Tulisan : Kemapanan dan Harga Diri Laki-Laki

Suatu hari, temanku yang berjenis kelamin perempuan bertanya tentang sesuatu. Pertanyaan yang lahir sebab sebalnya terhadap laki-laki yang terlalu lama membuat keputusan hanya karena masalah yang menurutnya kurang begitu penting, kemapanan.

Aku mengambil selembar kertas. Berusaha menjelaskannya dalam gambar. Perkara ini memiliki kompleksitas tinggi di negeri ini. Mari aku sederhanakan menjadi kata-kata. Karena aku tidak tahu, apakah laki-laki di luar sana seragam dengan diriku. Tentu saja berbeda, hanya saja sebagai laki-laki aku bisa menjelaskan sedikit rahasia. Tentang kemapanan. Dan kau harus menggaris bawahi kata-kata ini, aku akan membicarakannya sebagai laki-laki secara umum.

Kemapanan adalah harga diri laki-laki. Jika kemapanan itu diidentikan dengan materi, maka kemapanan materi menjadi harga dirinya. Sebab diluar sana ada laki-laki yang mengartikan kemapanan itu lebih sulit lagi, kemapanan agama. Aku sulit mendefinisikannya, tapi aku tahu seperti apa kemapanan agama itu. Tapi, mari kita kesampingkan dulu hal itu, kita bahas dibelakang.

DItengah era kapitalisme seperti saat ini. Materi memiliki peranan penting bagi laki-laki. Itulah harga dirinya di depan orang tua sang perempuan. Hal yang bisa membuatnya berani mendatangi rumahnya dan mengucapkan lamaran. Hal yang bisa membuatnya berdiri tegak dan percaya diri di hadapan sang wali. Menyatakan kehendaknya dan berani menjamin kehidupan anak perempuannya kelak tidak akan kesulitan materi. Setidaknya sandang-pangan-papannya terpenuhi.

Dan ditengah era kapitalisme ini, (kebanyakan) orang tua tidak akan rela melepaskan anak perempuannya kepada laki-laki yang tidak jelas kemana hidupnya. Setidaknya semuanya distandarkan pada pekerjaan yang dimilikinya saat ini. Bagaimana menghidupi anak perempuannya yang selama ini hendak dibuat sempurna hidupnya. Tidak rela membiarkan anaknya dibawa hidup susah. Meski, sang anak tidak masalah dengan semua itu.

Dan bicara mengenai harga diri, jangan sekali-kali mengusikanya. Ketika ia jatuh, ia tidak lagi menjadi laki-laki. Seperti kasus dari cerita seorang teman. Ketika istri memiliki posisi tinggi dengan gaji sebulan serasa satu tahun kerja. Laki-lakinya diminta tinggal dirumah. Mengurus anak, mencuci baju, menjaga rumah. Sangat ekstrim memang. Hingga pada akhirnya laki-laki ini benar-benar kehilangan kendalinya, ia tidak bisa mengontrol dan membimbing istrinya sendiri. Hilang harga diri dikeluarga besarnya.

Kemapanan membuat laki-laki lebih berani. Mari kita saksikan, laki-laki dengan kemapanan lebih berani mendatangi perempuan yang dia idamkan. Beda dengan laki-laki yang masih tidak bisa menanggung hidupnya sendiri. Susah payah mencari rejeki yang dijanjikan. Mana berani dia datang ke orang tua perempuan. Ditanya apa jaminan bagi anak perempuannya. Hilang kata ditenggorokan.

Itulah sebabnya laki-laki, pada umumnya, begitu mengejar kemapanan. Hingga usia diatas 25 masih belum memutuskan hendak mengambil teman hidup. Ada hal yang menurutnya belum terpenuhi, dan lagi-lagi soal materi. Dan standar kemapanan setiap laki-laki tidak sama.

Kemapanan ini adalah harga diri laki-laki. Ketika kamu bertanya, kenapa sih lama  banget gak dilamar aja dan dia menjawab, “aku belum mapan”. Maka tahanlah amarahmu, memang seperti itulah laki-laki pada umumnya. Dia hanya ingin memastikan semuanya baik-baik sejak awal. Cukup sulit mengubah paradigma umum seperti ini. Bahwa laki-laki harus memiliki pekerjaan tetap dahulu, memiliki rumah tinggal, atau apapun itu sebagai bukti bahwa dia bisa menjamin kehidupan seseorang.

Kemapanan ini membuat bahunya berdiri tegak dihadapan teman-temannya. Tidak akan direndahkan posisinya hanya karena kekurangan daya. Dihormatinya dia karena kemapanannya itu.

Dan selalu ada anomali di dunia ini kan?

Pemahaman hidup tiap laki-laki tidak sama, pemahaman orang tua pun tidak sama. Ada dan selalu ada yang mengartikan kemapanan itu bukan sebagai materi. Tapi kemapanan agama. Maka aku ingin kabarkan sedikit kepadamu, bahwa diluar sana ada laki-laki yang melihat materi tidak lebih dari dirimu. Dan selalu ada orang tua perempuan yang paham bahwa ada yang lebih utama dari sekedar kemapanan materi laki-laki. Aku banyak menemui ini, orang-orang yang percaya bahwa kemapanan materi bukanlah standar yang layak untuk diambil.

Meski begitu, laki-laki akan terus berupaya mencapai kemapanan materi. Sekedar untuk memastikan hidupmu dan anak-anakmu kelak tidak akan kesusahan. Maka bersyukurlah perempuan yang mampu mendampingi proses kemapanan itu. Karena tidak semua laki-laki mau mengajakmu bersusah payah untuk itu, mereka pada dasarnya ingin memastikan semuanya telah kokoh sejak awal.

Kepercayaan itu penting untuk kau berikan berikan kepadanya. Dan sekali-kali, janganlah merendahkan harga dirinya. Bagi laki-laki pada umumnya, harga dirinya tidak bisa ditawar oleh apapun. Sebab itulah bentuk kelaki-lakiannya. Dukunglah proses itu dan jagalah harga dirinya. Jagalah harga diri itu dihadapannya dan dihadapan orang lain. Percayalah, dengan begitu kau akan mendapatkan hati dan cintanya. Sekalinya dia mencintaimu, dia akan menjadikanmu ratu.

Meski aku tahu, bagimu tidak masalah laki-laki datang kepadamu dengan ketidakmapanannya. Dan kamu ingin sekali memberikan peranan untuk mencapai kemapanan itu, bersama-sama. Tidak semua laki-laki memahami ini. Tidak semua orang tua perempuan paham seperti ini. Tidak semua laki-laki pula percaya begitu saja pada kata-kata suci ini, bahwa kemapanan iman jauh lebih penting dari harta dan intan berlian.

Maka, aku sarankan kamu mencari laki-laki yang memiliki pemahaman yang baik. Agar hidupmu kelak tidak hanya mengejar dan memenuhi materi. Agar dalam keluargamu kelak, tidak semuanya distandarkan pada materi. Agar kelak, tidak disibukkan dengan mencari materi. Carilah yang benar-benar memiliki pemahaman yang baik. Kamu tahu kan cara mencarinya?

Temanku berlalu pergi. Aku tidak tahu dia paham atau tidak. Setidaknya dipikirannya sedang terjadi peperangan.

Temanggung, 29 Januari 2014 | ©kurniawangunadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *