Ramadhan #28 : Arah Musim

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Di kesempatan ramadhan ke-28 ini, di antara sekian tulisan yang lahir setiap pagi. Saya tengah menyusun buku ketiga saya yang akhirnya rilis juga judulnya; Arah Musim.

Di bulan yang baik ini, izinkan saya memperkenalkan anak ketiga saya ini sebagai sebuah rekam jejak. Untuk menyelesaikan naskah ini, benar-benar melelahkan. Ikhtiar yang melelahkan untuk mendapatkan data pendukung, diskusi, referensi buku, dan yang terakhir adalah niat. Namun, semuanya menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri mengingat naskah buku ini semakin menemukan titik terang.

Mengapa saya beri nama Arah Musim?

Buku ini akan lebih banyak menyampaikan tentang ketidakpastian. Saya menyukai ketidakpastian, semacam kondisi tidak nyaman dan aman yang memaksa manusia untuk terus berjuang. Bahkan kita tidak bisa memastikan apa yang terjadi satu detik kemudian tanpa seizin-Nya, kan?

Arah Musim ini adalah sebuah perenungan saya pada takdir-takdir dan bagaimana takdir itu berjalan. Bagaimana kehidupan manusia bisa berubah 180 derajat karena satu keputusan yang dia ambil. Bagaimana setiap pilihan hidup mengantarkan seorang manusia ke takdir-takdir yang berbeda.

Semoga, sekali lagi, pohon-pohon yang ditebang dan dijadikan kertas untuk menjadi buku ini, bisa memberi nilai dan manfaat yang besar untuk kehidupan manusia. Semoga buku ini, lagi-lagi saya berdoa, bisa memberi banyak pemahaman baik.

Arah Musim insyaAllah akan rilis bersama dengan buku keduanya @prawitamutia juga melalui @langitlangit.yk

©kurniawangunadi

Ramadhan #27 : Buku Ketiga

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Kita tidak pernah bisa menerka masa depan, bahkan sekedar satu detik ke depan. Kita tidak pernah sanggup memastikan masa depan. Apalagi mengendalikannya. Kita hanya bisa mengendalikan waktu-waktu yang sedang kita jalani.

Seringkali, keadaan juga memaksa kita harus mengambil keputusan. Keputusan penting yang segera dan mendesak, keputusan yang mungkin tidak pernah sempat kita pikir berlama-lama. Karena jika tidak segera diputuskan, maka keadaan yang akan mengambilkan keputusan untuk kita. Kemudian kita harus menjalani sesuatu yang bukan pilihan kita.

Sebelum itu terjadi, kamu segera sadar. Bahwa keputusanmu itu berharga dan hari ini kamu sedang menjalani konsekuensi dari keputusan yang dulu pernah kamu ambil.

Hidup kita memang tak pernah bisa diterka. Sedetail apapun rencana yang kita buat, serapih apapun impian yang kita tulis. Kenyataannya hidup tidak berjalan selinier itu. Hidup tidak berjalan seperti jalannya huruf A ke Z. Tidak seperti detik jarum jam yang bergerak selangkah demi selangkah.

Hidup adalah gelombang lautan, angin yang berhembus. Tidak pernah bisa ditebak ke mana arahnya.

©kurniawangunadi

SPOILER : A.M adalah insial judul dari buku ketiga setelah Hujan Matahari dan Lautan Langit. InsyaAllah akan lahir dibulan yang sama dengan kakak-kakaknya. mohon doanya 🙂

Ramadhan #25 : Ridha Allah

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Ada hal yang tak akan pernah bisa dikalahkan, pun dimenangkan. Untuk
yang demikian, ujian terberatnya adalah tentang keikhlasan. Ada hal yang
tak pernah bisa dimiliki, ada juga yang justru selalu diambil. Untuk
yang demikian, ujian terbesarnya adalah tentang kesabaran.

Kalau
ada air mata yang jatuh karena bersedih, barangkali kita terlalu erat
menggenggam keinginan dan tak kuasa untuk merelakan sesuatu. Semoga semakin hari, hati kita semakin lapang untuk menerima bahwa kenyataan tidak selalu sama dengan keinginan. Semoga perasaan kita semakin hari semakin peka untuk melihat bahwa banyak orang yang tidak lebih beruntung dari kita.

Kalau kita tidak pernah mendapatkan apa yang selama ini kita inginkan, jangan-jangan kita lupa untuk bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Rasa-rasanya, kalau kita bisa menghitung segala kebaikan-Nya, niscaya kita akan menangis tersedu karena mengetahui betapa cinta-Nya begitu besar.

Ujian-ujian kita selalu tentang kesabaran dan keikhlasan. Betapa tidak, kita yang tidak pernah meminta untuk diciptakan tapi Allah menciptakan kita di dunia ini. Kemudian di dunia ini kita diuji dengan berbagai hal yang nantinya akan menjadi pertimbangan apakah kita masuk ke surga-Nya ataukah neraka-Nya. Dan betapa surga dan neraka itu adalah tentang keridhaan-Nya, semoga Allah ridho atas apa yang kita kerjakan, hingga Dia memberikan keridhaan-Nya untuk kita bisa masuk ke surga-Nya. Semoga kita bisa semakin ikhlas menjadi hamba.

©kurniawangunadi

[sumber gambar]

Ramadhan #23 : Rumah

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Sesampainya di rumah, kamu akan tahu bahwa tempatmu bukan di luar
sana. Bahwa orang yang benar mengerti kamu pun bukan di luar sana. Bahwa
dunia yang kamu bisa menjadi dirimu pun, bukan di luar sana.

Rumah
itu adalah tempat suci bagi dirimu sendiri. Tempat dimana segala
sesuatu menjadi lebih leluasa. Tempat dimana resahmu menjadi tiada
karena kamu bisa merebahkan badanmu. Memejamkan matamu. Dan tidur tanpa
takut diganggu. Bahkan kau bisa sembunyi dari bayang-bayang dan ancaman.

Rumah itu adalah tempat kenangan. Dari pertama kali tangisanmu terdengar hingga hari ini. Rumah yang menyimpan banyak cerita tentangmu. Bahkan rahasia-rahasia yang selama ini kamu bicarakan kepada dinding-dindingnya.

Rumah menjadi tempat yang leluasa untukmu menjadi dirimu sendiri. Bahkan kamu tidak ragu menanggalkan semua pakaianmu di sana. Tempat yang entah bagaimanapun bentuknya, bisa membuatmu terus merasa aman. Sekalipun sendirian.

Ada waktunya nanti. Saat harus melangkahkan kaki pergi, meninggalkan rumah yang selama ini dihuni untuk membangun tangga-tangga baru di tempat lain, membangun rumah yang baru untuk anak-anakmu. Karena rumah akan selalu menjadi tempat setiap keluarga memulai cerita. Rumah-rumah yang selalu ingin dilingkupi cahaya, yang malaikat tak sungkan masuk ke dalamnya, yang penghuninya di rahmati oleh Tuhannya.

Selamat membangun rumahmu masing-masing.

©kurniawangunadi

[sumber gambar]

pengembangan tulisan Rumah Itu

Ramadhan #22 : Menjadi Manusia

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Coba rasakan, kapan terakhir kali dirimu menjadi manusia. Menjadi manusia yang utuh dengan pengakuan atas segala kelemahannya. Pengakuan atas segala ketidakberdayaannya bahkan atas tubuhnya sendiri. Kapan terakhir kali menjadi manusia dengan pikiran yang memanusiakan manusia lainnya. Memandang orang lain sama derajat, sama-sama diciptakan Tuhan untuk tujuan yang sama, sama-sama diberikan kehidupan dan juga nantinya akan dimatikan.

Rasakan, kapan terakhir kali menjadi manusia dengan segala kerendahan dirinya. Tidak ada tempat untuk kesombongan dan keangkuhan. Tidak ada celah untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Tidak ada kecurigaan dan kecintaan yang berlebihan. Toh, sama-sama manusia. Sama-sama membawa kotoran di dalam perutnya. Dimana mulianya.

Kapan terakhir kali kita merasa sebagai manusia? Tidak merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa lebih cantik dan tampan, lebih saleh, lebih beruntung, dan segala kelebihan yang selama ini membuat kita kehilangan rasa empati. Kapan terakhir kali kita merasa sebagai manusia? Perasaan yang membuat kita dengan mudah memberikan label kapada orang lain hanya karena perbedaan-perbedaan yang dibuat oleh kita sendiri?

Saat hari ini begitu banyak manusia kehilangan sisi kemanusiaanya. Merasa menjadi Tuhan yang bisa menghakimi, merasa menjadi malaikat yang begitu suci. Saat itulah manusia kehilangan harga atas dirinya dan kehilangan sisi terbaiknya sebagai ciptaan manusia. Perasaan-perasaan yang membuat iblis dilaknat dan diusir dari surga, perasaan-perasaan yang membuat manusia lupa bahwa hidup itu ada matinya.

Dan kini, kemanusiaan menjadi kehilangan makna. Saat kita mengetahui banyak manusia lain, dibelahan bumi lain, harus menderita karena perang dan penyakit. Kita tetap masih bisa tertawa dan menahan harta, lalu segera lupa. Kita telah kehilangan sisi kemanusiaan yang paling mendasar dalam diri kita.

©kurniawangunadi

[sumber gambar]

Ramadhan #21 : Terlambat

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Pernah tidak kita membayangkan bahwa kehidupan ini sudah berakhir. Kita sedang berada di padang mahsyar untuk menunggu pengadilan-Nya. Saat itu, mungkin kita tidak lagi ingat hari ini, entah bagaimana keadaan kita saat itu. Apakah berbahagia dengan apa yang kita saksikan atau sebaliknya. Saat itu, tidak ada cara bagi kita untuk lepas dari setiap kejahatan yang pernah kita lakukan.

Pernah tidak membayangkan hari itu? Hari disaat kita sendiri mungkin tidak sempat memikirkan siapa orang-orang terdekat dan yang paling kita cintai di dunia. Sibuk bagaimana caranya agar diri sendiri bisa selamat dari ancaman.

Kalau ingat hari itu, rasanya apa yang dikerjakan hari ini –semasa hidup– sungguh rasanya akan banyak yang menjadi penyesalan. Waktu yang banyak sia-sia, kebaikan yang terlewat begitu saja, ibadah yang terburu-buru, kemalasan kita untuk pergi ke majelis ilmu. Rasanya, akan lebih banyak sesal.

©kurniawangunadi

Ramadhan #20 : Syukur

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Cara paling mudah agar rasa syukur bisa muncul adalah dengan melihat orang lain yang mungkin tidak lebih beruntung dari kita. Sehingga kita berkaca bahwa apa yang kita miliki saat ini itu benar-benar berharga. Nikmat untuk bisa merasakan sekolah, orang tua yang lengkap, kesehatan, dan segala hal yang selama ini kita keluhkan ternyata menjadi impian-impian yang mustahil bagi orang lain.

Rasa syukur itu menentramkan hati yang gelisah. Bagaimanapun juga, apapun yang kita miliki saat ini, bagaimanapun keadaan yang sedang menimpa kita saat ini, itu adalah kondisi terbaik untuk kita. Hanya saja, pengetahuan kita sebagai manusia yang terbatas, kita sering salah mengartikan apa maksud-Nya?

Kadang, kita baru bisa mengambil hikmahnya setelah jauh hari melewatinya. Setelah kita dihadapkan pada situasi baru dan tantangan baru, Rasa syukur itu bisa menyelamatkan kita dari kesombongan. Rasa syukur membuat kita merasa kita perlu untuk melakukan perintah-perintahNya, tidak hanya sebagai kewajiban, melainkan sebagai kebutuhan dan ungkapan rasa syukur kita kepada Tuhan.

©kurniawangunadi

Ramadhan #19 : Hati yang Baik

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Hati yang baik tentu terbuat dari waktu, waktu yang panjang. Melintasi perjalanan hidup yang istimewa, entah dengan liku atau lurus terjaga. Ada pemahaman baik yang tumbuh dengan berbagai kejadian, ada ilmu pengetahuan yang berjatuhan bagai bulir hujan, ada keimanan yang terang benderang seperti matahari siang di langit yang tanpa awan.

Hati yang baik tentu tidak jadi begitu saja. Ada ujian yang membuatnya berhasil bertahan. Ada luka yang menyakitkan, tidak pernah hilang, tapi ia berhasil memaafkan. Ada perasaan yang penuh sesak akan kerinduan, tapi ia berhasil menahan diri. 

Hati yang baik tidak dimiliki oleh sembarang orang. Hanya bisa dikenali oleh orang-orang yang melihat dunia dari kebaikan, bukan dari kecantikan dan ketampanan, apalagi popularitas dan kekayaan. Hati yang baik tidak dikenali dengan pakaian terkini, tidak juga dengan unjuk kebaikan dan kemesraan di keramaian.

Hati yang baik terbuat dari rasa syukur yang tak terhitung, dari kesederhanaan, dan dari ketulusan. Hati yang baik itu berada di jalan-jalan sunyi, jalan yang selama ini dihindari oleh banyak orang. Tidak menjanjikan ketenaran, juga tidak menjanjikan kemewahan. Hati yang baik menjanjikan kenyamanan dan ketenangan tentang hidup di dunia dan akhirat. Hati yang baik itu menentramkan kekhawatiran.

©kurniawangundi

[sumber gambar]

Ramadhan #18 : Sebelum Shalat

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Kita pernah belajar tentang hal-hal yang menjadi syarat sah-nya
shalat kita. Salah satunya adalah wudhu. Pernahkah kita memerhatikan
wudhu kita apakah sudah benar atau belum. Pernahkan kita berpikir bahwa
jangan-jangan mau sekhusyu’ apapun kita shalat, shalat itu menjadi tidak
sah hanya karena ternyata wudhu kita yang tidak sah?

Jangan-jangan
kita lupa memerhatikan wudhu kita. Lupa menjaganya sekhusu’ kita
berusaha menjaga shalat kita. Jangan-jangan dari ribuan sujud yang kita
lakukan, sedikit darinya yang benar-benar diterima karena kita lupa pada
wudhu kita.

Wudhu adalah sebuah hal tak terpisahkan dari shalat.
Apakah kita boros menggunakan air, tidak hemat sebagaimana dicontohkan nabi
kita? Apakah kita buru-buru hingga lupa tidak memenuhi rukun-rukun wudhu
tersebut?

Pernahkah kita khawatir bahwa ternyata shalat kita tidak diterima justru karena wudhu kita yang keliru?

©Kurniawan Gunadi

[sumber gambar]

Ramadhan #17 : Tersesat

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Ada satu titik dalam hidup seorang manusia, ia kebingungan dalam menghadapi jalan yang dia tempuh. Padahal jalan itu adalah jalan yang sebelumnya ia pilih sendiri. Sehingga tidak ada alasan untuk menyalahkan siapapun atas segala hal yang menimpanya.

Ada titik lain juga dalam hidup manusia, ia kehilangan dirinya sendiri. Segala impian dan cita-citanya terlihat semakin jauh. Apalagi ditengah usia yang semakin bertambah, sementara rasanya ia belum menjadi siapa-siapa. Bahkan tegak dengan kaki sendiripun tidak, bahkan untuk mengambil keputusan pentingpun ragu. Ia kehilangan dirinya sendiri, dirinya yang dulu begitu bersemangat dan antusias, dirinya yang penuh cinta dan mata yang percaya diri. Hingga akhirnya, ia sibuk mencari dirinya sendiri.

Ada juga titik dimana keputusan harus segera diambil dan tidak ada waktu untuk berpikir. Disaat itulah ia mulai mengerti bahwa keputusan itu adalah keputusan tetap, menggema seumur hidup sampai mati. Sesekali ia menyesali dirinya yang tidak pernah bersiap untuk itu, dikali yang lain dia mendapatkan pengertian bahwa kepasrahan kepada Tuhanlah yang menyelamatkan.

Pada akhirnya, ia pun mengerti. Sejauh apapun ia mencari, pada akhirnya ia hanya bisa meminta.

“Yaa Allah aku mohon pilihan dengan ilmuMu dan Aku memohon ketetapan dengan kuasaMu. Ya Allah kalau engkau tahu, urusan ini baik untukku, dalam agamaku,
kehidupanku, dan kesudahan urusanku nanti, tetapkan dia untukku,
mudahkanlah dia untukku, dan berkahi untukku di dalamnya.”

©Kurniawan Gunadi

[sumber gambar]