Hadiah untuk Anak-Anak Kita Nanti

Segala bentuk kejadian yang kita alami di masa muda ini akan menjadi pengalaman emosi yang luar biasa berharga. Bekal yang akan amat berguna saat kita menjadi orang tua nanti. Berbagai perasaan khawatir, kecemasan, ketakutan, jatuh cinta, patah hati, penerimaan, penolakan, dan segala bentuk rasa yang tidak bisa dijelaskan satu persatu. Semuanya akan menjadi sesuatu yang berharga.

Bagaimana perasaan kita kepada orang tua. Terhadap kekhawatiran mereka, terhadap ketidaksepakatan mereka, terhadap perintah dan larangan mereka, dan segala bentuk hal yang berkaitan dengan mereka. Akan menjadi cermin yang membuat kita menjadi orang tua yang (seharusnya) bisa lebih bijak kepada anak-anak kita nantinya.

Bagaimana perasaan kita kepada seseorang. Bagaimana perasaan itu tumbuh dan diterima dengan baik, tapi dihadapkan dengan berbagai rintangan, penolakan keluarga, juga keadaan. Semuanya akan menjadi cerita yang berharga saat anak-anak kita nanti meminta nasihat dan pertimbangan kita kala mereka mengalami hal serupa.

Sekolah, kuliah, pekerjaan, pertamanan, organisasi, semuanya akan memberikan pengalaman rasa yang berbeda. Rasa yang akan mengasah hati, mengasah kebijaksanaan kita kelak kemudian saat kita menjadi orang tua. Saat pengalaman masa muda kita bisa diceritakan kepada anak-anak kita hingga berbinar matanya. Hingga mereka bisa menangkap pembelajaran berharga, hingga mereka tidak mengulangi kesalahan yang serupa.

Juga, agar mereka bisa mendapatkan orang tua yang bijaksana. Orang tua yang bersedia mendengarkan, belajar, terbuka, dan mampu membimbing. Sebab, pasti setiap orang tua ingin yang terbaik dan ingin anak-anaknya bahagia. Akan tetapi, banyak yang tidak bertanya kepada anaknya tentang apa hal yang membuat mereka bahagia. Memaksakan definisi-definisi kebahagiaan kepada anak.

Kelak, anak-anak akan bertanya. Jawabannya adalah apa-apa yang sedang terjadi dalam hidup kita saat ini dan segala rasa yang sedang kita rasakan. Tinggal bagaimana kita berhasil atau tidak mengambil pelajarannya 🙂

Yogyakarta, 3 Desember 2017 | ©kurniawangunadi

RTM : Pasanganmu Kelak

Sebuah pembelajaran dalam setahun berumah tangga.

Dalam urusan pasangan hidup. Kita tentu punya berbagai macam keinginan atau gambaran, itu baru dari diri kita. Belum dari keluarga, dari orang tua, dari orang-orang sekitar, dan pandangan lain yang ikut memengaruhi setiap keputusan akhir; akan seperti apa.

Batas kita ada pada ikhtiar. Selebihnya, lebih banyak pada kemampuan kita untuk ikhlas menerima seperti apapun akhirnya. Karena akhir dari pencarian itu bukanlah tentang akhirnya kita bisa menemukan yang tepat, melainkan kita bisa menerima apa adanya dirinya.

Kriteria-kriteria yang kita buat hanya bisa mengantarkan kita pada harapan, selebihnya harapan-harapan itu hanya bisa digantungkan kepada Tuhan. Tidak kepada manusia. Sebab, tidak ada yang akan bisa memenuhi semua kriteria itu. Selagi manusia bertumbuh, selagi manusia punya potensi untuk berubah, entah dari baik menjadi buruk, ataupun sebaliknya. Sebab, urusan pasangan hidup bukanlah tentang apa yang ada saat ini dalam dirinya, melainkan potensinya diperjalanan panjang yang sudah menanti kita di depan. Melihatnya lebih jauh, melihatnya lebih luas. Melalui sudut pandang yang lebih bijak dan mendalam, melihat manusia sebagai sebuah potensi, bukan sebagai parameter tetap.

Orang yang hari ini baik, esok bisa menjadi jahat. Orang yang hari ini jahat, esok bisa menjadi baik. Begitulah manusia. Dan kemampuan kita untuk melihat potensi-potensi kebaikan yang besar pada seseorang haruslah kita asah. Kepekaan kita harus kita didik sejak dini, peka untuk membantu sesama, peka untuk merasakan apa yang orang lain rasakan, empati.

Dan urusan pasangan hidup. Adalah urusan yang tidak seharusnya membuat kita resah. Kalau mau tahu, justru lebih meresahkan dan lebih sulit mencari mertua yang tepat dibandingkan mencari pasangan yang tepat. Kita akan berbakti pada orang tua baru, orang tua dari pasangan kita. Dan daya dukung serta daya didiknyalah yang bisa menguatkan cita-cita rumah tangga yang akan kita bina.

Esok atau lusa, saat barangkali kamu akan sampai dititik keresahan itu. Lihatlah dengan sudut pandang yang lebih luas. Lihatlah segala sesuatunya dengan ketelitian iman, bukan dengan hawa nafsu. Lihatlah bagaimana seseorang itu ditumbuhkan oleh orang tuanya, sebab bisa jadi jawabanmu bukan terletak pada diri seseorang itu, melainkan apa-apa dan siapa-siapa yang ada disekelilingnya.

Orang baik itu dilingkari oleh orang-orang baik.

Yogyakarta, 25 November 2017 | ©kurniawangunadi

Salah Paham

Sering dalam berinteraksi sehari-hari, kita salah paham terhadap sesuatu. Apa yang disangka A ternyata sebenarnya B, apa yang disampaikan bermaksud baik tapi kita salah memahami dan merasa apa yang disampaikan bermaksud buruk. Ya, kita sering salah paham.

Di antara begitu banyak kesalah pahaman, kita juga sering salah paham kepada Tuhan. Menyangka bahwa keterpurukan, kekhawatiran, serta apa-apa yang sedang kita jalani ini adalah buruk. Padahal, kita sajalah yang belum bisa menangkap maksudNya dengan baik.

Juga saat berdoa, bahkan untuk urusan-urusan seperti harapan. Kita berdoa ingin sesuatu. Seringkali, jalannya tidak langsung dikabulkan begitu saja. Tuhan memberikan jalan memutar, kita harus menempuh dan melewati jalan-jalan yang membuat kita merasa Tuhan tidak adil, Tuhan tidak mengabulkan doa kita. Padahal, jalan itulah yang sebenarnya mengantarkan kita pada doa dan harapan itu. Hanya saja, begitu banyak yang memilih berhenti ditengah perjalanan.

Doa kita tidak terkabul bukan karena Tuhan tidak memberikannya, melainkan kita sendiri yang menolaknya. Dengan menolak caraNya, dengan menolak untuk menjalani jalan yang disediakan untuk sampai kepada harapan. Kita seringkali salah paham kepada Tuhan.

Hujan yang jatuh ini adalah rahmat, kita menyangkanya bencana. Sebab hujan telah membuat kita harus menunda janji atau kehilangan sesuatu. Kita sering juga gagal mengambil sudut pandang. Kemampuan kita melihat sesuatu amat terbatas, sedangkan Dia bisa melihat semua rangkaian peristiwa baik yang di masa lalu, sedang terjadi, dan akan terjadi.

Untuk itulah, kita seringkali dinasihati untuk berprasangka baik, Kepada semua makhluk, juga kepada Pencipta. Sebab, Dia sesuai dengan persangkaan kita kepadaNya.

Yogyakarta, 24 November 2017 | ©kurniawangunadi

Medan Juangmu

Krisis yang dialami oleh pemuda saat ini sangat berbeda dengan zamannya orang tua kita. Akses informasi yang begitu mudah kita dapatkan, banyak diantara kita yang tertekan karena merasa tidak menjadi apa-apa di waktu yang bersamaan, teman kita sudah sibuk dengan start-up nya, perjalananya, karirnya, karyanya, dan segala hal yang kita lihat dari unggahan mereka di linimasa.

Kita merasa tertantang tapi kita tahu, kita tidak memiliki keahlian di bidang itu. Kesukaan kita bukan di sana, dan kita semakin tertekan setelah kita melihat diri sendiri. Menjalani apa yang disukai ternyata belum membuat kita menjadi siapa-siapa. Apakah kita akan tetap mengikuti kata hati, atau beranjak mengikuti hal-hal terkini?

Saya kembali mengingat masa-masa sekitar 4 tahun yang lalu. Sewaktu saya masih kuliah. Di kelas besar, saya bukanlah siapa-siapa dibandingkan dengan yang lain. Perkara menggambar, saya kalah jauh secara keahlian. Perkara ide, masih juga tidak bisa menandingi kawan yang lain. Dan itu membuat ku sangat terpuruk. Saya bersaing di hal yang sama, dalam mata kuliah, dalam karya, dsb. Dan bertahun-tahun saya bersaing di hal itu, saya tidak pernah bisa mengalahkan teman saya yang lain. Bahkan dengan usaha terbaik yang bisa lakukan sekalipun, belum bisa.

Akhirnya, saya keluar dari medan persaingan itu. Saya menulis banyak sekali hal. Lepas dari kampus, teman saya berhasil masuk dan bekerja di perusahaan dan bidang yang dulu sangat saya inginkan dan saya berhasil melahirkan satu buku. Itu adalah perasaan “menang” pertama kali yang saya rasakan. Saya memilih medan persaingan yang berbeda, yang saya merasa bisa melakukannya. Dan menang itu bukan tentang saya bisa mengalahkan teman saya, tapi saya bisa memenangkan perasaan saya yang selama ini merasa terpuruk, merasa tidak beguna, merasa tidak bisa menjadi apa-apa, tidak memiliki kebanggan terhadap diri sendiri, dan perasaan inferior lainnya yang itu sangat sering dialami oleh pemuda difase Quarter Life Crisis.

Kini, sudah bertahun masa itu terlewati. Saya merasa tenang dan tenteram melihat bagaimana teman-teman saya kini meraih pencapaiannya masing-masing. Start-up nya yang tumbuh semakin besar, penghargaan yang ia terima, semuanya saya lihat di linimasanya. Saya tahu, medan juang kami berbeda. Saya tidak ingin bersaing untuk membuat hal yang serupa, tempat saya di sini, ruang sunyi -yang semakin nyaman kala hujan-, menulis berbagai macam perasaan yang tumbuh di hati manusia, merangkai-rangkai kejadian, menjadi tulisan-tulisan yang mengalir seperti sungai.

Bersaing dan berjuanglah di medan yang kita kuasai. Di ilmu yang kita tahu. Di tempat yang hati kita bisa merasa tentram. Di hal yang kita merasa Tuhan memudahkan jalan kita untuk beribadah kepadaNya.

Yogyakarta, 22 November 2017 | ©kurniawangunadi

Tulisan : Kosong

Jika sudah ada jawaban yang terbentang, kita tidak layak bertanya sebelum berusaha mencari tahu terlebih dahulu.

Pernah suatu hari, karena ketidaksabaranku. Aku bertanya kepada kawan yang baru saja kehilangan dompetnya, dompetnya mungkin tak seberapa. Tapi, isinya yang berharga, ada kartu identitas, dll. Mengapa dia teledor? Aku masih sempat bertanya mengapa ditengah kepanikannya.

Di beberapa mata kuliah pun, saya pernah dimarahin karena bertanya tentang sesuatu yang sudah ada jawabannya dalam tugas/teks yang sebenarnya harus saya baca dan pahami di mata kuliah sebelumnya. Kadang saya berpikir, kan cuma bertanya. Padahal sebenarnya ini adalah kesalahan saya karena saya tidak mencari tahu terlebih dahulu, tidak membaca teks tugas terlebih dahulu.

Saat-saat seperti itu, kita lupa situasi. Dimana sebenarnya kita tidak memahami situasi, tidak memahami secara utuh apa yang terjadi. Juga tidak mempersiapkan diri dengan bekal informasi terlebih dahulu. Kita menggunakan satu sudut pandang yang menurut kita benar. Kita tidak tahu, maka kita bertanya.

Seorang teman diskusiku pernah mengatakan, “Kalau kamu tidak tahu, cari tahulah dengan upayamu. Jika sampai ujungnya hanya sedikit yang bisa kamu temukan jawabannya, bertanyalah. Bertanyalah tidak dalam keadaan kosong, agar kamu punya sudut pandang yang luas.”

Dan kebiasaan-kebiasaan kita bertanya dengan kosong, melahirkan hal-hal yang bisa kita lihat saat ini. Saat semua informasi tersedia, orang masih bertanya. Berkali-kali teman-temanku yang mengurus informasi tentang beasiswa keluar negeri mendapat pertanyaan serupa dimana semua yang ditanyakan tersebut sudah tertera di halaman website. Mereka bertanya tanpa mencari atau membuka web terlebih dahulu. Dan itu menyebalkan. 

Ketidaksabaran, ketidakmauan, kemalasan, untuk berupaya terlebih dahulu mencari informasi, kemudian mencocokan informasi semakin minim.

Kita mempertanyakan sesuatu hanya berdasar pada satu kejadian, bukan pada seluruh kejadian, apalagi repot-repot menggali latar belakang kejadian.Kita mempertanyakan sesuatu, tanpa bersedia untuk mengerti bahwa tidak semua pertanyaan itu akan dijawab, dan kita memaksa jawaban.

Yogyakarta, 9 November 2017 | ©kurniawangunadi

Menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia.

Kecantikanmu itu berbeda. Aku melihatnya setiap hari dengan mata kepalaku. Cantikmu itu mengalir dalam sifat, seperti ketaatan, keikhlasan, kesabaran, dan hal-hal yang membuatku merasa tentram.

Aku sengaja menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia. Sebab, dunia kita adalah dunia yang kita bangun dengan kepercayaan bahwa yang kita lihat dengan mata ini adalah fana. Semuanya akan berakhir, cantik akan menua, kekayaan takkan dibawa mati, dan hal-hal lain yang akan berakhir.

Aku menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia, biar orang melihat dan merasakan kecantikanmu dari akhlakmu. Bukan dari hasil riasan berjam-jam dan baju kekinian yang kemudian kamu pajang di halaman media sosialmu. Orang akan mengenalmu dari kebaikan budi, kebermanfaatan, peran, pemikiran, kecerdasan, sumbangsihmu pada umat, dan hal-hal lain yang jauh lebih bermakna dari pakaian dan riasan.

Aku akan menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia. Agar kamu bisa menjadi dunia yang terbaik bagi anak-anak kecil yang lahir di rumah tangga kita. Menjadi dunia yang layak untuk tumbuh besar mereka. Dunia yang akan mengajarkan mereka dan membuat mereka tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Biar dunia kita ini sunyi, sepi.

Kita tidak harus dikenal banyak orang untuk bisa menjadi lebih bermanfaat, untuk memiliki nilai lebih sebagai manusia. Kita hanya perlu menjadi orang baik, berbuat baik, membantu banyak orang, berkata-kata yang baik, lemah lembut terhadap semua makhluk, bekerja dengan ikhlas, berbakti kepada orang tua, berbuat baik pada tetangga, menyanyangi anak-anak, dan semua kebaikan lain yang bisa kita lakukan tanpa harus berdandan terlebih dahulu, tanpa harus memiliki kuota internet untuk memuatnya dalam live video.

Kita tidak perlu mencatatnya, dua malaikat kecil di sisi kita sudah melakukannya untuk kita. Setiap hari, tanpa lelah.

Untuk itu, izinkan aku untuk menyembunyikanmu dari hiruk pikuk dunia, istriku 🙂

Yogyakarta, 7 November 2017 | ©kurniawangunadi

Aku tenang karena kini setelah begitu jauh perjalanan yang ditempuh, aku menjadi paham setelah begitu banyak kekhawatiran terjadi, segala bentuk ketakutan pernah kualami. Semuanya mengantarkanku pada apa yang aku miliki saat ini. Pada apa yang begitu disyukuri.

Adalah Allah yang menggerakan langkah ini sedemikian rupa. Melalui penolakan, melalui keterlambatan, melalui ketidakyakinan, melalui penghakiman, semua itu terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang aku perolah saat ini.

Yogyakarta, 4 November 2017 | ©kurniawangunadi

Ujian

Jika kau tak siap diuji, maka ujian itu akan tetap ada di depanmu, menantimu siap menghadapinya. Begitu seterusnya dengan ujian-ujian yang lain, mengantri dibelakangnya, semakin banyak. Jika kita tidak menghadapinya, kita tidak akan beranjak kemana-mana, diam ditempat.

Esok atau lusa, seperti saat-saat ini, saat kita melihat kebelakang dan menyaksikan betapa banyak ujian yang telah kita lewati, semuanya terasa seperti baru kemarin sore. Segala keresahan, kekhawatiran, ketakutan itu sudah terlewati. Dan perasaan ketika ujian datang selalu begitu, ragu, khawatir, takut, dsb. 

Esok atau lusa, seperti saat-saat ini, saat kita sudah berhasil memahami, mengapa kita mesti melewati ujian-ujian tersebut. Sudah seharusnya itu cukup untuk menjadi penyemangat kita atas ujian yang ada didepan mata, sesuatu yang besar menanti didepannya.

Esok atau lusa, kita mungkin akan banyak bersyukur. Sebab hadiah terbaik dari setiap ujian bukanlah di hasilnya, melainkan di rangkaian prosesnya. Sesuatu yang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bijaksana, lebih saleh, dan menjadi manusia yang lebih bernilai.

Yogyakarta, 30 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi

Tidak Terlihat Dekat dengan Siapapun

Diskusi QuarterLifeCrisis beberapa hari yang lalu masih seputar dunia jodoh. Mungkin bagi teman-teman yang belum mengalami, atau sudah melewati, obrolan semacam ini bisa dianggap membosankan. Tapi bagi yang sedang mengalami, mendiskusikannya dan berusaha mencari jawaban yang menenangkan adalah sebuah proses penting untuk melewati fase tersebut. Salah satunya dengan curhat.

Salah satu teman kami berkesah, setiap kali pulang atau orang tuanya menelpon, sering ditanya sudah punya pacar atau belum (karena orang tuanya tidak tahu kalau anaknya tidak mau pacaran), atau dengan candaan guyonan dari teman-teman yang lain tentang seputar tersebut. Orang tuanya pun seringkali bertanya, kapan rencana menikah? Sudah ada calonnya belum? Atau dalam kalimat-kalimat tidak langsung seperti, “Wah ini undangan ke rumah banyak banget dari teman-teman SD mu, mereka sudah menikah ya, kayak masih kecil kok udah mau nikah aja.” dan lain-lain.

Sementara teman kami ini, ia sama sekali tidak terlihat dekat dengan siapapun. Sama sekali. Bahkan ketika kami tanya, “Emang nggak ada cowok yang lagi pdkt gitu?” Jawabnya, “Enggak ada”. Juga pertanyaan lain yang sejenis,”Nah, lagi deket sama siapa gitu? Meski dia nggak pdkt?” Jawabnya masih sama, “Enggak ada”.

Dan karena ketidak-adaan inilah yang mungkin juga membuat orangtuanya bertanya-tanya, kok anaknya nggak pernah cerita suka sama siapa, atau lagi dekat sama siapa, atau ada yang pdkt dan gimana? Sementara teman-teman sebaya lainnya bahkan sudah ada yang maju melamar, meski pada akhirnya belum juga menikah.

Usianya sudah cukup matang (dalam standar orang tuanya) untuk masuk ke fase berikutnya. Juga mungkin karena melihat anaknya yang santai-santai aja, cenderung biasa-biasa aja dalam menanggapi hal tsb. Semakin membuat orangtuanya cemas.

Terlepas dari semua itu, terlepas dari sikap cueknya dan kesan biasa-biasanya ini. Teman kami bercerita kepada kami, kalau pada akhirnya dia juga berpikir. Berpikir tentang kenapa dia tidak terlihat dekat dengan siapapun? Enggak ada yang pdkt sama dia, apa enggak ada yang tertarik? Menurut kami, aneh kalau tidak ada yang tertarik dengan perempuan semandiri dan semanis dia.

Sampai pada akhirnya, diskusi panjang tanpa solusi itu berakhir dengan sebuah konklusi, barangkali itu adalah cara Allah menjaganya (terutama setelah ia berhijrah dan memutuskan untuk enggak pacaran), barangkali itu adalah bentuk perlindungan, menyingkirkan laki-laki yang mau mendekatinya tapi tidak dalam levelnya. Dan tentu saja sudah bisa kami tebak, dengan salah satu sifat tegas yang dia miliki, laki-laki kalau cuma mau pdkt untuk pacaran pasti sudah ditendangnya jauh-jauh.

Dan akhirnya, hal terbaik yang bisa manusia lakukan atas apa yang terjadi dalam hidupnya adalah bersyukur. Bersyukur sebab ia tidak terlihat dekat dengan siapapun, bahkan tidak ada yang mencie-ciekan dirinya dengan siapapun. Seperti itulah caraNya menjaga kehormatannya, izzah-nya

Yogyakarta, 17 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi

Apa yang membuat seseorang berubah?

Periode 2009 – 2017

Tahun 2009 adalah tahun ketika saya pertama kali memasuki dunia perkuliahan di kampus ITB. Delapan tahun yang lalu, rasanya seperti kemarin sore. Selama delapan tahun terakhir ini pula, terjadi banyak perubahan, baik di diri saya maupun orang lain, seperti teman-teman, saudara, keluarga, dsb.

Ada banyak sekali perubahan yang terjadi, mulai dari cara berpakaian, cara berpikir, pilihan-pilihan hidup, orientasi beragama, dsb. Tulisan ini bukan untuk mencari tentang benar atau salahnya perubahan seseorang, melainkan untuk menyelami proses yang terjadi. Kira-kira apa yang membuat seseorang kemudian berubah, secara signifikan.

Delapan tahun adalah waktu yang bisa dikatakan cukup panjang, apalagi delapan tahun ini melewati salah satu fase Quarter Life Crisis. Dalam delapan tahun terakhir ini, kita mengenal diri sendiri, tapi menilai diri sendiri sangatlah tidak objektif. Mari saya ajak untuk melihat apa yang saya lihat dalam delapan tahun terakhir ini. Perubahan itu ada yang baik ada yang buruk, tapi kita tidak akan berbicara tentang ini baik atau itu buruk.

Seperti ada teman-teman saya dulu yang berjilbab, sekarang sudah tidak lagi memakainya. Juga ada yang sebaliknya, dulu tidak memakainya, sekarang telah berjilbab terlepas dari panjang/pendeknya jilbab yang ia kenakan, tapi mereka berubah. Ada juga kakak mentoring yang dulu berjilbab lebar dan rajin mengajak
anak-anak mentornya untuk melakukan hal yang sama, kini menjadi amat
pendek karena alasan kariernya di ibukota. Ada juga yang dulu seorang agamis, kini ia justru rajin mempertanyakan agamanya sendiri di halaman media sosialnya. Ada juga yang sebaliknya, saat dulu sama sekali tidak begitu dekat dengan agama, sekarang dia lebih paham banyak hal, bahkan dibandingkan yang lain.

Ada juga yang dulu teman laki-laki perilakunya sangat tidak karuan, kini ia bertransformasi menjadi laki-laki yang bertanggungjawab, amat bertanggungjawab. Bahkan secara tidak terduga, dia menikah lebih dulu dibandingkan siapapun di kelasnya. Ada juga teman yang dulu ketika dikampus, ia sama sekali bukan siapa-siapa. Jarang yang mengenalnya. Kini, ia terlihat paling bersinar dengan start-up bisnis yang ia tekuni, pada bidang yang sama sekali tidak berhubungan dengan jurusan kuliahnya. Ada yang dulu amat aktif dalam beroganisasi, kini tenggelam seperti hilang di tengah lautan selepas kuliah.

Ada banyak sekali perubahan dalam diri orang lain yang saya kenal, satu persatu saya berusaha menyelami, kira-kira apa yang membuat mereka berubah?

Lingkungankah? Teman-teman sepermainanyakah? Hal-hal yang ia pelajarikah? Karena orang tuanya kah? Atau ia mengalami kejadian besar dalam hidupnya selama delapan tahun terakhir ini? Atau ada hal lainnya yang saya tidak tahu. Yang jelas, perubahan itu nyata terjadi.

Diri sendiri pun bertransformasi, ada hal yang berubah dari diri kita. Hanya saja, untuk melihatnya dengan lebih objektif, kita perlu bertanya kepada orang lain.

Yogyakarta, 17 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi