Ramadhan #1 : Menjadi Doa Sepanjang Masa

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Setiap orang tua selalu ingin memberi yang terbaik untuk anak-anaknya. Bahkan, orang tua menyematkan doa-doa terbaik untuk anak-anaknya. Salah satu doa terbaik yang dimiliki orang tua itu diabadikan, sebuah doa yang akan tersemat setiap hari sepanjang waktu, menjadi doa yang disebut oleh setiap orang yang mengenalkan, menjadi doa yang nantinya juga akan disebut oleh Allah SWT ketika di hari akhir. Bahkan saat berbuat baik, malaikat akan menyebut doa itu berkali-kali. Doa yang abadi tapi seringkali kita lupakan. Doa itu adalah nama kita.

Pernah tidak bertanya kepada orang tua kita tentang arti dari nama kita? Tentu saja dulu ketika orang tua memberi nama itu kepada kita, tidak sembarangan, tidak pula asal-asalan. Ada harapan besar yang tersemat, dari sekian milyar harapan, diabadikan salah satu harapan itu menjadi nama yang kita sandang sampai hari ini. Di waktu yang tepat ini, coba tanyakan kepada mereka.

“Ibu, Ayah, arti namaku apa sih? Apa harapan Ibu dan Ayah sampai memberiku nama itu?

Bisa jadi, kita terharu mendengar betapa baik dan tulusnya harapan dan doa-doa itu

Dari begitu banyak impian kita selama ini, pernahkah kita bermimpi untuk menjadi seperti nama kita? Dengan begitu, sebenarnya kita sedang berusaha untuk mewujudkan harapan orang tua kita.

Nama adalah doa, harapan, impian, yang abadi. Diabadikan oleh alam semestar. Bagaimana tidak? Ia menjadi tanda nama diseluruh dokumen resmi, ia pun menjadi tanda nama di kitab-kitab catatan amalan kita, kelak di hari akhir, nama itu pula yang akan disebut.

Pernahkah kita merenungkan makna dari nama kita sendiri? Mengapa orang tua kita memberi nama kita seperti itu? Atau ada yang mengeluh sebab memiliki nama yang tidak “modern”, terlihat kuno? Atau justru ada yang ingin memiliki nama yang lain? Atau ada yang sengaja mengganti nama kita dengan nama lain, terutama di media sosial? Sebegitu malukan kita untuk menjadi harapan orang tua kita?

Coba rasakan baik-baik. Sudah sejauh apa kita berjuang dan berusaha menjadi doa orang tua kita? Menjadi anak yang uswatun khasanah (suri teladan yang baik), menjadi mentari, menjadi nur (cahaya), menjadi kurnia (karunia), menjadi kartika (bintang-bintang), menjadi apapun.

Kalau sederhananya kita bisa mewujudkan diri menjadi nama kita sendiri dan siapapun melakukan hal yang sama. Niscaya kehidupan ini akan dipenuhi oleh orang-orang baik.

©kurniawangunadi

Cukup

Kalau kita terus menerus mencari yang terbaik. Mungkin, kita tidak akan pernah selesai membanding-bandingkan. Kata guruku, segala yang baik itu adalah yang tumbuh ke arah kebaikan. Tidak ada yang benar-benar terbaik, yang ada hanyalah yang bersedia untuk terus memperbaiki dan diperbaiki.

Lalu bagaimana kita bisa menentukan? Kata guruku, dasarnya adalah kecukupan. Manusia bisa jadi memiliki ribuan pakaian, tapi dia hanya bisa memakainya satu. Bisa jadi memiliki ratusan piring makanan dalam satu meja makan, tapi dia hanya akan bisa menghabiskan beberapa saja.

Ambilah secukupnya. Karena yang cukup itulah justru yang bisa memberikan kenyamanan. Bisa memberikan ruang gerak untuk terus tumbuh, untuk terus memperbaiki diri.

Pada akhirnya memang kita hanya perlu yang cukup.

©kurniawangunadi

Ramadhan #7 : Hidup ini Tentang Doa

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Doa. Hidup menjadi kuat karenanya. Jalan yang terasa terjal mudah karenanya. Kapankah kita terakhir mengucapnya? Sedetik yang lalu? Sejam yang lalu? Sehari yang lalu? Seminggu yang lalu? Atau setahun yang lalu?

Kita terkadang lupa, hidup ini tentang doa. Cita-cita, mimpi, dan segalanya muaranya adalah sebuah doa. Bahwa dalam doa itu sesungguhnya kita membutuhkan-Nya; Allah Azza wa Jalla. Sesombong apakah diri sampai lupa berdoa? Tak ingatkah bahwa diri ini berada pada posisi ini, karena sebuah doa. Doa dari seorang ibu, doa dari seorang ayah atau bahkan doa dari seorang yang dalam diamnya tak lupa mendoakan kebaikan bagi hidup kita.

Hidup ini tentang doa.

Dalam Ramadhan ini, doa menemukan waktunya untuk terkabul. Engkau mungkin tak sadar di waktu sahurmu, Malaikat-malaikat-Nya turun di sepertiga malam itu, mencatat setiap doamu atas perintah-Nya.

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.’ (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758). Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Do’a dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” (Fath Al-Bari, 3: 32).
Atau engkau mungkin alpa bahwa Allah Ta’ala menjaminkan terkabulnya doamu ketika engkau berpuasa hingga berbuka nanti.

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizalimi’.” (HR. Ahmad 2: 305. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dengan berbagai jalan dan penguatnya)

Aku sampai pada Ramadhan ini juga karena doa. Mungkin juga karena Allah Ta’ala masih sayang kepadaku memberikanku waktu memperbaiki diri karena Ramadhan adalah sebaik-baiknya bulan. Dan, Allah Maha Mengetahui, aku masih ingin mendoakanmu.

Barangkali di Ramadhan ini, Allah memperkenankan doaku tentangmu.

Aamiin.

Pengirim Tulisan :
Lulu Anjar
justformydiin.tumblr.com

Ramadhan #6 : Buka Bersama

Tak habis-habisnya ketakjuban saya dengan datangnya Bulan Ramadahan.
Karena bulan yang penuh berkah ini, memperjumpakan siapa pun yang lama
tak berjumpa. Baik itu di mushola atau masjid tatkala bertarawih. Dan
yang beberapa tahun terakhir menjadi tren di kalangan masyarakat. Buka
bersama.

Buka bersama, kerap dijadikan sebagai kegiatan reuni. Kawan SD, SMP,
SMA, kuliah; organisasi, komunitas, dan bentuk-bentuk kumpulan lainnya
yang mengatasnamakan identitas tertentu.

Begitu bahagianya, ketika kesempatan bersilaturahim itu datang. Saling
berjabat, bertegur sapa, dan melepas rindu dengan berbincang dari
mulai kondisi kesehatan, pendidikan, karier, anak sampai merencanakan
pertemuan-pertemuan berikutnya.

Hingga ada hal yang ‘terlewatkan’ karena alasan mumpung lagi ngumpul.
Sholat isya’ dan tarawih. Mungkin untuk sholat maghrib masih bisa
terjangkau, karena percakapan bisa ditinggalkan sejenak. Namun untuk
sholat isya’ dan tarawih paling cepat habis 30 menit.

Sayang sekali, niat baik untuk bersilaturahim justru melalaikan ibadah
yang lain. Meski sholat isya’ dan tarawih masih sempat dilakukan di
rumah. Namun kurang bijak kiranya. Ini menjadi keresahan saya, dan
tentu saja saya pernah dalam kondisi ini.

Mungkin ada alternatif lain selain kita menyebutnya buber (buka
bersama). Bagaimana kalau buka puasa dan tarawih bersama (?). Hemat
saya ini lebih baik. Kita bisa tetap bersilaturahim dengan tidak
melalaikan ibadah yang lain. Justru, waktu silaturahim kita lebih
panjang dan bermakna. Karena tidak hanya berbincang dan melepas rindu.
Kita dapat saling mendukung satu sama lain untuk meningkatkan kualitas
ibadah. Atau jika ingin lama lagi bisa ditambahkan bertadarus bersama,
hehehe.“

Pengirim Tulisan :
Dawud Kusuma Dwijayadi

International Relations of Airlangga University
@dawudkd

Ramadhan #4 : Karena Pertolongan Allah

Segala kemudahan kita dalam melaksanakan seluruh bentuk kewajiban-Nya sesungguhnya adalah karena pertolongan-Nya. Kaki kita yang ringan langkahnya melangkah ke masjid. Mulut kita yang mudah membaca kitab suci. Pikiran dan hati kita yang mampu merekam seluruh isi kitab suci itu.

Kemudahan kita untuk berbuat baik. Kelapangan hati kita untuk sabar terhadap musibah dan ujian. Keteguhan hati kita menghadapi godaan. Segala bentuk kebaikan yang selama ini kita sangka adalah upaya diri sendiri. Sejatinya adalah pertolongan Allah yang tidak kita pahami.

Allah menolong kita dengan membuat kaki kita ringan melangkah, mulut kita ringan mengucap kalimat quran, membuat hati kita yang sabar dan luas. Semua itu terjadi karena pertolongan Allah. Bagaimana bila Allah tidak memudahkan urusan kita dalam melaksanan kebaikan-kebaikan itu? Tentu amalan itu tidak menjadi kenyataan.

Bila kita memahami itu dengan baik. Maka tidak ada hak sedikitpun untuk kita menyombongkan diri atas amalan yang kita lakukan. Tak ada yang bisa kita banggakan dari seluruh amalan kita. Karena itu semua terjadi karena pertolongan Allah yang Maha Melihat.

Tugas kita sesungguhnya adalah terus menerus bersyukur atas ibadah kita yang semakin dimudahkan. Bersyukur atas mudahnya kita melakukan kebaikan. Dipertemukannya kita pada kesempatan-kesempatan terbaik dalam hidup. Dipertemukan dengan orang-orang yang sama-sama bergerak menuju-Nya. Allah menolong kita dengan cinta-Nya yang luar biasa besar. Semoga kita bisa sama-sama memahami hakikat ini.

Palu, 21 Juni 2015 | ©kurniawangunadi

Open Submission : Proyek Tulisan Ramadhan

Akhirnya, esok bertemu lagi dengan ramadhan. Beberapa hari kebelakang ini tidak menulis kategori “tulisan” dan “cerpen” seproduktif biasanya dengan satu alasan. Proyek tulisan ramadhan akan ada lagi seperti tahun-tahun sebelumnya, silakan disimak di tautan inI (klik).

Ramadhan tahun lalu, proyek tulisan ramadhan sempat keteteran karena sibuk mengurus anak pertama (baca: Hujan Matahari) yang waktu itu baru mau lahir. Ramadhan tahun ini pun akan memiliki tantangan tersendiri untuk proyek tulisan tersebut.

Hari pertama puasa, alhamdulillah mungkin tidak bisa buka puasa pertama di rumah. Benar-benar seperti jaman mahasiswa. Hari kedua, saya harus pergi ke Palu dan transit beberapa jam di Balikpapan. Tidak disangka menjadi salah satu kesempatan untuk silaturahmi dengan teman-teman RI Media Balikapapan dan FIM Kaltim di sana. Bahkan, jumat pertama di ramadhan terpaksa absen karena jadwal pesawatnya tepat jam shalat jumat :’)

InsyaAllah akan sepekan di Sulawesi, tepatnya di Makassar dan Palu untuk acara “anak pertama”. Semoga aktivitas yang padat tersebut tidak menghalangi niat baik proyek tulisan ramadhan. Selang satu hari, insyaAllah saya akan ke Palembang untuk hal lain selama beberapa hari, lanjut ke Jakarta dan Bandung. Baru awal Juli sepertinya bisa istirahat di rumah. Jadi, proyek tulisan ramadhan ini akan menjadi proyek yang penuh tantangan. Karena tulisan dibuat per-hari setiap subuh dimuat.

Dan akan menarik tahun ini bila proyek ini saya buat menjadi sebuah proyek terbuka, tidak hanya memuat tulisan saya sendiri. Tapi juga tulisan dari teman-teman tumblr semua.

Untuk itu, untuk teman-teman yang ingin berbagi tulisan hikmah, pemikiran, curahan hati, perjalanan, pembahasan topik agama, dll yang sekiranya memuat nilai-nilai yang baik dan jangan terlalu panjang. Teman-teman bisa mengirimkan tulisan tersebut ke [email protected] Jangan lupa cantumkan identitas nama dan alamat akun tumblrnya untuk ditautkan.

Mungkin tidak semua tulisan akan termuat karena ramadhan hanya 30 hari, satu hari maksimal 2 tulisan dimuat. Jadi diperlukan 60 tulisan ramadhan 🙂

Silakan bersiap bagi yang ingin berbagi. Saya tunggu tulisan-tulisan menarik-inspiratif. Mari buat tulisan kita menjadi salah satu ladang pahala selama bulan suci ini.

Salam Hangat,

Kurniawan Gunadi

Ramadhan #20 : Shalatmu

Bila seorang manusia telah shalat tapi dia tidak bisa memberikan manfaat apapun dalam kehidupan. Shalatnya tidak bermakna apa-apa. Shalatnya mungkin sekadar ritual saja, hilang makna, tanpa esensi, tidak mengerti tujuan.

Shalat seorang manusia dibuka dengan takbir. Sebuah pengakuan kebesaran-Nya. Seperti sebuah ucapan salam untuk mengetuk pintu rumah-Nya. Sebuah ucapan salam pertemuan dengan-Nya. Sepanjang shalat seorang manusia sedang bercengkerama dengan Tuhan-Nya. Duduk berdua dalam sebuah majelis ibadah. Berbicara sangat intim antara Sang Pencipta dengan hamba-Nya. Sebuah dialog pribadi, sebuah pertemuan pribadi.

Usai shalatnya, ditutup dengan salam. Salam kepada apa yang ada disekitarnya sambil menengok kanan dan kiri. Semoga keselamatan dan rahmat-Nya senantiasa dilimpahkan atas apapun yang ada di sekitarya. Usai shalatnya, seorang manusia diminta kembali ke masyarakat. Berbuat banyak, tidak hanya sibuk beribadah berlama-lama mengukur tasbih. Menghitam-hitamkan jidat. Usai shalatnya sorang manusai diminta memberikan kebaikan kepada masyarakat. Menjadi perantara Tuhan-Nya melakukan banyak hal kepada dunia ini.

Menjadi perantara nikmat-Nya kepada orang lain, membantu orang lain, menyelesaikan masalah, memperbaiki keadaan. Tidak hanya sibuk mengaji dan sibuk mengurus surga untuk diri sendiri.

Usai shalatnya, seorang manusia harus kembali ke masyarakat. Bila shalat hanya untuk sekedar melengkapi kewajiban, shalatnya tidak akan lagi bisa mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar.

Karena sudah terlalu banyak orang shalat tapi tidak seperti sedang bertemu Tuhan. Karena sudah terlalu banyak orang usai shalat tidak kembali ke masyarakat. Bagaimana dengan shalatmu?

Apakah kamu menjadi bermanfaat untuk orang-orang di sekitarmu?

26 Juli 2014 | ©kurniawangunadi

Ramadhan #19 : Harus Mengalami

Tulisan ini adalah tulisan ramadhan 19/30 yang tertunda karena penulisnya difokuskan pada pekerjaan lain. Semoga tetap bermanfaat.

Hati kita kadang harus terluka. Agar kita tahu bagaimana rasanya dikhianati. Agar kita tidak mengkhianati. Hidup kita kadang harus hancur. Agar kita tahu bagaimana rasanya dicaci. Agar kita tidak ikut mencaci. Pikiran kita kadang harus jenuh. Agar kita tahu bagaimana rasanya dijauhi. Agar kita tidak menjauhi.

Seluruh cerita hidup kita kadang harus acak-acakan, harus banyak lubang, terluka di sana-sini. Agar kita tahu bagaimana rasanya dibenci, ditinggalkan, ditipu, diolok-olok, diasingkan, dibiarkan. Agar kita tidak menjadi bagian dari orang-orang yang merusak cerita hidup orang lain.

Seluruh cinta kita kadang harus hancur berantakan. Agar kita tahu bagaimana rasanya tidak berbalas, tahu bagaimana rasanya khawatir, menunggu, ditunggu, diburu waktu, dikhianati, bertepuk sebelah tangan, berharap, bersatu. Agar cinta kita menjadi lebih bijaksana, tidak gegabah dalam mengambil keputusannya.

Hidup kita kadang harus seperti itu. Hanya agar kita tahu bagaimana rasanya. Agar kita belajar dan menjadi lebih bijaksana.

Rumah, 23 Juli 2014 | ©kurniawangunadi

Ramadhan #18 : Tuhan Ingin Aku Masuk Surga

Tulisan ini adalah tulisan 18/30 selamat bulan ramadhan. Tulisan ini telat publish karena kesibukan penulis, semoga tetap bermanfaat.

[REPOST] Akhir-akhir ini aku berpikir tentang mati ketika menyaksikan ada teman seusiaku mati karena kecelakaan. Bertanya-tanya bagaimana jika aku mati muda. Siapakah yang akan kehilangan, sesedih apakah teman-teman. Akankah aku diingat-ingat kebaikannya (atau keburukannya). Aku ingin melihat semua itu. Tapi, aku masih takut mati.

Aku merasa, Tuhan benar-benar menginginkanku masuk surga. Dan aku justru enggan disuruh masuk surga. Bagaimana tidak, Dia memberi tahuku bagaimana cara masuk surga. Lalu, aku enggan menggunakan cara itu dan memilih untuk tidak masuk surga. Aku merenung beberapa hari ini sepajang perjalanan. Jika saja kereta yang aku naiki, motor yang aku kendari, atau bahkan ketika aku jalan kaki. Lalu sesuatu terjadi dan aku mati.

Apakah aku sempat bertanya-tanya lagi. Sedihkan orang yang aku tinggal mati, diingatkah aku, atau apapun itu. Sementara mungkin aku menyesali keputusan-keputusanku dalam hidup.

Aku merasa, Tuhan benar-benar menginginkanku masuk surga. Dan aku justru menolaknya. Aku melanggar hampir semua hal yang Dia perintahkan. Hal-hal yang menjadi syarat agar aku bisa masuk surganya. Aku justru memilih neraka dengan senang hati. Aku memikirkan ini sepanjang perjalanan. Dan jika aku mati di jalan. Adakah aku memiliki kesempatan beberapa detik saja untuk bertaubat?

Tuhan benar-benar menginginkanku masuk surga. Dia menempatkanku pada lingkungan yang kondusif, teman-teman yang berhasrat masuk surga. Dan aku justru menolak semua itu. Dia memberiku buku pegangan (kitab) untuk buka kembali disaat aku tersesat dan bertanya-tanya dalam hidup. Dia memberi tahu semua hal yang aku butuhkan agar aku masuk surga-Nya. Dan aku menolak semua itu secara terang-terangan. Aku menantang-Nya.

Aku mencuri. Aku berbohong. Aku sembarangan menggandeng tangan perempuan yang belum halal bagiku. Aku sembarangan makan. Aku menerima uang yang tidak halal. Aku menghabiskan harta dengan sia-sia. Aku mengkhianati kepercayaan. Aku tidak berbakti kepada orang tua. Aku sering meninggalkan shalat, ya atau shalat di akhir waktu. Aku mempertanyakan halal dan haram yang sudah jelas. Aku menghardik anak yatim piatu. Aku enggan bersedekah barang seribu rupiah. Aku hampir tidak pernah membaca kitab-Mu.

Aku merasa, Tuhan benar-benar menginginkanku masuk surga. Meskipun banyak hal sudah kuingkari, Dia masih memberiku waktu. Sayangnya aku tidak tahu sampai kapan waktu itu ada. Aku merasa Tuhan benar-benar menginginkanku masuk surga dan aku menolaknya. Menolaknya dengan terus menerus membuatnya murka. Dengan terus menerus mempertanyakan ada atau tidaknya Dia. Dengan menyombongkan diri tidak berdoa dan memohon kepada-Nya. Dengan melanggar hal-hal yang jelas-jelas dilarang-Nya.  Jika aku mati, aku mungkin tidak sempat lagi memikirkan siapa yang akan mengisi kematianku, aku menangisi diriku sendiri.

Tuhan menginginkan aku masuk surga-Nya dan aku menolaknya.

22 Ramadhan 1435 H | ©kurniawangunadi

Tulisan asli pernah dimuat di sini.

Ramadhan #17 : Mencuci Dosa

Tulisan ini adalah tulisan 17/30 yang dipublikasikan terlambat. Ketidak-istiqamahan menulis tulisan ramadhan akan dibayar dengan menulis berangkap dalam beberapa hari. Semoga tetap bermanfaat.

Sebagai orang yang normal. Maksudku, orang yang secara fisik tidak memiliki satu kekurangan. Bukan masalah soal paras, tapi soal fungsi badan kita. Mata kita bisa melihat, telinga kita bisa mendengar, kaki kita masih dua dan bisa diajak berlari. Tangan kita masih dua dan bisa untuk makan. Ada sebuah pertanyaan menarik,“siapkah apabila salah satu nikmat tersebut diambil untuk mencuci dosa-dosa yang selama ini kita lakukan di dunia?”

Allah tidak akan mematikan seseorang yang beriman sampai Dia mencuci sebagian dosa-dosanya di dunia. Allah ingin kita masuk surga. Kita sama-sama tahu bahwa sakit itu menjadi penggugur dosa, kesabaran dalam musibah juga bisa menggugurkan dosa, berbuat baik, diminta sedekah, shalat tepat waktu , cobaan hidup, dan lain-lain adalah cara-cara Allah mencuci dosa-dosa kita di dunia.

Tapi pertanyaannya, mengapa kita menolak semua itu. Mengapa kita sebagai manusia tidak mau. Mengeluh ketika sakit, mengalami musibah, diminta sedekah berat minta ampun, dan lain-lain.

Coba renungi. Lebih baik Allah membersihkan dosa kita di dunia atau di akhirat? Coba tanyakan kepada diri sendiri. Siapkah bila salah satu kenikmatan hidup yang kita rasakan saat ini diambil untuk menebus dosa-dosa kita? Misal dengan kenikmatan penglihatan kita, kedua kaki kita tidak lagi bisa digunakan, telinga kita tidak lagi bisa mendengar, semua kekayaan kita dan dijadikan kita miskin, dan lain-lain. Bukankah rasanya berat sekali dan kita-aku rasa-tidak siap bila semua itu diambil.

Aku sempat menangis merenungkan semua ini. Betapa kenikmatan yang Allah berikan begitu luar biasa. Kedua tanganku masih bisa digunakan untuk mengetik tulisan-tulisan ini. Bagaimana bila Allah mengambil kedua tangan ini? Apakah aku siap? Seandainya kedua tangan ini bisa menebus sebagian besar dosa-dosaku selama ini. Apakah aku masih tidak siap?

Allah ingin membersihkan diri kita di dunia melalui banyak hal, siapkah kita diambil salah satu kenikmatan hidupnya untuk membersihkan dosa-dosa itu? Atau kita lebih memilih dosa-dosa kita semuanya dicuci di akhirat? Aku rasa aku tidak akan sanggup menahan semua itu.

Aku memilih dan meminta Allah membersihkan dosa-dosaku selama di dunia saja. Meski itu benar-benar akan membuat hidup ini terasa lebih berat. Terus terang, aku takut masuk neraka.

22 Ramadhan 1435 H | ©kurnaiwangunadi