Tulisan : Visi Nikah

Pernikahan dan Visi.

Lagi-lagi, dalam obrolan via line bersama teman baik saya. Pembahasan kali ini adalah tentang visi. Dalam sebuah hubungan yang akan dijalani secara vertikal (pertanggungjawaban kepada Allah) dan horisontal (pertanggungjawaban kepada masyarakat) perlu adanya visi, oh tidak hanya perlu, tapi wajib. Mengapa visi menjadi penting?

Seseorang yang tidak tahu visi (tujuan jangka panjang) sendiri akan kehilangan arah. Hidup sekedar menjalani hari ini tanpa tahu apa yang dituju. Begitu pula pernikahan. Apakah pernikahan hanya sekedar menikah, seks, punya anak, memberi materi, tinggal serumah, punya cucu? Tentu saja tidak.

Dalam fase pencarian seperti saat ini (termasuk saya sendiri). Memiliki visi tentang pernikahan itu penting. Visi tersebut akan menjadi pedoman kita sendiri untuk menentukan langkah bahkan menentukan siapa orang yang tepat.

Sebelumnya, ketika saya belum tahu visi saya apa. Saya hanya mengutarakan kepada teman baik saya bahwa saya mau menikah. Lantas dia tanya balik, visimu apa? Oke, saya berhenti menjawab bahkan tidak bisa menjawab. Menikah tidak hanya soal melepas kesendirian dan masa lajang. Bahwa pernikahan itu menimbulkan hak dan kewajiban baik secara vertikal dan horisontal. Nilai pernikahan dimata agama saya sendiri adalah setengah dari agama, begitu besar nilainya. Apakah menikah telah menjadi kebutuhan atau sekedar keinginan saja, mengikuti trend karena teman-teman seumuran telah menikah lebih dulu?

Sebelumnya, ketika saya belum tahu visi saya apa. Saya merasa semua perempuan itu cocok, yang itu juga, yang di sana juga. Setelah saya merenung, kok banyak amat yang dirasa cocok. Pada akhirnya tidak bisa menentukan karena telalu banyak pilihan. Visi itu mengantarkan saya pada apa yang saya tuju. Tujuan. Dan ketika jelas apa yang menjadi tujuan menikah, saya bisa melihat dengan terang benderan siapa orang yang bisa bersama menuju tujuan tersebut. Dan orang itu adalah orang yang sevisi tentu saja. Hingga seluruh distraksi itu hilang dan pada akhirnya saya tidak memilih, karena hanya ada satu saja yang dituju. Perempuan itu menjadi tujuan bukan sebagai pilihan. Dia adalah orang yang saya yakini bisa menemani perjalanan saya dan sangat berharga untuk diperjuangkan.

Setiap orang yang melakukan perjalanan akan bertemu pada titik tertentu. Dan orang-orang yang menuju tujuan yang sama akan berjalan bersama. Itulah gunanya visi.

Jika kita saat ini tidak bisa menjawab pertanyaan sendiri tentang, siapakah dia orang yang bisa menjadi teman perjalanan. Maka, caritahulah tujuan perjalanan kita sendiri. Orang-orang yang bergerak dalam jalan yang sama akan bertemu. Seperti itulah cara kerja pertemuan. Kita bisa memilih berjalan lebih cepat atau lebih lambat. Pada akhirnya orang yang bisa menemani bukanlah dia yang lebih cepat atau lebih lambat, tapi orang yang bisa mengimbangi iringan langkah kita. Berjalan bersama. Tidak lebih dulu, tidak pula tertinggal.

Visi tentang pernikahan sangat penting. Sebab pernikahan adalah perjalanan raga dan jiwa. Melintas dunia dan akhirat. Perjalanan panjang itu jika hanya memiliki tujuan yang dangkal, mungkin akan terjadi perpisahan ditengah jalan karena terlalu banyak selisih. Orang yang dikira memiliki tujuan yang sama, ternyata ditengah jalan berbeda tujuan dengan kita.

Bagaimana kita tahu bahwa orang itu menuju titik yang sama dengan alasan yang sama. Maka tanyakanlah tujuannya. Ketika dia mendatangimu (jika kamu perempuan) dan ketika kamu mendatanginya (jika kamu laki-laki). Katakalah dan tanyakanlah apa yang menjadi visi perjalanan itu. Lakukanlah komunikasi visi. Bahkan orang yang memiliki visi berbeda “ada” yang bisa berjalan bersama dengan kompromi yang mereka lakukan. Apalagi yang sevisi?

Lalu bagaimana bila kita belum tahu visi kita apa?

Teruslah cari, pencarian akan selalu bertemu jawab. Entah jawaban itu ya atau tidak. Atau jika tidak kunjung menemukan, kita bisa memilih hidup dalam visi orang lain yang baik. Menjadikan visinya sebagai visi kita dan bergerak bersama.

Bukankah juga suatu hal yang menarik. Ketika kita ingin pergi sementara kita tidak tahu akan kemana, tidak berteman juga. Lantas ada orang lain yang mengajak pergi ke suatu tujuan, orang itu baik dan tujuannya ternyata sangat baik. Why not? Mungkin berpikir dua kali untuk menolaknya bukan.

Visi akan menjadi pendoman kita untuk melakukan strategi jangka pendek dan muara semua strategi itu adalah visi. Pernikahan adalah permulaan perjalanan. Sementara pacaran menganggap pernikahan sebagai tujuan. Pola pikir yang sangat berbeda bukan. Pernikahan adalah permulaan, bukan tujuan.

Lakukan perjalananmu, perjalan kita, dengan awal yang baik. Permulaan yang terbaik. Tentukan tujuan perjalanan dan berjalanlah dengan orang yang setujuan.

Temanggung, Jawa Tengah | 17 Desember 2013

© Kurniawan Gunadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *