Ramadhan #16 : Setengah Bulan Purnama

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Tak terasa sudah memasuki setengah ramadhan, rembulan malam tadi adalah rembulan penuh. Bagi teman-teman yang sempat menyaksikan langit malam ini yang cerah, akan tampak begitu manis rembulannya. Di tengah nikmatnya melihat rembulan tadi malam. Kita mungkin menjadi sebagian kecil umat yang bisa menikmatinya.

Di tengah begitu banyak ujian yang menimpa orang lain. Kita adalah orang-orang yang tidak pernah pantas untuk mengeluhkan hidup ini sebenarnya. Terlalu banyak nikmat yang kita dapatkan dibandingkan dengan apa-apa yang kita khawatirkan.

Ramadhan ini berlalu begitu cepat, tak terasa mungkin besok tiba-tiba sudah hari raya. Dan kitapun tenggelam dalam euforianya, lupa berempati, dan kembali lagi ke kebiasaan-kebiasaan lama. Sangat disayangkan bila ibadah selama ini pun hanya sebagai bentuk euforia.

Kemarin di Masjid Syuhada – Yogyakarta, barisan shalat isya dan tawarih pun semakin “maju”, artinya semakin sedikit. Dan hampir selalu terjadi dimana-mana, pertengahan ramadhan sebagian besar masjid berkurang jamaahnya. Sahur pun malas-malasan. Dan berbagai indikasi penurunan lainnya.

Mengapa selalu demikian? Seolah-olah ramadhan ini memang sebuah perayaan dengan euforia yang naik turun. Menjalaninya bukan dengan sebuah kesadaran bahwa ini adalah bulan yang berkah dan penuh rahmat. Hanya sekedar menjalani dan ikut meramaikan suasanannya.

Seperti toko-toko baju yang memajang aneka hiasan bernuansa ramadhan, iklan-iklan yang bernuasa sama, semuanya hanya ikut merayakan euforianya. Tidak memberikan esensi dan makna yang tepat. Jangan-jangan kita pun salah dalam menetapkan niat dan memaknai ramadhan ini hanya sebagai sebuah ritual ibadah, tidak lebih dari itu. Mari renungkan kembali.

©Kurniawan Gunadi

Ramadhan #14 : Membantu Malaikat

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Di bulan ramadhan ini, saya melihat beberapa teman mengangkat kenangan masa kecilnya ketika dulu mengisi Buku Ramadhan. Bagi anak-anak generasi 90 di Indonesia, tentu akrab sekali dengan buku tersebut. Dimana setiap dari kita diminta untuk mencatat amalan kita sendiri selama bulan ramadhan. Bagi saya, kenangan sederhana itu memberikan pembelajaran yang luar biasa. Dulu ketika saya melakukanya, ya sekedar memenuhi kewajiban saja. Bertahun sudah masa-masa itu, saya mengambil hikmahnya dengan cara saya sendiri.

Saya membayangkan malaikat Raqib dan Atid yang biasanya bertugas menulis catatan amal kita, tersenyum melihat tingkah laku kita pada waktu itu. Tugas mereka kita kerjakan sendiri dan kedua malaikat ini jadi gabut. Kita menulis amalan kita sendiri, apa yang kita dapat di kajian, khotbah jumat, dan lain-lain.

Buku ramadhan ini juga buku sakti, setiap anak berlomba untuk mengisi penuh catatan amalnya. Hebatnya, mungkin karena efek bulan ramadhan juga. Anak-anak menjadi jujur, mereka mengisi kalau memang mengerjakan. Beberapa anak yang ketinggalan merasa malu dan berusaha untuk mengejar kekalahan amalnya dari teman-teman yang lain. Lucu sekali memang.

Hari ini, kita mengingat momen itu hanya untuk nostalgia saja. Untuk bahan kenangan-kenangan dan obrolan, tidak lebih. Melupakan esensi mendasar dari kenangan itu. Bayangkan bila setiap dari kita hari memiliki buku catatan amal sendiri yang kita isi sendiri. Setiap hari kita menuliskan di sana, kebaikan dan keburukan yang kita lakukan, setiap hari sepanjang tahun.

Kelak kita hanya perlu mencocokan antara catatan kita dan catatannya kedua malaikat yang bertugas mencatat amal. Kita mungkin juga malu, bila buku catatan itu dibaca orang, bahkan orang-orang terdekat kita. Sebagaimana kita menyembunyikan aib kita selama ini. Apalagi kalau catatannya penuh dengan keburukan.

Bukankah paling mudah adalah kita menghakimi diri kita sendiri? Kita menghitung kebaikan dan keburukan kita sendiri. Dengan apa yang kita kerjakan selama ini, apakah pantas bila kita masuk surga-Nya? Bertemu dengan-Nya?

Kita sibuk sekali di dunia ini dengan aneka pekerjaan hidup yang melenakan dan duniawi. Kita mengejar yang seringnya tidak kekal, kita menyimpan yang tidak berguna dan sia-sia. Pernahkah merinci berapa waktu kita yang sia-sia setiap harinya?

Kalau setiap kita ditugaskan untuk menulis catatan amal kita setiap hari. Saya khawatir menyaksikan amalan-amalan saya sendiri dalam 25 tahun terakhir.

©kurniawangunadi

[sumber foto]

Ramadhan #13 : Yang Terdekat

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Saat sebagian besar dari teman-teman kita berasal dari keluarga yang terdidik dan juga agamis, mungkin kita bukanlah anak yang lahir dari keluarga yang demikian. Kita tinggal dari tempat yang jauh dari hingar bingar kota dan dakwah yang kuat. Kita tinggal di sudut negeri ini, sewaktu kecil berlarian tiap menjelang maghrib untuk pergi ke Langgar, mengaji.

Sebagian besar dari kita mungkin baru belajar dan benar-benar mamahami agama islam setelah berada di sekolah tinggi. Kita bisa mendapatkan akses dakwah yang lebih komprehensif dan kekinian. Kita tahu bahwa ini boleh dan itu tidak, kita tahu bahwa ini dan itu hukumnya begini dan begitu.

Dengan segala pengetahuan baru yang kita dapatkan, kita begitu bersemangat untuk menjadi hamba yang taat. “Kami mendengar dan kami taat”. Dan kita pun turut bersemangat mengajak teman-teman kita untuk merasakan hijrah seperti yang kita rasakan.

Namun, sekembalinya kita di rumah. Orang-orang terdekat kita, yang paling kita sayangi, tidak mendapatkan kenikmatan dakwah seperti yang kita rasakan. Mereka tetap berkutat dengan kesehariannya, berjuang mencari nafkah untuk membiayai sekolahmu hari ini. Uang yang kamu gunakan untuk membeli kerudung panjang, perjalanan dari kosan ke tempat mengaji, biaya makanmu, sekolahmu, dan seluruhnya. Mereka berjuang untuk menghidupimu.

Sekalipun pengetahuan agama mereka mungkin tidak sebanyak dan kekinian sepertimu, mereka adalah orang yang paling pertama melahirkanmu, mengenalmu, juga merawatmu. Selebar apapun kerudung yang kamu pakai, sebanyak apapun hafalan yang kamu miliki. Kamu tidak bisa menolak bahwa orang-orang terdekatmu ini adalah orang-orang yang paling berjasa diantara sekian puluh teman pengajian dan guru mengajimu.

Di rumah, mungkin ada pertentangan pemahaman antara kamu dan mereka. Setiap kali pulang ke rumah, ditanya pacarnya mana atau mengapa kerudungmu semakin lebar saja. Kamu tidak berkutik dan sebaiknya kusarankan untuk lebih banyak senyum dan pelukan. Kehadiranmu sebagai anak itu lebih menentramkan. Jangan kamu menghakimi mereka karena mungkin mereka tidak mengenal agama sebagaimana yang kamu kenal, mungkin kerudungnya hanya dipakai ketika pengajian dan melayat, mungkin bacaannya belum sebaik milikmu. Tetap saja, mereka adalah yang paling banyak kasih sayangnya untukmu.

Aku pun demikian dan untuk itu aku selalu berdoa semoga Allah menyelamatkan mereka sebab ketidakpahaman mereka. Jangan Allah menghukumi mereka sebab ketidakmengertian itu, sebab mereka adalah orang terbaik yang aku miliki, orang yang membuatku bisa tegap sejauh ini. Juga mengampuniku yang terasa begitu berat menyampaikan agama kepada orang-orang yang terdekat. Sekaligus berjanji bahwa di kehidupan yang akan datang, di keluarga yang akan aku bangun nanti. Semuanya akan diperbaiki dan dimulai dengan cara-cara yang baru.

©kurniawangunadi

Ramadhan #12 : Pohon di Halaman

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Saat pulang ke rumah di kampung halaman. Saya melihat ada yang berbeda dari rumah tetangga. Dua buah pohon rambutan di halaman yang sudah ada sejak saya belum lahir tiba-tiba sudah hilang dan bertumpuk menjadi kayu bakar. Heran.  Karena menumbuhkan pohon itu perlu bertahun-tahun, membakarnya hanya perlu sehari. Ada urgensi apa sehingga pohon-pohon itu ditebang?

Selidik punya selidik, pohon itu ditebang karena anak pertamanya akan melangsungkan pernikahan. Di desa, pernikahan itu memang tidak seperti di kota dimana orang-orang tidak punya halaman sehingga menyewa gedung. Di desa, pernikahan diadakan dengan tenda-tenda besar di halaman rumah. Alasan menebang pohon yang sangat tidak pro gerakan penghijauan. Ditebang karena kalau tidak akan menghalangi pemasangan tenda.

Kadang, saya sedih menyaksikan bagaimana pola pikir masyarakat kita. Bagaimana mungkin sebuah pohon berusia puluhan tahun dan produktif ditebang hanya karena menghalangi tenda pernikahan. Bukankah seharusnya pernikahan itu memberikan keberkahan bagi alam semesta. Tidak hanya kepada orang lain, tapi juga seluruh makhluk-Nya.

Mungkin tulisan kali ini tidak menyampaikan tentang hikmah apapun. Tulisan ini adalah bentuk ketidakmengertian saya terhadap pemahaman-pemahaman yang bagi saya keliru. Bahkan saya sendiri tidak tega memotong pohon di belakang rumah saya yang di Yogyakarta karena bagi saya pohon pun hidup memiliki perasaan. Saya di desak untuk memotongnya karena pohon itu tumbuh dekat dengan dinding batas perumahan. Sehingga dikhawatirkan akan merusak bangunan. Padahal, bangunan inilah yang merusak tempat tinggal pohon itu sebab dia tumbuh di situ lebih dulu daripada tembok ini. Jadi, saya menghormatinya dengan tidak memotongnya. Tapi, orang lain tidak bisa memahami cara berpikir saya yang demikian.

©kurniawangunadi

Ramadhan #11 : Remeh

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

Tentu pernah dari mulut kita keluar kata-kata yang merendahkan orang lain. Kata-kata yang sepertinya berniat baik, padahal tidak. Kata-kata yang sepertinya ingin mengingatkan orang lain, justru terlihat ingin mengangkat diri sendiri dengan menjatuhkan orang lain.

Semisal: “Jangan pernah percaya kata motivator, tidak berguna. Kamu yang tahu hidupmu!” . Di luar sana, ada begitu banyak orang yang tidak seperti kamu, atau seperti kita. Butuh penguatan dari luar dan juga butuh diberi tahu tentang siapa dirinya. Sebab itulah lahir profesi Motivator dan saya percaya bahwa apa yang motivator lakukan itu baik. Pikiran kita yang picik. Kalau kita tidak membutuhkannya, orang lain belum tentu.

Sesederhana itu dan sering kali pula kita menggunakan kalimat-kalimat lain untuk meremehkan sesuatu. “Ah cuma gitu doang” dan sebagainya. Sesungguhnya, dari hal remeh-remeh itu pulalah surga dan neraka begitu dekat.

Pernah mendengar cerita tentang seorang pelacur yang memberi minum hewan yang kehausan? Bukankah itu terlihat jauh lebih remeh daripada kita shalat setiap malam sepanjang tahun dan menghafal semua ayat dalam Al Quran?

Aku merasa, bagi Allah tidak ada yang remeh. Sesederhana kita mengamalkan sunah rasul seperti makan dan minum sambil duduk (tidak berdiri), masuk kamar mandi/toilet dengan kaki kiri terlebih dahulu, makan/minum dengan tangan kanan, dan hal-hal lain yang sebenarnya begitu sederhana tapi kita meremehkannya. Bukankah dari hal-hal sederhana itu pula ada ahli ibadah yang terlempar ke neraka?

Sampai kapan kita akan dengan mudah meremahkan segala sesuatu, baik itu pekerjaan ataupun seseorang. Apakah kita sudah lebih baik?

Kalau tidak mampu berkata baik, bukankah lebih baik diam? Kalau tidak bisa membantu kehidupan orang menjadi lebih mudah, paling tidak kita jangan menjadikannya lebih sulit dengan kata-kata kita.

Semoga Allah melindungi kita dari kata-kata yang tidak berguna, yang keluar dari mulut kita. Aamiin.

©kurniawangunadi

Ramadhan #6 : Cukupkan

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Sore kemarin saya berkendara sepeda motor melintasi kawasan-kawasan yang terkenal ketika bulan ramadhan. Salah satunya adalah Jalan Jogokariyan yang bergeliat sekali perekonomiannya ketika bulan ramadhan. Dari sekian puluh penjual aneka makanan dan minuman di sana, tak satupun berhasil memikat hati saya untuk membeli.

Saya berpikir, kalau konsumen di negeri ini tipikalnya seperti saya semua. Mungkin banyak pedagang yang merugi. Pasalnya saya tidak terbiasa jajan di pinggir jalan, saya hampir tidak pernah makan di kaki lima sejak 5 tahun terakhir (bisa dihitung dengan jari) karena saya tidak pernah lagi percaya akan kebersihannya. Itu semakin menjadi ketika dulu saya dilarikan ke rumah sakit karena infeksi saluran pencernaan akibat tidak bersihnya makanan di sana. Dan saya percaya bahwa apapun yang kita makan itu tidak hanya harus halal, tapi juga baik. Baik dalam hal ini terkait gizi, kebersihan, dan segala hal terkait segala benda yang masuk ke mulut. Saya tidak dibiasakan jajan oleh orang tua sejak kecil dan membekas sampai hari ini. Saya juga bukan konsemen televisi, sudah tahun ke 7 saya tinggal tanpa TV dan tetap menolak rumah saya di Yogyakarta diberi TV oleh orang tua.

Kembali ke topik, geliat perekonomian di bulan ramadhan adalah sebuah keberkahan bagi para pedagang makanan dan minuman. Saya melihat, tingkat konsumerisme seseroang di bulan ramadhan itu kebanyakan semakin tinggi. Makanan yang tidak biasa dimakan sehari-hari, mendadak ingin dimakan semuanya.

Ramadhan dengan puasa sebulan penuh mengajarkan kita tentang pengendalian diri. Di satu sisi, menjelang berbuka tali pengendalian diri itu lepas sedikit demi sedikit. Begitu banyak pula para pedagang yang melewatkan momentum penting, yaitu waktu mustajab di saat berbuka puasa. Juga ibadah shalat berjamaah maghrib, di tambah lagi isya dan tarawih. Sebab momen-momen tersebut banyak orang yang berburu makanan.

Ramadhan menjadi ujian bagi para pedagang. Kita juga seringkali tergoda untuk berbelanja, membeli sesuatu yang tidak sebenarnya kita butuhkan. Dengan dalih, mumpung ramadhan menjadi senjata yang ampuh. Bagi saya, justru karena ramadhan kita belajar mengendalikan pada urusan akhirat dan juga dunia.

©kurniawangunadi

imagesource : here

Ramadhan #5 : Beranjak

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Di umat ini, khususnya di Indonesia. Saya mengamati hampir setiap tahun kita berputar-putar pada persoalan yang serupa padahal dunia telah berubah jauh. Setiap waktu meributkan hal-hal yang itu-itu saja.

Sederhananya, sampai hari ini misal mendekati hari Valentine. Semua orang sibuk membahas tentang halal-haram merayakannya. Padahal hukumnya sudah jelas. Atau ketika saudara kita yang Nasrani hendak merayakan hari Natal, kita kembali lagi sibuk membahas boleh mengucapkan atau tidak. Di banyak sekali momen, bahkan di momentum ramadhan seperti ini nanti ketika menjelang hari raya. Kita kembali sibuk berdebat tentang tanggal 1 syawal. Golongan yang satu dengan yang lain tetap bersikukuh mempertahankan “caranya”. Sepaham saya sebagai awam, kita diajarkan untuk mengutamakan kebersamaan. Bukan kelompok.

Saya teringat tentang cerita seorang salih yang berbeda paham tentang doa qunut. Beliau bersedia tidak memakai Qunut ketika salat subuh di tempat orang lain yang tidak menggunakannya, padahal biasanya beliau menggunakannya ketika subuh. Demi keutuhan dan kebersamaan umat. Bukan justru bersikeras mempertahankannya.

Kembali lagi, kita seolah tidak beranjak dari perkara-perkara yang itu-itu saja. Agama ini tidak hanya membahas soal hubungan lawan jenis dan segala cinta-cinta yang berkaitan dengan itu. Saya sampai pada satu titik dimana ingin sekali meneriakkan bahwa mau sampai kapan kita membahas tentang halal haramnya pacaran padahal itu hukumnya sudah jelas. Kapan kita beranjak membahas isu yang lebih mutakhir. Tiongkok saja sudah pergi ke luar angkasa, disusul oleh India. Mau sampai kapan umat ini hanya belajar tentang itu-itu saja seolah tidak ada habisnya?

Bahkan kemudian itu menjadi komoditi untuk menjual berbagai macam seminar dan buku-buku nuansa merah jambu yang khas. Kapankah kajian-kajian kita bersinergi antara pengetahuan umum dan pengetahuan agama? Kalau penyampai ilmu agama dan penyampai ilmu pengetahuan selalu orang yang berbeda? Yang paham agama hanya paham agama, dan yang paham ilmu pengetahuan hanya paham ilmu pengetahuan. Padahal kandungan kitab suci Al Quran memuat keduanya dalam satu waktu.

Akibatnya saya mendapati begitu kajian yang keliru. Ketika seorang penceramah bicara tentang sains dan teknologi, keliru. Juga sebaliknya. Hanya saja saya lebih sering bertemu yang bertama, ketika begitu banyak “ahli agama” tidak memahami sains dan teknologi, bahkan setiuasi politik ekonomi dan hal-hal lain yang bersifat kekinian.

Kita pun jangan latah. Urusan untuk membawa islam kepada kemuliaan adalah tanggungjawab besar. Jangan mudah terbawa arus. Kita sebagai generasi muda, juga jangan mudah digiring kepada masalah-masalah yang itu-itu saja. Apalagi kita sedang menjadi target manis dari seminar-seminar pernikahan dan sebagainya. Pernikahan itu penting, tapi tolong pahami bahwa urusan kita tidak hanya itu. Pelajari dengan bijak dan segera berbuat lebih banyak.

Di negeri lain, islam itu sedang dihancurkan. Kita ketinggalan ratusan tahun dari penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dari umat lain. Kita kalah dalam hal pengalaman nilai-nilai islam itu sendiri. Sesederhana kebersihan adalah sebagian dari iman, lingkungan kita tidak pernah mencerminkan kita semua sebagai orang islam.

Kadang, saya merasa sedih dengan kondisi ini. Kita sibuk membahas perbedaan satu sama lain, padahal sesama orang yang mengaku berislam. Mengkafirkan sana sini, bersikeras dengan pendapat golongannya. Kita lupa bahwa urusan kita tidak hanya membahas tanggal 1 syawal, valentine, tahun baru, dan pacaran, dan hal-hal seputar itu. Semua itu sudah jelas hukumnya, ulama-ulama terdahulu sudah membahasnya dan menjadi begitu banyak fatwa. Jangan kita kembali terus ke belakang. Mari kita beranjak.

©Kurniawan Gunadi

image source here

Ramadhan #4 : Tidak Mengalir Begitu Saja

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Saya menyadari bahwa hidup itu tidak seperti air yang mengalir. Karena jalan hidup manusia
tidak semuanya ke bawah. Ada yang harus terjun, ada yang harus
menanjak, bahkan ada yang harus menguap lalu tiba-tiba dijatuhkan dari
langit di hari lain. Hidup itu tak ubahnya air, tapi tidak mengalir
begitu saja.

Kita harus berjuang keras. Menggerakkan diri kita dengan upaya yang
luar biasa untuk mencapai tujuan. Kemudahan-kemudahan jalan yang
diberikan adalah bentuk pertolongan-Nya yang sering kita tidak ketahui.

Hidup kita tak ubahnya air, tapi tidak mengalir begitu saja.

Kita akan diberikan begitu banyak jalan, baik itu berupa jalan yang luas seperti sungai hingga celah-celah kecil. Kita berupaya untuk bisa sampai ke tujuan dengan seperti apapun jalan yang kita tempuh.

Ujian setiap orang itu berbeda, tidak pernah kita bisa membandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang orang lain miliki. Tidak pernah kita bisa mengatakan bahwa kita bisa merasakan apa yang dia rasakan padahal kita tidak pernah mengalaminya.

Hidup ini tidak mengalir begitu saja. Kita harus berjuang untuk bertahan melawan gravitasi. Ketika semua orang menjadi sama, kita berjuang menjadi berbeda. Menjadi asing.

“Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing
sebagaimana awalnya, sungguh beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR Muslim).

©kurniawangunadi

Ramadhan #3 : Salat dan Kepemimpinan

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Ketika berjamaah di mushala, saya terpikir
sesuatu tepat ketika saya berdiri di belakang imam kemudian imam salah
bacaan. Saya ingat beliau memakai surat Al A’la pada rakaat kedua. Pada
ayat ke sekian beliau lupa kemudian diulang-ulang ayat sebelumnya, dalam
shalat makmum terdekat wajib mengingatkan bukan?

Hal
ini tiba-tiba menjadi dasar tulisan ini, betapa dalam agama
Islam telah dicontohkan dengan amat sangat teramat jelas dan super baik
tentang sebuah kepemimpinan, tidak hanya tentang pemimpin tapi juga yang
dipimpin, lengkap dengan bagaimana menjalankan proses memimpin dan
dipimpin tersebut. Semua contoh kepemimpinan itu terangkum begitu mendasar hanya dalam shalat berjamaah. Berikut hasil
“kepikiran” saya tadi.

PERTAMA : Menentukan/Memilih Pemimpin

Dalam
shalat berjamaah, harus ada satu imam, tidak boleh lebih, meskipun
jumlah makmumnya satu milyar, imam nya hanya satu, pun jumlah makmumnya
juga cuma satu. Imamnya juga harus satu. Dalam sebuah perjalanan, harus
dipilih salah seorang dari mereka untuk menjadi pemimpin bukan? Dalam
shalat, imam haruslah seseorang yang memiliki bacaan Al Quran yang paling
baik dan benar. Intinya secara sederhana, imam haruslah orang yang
pandai dan cakap. Layaknya memilih imam Masjidil Haram mungkin.

Dalam sebuah masjid biasanya telah ditentukan imam masjid
tersebut dan biasa dipilih karena ilmunya lebih baik daripada yang
lain, sebab itu dia dipercaya menjadi imam. Sebab imamlah yang akan
membawa makmum ke dalam shalat berjamaah yang sah.

Hebatnya, ketika kita dalam perjalanan kemudian masuk mushala
lantas tidak satupun diantara yang dalam mushola itu kenal satu sama
lain, kemudian hendak salat berjamaah. Salah satu dari mereka harus
menjadi imam, padahal kita belum mengenal bagaimana bacaan Qurannya dan
sebagainya. Mengenal orangnya saja tidak tapi kita ikhlas menjadi
makmum. Seseorang memang harus ikhlas ketika memimpin juga ketika
dipimpin bukan?

KEDUA : Menjadi yang Dipimpin

Dalam
shalat, makmum wajib hukumnya mengikuti imam. Dan wajib pula hukumnya
mengingatkan imam apabila terjadi kesalahan dalam shalatnya, baik salah
bacaan maupun kurang hitungan rakaatnya. Kemudian di antara sekian
makmum, kita diajarkan dalam shalat berjamaah, makmum yang tepat
dibelakang imam adalah makmum yang memiliki bacaan quran sama baiknya
dengan imam. Apabila imam batal ditengah-tengah salatnya maka makmum
tepat yang dibelakang imamlah yang akan maju kemudian menggantikan
imam. Bukan makmum dalam saf paling belakang yang menggantikan bukan?

Makmum yang dibelakang imam memang ditempatkan untuk
keadaan-keadaan seperti itu, dalam jamaah sebuah masjid besar pun
diposisikan demikian jika kita memperhatikan. Sebab makmum yang terdekat
itu akan mengkoreksi bacaan shalat apabila ada yang salah.

Dalam sebuah keberjalanan sebuah kepemimpinan, apabila pemimpin
harus mundur di tengah masa kepemimpinannnya,maka harus disiapkan orang
yang cakap dan dipercaya untuk menggantikan posisi pemimpin tersebut,
bukan secara asal-asalan. Agar pengganti tersebut mampu meneruskan
“program kerja” yang telah dibuat oleh pemimpin sebelumnya dengan baik.

Tentu saja apabila seorang imam batal dalam shalat maghrib dan
mundur, pengganti imamnya tidak mengubah shalat jamaahnya menjadi shalat
isya bukan?

KETIGA : Mengingatkan Pemimpin

Subhanallah,
dalam shalat berjamaah. Kita perhatikan ketika misal imam lupa pada
bilangan rakaat, kurang satu dalam shalat isya misal. Pada rakaat ketiga
imam justru duduk takhiyat akhir. Makmum serempak mengucapkan
“Subhanallah” , lantas imam kembali berdiri untuk menggenapkan rakaat
disertai makmum.

Dalam shalat berjamaah, kita diajarkan dalam mengingatkan
pemimpin bukan dalam bentuk celaan ,tapi sebuah kalimat tasbih “subhanallah”.
Cara mengingatkan yang begitu halus. Tidak pernah kita diajarkan untuk
mencela pemimpin.

Lalu bagaimana jika imam percaya,
bahwa bilangan rakaatnya telah tepat (meskipun pada kebenarannya kurang
satu)
dan imam tetap melanjutkan duduk takhiyat akhirnya tadi. Makmum
wajib mengikuti bukan? Meski sudah diingatkan dengan kalimat pujian
tadi, apabila Imam yakin dalam rakaatnya. Makmum diwajibkan tetap
mengikuti imam, apabila tidak. Bubarlah shalat jamaah tersebut. Lantas
barulah ketika shalat selesai, makmum menggenapkan rakaatnya kemudian
selesai shalat mengingatkan kepada imam bahwa tadi rakaatnya kurang. (Mohon koreksinya bila ada kesalahan pemahaman saya terhadap bab Fiqih ini)

Dalam sebuah perjalanan tersebut tidak diadakan yang
namanya “kudeta” dalam shalat berjamaah. Sebuah proses kepemimpinan
harus dijalankan hingga selesai, barulah setelah selesai masa
kepemimpinan tersebut. Apabila pemimpin memiliki kesalahan, yang
dipimpin wajib hukumnya mengingatkan. Pun yang dipimpin tadi telah
menunaikan apa-apa yang alfa dari pemimpin tersebut.

KEEMPAT : Semasa Kepemimpinan

Tidak
pernah dalam sebuah shalat berjamaah ada makmum yang mengkudeta imam,
imam akan mundur dengan sendirinya apabila selama keberjalanan shalat
berjamaah ia gagal memenuhi syarat menjadi imam (misal batal karena
kentut, dll). Imam dengan kesadaran dirinya harus mundur untuk
digantikan kepemimpinannya oleh makmum yang cakap, yaitu yang tepat
dibelakangnya. Jika imam meneruskan shalatnya dalam keadaan tidak suci
tadi, maka ditanggunglah segala dosa dari semua makmumnya. Sebab jelas
mungkin makmum tidak tahu jika sang imam telah batal salatnya.

Selama masa kepemimpinan, wajib bagi makmum untuk taat kepada
imam, apakah imam tersebut lambat atau cepat dalam memimpin shalat.
Makmum tidak dibenarkan untuk mendahului imam.

Kita juga tahu,dalam satu masjid tidak dibenarkan ada 2 barisan
jamaah shalat, keduanya memiliki imam masing-masing. Jika ingin
membentuk jamaah baru, pastikan shalat jamaah yang sebelumnya telah
selesai. Kita tidak bisa dan tidak dibenarkan mendirikan negara baru
didalam sebuah negara yang berdaulat bukan. Atau kita mendirikan
organisasi baru dalam sebuah organisasi.

Tentu saja makmum yang kemudian masuk ke masjid, akan bingung dan
bertanya, “Loh kok ada dua shalat berjamaah? Keduanya memiliki imam
dan makmum, saya harus masuk jamaah yang mana?”

Itu baru sedikit yang saya ungkapkan, sejatinya panjang dan
lebar. Tapi marilah kita sama-sama mengambil hikmah, pengajaran berharga terutama dari hal yang sederhana dan setiap hari kita lakukan, yaitu shalat. Utamanya, shalat berjamaah.

©kurniawangunadi

n.b : Tulisan ini ditulis di tumblr saya pada 17 Januari 2013, saya muat ulang karena masih relevan dengan situasi saat ini.

Ramadhan #2 : Kemudahan dan Keberkahan

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Saya pernah mengulas tentang hal ini ditulisan lama, saya lupa judulnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat dinanti bagi orang islam yang beriman dan bertakwa. Ada banyak keberkahan yang turun di bulan suci tersebut. Setiap orang yang saya kenal berlomba untuk menggapai setiap mili-keberkahan. Hari ini pun (6/6), jamaah subuh yang biasa saya kunjungi menjadi penuh. Kemarin malam padahal tetap seperti biasa, dua shaf.

Ramadhan ini seolah-olah setiap orang islam terlihat soleh/solehah. “Terlihat” karena memang itu yang nampak, perkara niat itu hak Allah.

Tadi malam, sepulang tarawih di Masjid Nurul Asri – Deresan, saya mampir dulu ke tempat makan untuk mencari makan malam sekaligus cadangan sahur. Saya berusaha berkaca seluas-luasnya di ramadhan ini. Saya dan mungkin begitu banyak orang memasang target besar dalam ibadah individu; baca Quran-nya lebih banyak, shalat sunahnya lebih rajin, tahajudnya lebih panjang, dan apapun yang terkait dengan ibadah individu. 

Tentu ini bukan bicara tentang baik dan buruk atau salah dan benar. Saya merenung dalam perjalanan kembali ke rumah. Kalau keberkahan (dalam hal ini dalam bentuk pahala) hanya turun kepada orang-orang yang melakukan ibadah tersebut secara penuh, bagaimana dengan orang-orang yang mungkin tidak mampu bahkan tidak berkesempatan untuk itu?

Bukan karena mereka tidak ingin, tapi keadaan, kondisi, dan berbagai tuntutan hidup membuat mereka harus seperti itu. Saat kita sedang khusu’ tarawih, di luar sana ada bapak tukang parkir yang sedang menjaga kendaraan kita, di luar sana yang kita sering sekali abai dan tidak peduli, ada puluhan remaja seusia kita yang harus berjuang untuk hidup, mereka menjadi penjaga toko, pelayan restoran, dan untuk bekerja itu mereka merelakan waktu shalat tarawih berjamaah. Bahkan, pemilik tempat makan pun sengaja membuka tempat makannya di jam-jam itu (biasanya 17.00-22.00). Dan kita, sering tertawa usai tarawih ketika makan di sana atau saat berbuka puasa di tempat makan itu. Apalagi saat nanti ramai acara buka puasa bersama. Jahat gak sih?

Di saat kita begitu bersemangat menghadiri kajian-kajian dengan penceramah yang keren-keren, ada yang harus berjuang untuk hidup dan melakukan tugasnya. Para penjaga pintu kereta api, para sopir bus malam, para nakhoda di lautan, para kelasi, juga buruh-buruh bangunan dan pelabuhan, petugas pom bensin, penjaga mini market, tukang parkir, masinis, pilot, dokter dan perawat yang harus berjaga di rumah sakit, dll. Mereka berjuang untuk hidupnya juga hidup orang lain, mungkin juga untuk keluarganya di rumah. Kalau mereka semua meninggalkan tugas pekerjaannya, mungkin kita semua yang kemudian marah-marah. Jahat gak sih?

Di saat pagi kita bisa bersantap sahur, duduk manis di ruangan keluarga yang hangat, makanan yang enak. Ada di luar sana yang harus ke pasar dini hari, ada yang memasak untuk warungnya demi teman-teman yang nge-kos bisa beli makanan untuk sahurnya, dan lain-lain. Kapan terakhir kali kita berempati?

Betapa begitu banyak kemudahan yang kita miliki. Kita tidak perlu susah payah untuk memenuhi kebutuhan keuangan. Tidak perlu bekerja menjadi penjaga toko, pelayan restoran, apapun itu. Kita bisa menghadiri kajian rutin tanpa harus memikirkan hal lain. Kita diberikan banyak kemudahan untuk meraih keberkahan di bulan ramadhan ini dengan segala target ibadah individu yang sudah dibuat.

Pertanyaannya, adakah target ibadah sosial di sana? Adakah niat kita untuk ikut serta dan turun tangan membantu memudahkan orang lain beribadah juga sama seperti yang kita dapatkan? Akankah kita begitu egois, mengharapkan semua keberkahan itu menjadi milik kita semata tanpa peduli apakah itu juga didapatkan oleh orang lain?

Semoga keberkahan ramadhan itu turun kepada orang-orang yang memudahkan kita semua dalam menjalankan ibadah. Bahkan saya merasa, mereka jauh lebih pantas mendapatkan kebaikan itu. Yang jelas, Allah Maha Pengasih dan Penyayang.

© Kurniawan Gunadi