewa/kontrak. Sebab proses saling mengenal akan lebih dalam ketika kita dan pasangan kita hanya berdua.

Intervensi seringkali terjadi dari orangtua/mertua, hal ini kadang diakibatkan oleh ketidaksiapan dan keterkejutan orang tua ketika menyadari ternyata anaknya telah menjadi milik orang lain (terutama untuk perempuan).

Keinginan orang tua untuk melihat anaknya bahagia kadang muncul dalam bentuk tindakan dan intervensi, meski tinggal di rumah orang tua itu enak/nyaman. Namun, baiknya dalam usia muda pernikahan, tinggalah terpisah dari keduanya. Agar intervensi yang terjadi dari orangtua/mertua bukan dalam bentuk intervensi langsung, namun menjadi nasihat (tidak langsung)

Pasangan muda haruslah belajar saling mengenal dan belajar satu sama lain, proses ini akan lebih berjalan ketika hanya ada dua orang ( kita dan pasangan kita ).

KOMUNIKASI ADALAH KUNCI

Komunikasi dan berbicara itu berbeda, komunikasi bukanlah tentang apa yang ingin disampaikan, tapi tentang apa yang ingin dia mengerti.

Kita harus memahami, bahwa komunikasi tidak hanya dilakukan melalui kata-kata/bicara. Dapat melalui tulisan, tindakan, dan lain-lain. Tidak semua orang mampu berbicara dengan baik, tidak ada salahnya menyampaikan isi hati melalui surat-surat cinta kepada pasangan meski tinggal serumah. Tidak ada salahnya pula mengirimkan bunga terharum dimuka bumi untuk pasangan yang sedang dikantor. Tidak ada salahnya pula berkomunikasi melalui doa, menjadikan Tuhan sebagai perantara pesan.

Komunikasi adalah jembatan paling baik untuk menghadapi masalah, Ketika komunikasi dilakukan, selalu ingat pula jangan posisikan diri kita (laki-laki) sebagai suami,sebagai kepala rumah tangga dan istri kita sebagai yang dipimpin, komunikasi dengan posisi seperti itu justru yang terjadi bukan komunikasi, tapi instruksi/perintah.

Tempatkanlah pasangan kita sejajar dengan kita, jadikan dia sebagai teman dan sahabat, jangan tinggikan diri kita diatas pasangan yang lain. Karena sejatinya seperti dalam bahasan SPN sebelumnya, rumah tangga adalah tempat belajar, masing-masing akan berperan kadang sebagai guru, kadang sebagai murid. Kadang pula keduanya sama-sama menjadi murid yang sedang berdiskusi dan sama-sama mencari guru dari orang lain (ustadz, pengajian, dsb).

Lakukanlah komunikasi yang bersahabat, jika pasangan kita salah, itu adalah ujian kesabaran bagi kita untuk mengingatkannya dengan cara yang ma’ruf dan lemah lembut.

RUANG PERSONAL

Kadang dipahami oleh banyak orang, bahwa setelah pernikahan, ruang personal telah hilang, dua individu melebur menjadi satu. Memang pernikahan menyatukan kedua insan, tapi harus dipahami bahwa kesatuan itu tetap terbentuk oleh dua individu yang berbeda sama sekali.

Ruang personal sejatinya tetap dimiliki oleh masing-masing. Hal ini diwujudkan dalam mahar. Mahar laki-laki kepada istri adalah tanda adanya keberadaan ruang personal bagi pasangan kita, Mahar tersebut adalah hak utuh milik perempuan, tidak boleh digunakan/dicampur/diminta oleh suami bahkan oleh pihak keluarga sekalipun. Harta mahar itu adalah hak penuh seorang istri. Perkara nanti istri memberikan dengan ikhlas kepada suami, itu perkara lain.

Keberadaan ruang personal itu tetap harus kita hargai. Seorang istri kadang membutuhkan waktu pribadinya, waktu dimana ia tidak ingin diganggu oleh suami dan oleh anak-anak. Menikmati waktu untuk memanjakan dan merawat dirinya.

Seorang suami kadang juga ingin menyendiri, memancing ditepi danau atau membaca buku dengan cermat. Ruang-ruang pribadi berupa waktu itu harus kita hargai sebagai sebuah hak masing-masing.

Pernikahan adalah kebersamaan setiap hari. Waktu kebersamaan itu jelas jauh lebih banyak daripada waktu menyendiri.

Kadang ruang personal tidak hanya berwujud waktu, tapi juga berwujud rahasia. Dalam menjaga hubungan pernikahan, kadang ada rahasia yang tidak akan pernah diungkapkan sama sekali oleh pasangan. Kita tidak tahu dan dia tidak ingin memberi tahu, ruang personal seperti itu akan dimiliki oleh setiap orang, Kadang rahasia itu menyangkut masa lalu misalnya.

Pernikahan menyatukan namun tidak menjadikan keduanya melebur sepenuhnya, kelak pertanggungjawaban di negeri akhirat atas perbuatan akan dipertanggungjawabkan masing-masing.

Pernikahan adalah kesatuan di dunia, dan tidak semua orang bisa mempertahankannya kelak di negeri akhirat. Bahkan pasangan/keluarga menjadi musuh di negeri akhirat ( lihat QS. 64:14 ). Maka masing-masing kita harus senantiasa menjadikan pernikahan sebagai jalan kebaikan, menjadikan pasangan kita sebagai teman belajar, berjalan, dan berikhtiar untuk menuju negeri akhirat yang kekal.

Menikahlah untuk di dunia dan akhirat, berusaha dan berdoalah agar pasangan kita saat kelak menjadi pasangan kita di surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Aamiin

Sekian materi SPN #5, penulis menerima saran, kritik, koreksi, diskusi, dan masukan yang membangun untuk menjadikan materi ini lebih baik.

Tulisan mengenai Materi SPN Salman ITB dapat diakses melalui tautan berikut : SPN Salman ITB

Semoga tulisan ini memberikan manfaat, aamiin

Jzk

SPN #5 : Masalah Dalam Rumah Tangga (bagian 1)

Bismillah Ar Rahman Ar Rahim

Materi SPN #5 (24 Maret 2013) ini akan membahas sedikit tentang masalah dalam rumah tangga, sebab dan prevensinya.

Rumah Tangga itu ibarat kapal, sepanjang perjalanan melintasi lautan itu tentu ada badai, monster naga, cumi-cumi raksasa dan sebagainya yang akan menghadang diperjalanan. Ketika kita telah memutuskan untuk menikah, seketika itu pula kita juga akan “menikahi” masalah baru yang berbeda dengan masalah ketika kita masih lajang.

Rasululloh SAW sendiri sebagai suri tauladan umat manusia, dalam menjalani kehidupan rumah tangganya pun didera masalah. Pernah suatu ketika Aisyah cemburu dengan membanting piring didepan tamu ,atau Rasul yang marah dan mendiamkan istrinya selama 3 hari ( silakan cari cerita dan riwayatnya sendiri ya :3 ). Masalah dalam pernikahan itu sudah dipastikan ada.

Namun, pertanyaannya adalah. Mengapa ada pasangan yang mampu mempertahankan pernikahannya hingga ajal, ada juga yang ala selebriti, 6 bulan nikah kemudian cerai.

Perbedaannya terletak pada daya tahan, daya tahan masing-masing pasangan dalam menghadapi setiap permasalahan rumah tangga.

AKAR MASALAH

Dari sekian banyak sekali sebab masalah, ada satu yang harus kita benar-benar pahami, bahwa syaitan itu tidak akan senang dengan pernikahan dan berusaha untuk menceraikan. Syaitan membisikan masalah dan mengomporinya agar menjadi besar, perkara-perkara sepele diperbesar. Maka kita perlu menjaga diri dengan hati-hati dan selalu ingat, bahwa pernikahan memang akan ada masalah, tapi jangan dibesar-besarkan.

Pernikahan dibenci syaitan karena beberapa hal, diantara hal mendasar adalah pernikahan itu menutup dan memperkecil pintu maksiat. Zina berupa hubungan suami-istri (sex)  dilarang diketika seorang belum nikah, tapi hubungan itu menjadi halal bahkan berpahala ketika sudah menikah, berdua-duaan bukan lagi jadi maksiat, bergandengan tangan bukan lagi perbuatan haram. Pernikahan telah membuat pintu maksiat itu yang sering dilakukan dalam kasus pacaran, menjadi tertutup dan mengecil.

Selain itu, pernikahan itu bernilai separuh agama. Maka sudah tugas syaitan untuk menghancurkan separuh agama tersebut, melalui masalah-masalah dalam pernikahan, apabila tidak bersabar dan keimanan antara keduanya, kata c-e-r-a-i menjadi kata yang amat ringan. Padahal itu adalah sesuatu yang disukai oleh syaitan, dan amat dibenci oleh Allah. Maka hancurlah separuh agama kita, karena kata cerai.

MENIKAHI PERBEDAAN

Salah satu masalah krusial yang seringkali kita tidak paham adalah masalah perbedaan.
Pernikahan bukanlah menikahi persamaan, namun menikahi perbedaan. Perbedaan menyebabkan pasangan itu saling melengkapi. Sebab itulah tujuan pernikahan, menyempurnakan. Jika kita menikah karena sama, lantas apa gunanya pernikahan, tidak menambah kualitas ( added value ) sama sekali.
.
Dalam pernikahan, kita kan menemui banyak sekali perbedaan. Bahwa sejak awal pernikahan, jenis kelamin telah berbeda, hal ini memberikan petunjuk bahwa baik sifat, perilaku, kekuatan, hak dan kewajiban, dan lain-lain jelas-jelas telah berbeda.
.
Sebisa mungkin kita selalu berdiskusi, mencari titik temu antara kita dan pasangan atas hal-hal yang dianggap berbeda. Carilah titik kesepakatan, kesepakatan yang menjembatani kedua perbedaan tersebut untuk sama-sama saling melengkapi.
.
Hilangkanlah sifat kecenderungan untuk terus menyatukan perbedaan tersebut. Jika kamu suka membaca buku, dan pasanganmu lebih suka mendengarkan musik, jangan paksakan kesukaanmu itu kepada pasangan. Biarkanlah perbedaan itu tetap apa adanya, carilah titik temu antara membaca buku dan mendengarkan musik agar kedua perbedaan tersebut saling memahami dan melengkapi.
bagian 2 inshaAllah menyusul besok pagi 🙂

SPN #4 : Seks dan Kesehatan Reproduksi

Bismillah Ar Rahman Ar Rahim

Pengisi materi pada SPN #4 adalah seorang dokter dan seksolog, dr. H Hanny Rono, Sp.OG. Materi SPN kali ini akan membahas tentang perkara seks yang sering dianggap tabu dan enggan dipelajari oleh seseorang yang ingin/akan menikah sehingga menjadikannya “buta pengetahuan” tentang perkara seks ketika pernikahan. Selain itu juga dibahas tentang kesehatan reproduksi sebagai salah satu fitrah manusia untuk melangsungkan keturunannya.

Pertama tama kita harus percaya penuh bahwa Islam adalah agama penyempurna dari agama-agama langit sebelumnya. Pengaturan Islam meliputi seluruh alam semesta tanpa terkecuali hubungan seks.

Islam dengan bahasanya yang mulia memberikan rambu-rambu yang sangat jelas tentang hal ini. Kita juga harus mengetahui, bahwa dalam agama yang saat ini ada di dunia, hanya ada dua agama yang mengatur tentang seks didalamnya. Islam adalah salah satunya.

Seks bukanlah perkara tabu, ia menjadi tabu ketika tidak diletakankan pada  porsi dan bahasan yang tepat. Pernikahan tidak akan pernah lepas dari perkara seks, seks adalah salah satu bagian dari indahnya pernikahan. Keberadaan anak nantinya pun dimulai dari hal ini.

Islam memberikan jalan terbaik untuk menyalurkan hasrat seks yaitu dengan pernikahan, seks menjadi halal bahkan berpahala dengan jalan pernikahan. Lantas untuk apa “bermain” haram jika yang halal justru telah jelas dan dipermudah ?

LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN


Laki-laki dan perempuan adalah dua makhluk yang diciptakan berbeda. Ada sebuah keindahan pengaturan islam tentang laki-laki dan perempuan mengenai seks.

Resiko perempuan dalam berhubungan seks itu 99% , sedang 1% risikonya milik laki-laki yang paling tinggi “cuma” penyakit kelamin.

99% nya itu meliputi rusaknya selaput dara, hamil, pusing, mual, dan sebagainya. Tapi 99% risiko tersebut dijamin dengan sesuatu yang sangat mulia. Surga.

Seorang perempuan yang mengandung dan melahirkan kemudian ia meninggal, nilainya sama dengan seorang yang syahid. Dan ganjarannya adalah surga. Laki-laki sama sekali tidak mendapatkan apa-apa dalam hal ini.

Itulah islam dengan pengaturannya. Sesuatu yang begitu berat memiliki ganjaran yang sangat agung.

ISTRI ADALAH LADANG BAGI SUAMI


Salah satu keindahan Al Quran ketika membahas tentang hubungan suami istri dapa dilihat dalam ayat berikut

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”(al-Baqarah: 223)


Jika kita telurusi sebab-sebab ayat ini turun, tidak lepas juga dari pekara hubungan suami-istri. Islam telah memberikan rambu-rambu yang jelas.

Seorang perempuan (istri) secara biologis memang dipersiapakan untuk selalu siap. Sebab itu pula diturunkan larangan untuk melakukan hubungan ketika haid. Sebab nanti menimbulkan penyakit dsb, tapi masih dibolehkan melakukan kemesraan ( tidak berhubungan badan di wilayah farji ), hal itu tetap siap dilakukan oleh perempuan.

Islam menggambarkannya sebagai “ladang”, sedang peladang tentu tidak setiap hari bercocok tanam di ladangnya, ada masa-masa menanam, ada masa-masa merawat, dan ada masa-masa memetik hasil tanamnya.

Semua itu sungguh dibahasakan dengan bahasa yang sangat baik dan kiasan yang paling tepat.

BELAJAR TENTANG SEKS BUKAN BELAJAR PERKARA HARAM
Ada mindset bahwa belajar tentang seks adalah perkara yang memalukan, menjijikan. Ini adalah anggapan yang keliru.

Seperti telah diuraikan pada materi SPN sebelumnya, pernikahan itu membutuhkan persiapan, ilmu dunia dan ilmu akhirat (agama).

Seks itu ada ilmunya, baik ilmu dunianya (seksologi) dan ilmu agamanya. Untuk memiliki anak yang baik kita diperintahkan untuk berdoa dahulu sebalum melakukan bahkan doanya pun diajarkan.

“Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami”, kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya” (HR. Bukhari no. 6388 dan Muslim no. 1434)

Keharmonisan hubungan seorang suami dan istri pun tidak terlepas dari perkara ini (seks), mempelajari sifat-sifat biologis pasangan juga memiliki caranya, ilmunya jelas dipelajari sebelum menikah, namun prakteknya hanya bisa dilakukan setelah menikah.

Ketika kita belajar tentang sebuah ilmu, kita tentu saja tidak serta merta langsung bisa mengaplikasikan ilmu tersebut, ada masa dan kondisi dimana kita bisa nantinya dapat mengaplikasikannya.

Kita kuliah/sekolah saat ini pun sebagai persiapan, kita belum bisa mengaplikasikan ilmunya saat ini. Sama ketika kita belajar tentang seksologi dari sisi ilmu dunia dan ilmu agama.

KESEHATAN REPRODUKSI


Untuk mempersiapkan keturuan yang sehat kita harus belajar untuk mempersiapkan dengan sehat organ reproduksi. Baik laki-laki maupun perempuan. Persiapkan kondisi rahim yang sehat untuk tumbuh kembang janin. Dan sebagainya.

Selain itu, kesehatan reproduksi pun tidak hanya perkara kesehatan organ reproduksi, tapi juga tentang kesehatan jiwa (psikis). Terutama bagi sang calon ibu.

Pendidikan terbaik bagi anak-anak sesungguhnya adalah ketika anak-anak tersebut berada di dalam rahim ibunya. Kita diberikan pengetahuan modern tentang stimuli janin melalui suara (musik), sentuhan ke perut ibu, dsb untuk merangsang perkembangan janin lebih positif.

Sejatinya itulah proses pendidikan. Ajarkanlah Al Quran ketika anak berada dalam rahim, dengan ibunya membaca Al Quran, ajarkanlah anak tentang kesabaran dengan cara ibunya berusaha menahan marah kepada suaminya ketika sedang “bete”/ badmood saat hamil. Ajaklah anak membaca buku-buku bermutu ketika anak sedang dalam rahim. Itulah pendidikan yang seringkali dilewatkan oleh para pasangan yang tidak mengetahui ilmu pernikahan dengan baik.

Selain itu, perlu diketahui pula mengapa baiknya perempuan lebih baik menikah pada usia yang tepat. Agar sel telur masih dalam kondisi yang paling baik ( sekitar usia 25 -30 ) . Lebih dari usia 35 tahun, sel telur tidak lagi dalam kondisi yang baik bahkan cenderung buruk yang akan berisiko anak lahir cacat/downsyndrome. Dan ada waktunya bagi perempuan akan berhenti memproduksi sel telur. Namun, laki-laki selama dia sehat, dia akan selalu bisa memproduksi sperma. Kondisi ini harus diketahui dan dipahami oleh laki-laki dan perempuan karena memiliki pengaruh pada fisik dan psikis. Saling mengerti dan memahami itu penting, tak terkecuali perkara biologis.

Ilmu kedokteran merinci lebih detil tentang kesehatan reproduksi, tidak ada salahnya bagi pasangan suami istri untuk berkonsultasi dan belajar. Pengetahuan itu tersebar di seluruh bumi, namun hanya orang-orang yang berakal saja yang mampu memahaminya.

Tulisan tentang SPN dapat dilihat melalui tautan berikut : SPN SALMAN ITB

Penulis menyusun rangkuman dari olah data materi SPN yang disampaikan, penulis menerima saran, kritik, dan diskusi yang membangun untuk menjadikan tulisan ini lebih bermanfaat.

Jzk